The Announcer

The Announcer
Mengenang Masa Pacaran


Meskipun sudah memutuskan hubungannya dengan Stella, namun, masih ada ketakutan dalam hatinya. Takut kalau suatu saat rahasia perselingkuhannya sampai di telinga Andien.


"Aku masih rada khawatir juga, gimana kalau misalkan Andien tahu tentang perselingkuhanku itu, bisa gawat ini, itu artinya aku dan Andien akan bercerai, karena aku dan Andien pernah membuat komitmen, siapapun yang ketahuan selingkuh, maka saat itu juga harus menggugat cerai" batin Panji.


"Aku hanya berharap semoga hal itu gak pernah terjadi, karena aku mau melihat Rena dan Kinal menikah, itu suatu kebahagiaan yang terkira, hanya itu yang aku inginkan" harap Panji.


"Mas, kamu ngapain di kamar sendirian" Andien masuk ke kamar.


"Gak kok, sayang, aku gak ngapa-ngapain, sini sayang, duduk samping aku" pinta Panji agar Andien duduk disampingnya.


"Mas, aku senang banget, Rena berhasil ditemukan, perasaanku jadi lega sekarang" Andien tersenyum.


"Iya, sayang, aku juga senang" Panji tersenyum sambil memeluk Andien.


"Cuma yang tidak aku sangka, pelaku penyekapan itu adalah Stella. Yudha yang bilang ke aku" kata Andien.


"Padahal Stella itu dulunya anak yang baik-baik, sekarang malah berubah drastis kayak gitu" lanjut Andien.


"Haah! Stella? Tapi, apa alasan Stella melakukan itu? Apa jangan-jangan dia mau balas dendam karena aku putusin dia secara mendadak? Tapi, Stella kan gak tahu, kalau aku ayahnya Rena, aku juga gak pernah cerita ke dia" Panji larut dalam lamunannya.


"Yah.... Kita gak bisa menilai seseorang dari luarnya saja, kita gak pernah tahu sesuatu yang terpendam dalam hatinya, gimana menurut kamu, mas, bener gak?" Andien meminta pendapat Panji.


"Mas! Kamu dengerin aku gak sih!" Andien menoleh dan seketika membuyarkan lamunan Panji.


"Maaf, sayang, aku tadi melamun" kata Panji.


"Aku perhatikan, kamu akhir-akhir ini sering melamun, mas, apa yang kamu pikirkan? Masalah kerjaan kamu yah?" Andien Bertanya-Tanya sambil mengusap lembut kepala Panji. Panji langsung menganggukkan kepalanya, hanya untuk sekedar menghentikan Andien bertanya lebih banyak lagi.


"Atau, gini aja, mas, gimana kalau besok kita pergi kemana gitu, tapi, cuma kita berdua aja, biar pikiran kamu fresh gitu, sekaligus mengenang masa-masa pacaran kita dulu, kamu mau kan, mas" Andien memberi usul.


"Iya, sayang, asalkan itu bisa membuat kamu senang, aku ikut aja" kata Panji.


"Ya udah, tidur, yuk, udah ngantuk nih" Andien berbaring dan menyelimuti dirinya.


"Aku merasa makin bersalah sama Andien, aku bersalah karena pernah mengkhianati dia dengan wanita lain, kebaikan dan ketulusannya selama ini aku balas dengan pengkhianatan" Panji begitu menyesali perbuatan yang pernah dia lakukan.


"Semoga saja aku belum terlambat untuk memperbaiki rumah tanggaku yang aku rasa mulai hambar dan aku gak mau mengulangi kesalahan yang sama, ini aku lakukan demi kedua anakku, Rena dan Kinal" Panji bertekad dalam hatinya.


Sesuai dengan janjinya, Panji ingin menghabiskan waktu berdua dengan Andien saja.


"Mas, gimana menurut kamu, aku cocok gak pakai baju ini" Andien meminta pendapat Panji tentang pakaian yang dikenakannya.


"Iya, sayang, cocok kok, kamu mau pake apa aja cocok dan tetap terlihat cantik" puji Panji.


"Sayang, mumpung waktu cuti aku itu masih ada beberapa hari lagi, aku ingin menghabiskannya bersamamu" Panji menggenggam kedua tangan Andien.


"Ternyata, aku gak salah, pilih kamu jadi suamiku, kamu benar-benar tahu cara membahagiakan aku dan bisa membuatku selalu tersenyum, ini alasan mengapa aku makin mencintaimu, karena caramu memperlakukanku, seperti layaknya seorang ratu" Andien tersenyum bahagia.


"Apapun akan aku lakukan, agar kamu bisa selalu tersenyum dan bahagia, karena aku mencintaimu, dulu, kini dan sampai kapanpun" Panji mencium kening Andien, membuat Andien berkaca-kaca.


