The Announcer

The Announcer
Amnesia


"Jadi, Begini, Bu, Pasien Mengalami Pendarahan Yang Cukup Banyak Akibat Benturan Dengan Benda Keras, Sehingga Harus Mendapatkan Donor Darah B Resus Negatif Secepatnya" Jelas Dokter Tersebut.


"Apapun Yang Terbaik Untuk Rena, Lakukan, Dok" Ucap Andien Yang Masih Terisak.


"Aku Bersedia, Dok, Kebetulan Golongan Darahku Sama Dengan Rena" Kata Yudha.


Yudha Pun Mengikuti Dokter Tersebut Ke Ruangan Donor Darah, Lalu, Setelah Itu Dokter Tersebut Masuk Kembali Ke Ruang ICU. Yudha, Amanda Dan Juga Andien Menunggu Sambil Terus Memanjatkan Doa. 2 Jam Kemudian, Dokter Tersebut Keluar Lagi Untuk Memberitahukan Sesuatu Pada Andien, Yudha Dan Juga Amanda.


"Dok, Anakku Bisa Sembuh Kan?" Tanya Andien.


"Kemungkinan Besarnya Iya, Akan Tetapi, Dia Mengalami Amnesia, Sehingga Dia Akan Lupa Sebagian Ingatannya. Yang Dia Ingat Hanya Namanya Dan Juga Rumahnya" Jelas Dokter Tersebut.


"Tapi, Ingatan Rena Nanti Bisa Pulih Lagi Kan, Dok?" Yudha Bertanya.


"Bisa, Asalkan Kalian Sebagai Orang Terdekatnya, Pelan-Pelan Memberitahukan Tentang Semua Kenangannya, Mulai Dari Masa Kecilnya Sampai Masa Yang Sekarang Dan Juga Dibutuhkan Ekstra Kesabaran." Lanjut Dokter Tersebut.


"Terima Kasih Yah, Dok" Andien Tersenyum.


"Kalau Begitu, Saya Permisi" Dokter Tersebut Berlalu Dari Hadapan Ketiganya.


-


-


"Aku Gak Nyangka, Rena Harus Mengalami Hal Seperti Ini. Gimana Caranya Aku Ngasi Tahu Ke Dia, Tentangku, Tentang Pekerjaannya, Aku Gak Tahu Harus Mulai Darimana" Yudha Kebingungan.


"Yud, Kamu Yang Sabar Yah, Aku Tahu Apa Yang Kamu Pikirkan" Amanda Menguatkan Yudha.


"Aku Yakin Kok, Kalau Kamu Berusaha Sedikit Demi Sedikit, Pasti Lama Kelamaan Ingatan Mbak Rena Perlahan Akan Pulih Dan Dia Akan Ingat Sepenuhnya Semua Tentang Kamu, Tentang Hubungan Kalian" Ucap Amanda Dengan Begitu Yakin.


"Makasih Yah, Man, Kamu Selalu Ada, Terutama Disaat Aku Dalam Kondisi Sulit Seperti Sekarang Ini" Ucap Yudha Lirih. Amanda Hanya Tersenyum Sambil Mengangguk Pelan.


"Ya Udah, Aku Pamit Balik Yah, Besok Pagi Aku Kesini Lagi, Buat Jenguk Mbak Rena.


Tante, Aku Pamit Yah!!" Amanda Berpamitan Pada Yudha Dan Juga Andien. Andien Hanya Mengangguk Pelan.


Yudha Dan Juga Andien, Masih Menunggu Rena Yang Belum Sadarkan Diri Setelah Melewati Masa Kritisnya, Sampai-Sampai Membuat Keduanya Tertidur Di Ruangan Tempat Rena Dirawat, Setelah Dipindahkan Dari Ruang ICU.


Tepat Jam 4 Pagi, Rena Pun Akhirnya Sadar. Yudha Yang Tidur Di Kursi Yang Ada Disamping Tempat Tidur Rena Ikut Terbangun, Karena Merasakan Tangan Rena Bergerak.


