The Announcer

The Announcer
Meminta Restu Ibu


"Rena, Kamu Tenang Dulu Dong, Aku Belum Selesai Bicara" Yudha Berusaha Meredam Amarah Rena.


"Maksud Aku Bawa Kamu Pulang Kembali Ke Rumahmu Itu, Agar Aku Bisa Bertemu Ibu Kamu Dan Meminta Restu Dari Beliau, Karena Aku Punya Niat Untuk Serius Sama Kamu" Lanjut Yudha.


"Ma.... Maksud Kamu, Kamu Mau Melamar Aku?" Tanya Rena Dengan Sedikit Gugup.


"Ya Iyalah, Ren, Emangnya Untuk Apa Kita Jalin Hubungan Ini Kalau Tidak Melangkah Ke Jenjang Pernikahan Dan Nanti Harus Berakhir Begitu Saja" Yudha Meyakinkan Rena.


"Kamu Mau Kan?" Tanya Yudha.


"Apakah Ini Beneran? Atau Ini Cuma Mimpi? Serasa Kayak Cerita Di FTV, Yang Selalu Happy Ending" Batin Rena Bahagia.


"Rena...!" Yudha Melambaikan Tangannya Di Depan Wajah Rena, Yang Seketika Membuyarkan Lamunan Rena.


"Ehh... Ma...Maaf, Yud" Rena Gelagapan.


"Kamu Mengkhayal Apa'an Sih, Ren" Yudha Menggeleng-Gelengkan Kepalanya.


"Hehehe.... Gak Ada Kok, Yud" Rena Menggaruk-Garuk Kepalanya.


"Gimana Kamu Mau Kan? Kalau Kita Temui Ibu Kamu Dan Meminta Restu Darinya?" Tanya Yudha.


"Jelas Aku Mau, Yud" Jawab Rena.


"Malahan Aku Senang Banget Dengarnya" Rena Tersenyum Semringah.


"Baiklah Kalau Gitu, Untuk Hari Ini Kamu Tidurnya Disini, Di Kamarnya Alika, Besok Kita Sama-Sama Ke Rumah Kamu" Kata Yudha.


Yudha Dan Rena Berjalan Menghampiri Kamar Alika.


"Al....! Alika!" Yudha Mengetuk Pintu Kamar Alika.


"Klik" Terdengar Suara Kunci Dan Pintu Terbuka.


"Eh... Kamu, Yud, Ada Apa?" Tanya Alika.


"Al, Sebelumnya Kenalin Ini Rena, Pacar Aku" Yudha Memperkenalkan Rena Pada Alika. Alika Mengangguk Sambil Tersenyum.


"Gini, Al, Untuk Malam Ini, Boleh Gak Rena Tidur Bareng Kamu Disini?" Yudha Meminta Izin Pada Alika.


"Besok Pagi Baru Aku Antar Rena Balik Kerumahnya, Biar Malam Ini Rena Tenang Dulu, Apalagi Tadi Abis Bertengkar Dengan Ibunya, Maksudnya Cuma Karena Perbedaan Pendapat Aja, Bukan Bertengkar Yang Gimana-Gimana" Terang Yudha.


"Iya, Yud, Gak Apa-Apa Kok, Aku Malah Senang, Jadi Ada Teman Ngobrol Juga Kan" Kata Alika.


"Ya Udah, Aku Tinggal Ke Kamar Dulu Yah, Thanks Sebelumnya Yah, Al" Yudha Beranjak Pergi Dari Hadapan Alika Dan Rena.


"Yuk, Ren, Masuk" Ajak Alika. Rena Melangkah Masuk Ke Kamar Alika.


Keesokan Harinya, Rena Dan Yudha Pun Bergegas Menuju Ke Rumah Rena Dan Bertemu Dengan Ibunya.


"Kok Aku Deg-Degan Gini Yah? Mudah-Mudahan Aja Ibu Bisa Terima Yudha" Rena Harap-Harap Cemas.


