
Feby memperhatikan Vivi sedari tadi, hanya mengaduk-aduk makanannya saja, tanpa memakannya.
"Vi, dimakan itu, jangan cuma diaduk-aduk aja" kata Feby. Vivi hanya mengangguk pelan.
"Vi, kamu kenapa? Aku perhatikan sedari tadi, kamu diam aja, gak kayak biasanya, ada apa?" Tanya Feby heran. Vivi hanya menggelengkan kepala.
"Apa kamu masih mirikin perkataan mbak Karin tadi" Feby menerka.
"Gak kok, Feb, aku gak kenapa-kenapa" Vivi berusaha menyembunyikannya dari Feby.
"Udah, Vi, kamu gak usah bohong deh, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, cerita aja sama teman baik kamu ini" Feby sepertinya tahu kalau Vivi berbohong.
"Ini masalah hati, Feb, aku menyukai seseorang dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama seseorang itu" terang Vivi.
"Kalau kamu lagi jatuh cinta, harusnya kamu bahagia dan berbunga-bunga, ini kok malah sedih gini" kata Feby.
"Iya, Feb, aku sedihnya karena aku gak punya kesempatan untuk jadi pacarnya, apalagi jadi istrinya, soalnya dia udah nikah" Vivi tertunduk sedih.
"Vi, gini, aku kasi tahu nih sama kamu, percaya deh, yang namanya jodoh itu gak kemana, sekalipun dia itu udah punya pasangan, kalau udah jodoh bakal dipersatukan dengan cara dan waktu yang tidak disangka, bukannya doakan dia cerai sama istrinya, tapi, kalau takdir berkata lain, kita gak bisa apa-apa". Ucapan Feby membuat harapan Vivi muncul lagi, meskipun kemungkinannya kecil.
"Kalau boleh tahu, emang siapa sih, cowok yang bikin kamu jatuh cinta kayak gini?" Tanya Feby penasaran.
"Cowok itu, kak Yudha, Feb" jawab Vivi singkat.
"Haah! Yudha!" Feby benar-benar terkejut mendengarnya.
"Aduh.... Vi, mending kamu buang jauh-jauh deh perasaan kamu itu, soalnya Yudha itu cinta berat sama Rena, sulit untuk membuatnya berpaling dari Rena, mending cari yang lain aja deh" Feby memperingatkan.
"Tadi kata kamu, kalau udah jodoh, akan dipersatukan dengan cara dan waktu yang tidak disangka, sekarang malah berubah lagi, gimana sih, plin plan kamu" kata Vivi.
"Iya sih, cuma aku gak mau kamu jadi perusak rumah tangga mereka dan dicap sebagai pelakor, jangan ambil resiko, kalau gak mau terlibat dalam suatu masalah" jawab Feby.
"Iya.... Iya, bawel!" Vivi kembali melanjutkan makan.
"Aku gak peduli apa kata Feby, mau Yudha suka atau tidak sama aku, aku akan berusaha merebut hatinya Yudha, sekalipun harus menyakiti wanita lain dan siapa tahu Yudha bisa berpaling dari si Rena itu dan akan membuka hatinya buat aku, aku bakal membuat Yudha tergila-gila sama aku, lihat aja nanti" batin Vivi. Dalam pikirannya, Vivi merencanakan sesuatu untuk bisa membuat Yudha jatuh hati padanya dan berpaling meninggalkan Rena.
"Pokoknya Yudha harus menjadi milikku dan aku sangat yakin kalau Yudha akan menyukaiku, belum pernah ada satupun lelaki yang menolak aku jadi pacarnya, secara aku kan cantik" Vivi begitu yakin, kalau dia bisa membuat Yudha jatuh cinta padanya.
Sekitar 1 jam perjalanan yang ditempuh Yudha untuk sampai di rumah sakit. Yudha memarkir mobilnya dan segera masuk ke ruang rawat. Namun, saat berjalan masuk di lobby rumah sakit, secara bersamaan ada beberapa orang yang mengiringi pasien yang terbaring, yang baru turun dari ambulans.
"Mas, itu ada apa yah, cewek itu kenapa?" Tanya Yudha, mencegat salah satu dari orang-orang yang lewat di depannya.
