The Announcer

The Announcer
Part Yudha: Hatiku Cuma Untukmu Seorang, Rena!


Begitu sampai di studio Yori, Yudha berlari masuk kedalam ruang siaran.


"Ren, Sorry aku telat" Yudha ngos-ngosan.


"Bukan telat lagi, Yud, udah telat banget malah, kita udah closing kamunya baru nyampe" celetuk Darto.


"Loh... Mas Darto yang gantikan aku tadi, siaran bareng Rena?" Tanya Yudha.


"Iya, abisnya siapa yang mau temani Rena siaran, anak-anak tadi belum pada datang juga" kata Darto.


"Yudha, keruanganku sekarang!" Karin menghampiri Yudha diruang siaran. Yudha mengikuti Karin keruangannya.


"Yud, kamu tahu kan, kenapa kamu aku panggil kesini?" Tanya Karin.


"Iya, mbak, aku minta maaf karena akhir-akhir ini sering telat, cuma kali ini aku punya alasan kenapa aku telat, mbak" jawab Yudha.


"Silahkan kamu utarakan" kata Karin.


"Jadi, tadi pagi sebelum berangkat kesini, Alika telpon aku, minta dianterin Kerumah sakit karena anaknya itu tiba-tiba kejang gitu, aku antar dia Kerumah sakit, pas Rena nelpon itu aku masih Dirumah sakit temani Alika, setelah anaknya itu udah agak baikan, barulah aku tinggal dia dan menuju kesini, gitu, mbak" terang Yudha.


"Ya... Ya.... Ya.... Aku ngerti, Yud. Untuk kali ini kamu aku maafin, tapi, perlu kamu ingat, kamu harus tetap profesional, seperti yang pernah kamu katakan dulu bahwa kamu gak akan campur aduk antara kerjaan dengan masalah pribadi" Karin mengingatkan.


"Iya, mbak, aku tahu itu, kalau gitu aku permisi, mbak" Yudha beranjak keluar dari ruangan Karin.


"Yudha.... Yudha, aku bingung sama anak itu akhir-akhir ini, dia kayak kurang fokus gitu" Karin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Yud, gimana, apa kata mbak Karin?" Tanya Rena, saat melihat Yudha keluar dari ruangan Karin.


"Mbak Karin cuma pertanyakan soal aku telat tadi, terus aku jelasin deh alasannya dan mbak Karin memaklumi, itu aja sih" jelas Yudha.


"Emang kenapa sih, kamu telat kayak gini, apa karena kesiangan lagi?" Tanya Rena penasaran.


"Kalau bangun telat, gak sih, Ren, cuma tadi pas mau berangkat menuju kesini, Alika telpon aku, dia minta dianterin ke rumah sakit karena anaknya tiba-tiba kejang gitu" kata Yudha.


"Pas kamu nelpon itu, aku lagi di rumah sakit. Setelah dokter menangani anaknya itu, keadaannya juga udah agak mendingan, aku tinggal dia deh dan langsung kesini" lanjut Yudha.


"Aku bingung deh, Yud, kok dia malah hubungi kamu, bukan keluarganya atau teman terdekatnya gitu, kenapa harus kamu. Atau jangan-jangan kamu menjalin hubungan lagi sama Alika dibelakangku?" Selidik Rena curiga.


"Jadi, kamu berpikir aku selingkuh? Sama Alika? Gak mungkinlah, Ren, dia itu cuma masa laluku dan aku cuma anggap dia teman biasa" Yudha menepis kecurigaan Rena.


"Ren, tatap mataku, dihatiku cuma ada kamu seorang dan tidak ada seorangpun yang bisa menggantikanmu, kamu percaya kan sama aku" Yudha menatap Rena dalam, sambil menggenggam kedua tangan Rena. Rena terdiam tanpa berkata apa-apa, seolah luluh dengan semua yang dikatakan Yudha padanya.


"Yud, kamu benar-benar tahu, cara meluluhkan hatiku dan berhasil membuatku terpaku kayak gini" batin Rena.


"Woy, dua sejoli! Minggir kali, jangan menghalangi jalan" Feby sedikit kesal, karena Yudha dan Rena ngobrol di koridor kantor.


"Tahu nih, Rena dan Yudha berduaan disini, ingat, ini tuh kantor bukan tempat untuk pacaran, kalau mau disana tuh di fly over" timpal Vania.


"Yee.... Emang kamu pikir kita berdua bocah SMP, pacaran di fly over" Rena mencibir.


"Udah yuk, Ren, kita pergi aja, kasihan jomblo-jomblo ini, pada ngiri lagi sama kita" Yudha menarik tangan Ren dan berlalu dari hadapan Feby dan Vania.


"Huu..... Dasar pasangan lebay kalian!" Sahut Feby dan Vania bersamaan.


*Handphone Rena berdering*


"Halo, Kinal, ada apa?" Tanya Rena, saat menjawab panggilan dari Kinal.


"Kak, tadi kata ibu, ayah datang hari ini. Nanti kakak bawa kak Yudha kesini, terus kenalin ke ayah" kata Kinal.


