The Announcer

The Announcer
Liputan Berdua


"Jadi, Gimana Nih Soal Rencana Pernikahan Kalian Berdua?" Karin Menatap Yudha Dan Rena Bergantian.


"Sesuai Dengan Rencana Kita Dari Awal, 2 Minggu Ke Depan Kita Akan Menikah, Mbak" Jawab Yudha.


"Tapi, Apa Gak Terlalu Mepet Banget Tuh, Yud. Kamu Juga Kan Pasti Sibuk Pas Aku Masih Amnesia" Rena Ragu.


"Kalau Kita Undur Aja Gimana?" Rena Memberi Masukan.


"Nah.... Itu Dia Yang Tidak Kamu Tahu, Aku Selama Ini Diam-Diam Siapkan Semua Pernikahan Kita" Jawab Yudha.


"Dan Ini Kejutan Buat Kamu, Sayang" Yudha Memberikan Sebuah Undangan Pernikahannya.


Rena Terkejut Melihat Undangan Yang Dipegangnya.


"Yud, Aku Gak Tahu Lagi Harus Ngomong Apa, Aku Senang Banget" Mata Rena Berkaca-Kaca.


"Kamu Tuh So Sweet Banget Sih, Yud, Aku Aja Terharu Loh Melihat Apa Yang Kamu Lakukan Ke Rena Ini" Mata Karin Juga Berkaca-Kaca.


"Mungkin Aku Bukan Orang Yang Romantis, Yang Selalu Mengucapkan Kata Cinta Ke Kamu, Mengirimkan Puisi Romantis, Yang Setiap Saat Bilang I Love You Ke Kamu. Tapi, Aku Cukup Membuktikannya Dengan Cara Yang Kulakukan Seperti Sekarang Ini" Yudha Memegang Tangan Rena.


-


-


"Ada Apa Sih Ini, Kayaknya Seru Banget Kedengarannya?" Tanya Andien Yang Masuk Ke Dalam Kamar Rena Sambil Membawa Sarapan Untuk Rena.


"Bu, Coba Lihat Ini Deh" Rena Menunjukkan Sebuah Undangan Pada Ibunya.


"Undangan Apa Ini, Nak?" Tanya Andien Bingung.


"Ini Undangan Pernikahan Aku Sama Yudha, Bu. Yudha Yang Merancangnya Sendiri Dan Dia Ngasi Aku Surprise Gitu" Terang Rena Dengan Antusias.


"Apa Benar, Yud?" Andien Melirik Kearah Yudha.


"Iya, Tante" Jawab Yudha Singkat.


"Makasih Yah, Yud, Kamu Udah Menunjukkan Keseriusan Kamu Sama Rena, Tante Sangat Senang Sekali. Tante Hanya Bisa Ngasi Kalian Do'a, Semoga Semuanya Dilancarkan Sampai Hari Pernikahan Kalian Tiba" Andien Menangis Terharu Melihat Apa Yang Telah Dilakukan Yudha Pada Rena.


"Amiiin......!!!" Yudha, Rena Dan Karin Menjawab Serentak.


"Oh Iya, Yud, Aku Boleh Ikut Kamu Gak, Untuk Liputan Besok" Pinta Rena.


'Boleh Sih, Tapi, Kamu Kan Masih Harus Banyak Istirahat, Nanti Yang Ada Kamu Drop Lagi Kalau Kamu Ikut Liputan Juga" Yudha Terlihat Khawatir.


"Kamu Tenang Aja, Yud, Gak Akan Terjadi Apa-Apa. Lagian Tuh Biasanya Kalau Aku Sakit, Aku Harus Jalan-Jalan Keluar Gitu Biar Cepat Sembuhnya, Kalau Aku Dirumah Aja, Aku Merasa Makin Sakit, Lama Sembuhnya, Benar Kan, Bu!" Terang Rena Sambil Melirik Ibunya.


"Iya, Yud, Rena Ini Memang Sejak Kecil Seperti Itu, Kalau Sakit Tidak Pernah Diam Dirumah, Kalau Diam Dirumah Kayak Gini, Yang Ada Dia Malah Makin Parah Sakitnya" Andien Membenarkan.


"Ya Udah Kalau Gitu, Kamu Boleh Ikut" Yudha Pun Mengijinkan Rena.


