
Sesuai dengan instruksi Dian, Rena meminta rekaman percakapan antara Karin dan Ramdan di telpon. Karin secara kebetulan merekam percakapannya tersebut dan berpikir suatu saat akan dibutuhkan.
"Situasi benar-benar berpihak pada kita kali ini, mbak" Rena terlihat sangat senang.
"Iya, Ren, aku juga pusing kalau masalah ini berlarut-larut" kata Karin.
"Mbak Karin gak usah khawatir, secepatnya masalah ini akan berakhir dan Ramdan gak akan bisa lapor yang macam-macam lagi" Rena terlihat begitu yakin.
"Ada apa nih, kayaknya serius banget" Celetuk Darto.
"Ini, To, kita lagi urus masalah si Ramdan yang nelpon kesini waktu itu" terang Karin.
"Oh... Yang katanya dapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari salah satu penyiar disini itu, Rin" Terka Darto.
"Iya, itu sudah, tapi, tenang aja, Rena akan menyelesaikan masalah ini dengan caranya dia" kata Karin.
"Kalau Rena sih, aku percaya sepenuhnya, dia bisa menyelesaikannya dengan hasil yang sangat baik" Darto berkeyakinan sepenuhnya. Rena hanya tersenyum mendengarnya.
Beberapa hari setelah Rena mengirimkan rekaman percakapan Karin dengan Ramdan ditelpon pada Dian, Ramdan mulai terancam dipecat oleh pemilik perusahaan tempatnya bekerja, yang tidak lain adalah ayah Dian.
"Ramdan, setelah saya mendapatkan bukti dari Dian, anak saya, saya memutuskan untuk memecat kamu secara tidak terhormat! Karena kamu terbukti melakukan tindakan yang tidak pantas dilakukan, yaitu mengancam orang lain demi mendapatkan keinginan pribadi kamu" kata sang direktur dengan tegas.
"Tapi, pak, saya tidak pernah lakukan itu" Ramdan mencoba membela diri.
"Kamu gak usah ngelak lagi, Ramdan, aku punya semua buktinya dan juga saksinya ada disini" Dian pun angkat bicara.
"Saya percaya dengan anak saya, karena saya yakin, dia tidak akan menyalahgunakan kekuasaannya untuk berbuat semena-mena, dia akan dengan bijak dalam menghadapi setiap masalah dan mengambil sebuah keputusan" katanya.
"Dan satu hal lagi, pernikahan kamu dengan saya, dibatalkan!" Lanjutnya
Ramdan yang tidak bisa mengelak lagi, terpaksa meninggalkan tempat kerjanya dan dipecat secara tidak hormat. Karin, Rena dan teman-temannya yang lain pun lega masalah ini akhirnya sudah selesai.
"Akhirnya masalah ini kelar juga, gak usah was-was lagi dengan ancaman dari Ramdan itu" kata Rena dengan perasaan lega.
"Iya, Ren, aku juga lega banget sekarang, aku makin bangga sama kamu, gak salah kalau aku memberikan kepercayaan padamu, kamu memang bisa diandalkan" Karin mengacungkan jempolnya.
"Iya dong, siapa dulu, calon istriku gitu loh" celetuk Yudha sambil merangkul pundak Rena.
"Kamu Apa'an sih, Yud" Rena menyikut Yudha pelan.
"Ini semua juga berkat bantuan Dian dan ayahnya, kalau bukan karena mereka, aku gak tahu deh gimana jadinya, jadi, terima kasih banyak atas bantuan kalian" kata Rena pada Dian dan ayahnya.
"Sama-sama, Ren. Aku juga mau bilang makasih ke kamu, karena berkat kamu, aku semakin yakin untuk mengakhiri hubunganku ini dengan Ramdan" Dian Tersenyum.
"Satu lagi masalah selesai, semoga gak ada lagi, masalah-masalah yang seperti ini lagi" harapnya.
"Ren, gimana? Setelah kejadian ini, apa kamu masih mau berniat untuk memilih Ramdan dan menggantikan Yudha?" Tanya Karin.
"Yah... Dengan adanya kejadian ini, membuat aku sadar, kalau apa yang aku lakukan ini emang salah dan sekaligus membuatku yakin kalau hanya Yudha yang ditakdirkan untukku" Rena mengehela nafas.
"Ya udah kalau seperti itu, kamu fokus aja sama hubungan kamu dengan Yudha, gak usah mikirin yang lain" kata Karin.
"Iya, mbak, aku akan memfokuskan pikiranku sepenuhnya untuk persiapkan pernikahanku dengan Yudha" jawab Rena.
"Kalau misalkan butuh bantuan, kamu dan Yudha jangan sungkan untuk bilang ke aku yah, aku siap bantu kok, Okey" Karin mengerling.
"Okey, mbak" Rena mengacungkan jempol.
"Permisi...!" Tiba-tiba ada seseorang berteriak di luar.
"Iya, ada yang bisa dibantu?" Rena keluar menghampiri seseorang tersebut.
"Ini ada kiriman surat untuk Yudha" katanya dan mengeluarkan surat tersebut dari dalam tasnya.
"Oh.... Iya, mas, Yudha lagi keluar, nanti aku sampaikan begitu dia datang" Rena menerima surat tersebut.
