Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-52


Alexa menaikkan kedua alis matanya sembari menatap Nico, seolah bertanya ada apa? Kenapa Kak Nico terkekeh seperti itu?


"Sayang, memangnya kalau kamu kekenyangan itu bisa buat kamu jadi ngelantur ya ngomongnya?" Tanya Nico.


"Enggak juga sih, memang kenapa Kak?" Tanya Alexa dengan polosnya.


"Mau kamu gendut atau apapun itu namanya, gak akan pernah ngerubah rasa cinta aku terhadap kamu Sayang, aku udah pernah bilang kan kalau aku menerima kamu apa adanya, dan berharap kamu juga bisa menerima aku apa adanya," kata Nico.


"Kak Nico baik banget sih, bikin aku makin Cinta deh sama Kakak," ucap Alexa sembari memberikan senyuman manisnya untuk Nico.


"Aku juga cinta banget sama kamu," ucap Nico yang juga memberikan senyumannya itu untuk sang pujaan hati.


"Kak Nico gak tidur?" Tanya Alexa.


"Tunggu kamu pulang, baru aku tidur," jawab Nico.


"Oh … jadi ceritanya sekarang Kak Nico lagi ngusir aku nih secara halus? Ok fine, aku pulang deh lagian juga udah malem. Benar juga sih Kak Nico harus istirahat, ya gimana mau istirahat coba kalau aku masih di sini," ucap Alexa dengan ekspresi wajahnya yang ditekuk.


Nico tersenyum, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Alexa.


"Kak Nico mau ngapain?" Tanya Alexa saat Nico begitu dekat dengannya.


"Aku mau tidur bareng sama kamu lagi," bisik Nico yang membuat Alexa membelalakkan matanya.


Tanpa aba-aba Nico langsung saja menggendong Alexa ala bridal. Alexa yang malu sekaligus merasa senang itu segera mengalungkan kedua tangannya di leher Nico.


Nico membaringkan tubuh kekasihnya itu di atas kasur. Alexa yang malu itu hanya diam saja saat Nico mulai membaringkan tubuhnya di samping Alexa, setelah itu ia pun mencium kening serta bibir Alexa sekilas.


"I love you," ucap Nico sembari menatap wajah wanitanya itu.


"I love u too," balas Alexa.


Kini mereka berdua pun saling berhadapan dan menatap satu sama lainnya. Setelah itu, Nico segera meraih Alexa kedalam pelukan hangatnya, keduanya mulai memejamkan mata dan terlelap hingga Pagi hari menyapa.


*****


"Welcome to Jogja, ucap Bagas yang begitu antusias menjemput pujaan hatinya di terminal. Ya hari ini Vina datang ke Jogja menggunakan bus, dia menolak saat Bagas ingin menjemputnya ke Jakarta.


"Thank you," ucap Vina lalu berhamburan memeluk Bagas.


Tentu saja Bagas begitu senang dan langsung membalas pelukan itu dengan erat. Setelah pelukan terlepas, ia langsung membukakan pintu mobil untuk Vina.


"Makasih ya," ucap Vina Tersenyum.


"Iya, sama-sama," jawab Bagas yang juga tersenyum.


Setelah masuk ke dalam mobil, Bagas pun segera melajukan mobilnya menuju apartemen.


"Gas, makasih ya kamu udah repot-repot jemput aku. Padahal aku bisa naik taksi online loh," ucap Vina saat mereka di dalam perjalanan.


"Sama-sama Vin, makasih mulu sih. Masak iya kamu udah datang jauh-jauh sendirian, gak bawa mobil lagi, terus aku biarin kamu sendiri gitu aja. Lagian kebetulan juga aku lagi free," kata Bagas.


"Iya-iya tapi kan aku jadi gak enak juga Gas sama kamu, aku kan bukan siapa-siapa kamu Gas," kata Vina dengan ekspresi wajah sedih.


"Vin, siapa bilang kamu bukan siapa-siapa aku? Kamu itu teman aku, apalagi kamu bilang mau liburan ke Jogja juga sekalian ketemu sama aku, aku seneng banget Vin. Pokoknya selama kamu di Jogja, aku janji bakalan terus jagain kamu," ucap Bagas.