Jam 8 Pagi, Yudha Pun Berangkat Bersama Rena Menuju Ke Tempat Liputan Mereka Dan Mewawancarai Beberapa Narasumber. Begitu Sampai, Yudha Dan Juga Rena Disambut Dengan Begitu Ramah, Membuat Yudha Dan Rena Juga Merasa Nyaman Dan Enjoy Untuk Melontarkan Beberapa Pertanyaan Pada Beberapa Narasumber Yang Mereka Tunjuk Untuk Di Wawancarai Seputar Hari Ibu.


"Pak, Bu, Terima Kasih Banyak Atas Sambutannya Yang Luar Biasa, Kita Berdua Sangat Senang Berkunjung Kesini" Yudha Menjabat Tangan Salah Satu Narasumber Yang Tadi Di Wawancarainya.


"Sama-Sama Mas Yudha Dan Mbak Rena, Lain Kali Main-Main Kesini Lagi Yah, Pintu Kantor Kita Terbuka Lebar Untuk Kalian Berdua" Jawabnya Dengan Senang Hati.


"Iya, Pak, Pasti Kita Nanti Akan Kesini Lagi Dan Obrolin Banyak Hal Yang Lainnya" Kata Yudha.


"Kalau Gitu Kita Berdua Pamit Yah, Pak, Bu, Masih Ada Yang Harus Kita Berdua Kerjakan Lagi" Yudha Pun Berpamitan Dan Bersalaman Dengan Beberapa Karyawan Di Kantor Yang Mereka Kunjungi Tersebut.


"Yud, Mereka Semua Itu Ramah-Ramah Yah, Senang Deh Kalau Kayak Gini" Rena Merasa Bahagia.


"Aku Juga Gak Nyangka Loh, Ren, Bakal Seperti Ini Sambutan Dari Mereka" Kata Yudha.


Di Perjalanan, Rena Tanpa Sengaja Melihat Seseorang Yang Sedang Sendirian Di Pinggir Jalan. Rena Merasa Kasian Melihatnya.


"Yud, Lihat Disana, Ada Seseorang Yang Melamun Gitu, Kayaknya Lagi Sedih" Rena Menunjuk Seseorang Yang Duduk Sendirian Di Pinggir Jalan.


Yudha Pun Menepi Dan Menghampiri Seseorang Tersebut.


Seseorang Tersebut Menoleh Ke Arah Rena. Rena Terkejut Melihatnya, Karena Ternyata Seseorang Tersebut Adalah Temannya, Vanessa.


"Kamu, Vanessa Kan?" Tanya Rena.


"Iya, Ren" Jawabnya Singkat.


"Kamu Ngapain Disini? Sendirian Lagi. Nanti Kalau Ada Orang Jahat Atau Apa Gitu, Gimana?" Rena Sangat Cemas.


"Aku Cuma Pengen Tenangin Diriku Sejenak, Pikiranku Lagi Kalut Banget, Ren" Jelas Vanessa.


"Emang Kalau Boleh Tahu, Kamu Ada Masalah Apa Sih?" Tanya Rena Penasaran.


"Siapa Tahu Aja Nih Aku Sama Yudha Bisa Bantuin Kamu" Lanjut Rena.


"Kamu Tahu Kan, Besok Itu Udah Natal. Niatnya Itu Aku Pengen Ke Jakarta, Ngumpul Bareng Keluarga Besarku Disana. Tapi, Sampai Hari Ini Aku Belum Punya Cukup Uang Untuk Kesana, Aku Jadi Bingung Nih, Ren" Vanessa Merasa Sangat Sedih.


"Kasian Banget Vanessa, Natal Kali Ini, Niatnya Mau Ngumpul Bareng Keluarganya Di Jakarta Malah Terhambat Karena Uangnya Tidak Cukup Untuk Berangkat Kesana" Batin Rena.


"Belum Lagi Harga Tiket Pesawat Yang Melonjak Naik, Terus Penerbangan Ke Jakarta Untuk Hari Ini, Tinggal Siang Ini Yang Tersisa, Sekitar Jam 2 Siang Take Off" Lanjut Vanessa.


