The Announcer

The Announcer
Orang Tua Baru Efran


"Aku ada ide, gimana kalau aku dan Rena aja yang urus Efran" Yudha mengusulkan. Rena menoleh kearah Yudha dan seolah kurang setuju dengan usul tersebut.


"Kamu Apa'an sih, Yud, pake bilang mau urus Efran, aku gak setuju" Rena berbisik.


"Ren, please, aku mohon, kamu mau yah,mungkin ini cara Allah, memberi kita anak lewat jalan seperti ini, sekaligus kita belajar jadi orang tua, kelak kalau kita udah dikaruniai anak, kita udah siap, gitu maksud aku" jelas Yudha.


"Lagian kalau bukan kita, siapa lagi. Alika hidup sebatang kara dan tidak punya saudara. Julia juga gak mungkin, dia sibuk urusin bisnisnya dan masih harus bolak-balik Makassar-Surabaya, gimana caranya dia urus Efran, iya kan? Aku harap kamu menerima keputusanku ini" lanjut Yudha.


"Oke, tapi, gimana dengan kebutuhan sehari-harinya, belum lagi kamu, aku dan juga ibu, sedangkan sumbernya cuma dari kamu aja, gak ada pemasukan lain, apa itu cukup untuk memenuhi kebutuhan kita berempat, coba kamu pikirkan" kata Rena, yang terlihat ragu semua kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi.


"Insya Allah cukup, Ren, kamu tidak usah khawatir, biar aku yang pikirkan hal itu, percaya sama aku" Yudha meyakinkan Rena.


"Efran, mulai hari ini sampai seterusnya, kamu tinggal sama papa Yudha dan mama Rena yah, sayang, kamu mau kan" Yudha berlutut dihadapan Efran, sambil mengusap lembut kepalanya. Anak tersebut hanya mengangguk. Efran yang baru berusia 3 tahun belum mengerti mengenai situasi yang terjadi disekitarnya. Tapi, suatu saat nanti, Yudha pelan-pelan akan menceritakannya pada Efran, jika saat itu tiba.


"Ren, sekarang kamu bawa Efran dulu yah, aku sama Julia mau bantu urus pemakaman Alika" pinta Yudha. Rena pun menggendongnya dan membawanya ke ruang rawat Andien.


"Loh... Ren, itu anak siapa? Lucu banget" Andien sedikit terkejut sekaligus senang melihatnya, saat Rena masuk dengan menggendong anak kecil.


"Ini Efran, bu, anak dari temannya Yudha, ibunya baru aja meninggal karena kecelakaan yang dialami, sekarang Yudha bantuin mengurus pemakamannya" jelas Rena.


"Terus anak ini, akan tinggal bareng kita, karena ibunya Efran ini tinggal sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa disini" lanjut Rena.


"Ibu gak keberatan kan, kalau Efran tinggal bareng kita?" Tanya Rena.


"Gak kok, malah ibu senang, bertambah satu lagi anggota keluarga kita" Andien tidak merasa keberatan sama sekali.


"Assalamualaikum!" Kinal mengucap salam, masuk ke ruang rawat Andien.


"Waalaikumsalam!" Rena dan Andien menjawab bersamaan.


"Eh... Kak, ini anak siapa yang kakak gendong, lucu banget, gemes aku lihatnya" Kinal menghampiri Rena, mencabut pelan kedua pipinya.


"Ini anak dari temannya kak Yudha, nama anak ini Efran dan tadi ibunya meninggal karena kecelakaan. Jadi, kakak dan kak Yudha memutuskan untuk mengurus Efran" jelas Rena.


"Wah... Rumah bakak makin rame dengan kehadiran Efran" Kinal tampak sangat senang mendengarnya.


"Kak, aku ajak jalan-jalan Efran yah, disekitar rumah sakit kok, ada taman disitu, boleh yah" pinta Kinal.


"Iya, dek, boleh, tapi, kamu jagain Efran baik-baik" pesan Rena. Kinal mengangguk.


"Yuk, Efran, jalan-jalan sama tante Kinal, kita main ditaman" Kinal mengambil Efran dari Rena dan menggendongnya keluar.


"Assalamualaikum!" Yudha mengucap salam.


"Waalaikumsalam!" Rena dan Andien menjawab salam bersamaan.


"Alhamdulillah, ibu udah siuman" Yudha senang melihatnya.


"Iya, nak" Andien tersenyum.


"Ren, Efran mana?" Tanya Yudha.


"Kinal bawa Efran main-main ditaman rumah sakit, kamu tenang aja" jawab Rena. Yudha mengangguk-angguk.


"Mmm..... Bu, aku minta yah, gak ngasi tahu ibu dulu sebelum ambil keputusan, untuk mengurus Efran" kata Yudha.


