Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-109


"Bunda, jangan ngomong kayak gitu dong. Hidup dan matinya seseorang itu kan sudah diatur sama Tuhan. Lagian siapa bilang Alexa nggak mau nikah sama Kak Nico?" Kata Alexa.


Nico mendadak menatap wajah sang kekasihnya itu karena terkejut, "Maksud kamu gimana Sayang?" Tanya Nico.


Anggi juga ikut penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Alexa, tetapi ia hanya dapat menyimak karena Nico sudah mewakilinya untuk bertanya.


"Maksudnya aku mau nikah sama Kak Nico," jawab Alexa yang membuat mata Anggi dan Nico berbinar menatapnya.


"Sayang, kamu nggak lagi bercanda kan? Kamu beneran mau nikah sama aku?" Tanya Nico.


"Iya Alexa, apa kamu nggak lagi bercanda? Kamu serius?" Tanya Anggi pula.


"Iya Kak, Bunda, aku serius. Aku beneran mau nikah sama Kak Nico," jawab Alexa tersenyum.


"Tapi gimana sama Papa kamu?" Tanya Nico yang merasa tidak enak jika Alexa harus memaksa kehendak Anggi dan mengabaikan ayahnya sendiri.


"Itu dia yang mau aku omongin juga sekarang Bun, Kak Nico. Aku setuju buat nikah sama Kak Nico, tapi aku mau temuin Papa dulu, aku mau tanya sama Papa tentang keputusan ini. Seandainya Papa mengizinkan, aku siap kok untuk menikah dengan Kak Nico secepatnya," kata Alexa.


Meskipun saat ini mereka belum mengetahui apa keputusan Andreas, tetapi paling tidak Alexa sudah menyetujuinya saja sudah membuat Anggi dan Nico begitu lega dan sangat bahagia.


"Aku setuju Sayang, kalau gitu aku ya yang temenin kamu ke Jogja buat nemuin Papa kamu," kata Nico.


"Iya, Bunda setuju lebih baik kamu ke Jogja-nya sama Nico, akan lebih aman," sambung Anggi.


"Iya Bunda, Kak," jawab Alexa. "Tapi Kak gimana sama kerjaan kita?" Tanyanya.


"Besok kita lagi nggak banyak kerjaan, biar aku serahkan aja ini sama Arya dan para suster yang bersangkutan," kata Nico.


"Beneran nggak papa Kak?" Tanya Alexa.


"Beneran lah, kamu tenang aja Sayang. Lagian kan kita perginya cuma sebentar, kita bisa langsung balik hari kan," jawab Nico.


"Iya Kak, Kakak bener," kata Alexa.


"Syukurlah, Bunda begitu lega mendengarnya," ucap Anggi.


Alexa dan Nico memeluk Anggi yang begitu sangat bahagia saat ini, ia tidak sabar melihat pernikahan Nico dan Alexa. Sudah pasti hidupnya akan terasa sempurna. Meskipun harus pergi dengan cepat, ia sudah ikhlas dan rela asalkan sudah melihat anaknya menikah dengan wanita yang dicintainya.


****


Keesokan harinya...


Sebelum pergi ke Jogja, Nico dan Alexa terlebih dahulu pergi ke rumah sakit untuk mengurus segala sesuatunya dan berbicara kepada Arya. Setelah itu barulah mereka segera saja melanjutkan perjalanan menuju ke Jogja.


Beberapa jam kemudian, mereka pun telah tiba di Jogja. Agar tidak membuang-buang waktu, mereka langsung saja menuju ke sel tahanan tempat Andreas berada.


"Pak Andreas, ada anak Anda yang ingin bertemu," kata sipir memberitahu kepada Andreas serta mengeluarkannya dari jeruji besi.


"Papa," ucap Alexa seraya menghamburkan pelukan untuk ayahnya.


Andreas pun membalas pelukan dari anak satu-satunya itu. Kini keduanya saling berpelukan melepaskan rasa rindu kedalam pelukan hangat.


