Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-7


"Lex, pa-pa papa kamu," ucap Thalita terbata-bata.


"Kenapa dengan papa aku Ta...?" Tanya Alexa sambil mengguncang tubuh Thalita.


Dion menghampiri mereka yang tidak sengaja melihat Alexa mengguncang tubuh kekasihnya.


"Ada apa...?" Tanya Dion.


"Dokter Dion, maaf aku kesini cuma mau cari tentang kondisi papa aku," kata Alexa.


Dion menghembuskan nafas kasar, lalu menatap wajah kekhawatiran dari Alexa dan wajah kebingungan pada kekasihnya, Thalita.


"Lex," ucap Dion.


"Kak," panggil Thalita sembari menggelengkan kepalanya.


"Ta, kita harus kasih tau ini ke Alexa," kata Dion.


"Ini ada apa sih sebenarnya? Apa yang kalian sembunyikan dari aku?" Tanya Alexa yang menatap Dion dan Thalita secara bergantian.


"Lex, papa kamu masuk penjara," kata Dion.


Deg, jantung Alexa terasa berdetak lebih kencang, tubuhnya seketika menjadi lemah setelah mendengar perkataan Dion, Thalita yang khawatir akan keadaan alexa langsung saja mendekati sahabatnya itu.


"Ta, bilang sama aku kalau Dokter Dion itu bohong kan? Pasti kalian mau kasih kejutan kan buat aku, mau nge-prank aku kan," kata Alexa.


"Lex, maafin aku. Tapi yang di bilang Kak Dion benar. Om Andreas di penjara karena di fitnah, semua aset di sita," jelas Thalita.


"Enggak, ini gak mungkin. Kalau memang benar udah berapa hari? Kenapa kalian gak ada yang kasih tau ke aku, kenapa?" Teriak Alexa.


"Maafin aku Lex, kamu yang tenang dulu ya," ucap Thalita.


"Ada apa ini, tolong jangan ribut di rumah sakit," ucap salah satu Dokter yang habis memeriksa pasien.


"Maaf Dok," ucap Dion.


Alexa yang tidak percaya itu, mencoba kembali untuk menghubungi nomor ponsel ayahnya dan kali ini ada yang menjawab.


"Akhirnya Papa angkat telpon aku juga, Papa dimana sih? Aku pulang tapi Papa gak ada, rumah di lelang, kantor juga, maksudnya apa pa...?" Tanya Alexa.


"Alexa, ini Mas Bagas," ucap Bagas yang tampak gugup.


"Mas Bagas, kenapa ponsel papa ada di Mas, papa mana....?" Tanya Alexa.


"Kita ketemu di depan Kapolsek Air Raja ya sekarang," ajak Bagas.


"Mau ngapain Mas? Tanya Alexa kebingungan.


"Nanti kamu akan tau yang sebenarnya," jawab Bagas.


"Iya Mas, sekarang aku jalan dari Rumah Sakit Bunda kasih," kata Alexa.


"Baik Lex, sampai ketemu ya," ucap Bagas.


Panggilan telepon terputus, Alexa pun segera meninggalkan rumah sakit dan langsung saja melajukan mobilnya ke tempat tujuan yang di telah mereka sepakati.


*****


Alexa tiba di depan Kantor Kapolsek Air Raja, Di Sana telah berdiri pria tampan dan gagah yang sudah menunggunya, yaitu Bagaskara asisten ayahnya dan sudah di anggap seperti kakak kandung oleh Alexa.


"Mas, papa kenapa..?" Tanya Alexa.


"Alexa, kenapa kamu gak bilang mau pulang ke Jogja, Mas bisa jemput kamu," kata Bagas sembari memegang kedua pundak Alexa.


"Mas, itu gak penting, sekarang kasih tau aku ini ada apa? Kenapa kita harus kesini Mas...?" Tanya Alexa lagi.


"Ayo kita ke masuk," ajak Bagas.


Alexa masuk ke dalam bersama Bagas. Beberapa menit kemudian, muncul sosok yang sangat dirindukan Alexa itu di depan mata mereka, Andreas yang di antar oleh sipir itu tampak lesu menghampiri anak dan asistennya yang berada di ruang besuk.


"Papa...." Tangis Alexa pecah dan langsung memeluk Andreas.


"Sayang, maafkan Papa," ucap Andreas yang juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Pa, kenapa bisa kayak gini sih...? Apa yang udah terjadi?" Tanya Alexa.