"Tapi, Aku Kok Gak Yakin Yah, Kalau Ibu Bakal Merestui Hubungan Aku Sama Yudha" Rena Masih Ragu Dalam Hatinya.


"Ahh... Dicoba Dulu Lah, Siapa Tahu Aja Dengan Cara Seperti Ini, Hati Ibu Jadi Luluh" Harap Rena.


1 Jam Kemudian, Yudha Dan Rena Pun Sampai.


"Kak Rena!" Kinal Kaget Begitu Melihat Rena Pulang.


"Eh... Bareng Sama Kak Yudha Juga Toh" Lanjutnya.


"Iya, Kin, Yudha Yang Bujuk Aku, Kalau Bukan Yudha Yang Bujuk, Kakak Gak Bakal Balik Ke Rumah" Kata Rena.


"Wah... Makasih Yah, Kak Yudha, Udah Mau Bujuk Kak Rena Pulang Ke Rumah" Kinal Tersenyum.


"Kak Rena Itu Susah Tahu Dibujuknya Kalau Lagi Marah Gitu" Kata Kinal Berbisik. Yudha Hanya Tersenyum Mendengarnya.


"Rena? Kamu Akhirnya Pulang Juga, Nak" Andien Menghampiri Rena Dan Langsung Memeluknya.


"Eh... Kamu Dianterin Sama Siapa Ini?" Tanya Andien.


"Kenalin, Ini Yudha, Bu, Pacar Aku" Rena Memperkenalkan Yudha Pada Ibunya.


"Halo, Tante" Yudha Mengulurkan Tangannya.


"Ya Udah Kita Masuk Ke Dalam" Andien Mengajak Rena Dan Yudha Masuk Ke Rumahnya.


-


-


"Nak Yudha, Terima Kasih Yah, Kamu Sudah Mau Membujuk Rena Pulang, Kalau Gak Ada Kamu, Gak Tahu Lagi Deh Gimana Caranya Tante Bujuk Rena" Kata Andien.


"Iya, Tante, Sama-Sama, Sekalian Ada Yang Pengen Sama Omongin Sama Tante" Wajah Yudha Begitu Serius.


"Oh... Gitu, Mau Ngomong Apa?" Tanya Andien.


"Aku Mau Minta Restu Tante, Kalau Boleh Aku Ingin Melamar Anak Tante" Jawabnya.


"Pria Ini Kelihatannya Serius Sama Rena, Datang-Datang Langsung Melamar Aja, Sepertinya Dia Pria Yang Baik" Pikir Andien.


"Mungkin Sudah Saatnya Rena Menentukan Kebahagiaannya Sendiri, Aku Juga Gak Mau Memaksakan Kehendakku Pada Rena Terus Menerus, Yang Ada Nanti, Malah Gak Bikin Dia Bahagia" Batin Andien.


"Bu, Gimana, Apa Jawaban Ibu?" Tanya Rena.


"Setelah Ibu Pikir-Pikir, Kamu Berhak Sepenuhnya Mencari Kebahagiaan Kamu Sendiri, Jadi, Ibu Merestui Hubungan Kalian" Kata Andien Dengan Sangat Yakin.


Mendengar Jawaban Dari Ibunya, Membuat Rena Tersenyum Bahagia.


"Tapi, Ada 1 Syarat" Lanjut Andien.


"Duh... Ibu Kebiasaan Deh, Pake Syarat Lagi, Pasti Yang Berat-Berat Deh Tuh, Aku Udah Duga Dari Awal" Runtuk Rena Yang Sedikit Kesal.


"Apa Itu, Tante?" Tanya Yudha.


"Syaratnya, Kamu Bawa Kedua Orang Tua Kamu Kesini Dan Kita Akan Bicarakan Soal Tanggal Dan Bulan Pernikahan Kalian Berdua" Jawab Andien.


"Iya, Tante, Secepatnya Saya Akan Bawa Kedua Orang Tuaku Kesini" Kata Yudha.


