Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-86


"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Raka.


"Iya Kak, silahkan!" Jawab Alexa.


Lalu Raka pun langsung saja duduk di samping Alexa.


"Kamu kenapa bisa ada di sini Lex?" Tanya Raka mengulangi pertanyaannya.


"Hm ni Kak, kebetulan aku memang lagi ke Jogja mengunjungi Papa, terus aku juga nginap di rumah Thalita. Karena aku kangen sama rumah sakit tempat aku co-*** dulu, jadinya aku memutuskan untuk ikut Thalita ke rumah sakit ini," jawab Alexa.


"Oh … jadi kamu kangen sama rumah sakit ini, aku kira kamu kangen sama aku," kata Raka bercanda.


Alexa mengulas senyum tipis di bibirnya, meskipun sebenarnya sangat berat untuknya tersenyum saat ini.


"Iya kak, aku bukan hanya kangen sama rumah sakit tapi aku juga kangen sama semua Dokter di sini, Dokter yang pernah menemani dan membantu aku di saat co-*** dulu, termasuk Kakak," ungkap Alexa yang membuat Raka tersenyum.


"Iya Lex, aku juga kangen sama kamu," kata Raka yang membuat Alexa sontak menatapnya sehingga membuat Raka menyadari ada yang salah salah dengan ucapannya itu.


"Ehm ini lex, maksud aku, aku juga kangen sama Dokter pas co-*** dulu, kangen sama masa-masa sewaktu kalian menjadi Dokter muda di sini. Ya termasuk kamu juga kan," kata Raka. beralasan.


"Oh … berarti Kakak kangen juga dong sama Renata," celetuk Alexa yang membuat Raka terdiam enggan menjawabnya dan malah mengalihkan ke pembicaraan lain.


"Lex, kamu udah sarapan belum?" Tanya Raka. Alexa menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau gitu, gimana kalau kita sarapan bareng? Kayaknya udah lama banget nih kita nggak sarapan bareng di rumah sakit," ajak Raka.


"Memangnya Kakak nggak sibuk ya?" Tanya Alexa.


"Enggak Lex, kebetulan aku lagi nggak ada kerjaan kecuali mendadak. Cuma nanti agak siangan," jawab Raka.


"Ya udah boleh deh Kak, yuk kebetulan aku juga lapar," kata Alexa menyetujuinya.


Alexa dan Raka pun beranjak dari kursi taman dan melangkahkan kaki menuju ke kantin untuk sarapan bersama.


"Lex, sarapan yang biasa kan?" Tanya Raka saat mereka sudah duduk di kantin.


"Iya dong Kak," jawab Alexa cepat.


"Sip," ucap Raka, ia langsung saja memesan dua mangkok bubur ayam untuk mereka berdua.


Raka sangat ingat waktu dulu mereka sering sarapan bersama-sama dengan Dion dan Thalita juga dan selalu memakan bubur ayam Mamang. Tidak lama kemudian, bubur ayam yang dipesan oleh Raka pun telah tiba.


"Ayo Lex kita makan buburnya," kata Raka.


"Iya Kak makasih ya," ucap Alexa dan langsung saja menyentuh bubur ayam yang saat ini telah ada di depan matanya. "Kakak masih ingat aja ya kalau aku nggak suka pakai kacang," kata Alexa.


"Iya dong, aku memang selalu ingat sama kebiasaan kamu dulu Lex," kata Raka.


Lagi-lagi Alexa hanya tersenyum tipis karena membalas senyuman dari Raka.


"Makasih ya Kak," ucap Alexa.


"Iya sama-sama Lex, ya udah yuk makan," kata Raka dan mereka pun mulai menikmati sarapan itu.


"Lex, kamu kapan balik ke Jakarta?" Tanya Raka di sela-sela sarapan mereka.


"Rencananya sih nanti siang Kak, sepulang dari rumah sakit ini," jawab Alexa.


"Oh … emang kamu mau pulang sama siapa?" Tanya Raka lagi.


"Kamu mau gak kalau pulangnya entar sore aja, biar aku yang anterin ke Jakarta," tawar Raka.