"Bagas, kamu so sweat banget sih. Setelah sekian lama, baru kali ini ada cowok yang kasih aku perhatian kayak gini, apa mungkin kalau Bagas ini memang suka sama aku …? Kenapa kalau lagi sama Bagas, sejenak pikiran tentang Nico hilang gitu aja. Duh … Vina mikir apaan sih, ingat dia itu Kakaknya Alexa. Meskipun cuma Kakak angkat," ucap Vina yang bermonolog dengan hatinya sembari melamun menatap Bagas.


"Ehm, gak ad apa-apa kok Gas," jawab Vina.


"Beneran gak ada apa-apa nih.Kalau ada yang mau kamu bilang, sampaikan aja Vin biar gak jadi beban di hati kamu," kata Bagas.


"Iya Gas beneran," jawab Vina.


Kini mereka berdua telah tiba di sebuah restauran, memang tadi Bagas mengajak Vina makan siang terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemen. Setelah makan siang selesai, pelayan datang membawa tagihan, Vina dan Bagas secara bersamaan mengeluarkan kartu atm mereka dan diserahkan kepada pelayan tersebut.


"Ambil punya saya aja Mbak," kata Bagas.


"Saya aja Mbak," kata Vina pula yang membuat pelayan menjadi bingung.


"Vin, biar aku aja," kata Bagas.


"Gak usah Gas, please kali ini kamu gak boleh nolak, masak iya dari kemarin-kemarin kamu terus yang traktir aku. Gantian lah sekali-kali Gas," kata Vina. Bagaimanapun dia bukan cewek matre yang suka menghabiskan uang orang lain.


Akhirnya Bagas pun mengalah dan menyimpan kartu atm miliknya, sedangkan pelayan mengambil atm milik Vina dan melakukan proses pembayaran. Setelah perut kenyang, baru lah mereka melanjutkan perjalanan pulang ke apartemen yang jaraknya tidak lagi terlalu jauh.


*****


"Dokter Arya mau kemana? Tanya Maya yang tidak sengaja bertemu dengan Arya.


"Mau ke kantin, ada apa Sus?" Tanya Arya.


"Tumben gak barengan sama Dokter Alexa?" Tanya Maya.


"Dokter Alexa belum lapar katanya," jawab Arya asal. Padahal saat ini Alexa sedang berada di ruang Dokter Nico, gak tau sedang lapar atau memang kenyang.


"Oh … gitu, kalau gitu apa boleh saya ikut ke kantin bareng Dokter?" Tanya Maya.


"jelas boleh lah Sus," jawab Arya. "Ya udah yuk," ajaknya.


Dengan perasaan yang begitu senang, Maya pun segera mengikuti Arya ke kantin. Kini mereka berdua menjadi gosip para Suster dan Dokter magang yang sedang berada di kantin.


"Kenapa Dokter Arya mau sih ke kantin bareng Suster itu?" Tanya Andin, Suster yang biasa bersama dengan Arya jika memeriksa pasien.


"Kamu jangan mau kalah dong Ndin sama Nenek sihir itu, pepet terus Dokter Arya-nya, masih bagusan juga kamu kemana-mana, memang kamu mau kalau tiba-tiba mereka jadian?" Kata Tari yang sengaja memanas-manasi sahabatnya. Dia tau betul jika Andin sudah lama menyukai Arya, terlebih lagi dia sangat membenci Maya yang selalu memarahinya walaupun masalahnya hanya kecil saja. Mentang-mentang Maya itu kepala Suster rumah sakit Hospital Hutama.


"Ya gak lah, tapi aku harus giman Tar? Bahkan buat ngomong sama Dokter Arya aja aku gugup kalau bukan soal kerjaan," kata Andin.


"Ndin, kamu itu selalu ada kesempatan untuk dekat sama Dokter Arya, mulai sekarang kamu harus berusaha lebih akrab lagi," kata Tari.


.


.


.


.


.


Bersambung.....