"Gimana Kalau Kamu Beli Online Aja, Van" Rena Memberi Saran Pada Vanessa.


"Justru Itu, Ren, Aku Udah Cek, Harga Tiketnya 2 Juta-an, Terus Aku Cuma Punya Uang 1 Juta Aja" Jawab Vanessa Dengan Raut Wajah Sedih.


-


-


"Yud, Gimana Ini?" Tanya Rena Pada Yudha Dengan Sedikit Berbisik.


"Aduh... Aku Juga Bingung, Ren" Yudha Juga Kebingungan.


"Cuma Satu Aja Sih Caranya, Ren" Kata Yudha.


"Apa Itu, Yud?" Tanya Rena.


Yudha Pun Membisikkan Sesuatu Di Telinga Rena. Rena Menganggukkan Kepalanya Tanda Dia Setuju Dengan Usul Yudha Tersebut.


"Mmm... Van, Aku Sama Yudha Bakal Pinjamkan Kamu Uang Buat Kamu Berangkat Ke Jakarta, Biar Kamu Bisa Ngumpul Bareng Keluargamu Disana, Pas Natal Besok" Rena Menawarkan Bantuan Pada Vanessa.


"Gak Usah, Ren, Nanti Aku Merepotkan Lagi. Aku Udah Cukup Sering Merepotkan Kamu" Vanessa Menolak Secara Halus.


"Van, Aku Mohon, Untuk Kali Ini Kamu Jangan Nolak Yah, Please" Rena Berusaha Membujuk Vanessa.


"Van, Ini Momennya Pas Banget Untuk Kamu Ngumpul Sama Keluarga Besar Kamu, Momen Yang Seperti Ini Tidak Setiap Hari Bisa Dilakukan, Apalagi Pasti Mereka Punya Kesibukan Masing-Masing Kan. Aku Cuma Gak Mau Kamu Bersedih Di Hari Natal Besok" Rena Masih Berusaha Membujuk Vanessa Agar Mau Menerima Bantuannya.


"Aku Gak Tahu Lagi Harus Berkata Apa Selain Ucapan Terima Kasih, Karena Kamu Selalu Ada Di Saat Aku Kesulitan Seperti Ini" Mata Vanessa Berkaca-Kaca.


"Kita Kan Sahabat, Van, Jadi, Sudah Seharusnya Kita Saling Membantu Satu Sama Lain" Rena Tersenyum.


"Ya Udah Sekarang Kamu Langsung Booking Tuh Tiketnya, Terus Abis Itu Kita Balik Ke Rumah Kamu Buat Ambil Baju Kamu Dan Kita Antar Kamu Ke Bandara Setelah Itu" Kata Rena.


Vanessa Pun Langsung Memesan Tiket Pesawat Tersebut Dan Segera Bergegas Kembali Ke Rumahnya, Yang Diantar Oleh Yudha Dan Rena. Setelah Semuanya Selesai, Yudha Dan Rena Mengantar Vanessa Ke Bandara.


"Ren, Aku Gak Bakal Lupa Kebaikan Kamu Ini. Aku Janji, Aku Akan Ganti Uang Kamu" Kata Vanessa.


"Kamu Jangan Pikirkan Itu Dulu, Van, Kalau Misalkan Kamu Udah Ada Uangnya, Baru Kamu Bayar, Kalau Belum Ada, Yah... Biar Nanti-Nanti Juga Gak Apa-Apa Kok" Jawab Rena Santai.


"Ehh... Udah Nyampe Bandara Aja" Vanessa Sedikit Terkejut.


"Van, Maaf Yah Kita Cuma Bisa Ngantar Kamu Sampai Sini, Gak Bisa Anterin Kamu Sampai Ke Pintu Keberangkatannya, Soalnya Kita Berdua Lagi Buru-Buru Nih, Mau Balik Ke Kantor Lagi" Kata Rena.


"Gak Apa-Apa Kok, Ren, Malah Aku Yang Makasih Banget, Udah Meluangkan Waktu Untuk Anterin Aku Ke Bandara. Aku Pamit Yah, Ren, Bye" Vanessa Beranjak Pergi Dari Hadapan Rena Dan Yudha.


"Safe Flight Yah!!" Teriak Rena.


Vanessa Hanya Melambaikan Tangannya Saja.