The Announcer

The Announcer
Rasa Yang Telah Tergantikan


Harapan Amanda Seketika Pupus. Dia Mengira Kalau Perasaan Sayangnya Yudha Sama Dengan Perasaan Sayangnya. Tapi, Ternyata Berbeda Dari Ekspektasinya.


"Kamu Gak Sakit Hati Kan? Dengar Kata-Kataku Barusan?" Tanya Yudha.


Amanda Hanya Menggeleng Pelan Tanpa Mengeluarkan Sepatah Kata Pun.


"Ya Udah, Kita Pulang Aja Yah Sekarang, Udah Larut Banget Loh Ini, Nanti Kamu Masuk Angin, Aku Gak Mau Kamu Sampai Sakit" Yudha Membelai Lembut Kepala Amanda.


Amanda Mengikuti Langkah Yudha. Sepanjang Perjalanannya Baik Amanda Maupun Yudha Saling Diam Satu Sama Lain, Tanpa Ada Candaan Seperti Biasa.


"Rasanya Sakit Sih, Yud, Waktu Kamu Nolak Aku, Tapi, Mau Gimana Lagi, Aku Juga Gak Ada Hak Buat Paksa Kamu Untuk Suka Sama Aku" Batin Amanda.


Sesampainya Di Kost-an, Amanda Langsung Saja Masuk Menuju Ke Kamarnya Tanpa Berkata Apapun Pada Yudha. Yudha Tadinya Ingin Menahan Amanda, Tapi, Dia Mengurungkannya.


"Amanda Kayaknya Kecewa Banget Deh Karena Aku Tolak Dia. Maafin Aku Amanda, Aku Memang Tidak Bisa Membalas Cintamu, Kalaupun Aku Paksakan, Malah Nantinya Bikin Kamu Makin Sakit Ketika Kamu Tahu Aku Cuma Pura-Pura Mencintaimu" Batin Yudha.


"Yud...Kamu Ngapain Disitu?" Tanya Alika Yang Menghampirinya.


"Eh...Alika, Kamu Belum Tidur?" Yudha Berbalik Bertanya.


"Aku Gak Bisa Tidur, Yud, Hatiku Masih Terasa Gelisah, Ada Perasaan Yang Mengganjal Di Hatiku" Kata Alika.


"Emang Perasaan Apa Yang Mengganjal Di Hatimu Saat Ini" Yudha Penasaran.


"Yud, Jujur Aja Aku Mulai Mencintaimu, Aku Bodoh Karena Mengabaikan Rasa Cintamu Di Masa Lalu, Aku Baru Sadar Sekarang, Tidak Ada Cowok Yang Lebih Baik Dari Kamu" Alika Menatap Yudha Dalam-Dalam. "Kamu Masih Menyimpan Perasaan Itu Kan? Aku Sekarang Mau Kok, Terima Kamu Menjadi Orang Yang Spesial" Kata Alika Sambil Memegang Tangan Yudha.


"Hari Ini Kenapa Kayak Gini? Tadi Pas Di Taman Dekat Studio Yori, Amanda Ungkapin Perasaannya Ke Aku, Sekarang Alika, Kok Bisa Barengan Gitu Yah, Kayak Orang Janjian Aja" Batin Yudha Heran.


"Yud, Kok Diam Sih?" Tanya Alika Yang Seketika Membuyarkan Lamunan Yudha.


"Eh...Gak Kok, Al" Yudha Sedikit Gelagapan.


Dengan Tarikan Nafas Yang Panjang, Yudha Berkata "Aku Memang Cinta Sama Kamu, Al, Aku Menyimpan Seluruh Perasaanku Padamu Selama 3 Tahun, Sampai Pada Akhirnya Kamu Bersanding Dengan Orang Lain. Saat Itu Pula Perlahan Rasaku Itu Memudar Dan Mulai Tergantikan Dengan Sosok Yang Baru. Maafkan Aku Alika, Rasaku Yang Dulu Sudah Hilang".


"Iya, Yud, Kamu Tidak Usah Meminta Maaf, Karena Semuanya Berawal Dariku, Yang Saat Itu Menolakmu Sampai Aku Terlena Dengan Pesona Lelaki Yang Sekarang Jadi Suamiku, Yang Pada Akhirnya Menyia-Nyiakanku Juga. Mungkin Tuhan Menakdirkan Kita Untuk Tidak Bersama, Semoga Kamu Bahagia Dengan Pilihanmu Itu, Yud" Alika Tersenyum Dan Berusaha Tegar Atas Keputusan Yudha.


"Terima Kasih Juga Atas Pengorbananmu Ini, Membiayai Hidupku Dan Anakku" Kata Alika.


"Kamu Gak Usah Pikirkan Itu, Aku Cuma Gak Mau Melihat Temanku Sengsara, Makanya Aku Lakukan Sebisaku" Yudha Memegang Pundak Alika.


-


-


"Benar Kata Amanda, Sebesar Apapun Rasa Cinta Itu, Lama Kelamaan Akan Memudar Seiring Dengan Berjalannya Waktu Dan Akan Tergantikan Dengan Sosok Yang Baru" Batin Alika.


Sementara Itu, Amanda Terus Bersedih Di Dalam Kamarnya Semalaman, Sampai-Sampai Dia Tidak Tidur. Alam Yang Terbangun Tepat Di Jam 3 Pagi Untuk Melaksanakan Sholat Tahajjud, Yang Sudah Menjadi Kebiasaannya Setiap Hari, Mendengar Suara Tangisan Dan Mencoba Mencari Asal Suara Itu.


"Suara Tangisan Siapa Itu Yah?" Alam Bertanya-Tanya.


