The Announcer

The Announcer
Terjerat Dalam Masalah Baru


"Eh... Yud, aku dengar dari dalam ribut banget, kenapa?" Tanya Karin yang keluar dari ruangannya.


"Tadi, ada orang yang pengen ketemu Rena, mbak, tapi, Rena gak mau ketemu sama dia, Eh.... Malah dianya ngotot banget mau ketemu Rena, sudah dibilangin juga, tetap aja bersikeras, ya udah aku usir aja secara gak sopan, daripada terjadi keributan kan" jelas Yudha.


"Oh.... Gitu, kirain ada apa, ya udah, lanjut lagi kerjanya" kata Karin.


"Ini ada apa yah, kenapa Rena sudah berubah gini, kemarin baik-baik aja ketemu dengan si Ramdan itu, sekarang gak mau lagi temui dia, pasti ada apa-apa ini" pikir Yudha.


Yudha bingung dengan perubahan Rena tersebut yang secara tiba-tiba tidak ingin menemui Ramdan. Yudha terus bertanya-tanya dalam hatinya tentang hak tersebut.


"Sebenarnya aku penasaran sih, tapi, takutnya nanti dibilang aku kepo lagi" pikir Yudha.


"Yud, kamu kenapa, melamun gitu aja?" Tanya Rena.


"Eh... Gak kok, Ren, gak ada apa-apa" Yudha berusaha menyembunyikannya dari Rena.


"Yakin?" Rena masih terlihat ragu.


"Jangan sembunyikan sesuatu deh dari aku, aku tahu apa yang kamu pikirkan, kamu pasti bingung kan kenapa sikap aku ke Ramdan itu berubah. Kamu mau nanya itu, tapi, takut aku bilang kepo gitu, iya kan?" Rena menerka.


"Mmm.... Bukannya gitu sih, cuma pengen tahu aja" kata Yudha.


"Aku juga pengen cerita sih, tapi, bingung mau ceritain ke siapa, jadi, mungkin lebih baik aku ceritain hal ini ke kamu aja" jawab Rena dengan raut wajah bingung.


"Ya udah, kamu ceritain aja, aku bakal dengerin" Yudha seperti siap mendengarkan.


"Jadi, sebenarnya kenapa sikap aku ke Ramdan itu berubah, karena....." Perkataan Rena terputus, saat tiba-tiba Karin memangilnya.


"Rena....!!! Ke ruangan aku sekarang!!" Teriak Karin dari ruangannya.


"Iya, mbak!" Jawab Rena dengan lantang.


"Tunggu bentar yah, Yud, aku di panggil mbak Karin" Rena langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, mbak, ada apa yah?" Tanya Rena begitu masuk di ruangan Karin.


"Gini, aku mau ngasi tahu sesuatu yang penting sama kamu" kata Karin dengan wajah serius.


"Ada apa emangnya, mbak?" Tanya Rena penasaran.


"Kemarin ada yang nelpon kesini, dia ini salah satu pendengar kita. Dia datang kesini dan katanya mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari salah satu penyiar disini, bahkan sampai di usir" jelas Karin.


"Haah! Siapa orangnya, mbak, kalau boleh tahu?" Rena bertanya.


"Kalau gak salah namanya itu Ramdan deh kayaknya" kata Karin.


"Oh.... Dia toh, cuekin aja, mbak, orang gak waras tuh" jawab Rena dengan wajah kesal.


"Kamu jangan main-main Rena, kalau sampai dia menuntut kita, bagaimana!" Karin mulai panik.


"Mbak, dia itu cuma ngarang aja. Yang ada dia itu yang ganggu aku, padahal aku gak mau lagi ketemu dia, tapi, dianya maksa terus, makanya kemarin aku suruh Yudha dan ngasi tahu ke Ramdan agar tidak ganggu aku lagi, tapi, dianya ngeyel, jadi, Yudha terpaksa bertindak sedikit keras. Tapi, itu bukan salah aku maupun Yudha, itu salahnya Ramdan sendiri!" Rena mencoba membela diri.


"Terus bagaimana dengan ancaman Ramdan itu, yang mau menuntut kita?" Karin berbalik bertanya.


"Mmm... Aku tahu, mbak, siapa yang bisa bantu kita" Rena menganggukkan kepalanya.


"Siapa, Ren?" Tanya Karin penasaran.


"Pokoknya mbak Karin tenang aja, semua pasti cepat beres" jawab Rena santai.