Rena penasaran dengan isi surat tersebut.
"Ini surat dari siapa yah? Kira-kira isinya apa yah?" Tanyanya dalam hati.
Rena melihat nama pengirim surat tersebut, "Uchy". Rena Mengerutkan dahinya dan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ini Uchy siapa yah? Apa jangan-jangan ini pacar Yudha?" Pikirnya.
"Tapi, aku gak mau berpikiran negatif dulu, siapa tahu cuma teman biasa mungkin" Rena mencoba berpikir positif.
"Ren, ngapain disitu?" Tanya Yudha yang sudah berdiri di depan Rena.
"Ngomong-ngomong, itu surat apa'an? Surat dari pengagum rahasia yah?" Yudha menerka.
Oh... Ini, tadi ada kurir ngantar surat buat kamu dari Uchy" jelas Rena dan memberikan surat tersebut dari Yudha.
"Oh... Udah nyampe suratnya? Wah... Coba lihat" Yudha langsung membuka surat tersebut.
"Yudha kok antusias gitu yah buka surat itu? Ah... Stop Rena, cari tahu dulu siapa Uchy itu sebenarnya" pikir Rena.
"Ren, kamu tahu gak, katanya Uchy bakal datang kesini besok sore, nanti aku kenalin yah" katanya.
"Eh...Oh...Iya, Yud" Jawab Rena.
"Yudha ngapain coba, kenalin si Uchy itu sama aku? Apa dia gak mikirin perasaanku apa, giliran aku aja, dia marah kalau aku sama cowok lain, sedangkan dia seakan santai aja dan gak mikirin perasaanku sama sekali! Runtuk Rena kesal.
Rena langsung beranjak meninggalkan Yudha dengan perasaan kesal.
"Aduh.... Rena! Lihat-Lihat dong kalau jalan" Feby sedikit marah, Rena menabraknya.
"Maaf, Feb, aku gak sengaja" Rena meminta maaf padanya.
"Kamu kenapa sih, Ren, kayak kesal gitu?" Tanya Feby.
"Tuh... Lihat disana" Rena menunjuk kearah Yudha.
"Yudha? Kenapa dengan Yudha?" Tanya Feby penasaran.
"Tadi aku surat yang dikirim kesini untuk Yudha, surat itu yang ngirim cewek, namanya Uchy. Terus besok katanya mau dibawa kesini, mau dikenalin ke aku gitu" jelas Rena.
"Terus masalahnya apa, Ren?" Feby masih bingung.
"Kamu pikir aja sendiri, Feb, Yudha itu kan calon suamiku, terus dia bawa cewek lain kesini dan mau dikenalin ke aku, maksudnya apa coba, dia gak mikir apa perasaanku gimana" Rena kesal.
"Iya juga sih, Ren, itu hal yang wajar kalau kamu marah, aku tahu gimana rasanya" Feby seperti memahami yang dirasakan oleh Rena.
"Cuma menurutku kamu harus cari tahu dulu tentang si Uchy dulu, biar gak ada kesalahpahaman gitu atau kamu tanya aja langsung sama Yudha, biar jelas semuanya" Feby memberi masukan.
Tanpa berlama-lama lagi, Rena langsung ingin menemui Yudha.
"Yudha mana yah? Tadi perasaan disini" Rena Mencari-cari keberadaan Yudha.
"Kamu lagi nyari siapa, Ren?" Tanya Darto yang menghampiri Rena.
"Ini, mas, aku nyari Yudha, mas Darto lihat gak?" Tanya Rena.
"Yudha baru aja keluar, katanya ada urusan" jawab Darto.
"Oh... Gitu yah, ya udah, mas, makasih" Rena tampak lesu mendengar jawaban Darto.
"Emang ada apa kamu nyari Yudha? Ada hal yang penting, yang pengen kamu omongin sama Yudha?" Darto berbalik bertanya.
"Iya, mas" jawab Rena singkat.
"Tentang apa sih, siapa tahu aku bisa bantu" Darto penasaran.
"Mau nanyain soal fitting baju pengantin, udah ditanyain sama yang punya butik tadi" jelas Rena.
"Oh.... Gitu, kirain apa, coba kamu telpon Yudha aja" usul Darto dan berlalu dari hadapan Rena.
"Iya, mas" Rena mengangguk.
Rena langsung menghubungi Yudha.
"Halo, Ren, ada apa" Yudha menjawab panggilan Rena.
"Halo, Yud, kamu lagi dimana sekarang?" Tanya Rena.
"Aku lagi di butik, mau ambil gaun pengantin pesanan Ucy, kan dia udah datang besok, Ren, ada apa?" Yudha berbalik bertanya.
"Haah! Yudha mau nikah dengan Uchy? Sampai ambil gaun pengantin di butik, Yudha secepat itu berpaling, tega kamu, Yud!" Air mata Rena menetes memikirkannya.
"Oh... Gitu, tadinya aku mau obrolin soal kerjaan, tapi, karena kamu gak bisa, mungkin besok aja kali yah" Rena beralasan.
"Oh.... Kirain ada apa, udah dulu yah, Ren, aku lagi ribet nih, Okey, see you" Yudha pun langsung memutuskan telponnya.