Alam Tepat Berada Di Depan Kamar Amanda Dan Suara Tangisan Itu Terdengar Sangat Jelas. Alam Menempelkan Telinganya Di Pintu Kamar Amanda Dan Suara Itu Semakin Keras Terdengar.


"Man....Manda" Alam Mengetuk Pintu Kamar Amanda.


Amanda Menghentikan Tangisnya Dan Membuka Pintu Kamarnya.


"Ada Apa, Lam?" Tanya Amanda Dengan Suara Berat Karena Menangis.


"Man, Kamu Kenapa Nangis? Kamu Ada Masalah Atau Apa" Alam Mengusap Air Mata Amanda Yang Menetes Di Pipinya.


Tanpa Berkata Apapun, Amanda Langsung Saja Memeluk Alam Dan Menangis Di Pelukannya. Bahunya Terguncang Dan Isak Tangisnya Semakin Keras. Dengan Gerakan Refleks, Tangan Alam Mengelus Lembut Kepala Amanda Agar Amanda Lebih Tenang.


"Menangislah, Man, Kalau Itu Bisa Membuatmu Lebih Lega" Ucap Alam.


"Lam, Yudha....Lam, Yudha!" Amanda Sesenggukan.


"Yudha? Yudha Kenapa, Man, Apa Yang Dilakukan Yudha Sama Kamu? Jawab Amanda! Apa Yudha Nyakitin Kamu?" Tanya Alam Khawatir.


"Tadi Aku Menyet Ke Yudha, Tapi, Yudha Nolak Aku, Dia Bilang Dia Gak Bisa Terima Cintaku Dan Dia Anggap Aku Seperti Adiknya Sendiri. Rasanya Sakit, Lam, Mendengar Jawaban Seperti Itu Dari Yudha" Amanda Masih Meneteskan Air Matanya.


"Aku Tahu, Lam, Aku Gak Bisa Paksakan Perasaannya Dia, Tapi, Entah Kenapa Rasanya Sakit, Aku Begitu Mencintai Yudha Dan Aku Sangat Berharap Yudha Bisa Membalas Cintaku Ini, Tapi, Kenyataannya Tidak Seperti Itu" Amanda Terisak-Isak.


"Aku Salah Mengartikan Perhatian Yudha Selama Ini Ke Aku, Aku Sangka Dia Seperti Itu Karena Punya Rasa Yang Sama Sepertiku, Tapi, Nyatanya Semua Itu Salah" Bahunya Kian Terguncang.


"Amanda, Gini, Aku Tahu Bagaimana Sakitnya Ditolak Sama Orang Yang Kita Cintai, Tapi, Itulah Kenyataannya Dan Harus Kamu Hadapi Dengan Tegar. Aku Tidak Ingin Melihat Kamu Rapuh Seperti Ini, Aku Ingin Melihat Amanda Yang Biasanya, Yang Selalu Ceria, Tersenyum, Bersemangat. Come On Amanda, Bangkit!" Alam Memberikan Semangat Pada Amanda.


"Ingat, Amanda, Suatu Saat Nanti, Tuhan Akan Mempertemukan Kamu Dengan Sosok Lelaki Yang Tepat Buatmu Dan Yang Akan Mendampingi Hidupmu Kelak, Percaya Deh Sama Aku" Kata Alam Dengan Yakin.


"Tapi, Lam, Apa Aku Sanggup Kalau Harus Berpapasan Dengan Yudha Tiap Hari?" Amanda Masih Ragu.


"Man, Gini, Kalau Kamu Masih Ragu, Sekarang Kamu Ambil Air Wudhu, Terus Sholat Tahajjud, Minta Petunjuk Pada Allah, Insya Allah Setelah Itu Beban Pikiran Kamu Pasti Akan Sedikit Berkurang" Alam Memberi Nasehat.


Amanda Pun Mengikuti Saran Dari Alam. Seolah Ada Embun Yang Menyejukkan Hatinya Setelah Sholat.


"Lam, Kamu Benar Banget, Hatiku Jauh Lebih Lega Sekarang Dan Beban Pikiranku Udah Sedikit Berkurang, Kayak Plong Banget Rasanya" Amanda Menghela Nafas Lega.


"Benar Kan Apa Yang Aku Bilang Tadi, Jadi Lebih Tenang Kan Sekarang" Kata Alam.


"Makasih Yah, Lam, Di Saat Aku Rapuh Seperti Ini, Kamu Selalu Ada Untuk Ngasi Aku Semangat Lagi, Yang Selalu Care Sama Aku Tiap Aku Ada Masalah" Amanda Tersenyum.


"Kamu Gak Usah Bilang Makasih, Man, Aku Sih Disini Cuma Mau Bantuin Aja, Apalagi Kita Kan Temenan" Alam Mengerlingkan Sebelah Matanya.


Amanda Merasa Beruntung Karena Di Kelilingi Tetangga-Tetangga Kost Yang Begitu Baik Padanya, Salah Satu Adalah Alam.


"Ya Udah, Kamu Mending Tidur Sekarang Deh, Man, Aku Juga Mau Balik Ke Kamarku" Alam Beranjak Dari Hadapan Amanda.


"Makasih Yah, Lam, Kamu Udah Bikin Aku Jauh Lebih Tenang" Kata Amanda.


Alam Hanya Membalas Dengan Senyuman, Sambil Menganggukkan Kepalanya.


Rasa Sakit Amanda Sedikit Terobati Berkat Bantuan Alam, Cowok Yang Selalu Care Terhadapnya, Memberikan Perhatian Padanya. Sungguh Membuat Hatinya Senang.