
"Udahlah, Yud, kamu bilang jujur aja sama mbak Karin, kalau kita ini memang punya hubungan spesial, kita kan saling sayang satu sama lain" Vivi menggenggam erat tangan Yudha.
"Lepasin Vivi! Kamu tuh Apa-Apa'an sih, sakit jiwa kamu tuh!" Yudha semakin marah pada Vivi, ditambah lagi dengan sikapnya tersebut.
"Kamu gak usah malu untuk mengakuinya, sayangku, cintaku, pujaan hatiku" Vivi menatap dengan tatapan menggoda.
"Vivi, stop! Kalau tidak aku tampar kamu!" Amarah Yudha kian meledak
"Aku pikir kamu itu laki-laki yang baik, ternyata aku salah. Aku benar-benar menyesal telah bersusah payah memperjuangkan agar kamu dan Rena bisa jadian, aku telah salah memulihkan pasangan untuk sahabatku" Karin seolah menyesal atas semua yang telah dilakukannya untuk mempersatukan Yudha dan Rena.
"Iya, mbak, karena Yudha itu sayang sama aku seorang, ya kan, sayang" Vivi menatap Yudha. Yudha menoleh dan tanpa berkata apapun Yudha melayangkan tamparannya ke pipi Vivi. Karin terkejut melihat apa yang dilakukan Yudha. Karin belum pernah melihat Yudha marah sampai segitunya.
"Mbak, Vivi ini bohong, semua yang dikatakannya dusta, sejak kapan aku dan gadis gak waras ini dekat, malah aku selalu jaga jarak sama dia kalau dikantor, karena walaupun aku jauh dari Rena, tapi, sebisa mungkin aku menjaga hatiku untuk Rena" Yudha mencoba menjelaskan kebenarannya dan meyakinkan Karin.
"Jadi, mana mungkin aku dan dia ini, tiba-tiba nge-date, itu suatu hal yang mustahil, apalagi sikapku ke dia ini biasa-biasa aja, seperti sikapku ke anak-anak yang lain" lanjut Yudha.
"Kalau dari sorot mata Yudha sih, sepertinya dia jujur, terus sikapnya Yudha ke Vivi, saat Vivi bilang mereka lagi nge-date, Yudha benar-benar marah, bahkan sempat melayangkan tamparannya pada Vivi" batin Karin.
"Oke, Yud, aku berusaha untuk mempercayai kamu dan aku bisa merasakan kalau kamu berkata jujur" kata Karin.
"Dan kamu, Vivi, aku benar-benar menyesal duduk satu meja sama kamu, aku gak akan mau semeja dengan kamu kalau tahu akhirnya seperti ini, benar-benar gak waras kamu" Yudha menatap Vivi kesal. Vivi sudah tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi dari cafe tersebut, sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Yudha.
"Kenapa juga aku harus ketemu cewek gila kayak gitu. Dulu, sewaktu masih pacaran dengan Rena, Stella yang selalu mengganggu hubunganku dengan Rena, bahkan dengan nekat menyekap Rena, sekarang muncul Vivi, dengan karakter yang nyaris mirip dengan Stella, namun, sama gilanya" Yudha dipusingkan dengan tingkah laku Vivi.
"Mami, yuk, kita balik sekarang, aku harus kemas-kemas barang untuk besok" suami Karin menghampiri.
"Iya, papi, ya udah kita berdua pamit yah" Karin berpamitan dan berlalu pergi. Suami Karin menganggukkan kepala sambil tersenyum. Yudha membalas anggukan kepalanya.
Hari-hari berikutnya dikantor, Yudha mulai bersikap dingin saat berpapasan dengan Vivi. Yudha masih merasa kesal dengan kejadian di cafe tempo hari. Vivi masih berusaha untuk mencuri perhatian Yudha. Namun, Yudha tidak memperdulikan dengan semua yang dilakukannya.
"Kak Yudha, ini ada brownies buat kak Yudha, aku yang buat sendiri loh, jangan lupa dimakan yah kak" Vivi membawa sebuah kotak berisi kue untuk Yudha. Yudha tidak menggubris sedikitpun dan tetap sibuk dengan kerjaannya.