"Ada apa, Ren? Kelihatannya kamu senang banget, cerita kali sama aku" Yudha dibikin penasaran.


"Gimana aku gak senang, Yud, ayahku yang merantau selama 10 tahun akhirnya balik lagi kesini, Yud, jelas aku kangen banget dan senang pas Kinal bilang ayah datang hari ini" wajah Rena terlihat sangat bahagia.


"Nanti kita pulang bareng yah, terus aku kenalin ke ayah, biar gimanapun juga, ayah harus kenal sama calon menantunya" kata Rena.


"Iya, Rena sayang" jawab Yudha sambil mengacak rambut Rena.


"Hai, Andien sayang, aku datang!" Panji menghampiri Andien yang berdiri depan pintu.


"Mas Panji, akhirnya kamu pulang, mas, aku udah kangen banget" Andien memeluk Panji. Namun, wajah Andien seketika berubah saat mencium bau parfum dibaju Panji.


"Mas, kok baju kamu bau parfum gini, kayak bau parfum perempuan" selidik Andien. Panji mencium bajunya dan benar saja tercium bau parfum, seperti yang dikatakan Andien.


"Ini pasti bau parfum Stella ini, waktu aku peluk dia, gawat, aku harus jawab apa" runtuk Panji.


"Oh.... Ini, sayang, waktu di pesawat tadi, ada anak gadis yang bawa parfum. Dia lagi promosikan parfum yang dia jual, aku di kasi testernya, jadi, aku semprot ke baju deh, gitu ceritanya, sayang" Panji beralasan.


"Ya udah kalau gitu, masuk yuk, aku udah siapin makanan kesukaan kamu" ajak Andien.


"Untung aja aku dapat alasan yang tepat dan tidak bikin Andien curiga" batin Panji dengan perasaan lega.


"Oh iya, sayang, anak-anak pada kemana?" Tanya Panji, melihat suasana rumahnya sepi.


"Kinal ada di kamarnya, dia lagi kerjain tugas kuliahnya, kalau Rena belum pulang kerja, biasanya sih jam 5 sore udah Dirumah, mas" terang Andien sambil menyiapkan makanan untuk Panji.


"Oh.... Gitu, emang Rena kerja dimana, sayang?" Tanya Panji.


"Di Yori FM, sebagai penyiar radio, dia Disana udah hampir 7 tahun" jawab Rena.


"Oh Iya, mas, Insya Allah, Rena bulan depan itu udah mau nikah loh" kata Andien.


"Oh ya? Wah..... Udah banyak banget berarti yang aku lewatkan selama 10 tahun ini, aku jadi gak ikutin perkembangan anak-anak, tahu-tahu Rena udah mau nikah aja, emang siapa calon suaminya? Dia kerja dimana?" Panji terlihat sangat terkejut mendengarnya.


"Namanya Yudha, mas, dia itu teman kerja Rena juga, sesama penyiar, lebih tepatnya juniornya Rena di Yori. Rena dulu sempat cerita pertemuan pertamanya dengan Yudha itu rada-rada menyebalkan, ditambah mereka dipasangkan dalam satu program acara. Awalnya mereka saling canggung gitu, namun, lama kelamaan semuanya itu berubah, mereka saling suka dan jadian, sekarang mereka memutuskan untuk menikah, karena merasa sudah cocok satu sama lain" Andien menceritakan kisah cinta Rena dan Yudha.


"Kalau dengar cerita kamu tentang kisah cinta Rena dan Yudha itu, jadi, ingat masa kita pacaran dulu yah, sayang, pertemuan pertama kita juga kan bisa dibilang cukup menyebalkan, kita bahkan berantem tiap kali kita ketemu, entah itu dijalan, di pasar, dimanapun, sampai-sampai kita dibilang kayak tikus dan kucing yang kerjanya berantem terus" Panji mengingat kembali masa pacarannya dulu dengan Andien.


"Aku jadi geli sendiri tahu gak sih, mas, kalau ingat itu lagi" Andien tertawa kecil.


"Ehh.... Ayah udah datang!" Kinal Terlihat sangat senang melihat ayahnya dan langsung menghampirinya di meja makan.


"Kinal, kamu apa kabar, nak, gimana kuliah kamu, lancar kan?" Tanya Panji.


"Iya yah, lancar kok, ini bentar lagi udah susun skripsi" jawab Kinal. Panji hanya tersenyum mendengarnya.


Selang 1 jam kemudian, Rena pun datang dan diantar oleh Yudha.


"Ayah...!!" Rena menghampiri Panji.


"Rena sayang, kamu udah pulang, nak, udah lama banget ayah gak lihat kamu" Panji membenamkan kepala Yudha dalam pelukannya.


"Oh iya, ayah, aku mau kenalin ke ayah, calon suamiku, Yudha" kata Rena. Panji terkejut saat melihat Yudha.


"Hahh! Ini kan cowok yang waktu itu aku lihat jalan berdua masuk ke hotel tempat Stella nginap itu" batin Panji.


"Ini kan bapak-bapak yang aku lihat mesra banget sama Stella, ternyata dia ayahnya Rena? Aku benar-benar gak nyangka" Yudha terkejut melihatnya.