"Kita duduk dulu ya Sayang," ajak Andreas lalu menceritakan semuanya kepada Alexa.


"Kurang ajar banget sih, siapa orang itu Pa?" Tanya Alexa.


"Entahlah, tapi pengacara Papa sedang menyelidikinya," jawab Andreas.


"Lima tahun Sayang, tapi kalau pak Yanto bisa cepat menemukan bukti, Papa akan segera bebas. Kamu tenang aja Sayang," jawab Andreas.


"Aku gak bisa diam aja, aku harus lakuin sesuatu buat Papa," kata Alexa.


"Alexa, Papa mohon, kamu kerja aja yang fokus ya. Ingat sama impian kamu," kata Andreas.


"Iya Lex, di sini juga ada Mas yang akan selalu liat pak Andreas di sini," sambung Bagas.


Alexa terdiam dan tampak memikirkan sesuatu.


"Maafkan Papa ya, gara-gara Papa kita kehilangan segalanya, bahkan rumah yang penuh kenangan bersama mama juga di sita," ucap Andreas.


"Pa, berhenti salahin diri Papa sendiri. Papa gak salah, udah jelas Papa itu dijebak," kata Alexa.


"Iya Sayang, makasih ya kamu udah percaya sama Papa," ucap Andreas.


Alexa memeluk erat sang ayah sebelum kembali masuk ke jeruji besi. Setelah itu Alexa dan Bagas pun keluar dari kantor polisi.


"Lex malam ini kamu mau tidur dimana...?" Tanya Bagas.


"Mungkin di penginapan atau rumah Thalita Mas," jawab Alexa.


"Oh... Terus sekarang mau kemana? Mau makan dulu gak bareng Mas?" Tanya Bagas lagi.


"Boleh Mas, aku juga belum makan siang tadi karena dalam perjalanan ke sini," jawab Alexa.


"Tuh kan, kamu itu kebiasaan banget sih. Gak ingat apa kalau punya asam lambung," omel Bagas.


"Iya, iya, ya udah yuk makan," ajak Alexa.


"Tempat biasa ya," kata Bagas.


"Oke," jawab Alexa.


*****


"Kenapa gak bisa tidur gini sih, kenapa juga malah kepikiran sama Alexa, dia lagi apa ya? Apa dia baik-baik aja," gumam Nico dalam hati.


Nico yang biasanya tidur lebih awal, kini belum bisa tidur meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia tampak gelisah, meskipun saat bertemu Alexa ia selalu mencari kesalahan Alex dan memarahinya, akan tetapi tidak bisa di pungkiri jika dari dalam lubuk hati yang paling dalam Nico sering merasa khawatir dan memikirkan Alexa.


Nico meraih ponselnya yang ada di atas meja, lalu mencari kontak nama yang sedang ia pikirkan, ingin menghubunginya tetapi ragu-ragu karena gengsi dan takut mendapat tanggapan yang tidak baik dari Alexa.


"Telpon, enggak, telpon, enggak, telpon, enggak, telpon," ucap Nico sembari menghitung kancing piyamanya. "Telpon," ucapnya lagi lalu menekan nomor telpon Alexa.


Akan tetapi, terlihat pada layar ponsel telepon wathsap bahwa Alexa sedang berada di panggilan lain.


"Cih, kirain udah tidur atau kenapa-napa, ternyata malah lagi asik telpon-telponan. Ngapain juga aku khawatir sama dia," gumam Nico dengan kesalnya.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian wajah Nico tampak kembali cerah karena melihat ada panggilan masuk dari Alexa pada ponselnya.


"Ehem," Nico mencoba bersikap tenang sebelum ia menjawab telpon dari Alexa.


"Halo, apa apa...?" Tanya Nico dengan dinginnya.


"Halo Dok, tadi nelpon ya..?" Tanya Alexa pula.


"Oh... Itu saya gak sengaja kepencet," jawab Nico.


"Oh gitu, ya udah kalau emang gak ada apa-apa, saya matiin dulu ya Dok telponnya," kata Alexa.


"Tunggu!" ucap Nico.


"Kenapa Dok?" Tanya Alexa.


"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Nico yang salah tingkah.


Sedangkan Alexa tersenyum mendengar pertanyaan dari Nico itu.


.


.


.


.


.


Bersambung.....