"Udah yuk, kita berangkat sekarang, aku udah siap nih" Panji menggandeng tangan Andien.


"Wihh.... Ayah sama ibu tumben rapi banget gini, mau kemana sih?" Tanya Rena saat melihat Panji dan Andien keluar dari kamar.


"Hari ini, ayah dan ibu mau pergi kencan dan kalian berdua gak boleh ikut" kata Panji.


"Yaah....! Padahal aku mau ikut, udah lama banget kita gak jalan-jalan bareng, semenjak ayah kerja di Palembang selama 10 tahun" Kinal merengut.


"Udah, dek, biarin ayah dan ibu jalan berdua, siapa tahu, mau mengenang masa pacaran, nostalgia gitu, dek, iya gak, yah" Rena melirik kearah Panji.


"Nah..... Itu kakak kamu ngerti, Nal, nanti kalau kamu udah nikah, kamu juga bakal ngerti" jawab Panji. Andien hanya tersenyum melihat tingkah Panji dan kedua anaknya.


"Iya deh, iya, aku ngalah deh, kali ini" Kinal pasrah.


"Kalau mau, ayah sama ibu boleh pakai mobil aku, hari ini kebetulan aku gak ada jadwal kuliah" Kinal memberikan kunci mobilnya pada Panji.


"Nah.... Gitu dong, makasih yah, anak ayah yang cantik" Panji mencubit pelan pipi Kinal.


"Ya udah, ayah sama ibu berangkat yah" Andien dan Panji beranjak dari hadapan Rena dan Kinal.


"Have fun yah, kalian!" Teriak Kinal dan dibalas dengan lambaian tangan Panji.


"Mas, kita mau kemana nih sekarang?" Tanya Andien.


"Kita ke pantai dulu yah, abis itu agak sorean kita makan di resto favorit kita" kata Panji.


Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai ditujuan.


"Mas, tempat ini udah banyak berubah yah sekarang" kata Andien.


"Iya lah, sayang, tapi, tetap tidak menghilangkan keindahan pantainya sendiri, meskipun ada beberapa spot yang tertutup dengan hotel dan perumahan" jawab Panji.


"Mas, kamu ingat gak, waktu kita pertama kali ketemu?" Tanya Andien.


"Kalau aku gak salah, kita ketemu pertama kali itu, secara gak sengaja kan? Waktu kamu ngumpet di mobil aku dan tiba-tiba kamu teriak "tidaak.....!" Terus aku kaget dan langsung injak rem, terus kepala kamu kepentok gitu yah" Panji mengingat-ingat kejadian tersebut.


"Hehehe..... Iya, mas, aku jadi geli sendiri, kalau ingat kejadian itu" Andien tertawa.


"Aku gak tahu, gimana mukaku saat itu, waktu ke-gap ama kamu, ngumpet dalam mobilmu" lanjut Andien.


"Dan tahu gak sih, mas, teman-teman aku mengira kalau aku tuh hilang, karena semua barang bawaanku masih di pantai. Tapi, setelah aku ceritakan kejadian itu, mereka tertawa terbahak-bahak" Andien mengakhiri celoteh panjangnya.


"Pasti kamu tuh waktu itu panik kan, takut aku apa-apain, secara kita cuma berdua dalam mobil dan situasi jalan yang aku lewati itu, emang rada sepi" terka Panji.


"Ya iyalah, mas, aku juga panik, mana waktu itu pakaian yang aku pakai itu minim banget, cuma pake tanktop yang ditutupi cardigan tipis sama hot pants" kata Andien.


"Tapi, yang terjadi malah sebaliknya, kamu memberikan aku celana pendek yang ada dalam tas kamu dan mengantarkan aku pulang juga, jujur, dari situlah aku menaruh simpati sama kamu, karena aku jarang bertemu lelaki yang sepertimu. Biasanya kan cowok kalau lihat yang seperti itu, bawaannya pengen menerkam si cewek itu, secara punya kesempatan emas kan, tapi, kamu justru beda banget, mas, itu yang aku suka dari kamu" lanjut Andien.


"Prinsip aku tuh, aku gak mau menyentuh seorang wanita, kalau dia belum halal bagiku, karena dari dulu aku diajarkan itu sama kedua orang tuaku, itulah yang aku bawa sampai sekarang ini, jadi, aku gak mau nyentuh wanita yang bukan muhrimku" kata Panji.


"Setelah kejadian itu, aku berusaha keras nyari tahu tentang kamu dan akhirnya bisa kenal kamu, sampai akhirnya kita pacaran, terus nikah dan sekarang punya 2 anak gadis yang cantik-cantik" Andien tersenyum semringah.


Menikmati hamparan pasir pantai dan deburan ombak, menambah suasana romantisme hari itu dan membuat keduanya larut dalam kebahagiaan.