"Rena, Kamu Sudah Sadar Sayang" Yudha Terlihat Senang.


"Kamu Siapa?" Rena Bertanya Kebingungan.


"Aku Yudha, Ren, Pacar Kamu" Jawab Yudha.


"Pacar? Kamu Bohong Kan, Aku Aja Gak Kenal Siapa Kamu, Ngaku-Ngaku Pacar Lagi" Ucap Rena Dengan Sedikit Ketus.


Yudha Langsung Saja Membangunkan Ibunya Rena Yang Masih Tertidur.


"Tante, Bangun, Rena Udah Sadar" Yudha Membangunkan Andien Perlahan.


"Eh... Iya" Andien Membuka Matanya Dan Bangkit Dari Sofa.


"Rena, Kamu Sudah Sadar, Nak" Andien Mendekati Rena Dan Memeluknya


"Bu, Aku Lagi Dimana Ini?" Tanya Rena Kebingungan.


"Kamu Lagi Dirumah Sakit, Sayang" Jawab Andien.


"Haah! Dirumah Sakit? Emang Aku Sakit Apa, Bu?" Rena Terkejut Mendengarnya.


"Kamu Kecelakaan Kemarin, Terus Ada Seseorang Yang Bawa Kamu Kesini, Terus Entah Bagaimana Caranya Orang Itu Nelpon Teman Kamu, Terus Teman Kamu Nelpon Ibu" Terang Andien.


"Ini Kan Yudha, Nak, Pacar Kamu Atau Bisa Dibilang Calon Suami Kamu, 6 Bulan Lagi Kan Kalian Akan Menikah" Jawab Andien.


"Ibu Jangan Bercanda Deh, Kalau Dia Calon Suamiku, Mana Mungkin Aku Gak Kenalin, Ini Aku Gak Kenal Sama Cowok Ini, Jangan Bohongi Aku, Bu" Bantah Rena.


"Aduh... Gimana Yah Ibu Jelasin Ke Kamu" Andien Kebingungan. Andien Melirik Kearah Yudha, Memberi Isyarat Untuk Memberinya Ide.


"Gini Aja, Tante, Gimana Kalau Kita Minta Tolong Dokter Buat Jelasin Ke Rena Soal Keadaannya Ini" Yudha Memberi Usul.


Andien Langsung Mencari Dokter Yang Bertugas Pagi Itu.


"Dok, Anakku Sudah Sadarkan Diri, Tapi, Aku Bingung Gimana Cara Menjelaskan Pada Rena, Apa Dokter Bisa Membantu?" Tanya Andien Dengan Wajah Kebingungan.


Dokter Tersebut Mengikuti Langkah Andien Menuju Kamar Rawat Rena.


"Jadi, Saudari Rena, Kamu Mengalami Amnesia Atau Lupa Ingatan Akibat Benturan Benda Keras Pada Saat Kamu Kecelakaan Kemarin Dan Membuat Sebagian Ingatan Kamu Itu Hilang" Jelas Dokter Tersebut.


"Tapi, Kalau Aku Lupa Ingatan, Kenapa Aku Bisa Ingat Namaku Dan Juga Ibuku, Kenapa Yang Lainnya Tidak Bisa?" Rena Berbalik Bertanya.


"Iya Memang Seperti Itu, Tapi, Kamu Tenang Saja, Ini Hanya Dibutuhkan Sedikit Terapi, Misalkan Kamu Pergi Ke Suatu Tempat Yang Menyimpan Kenangan Bersama Seseorang, Secara Perlahan Ingatan Kamu Tentang Tempat Itu Dan Semua Kenangannya Akan Kamu Ingat Dengan Sendirinya. Tapi, Membutuhkan Waktu Yang Sedikit Lebih Lama, Jadi, Buat Kalian Orang-Orang Terdekatnya Harus Ekstra Sabar Untuk Membantu Rena Memulihkan Ingatannya" Dokter Melirik Ke Arah Andien Dan Juga Yudha.