"Terima kasih atas kepercayaannya, mbak, kalau gitu aku permisi, mbak, mau lanjutin kerjaan lagi" Rena pun keluar dari ruangan Karin.


Ada apa, Ren? Mbak Karin ngomong apa?" Tanya Yudha penasaran.


"Oh... Itu, kata mbak Karin ada pendengar yang komplain, katanya mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari salah satu penyiar" jelas Rena.


"Siapa, Ren?" Yudha makin penasaran.


"Siapa lagi, si Ramdan itu, dia melapor yang tidak-tidak, pas kamu usir dia itu. Dia gak terima dan bakal nuntut kita katanya" jawab Rena.


"Wah.... Kurang ajar juga tuh si Ramdan, dia yang bikin kacau disini, malah dia yang balik nuntut kita, awas aja kalau ketemu dia nanti" Yudha mulai geram.


"Udah, Yud, biar ini jadi urusan aku aja" kata Rena santai.


"Caranya gimana?" Tanya Yudha.


"Ada lah pokoknya" Rena merahasiakan rencananya tersebut.


-


"Permisi...!!" Rena berteriak di depan rumah Dian.


Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang membuka pintu pagar.


"Iya, mbak, cari siapa yah?" Tanya Dian.


"Kamu Dian kan? Kamu masih ingat gak sama aku?" Rena berbalik bertanya.


"Kayaknya aku agak familiar dengan wajah mbak, tapi, siapa yah?" Dian masih berusaha mengingatnya. Berpikir beberapa menit kemudian, Dian pun akhirnya ingat.


"Bukannya mbak ini, mbak Rena yah?" Dian sudah mengingatnya.


"Iya, benar" jawab Rena singkat.


"Ngomong-ngomong, ada apa yah, mbak?" Tanya Dian.


"Gini, aku mau ngomong soal Ramdan. Kemarin kata bos aku, ada yang nelpon ke Yori FM, dia komplain, katanya mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari salah atau penyiar, karena kan waktu itu dia pernah datang ke studio Yori dan mencariku lagi, tapi, aku sudah tidak mau menemuinya lagi. Makanya aku nyuruh teman aku untuk ngasi tahu ke Ramdan supaya gak mengganggu aku lagi. Tapi, dianya keras kepala, makanya temanku itu usir dia, karena mengganggu banget, itu juga terpaksa dia lakukan karena Ramdan yang masih ngotot mau ketemu aku, itu alasannya" jelas Rena panjang lebar.


"Itu dia salah satu sifatnya yang bikin aku kadang-kadang jadi geram. Kalau dia tidak mendapatkan apa yang dia mau, dia bakal berbuat apapun, seperti yang kamu ceritakan tadi itu salah satu contohnya. Aku juga gak tahan dengan sikap dia itu. Aku jadi berpikir dua kali untuk menikah dengannya, karena sifatnya yang itu" Dian merasa begitu resah dengan sifat Ramdan tersebut.


Kamu kira-kira bisa bantu gak, untuk masalah ini." Tanya Rena.


"Aku pasti bakal bantuin kok, aku gak mau hidup orang lain hancur gara-gara dia dan aku tahu cara untuk menghentikannya" jawab Dian dengan penuh keyakinan.


"Gini, Ramdan itu kan kerja di perusahaan milik ayahku, kalau misalkan aku minta ayahku untuk pecat dia, bisa langsung dipecat, karena ayahku itu selalu mendukung apapun keputusanku. Karena ayahku tahu, aku pasti punya alasan tertentu untuk meminta hal itu dan beliau juga percaya kalau aku tidak akan menyalahgunakan kekuasaanku ini" jelas Dian.


"Oh iya, bos kamu itu ada bukti percakapannya ditelpon gak dengan Ramdan kemarin itu?" Dian berbalik bertanya.


"Supaya buktinya kuat dan cukup untuk semakin menyudutkan Ramdan" lanjutnya.


"Kalau misalkan ada, kamu kirimkan rekaman pembicaraan mereka itu ke E-Mail aku" Dian memberikan kartu nama pada Rena.


"Sebelumnya aku ucapkan terima kasih yah, Dian, sudah mau bantuin aku" kata Rena.


"Sama-sama, Ren. Kalau gitu aku pamit masuk kedalam dulu yah, aku tunggu loh yah" Dian beranjak masuk kedalam rumahnya.