"Nggak usah Kak, aku nggak enak ngerepotin Kakak. Lagian besok juga kan Kakak harus kerja, kamu mau pulang jam berapa coba ke Jojga," tolak Alexa yang benar-benar merasa tidak enak jika Raka harus mengantarnya pulang ke Jakarta.


"Ya aku yakin sih kalau kamu bakalan nolak, tapi sebenarnya aku udah izin cuti besok selama dua hari, karena kebetulan memang aku ada keperluan mau ke Jakarta besok pagi. Cuma kalau kamu mau barengan, kita bisa ke Jakarta sore ini," kata Raka.


"Beneran Kakak mau ke Jakarta?" Tanya Alexa.


"Iya Lex bener, makanya aku mau sekalian nganterin kamu kalau kamu mau," jawab Raka.


Alexa tampak berpikir, sebenarnya tidak ada salahnya juga jika Raka mengantarnya pulang ke Jakarta, toh Raka juga memang mau ke Jakarta, pikir Alexa.


"Ya udah Kak kalau gitu aku mau," jawab Alexa yang membuat Raka begitu senang mendengarnya.


"Tapi Nico nggak apa-apa kan?" Tanya Raka.


"Nggak papa Kak," jawab Alexa.


Dari sorotan mata Alexa, entah kenapa Raka merasa jika ada sesuatu yang Alexa sembunyikan tentang Nico saat ini, akan tetapi Raka memilih untuk diam, dia tidak mau terlalu ikut campur urusan pribadi Alexa. Baginya, Alexa saat ini mau sarapan bersamanya dan tidak menolak untuk diantar ke Jakarta, sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Raka.


*****


Sementara itu saat di rumah sakit, Nico sama sekali tidak fokus karena terus memikirkan Alexa. Arya yang sedari menjelaskan tentang beberapa kondisi pasien dan bertanya kepada Nico pun sama sekali tidak digubrisnya. Terlihat jelas saat ini pikiran Nico sedang tidak berada di sini meskipun raganya ada di depan Arya, tatapan matanya juga kosong dengan pandangan lurus ke depan. Hingga Arya memanggilnya beberapa kali, barulah Nico tersadar dari lamunannya itu.


"Iya, kamu ngomong apa tadi?" Tanya Nico yang kini menatap Arya.


"Ini Dok, saya tanya pasien dari ruang 15 Apakah sudah bisa pulang?" Tanya Arya.


"Oh yang menderita jantung koroner itu ya?" Tanya Nico.


"Bukan Dok, tapi yang menderita penyumbatan pembuluh darah dan sudah dioperasi kemarin," jawab Arya, ia merasa heran karena tidak biasanya Nico tidak fokus seperti ini. Padahal Arya tadi sudah menjelaskannya, tetapi Nico sama sekali tidak mengingatnya, padahal Nico sendiri juga ikut menangani pasien tersebut.


"Dokter Nico, Dokter Nico kenapa? Apa ini semua ada hubungannya dengan Alexa?" Tanya Arya memberanikan diri. "Maaf Dok saya nggak bermaksud ikut campur kok, tapi kalau Dokter butuh teman cerita, saya siap buat menjadi teman cerita Dokter.


"Ya kamu benar, saya memang lagi ada masalah saat ini dan saya sedang memikirkan Alexa. Saya minta maaf karena menjadi tidak fokus dan saya juga belum bisa bercerita sama kamu untuk saat ini," jawab Nico.


"Iya Dok nggak papa, saya ngerti kok. Ya udah kalau gitu mendingan Dokter istirahat aja, biar urusan memeriksa pasien hari ini, semuanya saya yang tangani," kata Arya.


"Nico mengangguk, "Terima kasih ya Arya."


"Iya Dokter sama-sama, saya permisi dulu ya Dok," ucap Arya dan berlalu dari ruangan Dokter kepala.


Nico tampak tertunduk, ia memegangi keningnya yang terasa sangat sakit. Baru kali ini ia merasakan masalah yang berat di dalam hidupnya. Meski sebelum-sebelumnya dia juga pernah mempunyai masalah, akan tetapi masalahnya bersama Alexa begitu terasa berat bagi dirinya. Nico sangat takut jika harus kehilangan Alexa wanita yang sangat dicintainya itu, walaupun mereka belum lama kenal dan menjalin hubungan.


.


.


.


.


.


Bersambung.....