"Iya, nak, gak apa-apa, memang seharusnya seperti itu sebagai kepala keluarga, harus bisa mengambil keputusan dengan cepat dalam setiap masalah yang dihadapi, tentu saja dengan pemikiran yang matang. Ibu, Kinal dan Rena akan mendukung apapun keputusan kamu itu, selama itu baik" jawab Andien.


"Oh iya, aku ada kabar gembira untuk kalian" wajah Yudha tampak berseri-seri.


"Eh.... Bentar, Yuyu? Apa'an itu Yuyu?" Yudha berbalik bertanya.


"Itu panggilan kesayangan aku buat kamu" jawab Rena.


"Oh.... Gitu" Yudha mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Kalau seperti itu, aku panggil kamu, En aja, Okey" kata Yudha.


"Aku ambil dua huruf tengah nama kamu, keren kan" Yudha seolah tidak mau kalah dengan Rena, memberi nama panggilan kesayangan. Andien hanya tersenyum melihat tingkah anak sulung dan menantunya.


"Oh iya, soal kabar gembira yang aku bilang tadi, aku mau ngasi tahu, kalau bulan depan, aku akan launching toko kue gitu, tapi, tentunya aku gak sendiri, aku dibantu oleh Ronal, temanku sewaktu SMA" jelas Yudha.


"Haah! Beneran, Yu! Kok gak pernah cerita sama aku sih" Rena terkejut mendengarnya.


"Aku emang sengaja sembunyikan ini dari kamu, En, aku mau ngasi surprise gitu ke kamu dan setelah menunggu cukup lama, toko itu bisa mulai beroperasi bulan depan, aku benar-benar senang banget pas Ronal ngasi tahu itu ke aku tadi, pas selesai prosesi pemakaman Alika itu" Yudha tersenyum semringah.


"Oh iya, Yu, babysitter-nya Efran kemana? Nasib dia gimana tuh?" Tanya Rena.


"Dia memutuskan untuk balik lagi ke kampungnya, berkebun seperti dulu, sebelum dia dipanggil kerja jadi babysitter untuk Efran" jawab Yudha.


"Yud, ibu ucapkan selamat yah, nak, semoga kedepannya toko itu bisa berkembang pesat" kata Andien penuh harap.


"Amiin... Makasih untuk doanya, bu" Yudha melirik kearah Andien sambil tersenyum.


"Jadi, nanti kamu dan juga Kinal ikut bantuin yah, mau kan" pinta Yudha. Rena hanya mengangguk.


"Oh iya, En, aku lupa ngasi tahu, tadi mbak Karin bilang ke aku, kita diminta jadi MC diacara ulang tahun anak dari salah satu kliennya mbak Karin, acaranya itu Minggu depan, kira-kira kamu mau gak, soalnya aku harus kabari mbak Karin, misalkan Kamunya gak bisa, mbak Karin nyari pengganti kita" kata Yudha.


"Aku sih mau, cuma gimana dengan ibu, gak ada yang jagain, terus belum lagi Efran, Kinal juga gak mungkin lakuin itu semuanya sendiri. Kalau misalkan kondisi ibu udah benar-benar stabil dan diperbolehkan pulang kerumah, aku dengan senang hati terima tawaran job itu" jelas Rena.


"Atau gini aja, gimana kalau kita tanya ke dokter aja, kapan kira-kira ibu diperbolehkan pulang kerumah" usul Yudha.


"Aku coba tanya ke Vanessa, dia dokter jaganya" kata Rena.


"Vanessa? Vanessa teman kamu itu?" Tanya Yudha.


"Iya, Yu, nanti aku ceritakan ke kamu" Rena beranjak keluar dan menemui dokter jaga yang bertugas.


"Permisi, dok" Rena mengetuk pintu ruangan dokter.


"Ya, silahkan masuk!" Teriaknya dari dalam.


"Eh... Kamu, Ren, duduk" mempersilahkan Rena duduk.


"Aku mau tanya, kira-kira kapan ibuku boleh pulang yah?" Tanya Rena.


"Kalau kondisi ibu kamu stabil seperti itu terus, aku perkirakan satu atau dua hari kedepan, kemungkinannya ibu kamu diperbolehkan untuk pulang" terang Vanessa.


"Emang kalau boleh tahu, kenapa kamu nanya kayak gitu, Ren?" Vanessa berbalik bertanya.


"Jadi, gini, suamiku bilang ke aku, kalau klien dari mantan bos aku, pengen aku dan juga Yudha jadi MC untuk acara ulang tahun anaknya minggu depan, maka dari itu aku tanya ke kamu, gitu maksud aku, Nes" Rena mengutarakan alasannya.


"Kamu gak usah khawatir, ibu kamu udah bisa kembali Kerumah, sebelum acara itu tiba" kata Vanessa dengan cukup yakin.


"Ya udah, Nes, cuma itu yang pengen aku tanyakan, kalau gitu aku permisi yah" Rena beranjak keluar dari ruangan Vanessa.