"Dia korban tabrak lari, di persimpangan jalan disana itu, misi yah, mas" jelasnya dan segera pergi dari hadapan Yudha.
"Kasihan juga cewek itu, pasti keluarganya sedih banget lihat keadaannya seperti itu" Yudha turut sedih melihatnya.
"Julia! Kamu kenapa, kok datang-datang malah nangis gini sih, siapa yang sakit?" Tanya Yudha, yang bingung melihat Julia dalam keadaan menangis. Julia tidak berkata apapun dan secara spontan memeluk Yudha dan menangis dipelukannya.
"Hei, Jul, kamu tenangin dirimu, Okey, terus ceritakan semuanya" Yudha menepuk punggung Julia. Dari kejauhan, Rena yang baru kembali dari kantin membeli cemilan, melihat Yudha sedang berpelukan dengan wanita lain. Rena mempercepat langkahnya, menghampiri Yudha dan wanita itu.
"Lepasin!" Rena melepaskan wanita itu dari pelukan Yudha.
"Ren, aku bisa jelasin, ini gak seperti yang kamu kira" Yudha mencoba memberikan penjelasan.
"Keterlaluan kamu! Ibu lagi sakit didalam, kamu malah pelukan mesra gini dengan wanita lain! Belum cukup sebulan kita nikah, kamu udah selingkuh, secepat itukah kamu bosan padaku, Yudha!" Amarah Rena meledak-ledak.
"Dan kamu! Kamu gak bisa apa cari laki-laki lain, yang bukan lelaki beristri!" Rena memelototinya.
"Ren, ingat, ini rumah sakit, jangan teriak-teriak gini, nanti pasien yang lain terganggu gara-gara suara kamu" Yudha mengingatkan.
"Maaf, aku gak tahu, kalau kamu istrinya Yudha dan maaf juga, aku yang salah karena secara spontan aku peluk Yudha" jelasnya.
"Aku Julia, sahabatnya Yudha, kita berdua sudah saling kenal sejak kuliah dulu" katanya dan mengulurkan tangannya pada Rena.
"Maaf juga, karena udah marah-marah kayak tadi, aku Rena" jawab Rena dan langsung menjabat tangan Julia.
"Oh iya, Jul, kamu belum cerita, apa yang buat kamu kayak gini?" Tanya Yudha.
Alika, Yud, dia kecelakaan* Julia masih meneteskan air matanya.
"Jadi, yang tadi lewat di depanku itu, yang korban tabrak lari di persimpangan jalan sana, itu Alika?" Yudha bertanya pada Julia. Julia hanya mengangguk.
"Ya udah kalau gitu, kita lihat keadaannya sekarang" Yudha segera menuju ke ruang ICU, diikuti Julia dan Rena.
"Mas, gimana pasien yang di dalam? Apa udah kabar dari dokter?" Tanya Yudha pada orang-orang yang tadi membantu membawa Alika ke ruang ICU.
"Belum, dokter yang menangani korban belum keluar sejak tadi" jawab salah satunya.
"Mas-mas semua boleh pergi, biar kita bertiga aja yang nungguin, kita bertiga temannya korban dan makasih juga sudah bantuin mengantar sampai sini" kata Yudha pada semua yang membantu
"Baiklah kalau gitu, kita semua permisi" satu persatu pergi dari hadapan Yudha, Julia dan Rena.
"Semoga Alika bisa diselamatkan" harap Julia.
"Kita doakan sama-sama untuk kesembuhan Alika" kata Yudha, merengkuh pundak Julia.
"Mbak, maaf, aku terlambat datang, soalnya dijalan macet banget" seseorang datang dan membawa anak kecil. Yudha, Julia dan Rena menoleh kearahnya.
"maaf, anda ini siapa yah?" tanya Yudha.
"saya babysitter anak ini, Efran namanya, anak dari mbak Alika" jawabnya.
"Oh iya, bagaimana dengan keadaan mbak Alika sekarang?" tanyanya pada ketiganya.
"Alika udah meninggal, nyawanya tidak tertolong lagi" Julia tersedu-sedu.
"Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun!" Ucapnya dan seketika meneteskan air matanya.
"Kasihan Efran, harus kehilangan ibunya secepat ini, gimana nasib anak ini, mbak, siapa yang urus dia" ucapnya dengan wajah kebingungan.