"Aku simpan disini yah, kak" Vivi menyimpan makanan yang dibawanya diatas meja kerja Yudha dan berlalu pergi. Yudha hanya menoleh sejenak saat Vivi pergi dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Wihh.... Yud, kayaknya ini kue, enak nih" salah satu rekan kerjanya menghampiri meja kerja Yudha.
"Kalau kamu mau ambil aja, Feb" kata Yudha.
"Beneran? Kamu gak mau? Enak loh ini, Yud" Feby tergiur dengan kue tersebut.
"Iya, Feb, beneran, lagian aku udah sarapan juga dirumah tadi" jawab Yudha.
"Oke, aku bawa yah, makasih loh, Yud" Feby beranjak pergi dan membawa makanan tersebut.
"Feb, Apa'an tuh, bagi dong" seseorang berpapasan dengan Feby.
"Makasih yah, Feb" Darto mengambilnya dan berlalu pergi.
"Feb, kamu makan apa itu? Kayaknya enak tuh" Vivi menghampiri meja Feby dan hendak mengambil berkas materi siaran yang dibuatnya diatas meja.
"Kalau mau ambil aja, Vi" Feby menyodorkannya pada Vivi.
"Loh... Ini bukannya kue yang tadi aku kasi ke kak Yudha yah?" Tanyanya dalam hati.
"Siapa yang ngasi, Feb?" Tanya Vivi, sekedar ingin mencocokkan dengan dugaannya.
"Yudha. Dia bilang udah sarapan dirumahnya katanya, jadi, ya udah aku ambil aja kuenya dan bawa kesini deh" jelas Feby.
"Tuh.... Kan, benar dugaanku. Kak Yudha kok gitu sih, aku kan buatin kue ini khusus untuk kak Yudha, malah dikasi ke Feby kuenya, sia-sia dong jerih payahku" runtuk Vivi kesal.
"Feb, aku tinggal yah, mau ngasi berkas materi siaran ini ke mas Darto" Vivi beranjak pergi.
"Kak Yudha, tunggu bentar, aku mau ngomong sesuatu sama kakak" Vivi mencegat Yudha yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Ya udah buruan, aku gak punya banyak waktu" kata Yudha dengan tatapan dingin.
"Kak Yudha kok gitu sih, aku ngasi kue itu untuk kak Yudha, kenapa malah kak Yudha ke Feby" protes Vivi.
"Terus, masalahnya dimana. Kan kamu udah ngasi ke aku, jadi, itu hak aku, mau aku makan ataupun kasi ke orang lain, terserah aku dong, kenapa kamu harus marah" jawab Yudha dengan entengnya.
"Tapi, aku udah capek-capek buatin itu khusus untuk kak Yudha, sama aja kak Yudha gak hargain jerih payahku" Vivi terlihat kecewa pada Yudha.
"Udah yah, aku buru-buru, gak ada waktu untuk hal yang gak penting kayak gitu" Yudha pun segera berlalu pergi dari hadapan Vivi.
"Kak Yudha, tunggu dulu aku belum selesai ngomong! Kak!" Vivi berteriak memanggil Yudha. Namun, Yudha terus berjalan menjauh dari Vivi.
"Ihh....! Ngeselin banget sih kak Yudha!" Vivi menghentakkan kakinya, saking kesalnya dia pada Yudha.
"Aku harus berbuat apa sih biar kak Yudha bisa luluh hatinya, berbagai cara sudah aku coba, tapi, tetap saja gak berhasil" Vivi mulai merasa putus asa.
"Vi, ngapain disini? Tadi katanya mau ngasi berkas materi siaran ke mas Darto, kok malah diam disini?" Tanya Feby heran.
"Aku tuh kesal tahu gak, udah capek-capek bikinin khusus untuk dia, eh.... Malah dia kasi ke orang lain, gak bisa apa, sedikit aja hargai jerih payah aku" Vivi menghembuskan nafas kesal.
"Aku gak ngerti maksud kamu apa. Bikinin untuk dia? Dia siapa, Vi" Feby tampak kebingungan.
"Itu, kak Yudha, aku udah capek-capek bikin kue itu untuk dia, malah dia kasi ke orang lain, gimana gak kesal coba" Vivi kesal dan melipat tangannya ke dada.