"Aku Kira Apa'an, Ternyata Nyuruh Yudha Datang Sama Ayah Ibunya Ternyata, Syukurlah Kalau Gitu, Aku Tadi Sempat Was-Was, Tapi, Sekarang Aku Jadi Tenang Deh Dengarnya" Rena Bernafas Lega.


"Bu, Terima Kasih Yah, Udah Mau Restui Kita Berdua, Aku Sayang Sama Ibu" Rena Memeluk Andien.


"Iya, Sayang, Maafin Ibu Yah, Selama Ini Udah Terlalu Keras Sama Kamu, Ibu Sekarang Sadar, Gak Semua Kemauan Seorang Ibu Harus Dituruti Oleh Anaknya, Terkadang Anak Juga Bebas Menentukan Pilihan Yang Terbaik Untuknya" Andien Mengusap Kepala Rena.


"Terima Kasih Tuhan, Kau Telah Meluluhkan Hati Ibuku Dan Akhirnya Mau Menerima Keputusanku Ini Dan Merestui Hubunganku Dengan Yudha, Semoga Ini Jalan Terbaik Dalam Hidupku" Rena Berucap Syukur Dalam Hatinya.


"Oh Iya, Nak Yudha, Kesibukannya Apa? Masih Kuliah Atau Udah Kerja?" Tanya Andien.


"Aku Kuliah Sambil Kerja, Tante" Jawab Yudha Singkat.


"Oh Ya? Kamu Kerja Dimana?" Andien Semakin Penasaran.


"Aku Kerja di Yori FM, Tante, Sebagai Penyiar, Sama Kayak Rena, Malahan Kita Berdua Jadi Partner Siaran Juga" Jelas Yudha.


"Wah.... Kalian Berdua Ini, Selain Sebagai Partner Siaran, Bakal Jadi Partner Hidup Yah Nantinya" Andien Tersenyum.


"Terus Kuliah Kamu Gimana, Gak Terganggu?" Tanya Andien.


"Gak Kok, Tante, Soalnya Aku Di Yori FM Cuma Part Time Aja Kok, Jadi, Selesai Siaran Pagi, Siang Aku Kuliah, Terus Malam Lanjut Siaran Lagi" Katanya.


"Kamu Hebat Yah, Yud, Bisa Membagi Waktu Kamu Seperti Itu, Tante Salut Sama Kamu" Andien Mengacungkan Jempolnya Pada Yudha.


-


-


-


"Aku Hanya Bisa Mendoakan Rena Supaya Dia Bahagia Bersama Yudha, Pria Pilihannya. Aku Tidak Mau Mengulangi Kesalahan Yang Sama, Yang Pernah Aku Lakukan Pada Cleo Dulu, Sampai Akhirnya Dia Bunuh Diri Untuk Menghindari Perjodohan Itu" Andien Begitu Menyesal Atas Perbuatannya Dulu.


"Nak Yudha, Satu Hal Lagi Yang Ingin Tante Sampaikan, Kalau Nanti Kamu Sama Rena Udah Nikah, Tante Minta Kalian Harus Tetap Jalani Semuanya Bersama, Termasuk Kalau Lagi Ada Masalah, Karena Tidak Bisa Dihindarkan, Akan Ada Kerikil-Kerikil Kecil Dalam Rumah Tangga, Kalian Harus Bisa Menyikapi Setiap Masalah Itu Secara Dewasa, Kalian Berdua Paham Kan" Andien Menatap Yudha Dan Rena Bergantian. Keduanya Hanya Mengangguk.


"Ya Udah Kalau Gitu, Tante, Saya Pamit Pulang Yah, Soalnya Mau Ngerjain Tugas Kuliah" Yudha Beranjak Dan Berpamitan Pada Andien.


"Iya, Nak, Kamu Hati-Hati Yah" Kata Andien Tersenyum.


"Aku Antar Yudha Kedepan Bentar Yah, Bu" Rena Beranjak Keluar, Mengikuti Langkah Yudha.