"Rena, Aku Janji, Aku Bakal Bantu Kamu, Sampai Ingatan Kamu Pulih Dan Kita Lanjutkan Rencana Pernikahan Kita" Kata Yudha Dengan Penuh Keyakinan. Rena Hanya Terdiam Tanpa Berkata Apapun Dan Hanya Menatap Yudha.


"Oh Iya, Tante, Aku Pamit Pulang Dulu Yah, Mau Balik Ke Kost-an, Terus Siap-Siap Mau Siaran Pagi Ini" Yudha Berpamitan Pada Andien.


"Kalau Misalkan Tante Perlu Apa-Apa, Hubungi Aja Nomer Yang Nelpon Tante Kemarin Itu, Itu Nomer Aku Kok" Lanjut Yudha.


"Makasih Yah, Yudha, Kamu Udah Mau Nginap Untuk Jagain Rena Sampai Sadar" Ucap Andien.


Rena Bingung Melihat Ibunya Begitu Akrab Dengan Lelaki Yang Tidak Di Kenalnya Itu.


"Kok Bisa Yah Ibu Akrab Banget Sama Laki-Laki Itu, Sebenarnya Dia Itu Siapa Sih, Kenapa Aku Gak Kenal Sama Dia? Kata Ibu, Dia Itu Calon Suamiku Dan Bentar Lagi Aku Sama Dia Bakalan Nikah" Rena Bertanya-Tanya Dalam Hatinya Kebingungan.


Rena Berusaha Keras Untuk Mengingatnya. Tapi, Semakin Keras Dia Berusaha Mengingat, Rasa Sakit Di Kepalanya Juga Terasa Semakin Kuat.


"Sshh...! Auuhh! Sakit!" Rena Meringis Kesakitan Sambil Memegangi Kepalanya.


"Rena, Kamu Kenapa, Nak?" Andien Bertanya.


"Kepalaku Sakit Banget, Bu" Rena Masih Memegangi Kepalanya.


"Ya Sudah, Kamu Istirahat Aja, Kamu Gak Boleh Banyak Gerak Dulu Kata Dokter" Ibunya Membantu Rena Untuk Baring Di Atas Tempat Tidur. Rena Pun Menuruti Saran Ibunya Dan Berbaring.


"Aku Pasti Akan Tahu Jawabannya Tentang Laki-Laki Itu Sebenarnya" Batin Rena.


Begitu Sampai Di Kost-annya, Yudha Langsung Menelpon Karin, Produsernya.


"Halo, Mbak Karin" Yudha Mengawali Pembicaraan.


"Ada Apa, Yudha?" Tanya Karin.


"Aku Mau Ngabarin, Kalau Rena Gak Bisa Siaran Pagi Ini, Makanya Aku Nelpon Mbak Karin Sekarang, Supaya Bisa Cepat Nyari Penyiar Penggantinya Rena Sementara" Jelas Yudha.


"Aku Heran Deh Sama Kalian Berdua, Kemarin Kamu Yang Minta Re-Schedule Jadwal Siaran, Sekarang Rena Yang Kayak Gini, Aku Pusing Hadapi Kalian Berdua" Kepala Karin Dibikin Pusing Dengan Tingkah Dua Sejoli Itu.


"Tapi, Kali Ini Rena Gak Bisa Siaran, Karena Kemarin Rena Abis Kecelakaan, Mbak" Lanjut Yudha.


"Ya Ampun, Kenapa Kamu Baru Ngabarinnya Sekarang Sih, Yud, Kenapa Gak Langsung Kabarin Kemarin!" Kata Karin Dengan Nada Kesal.


"Maaf, Mbak, Soalnya Pas Kemarin Di Rumah Sakit Aku Kayak Kebingungan Gitu, Gak Tahu Mau Ngapain" Terang Yudha.


"Ya Udah Kalau Gitu, Kamu Siaran Bareng Talitha Dulu Mulai Hari Ini Sampai Rena Nanti Sudah Benar-Benar Sembuh" Jawab Karin Dan Mengakhiri Obrolannya Di Telpon.