Setelah pelukan itu disudahi, kini giliran Nico yang langsung saja menyalami dan mencium punggung telapak tangan ayah dari kekasihnya itu.


"Alexa kamu ke sini bareng Dokter Nico?" Tanya Andreas.


"Iya Pa, kita ke sini mau jenguk Papa sekalian ada yang mau kita omongin," jawab Alexa.


"Ya sudah kita duduk dulu," kata Andreas, lalu mereka pun duduk di kursi yang telah tersedia di ruang besuk.


"Ada apa kalian datang ke sini? Bukannya kalian banyak kerjaan di rumah sakit?" Tanya Andreas.


"Tenang aja Om, soal kerjaan udah kita serahkan sama Arya. Lagian kita hanya satu hari saja kok di Jogja, nanti kita bakalan pulang langsung ke Jakarta," kata Nico.


"Oh ya? Sepertinya memang benar kalau kalian datang ke sini memang ada hal yang sangat penting, sampai rela bolak-balik Jakarta-Jogja," kata Andreas.


"Iya itu memang benar Pa," ungkap Alexa. Jadi Alexa mau ngomong-"


"Lex, biar aku aja yang ngomong sama Papa kamu," ucap Nico yang mencela ucapan Alexa dan ditanggapi anggukan pelan oleh kekasihnya itu.


"Om, jadi gini, saya mau melamar Alexa untuk jadi istri saya secara resmi di depan Om," kata Nico.


Andreas terkejut, ia belum dapat menjawab apa-apa karena menurutnya ini benar-benar sangatlah mendadak.


"Om, saya minya maaf kalau saya sudah lancang atau menurut Om saya tidak bisa melihat kondisinya saat ini, Om sedang berada di sini, tapi saya malah ngelamar anak Om. Tapi Om, saya punya alasannya kenapa saya melamar Alexa dan mengajaknya untuk menikah segera. Ini semua karena keinginan dari Ibu saya, penyakit Ibu saya saat ini semakin parah Om dan dia merasa kalau umurnya sudah tidak lama lagi. Sebelum pergi, ibu ingin melihat saya dan Alexa segera menikah, hanya itu harapan terakhirnya," kata Nico dengan tatapan sendu, hingga tanpa sadar buliran bening keluar dari sudut matanya itu.


"Pa, Alexa ngerti kok kalau seandainya Papa nggak setuju, tapi Kak Nico berani ngomong gini langsung sama Papa juga karena persetujuan dari Alexa. Aku udah setuju untuk menikah dengan Kak Nico dengan syarat Papa merestuinya," kata Alexa.


Andreas yang tadinya tampak terdiam dengan wajah datar mendadak tersenyum menatap Nico dan Alexa secara bergantian.


"Kalian ini kenapa sih menganggap Papa nggak setuju, jelas saja lah Papa setuju. Ini adalah berita yang sangat baik, Papa senang dengernya Nak, Papa Merestui pernikahan kalian. Tapi Papa minta maaf ya karena nggak bisa mendampingi kamu di hari penting kalian nanti, Papa masih berada di penjara. Jauh dari dalam lubuk hati Papa, Papa ingin sekali menyaksikan serta mendampingi anak satu-satunya Papa nanti menikah. Tapi Papa juga nggak boleh egois, Papa sendiri nggak tau kapan Papa akan bebas dari sini, sedangkan kamu berhak menjemput kebahagiaan kamu sendiri Sayang. Papa akan sangat lega dan bersyukur jika kamu segera menikah dengan Nico. Papa lega karena kamu ada yang menjaganya, terlebih lagi ini juga keinginan ibunya Nico. Kita nggak tau kapan umur seseorang akan berakhir, tapi setidaknya kalian berdua tidak akan menyesal seandainya Tuhan Nanti menjemput Bu Anggi terlebih dahulu," ucap Andreas yang begitu tulus dan penuh haru.


.


.


.


.


.


Bersambung.