The Announcer

The Announcer
Tetap Saja Ada Rasa Cemburu, Walaupun Amanda Hanya Sekedar Adik Bagimu


"Man, kamu gak apa-apa kan? Apa ada yang luka atau apa gitu?" Tanya Yudha yang begitu khawatir akan keadaannya.


"Gak kok, Yud, aku baik-baik aja, gak ada yang luka, cuma lengan bajuku aja yang sobek" Amanda menunjukkan bagian yang sobek tersebut.


"Kamu abis diapain, sampai baju kamu sobek kayak gitu?" Tanya Rena.


"Tadi, waktu aku balik dari rumah temanku, ada dua orang laki-laki yang ikutin aku sampai ke halte. Sialnya tadi halte lagi sepi banget, gak ada seorang pun yang lewat, kedua laki-laki itu mengapit ku, terus melancarkan aksinya. Untuk dengan cepat aku bisa lolos, meskipun salah seorang dari mereka menarik lengan bajuku sampai sobek gini" Terang Amanda.


"Aku terus berlari dan mencari jalan yang ramai, sampai pada akhirnya aku berhasil lolos dari kejaran mereka, saat itu aku hanya kepikiran mbak Rena. Aku lega bisa benar-benar lolos dari kedua laki-laki mesum itu" lanjut Amanda.


*Syukurlah, kamu belum sempat diapa-apain sama mereka" Rena lega mendengarnya.


"Lagian kamu juga sih, jalan sendirian, jadinya kayak gini kan? Kenapa gak minta Alam untuk anterin kamu?" Tanya Yudha dengan wajah menegang.


"Tadi Alam mau nganterin kok, cuma aku aja yang nolak, takutnya aku ngerepotin dia" kata Amanda.


"Kamunya juga sih yang keras kepala, akhirnya terjadi yang kayak kamu alami ini, nasib baik kamu bisa terlepas dari mereka dan untung saja aku sama Rena kebetulan ada di dekat sini, kalau gak, aku gak tahu gimana jadinya kamu sekarang!" Amarah Yudha mulai naik.


"Pokoknya aku gak mau tahu, mulai sekarang kalau mau kemana-mana, gak boleh sendirian lagi!" Ucap Yudha dengan tegas.


"Iya, Yud, aku janji, aku bakal dengerin kamu" kata Amanda dengan kepala menunduk.


"Aku kayak gini, karena aku khawatir dan takut kamu kenapa-kenapa, terus kamu juga tahu kan ibu kamu minta aku dan Alam buat jagain kamu, aku cuma mau jalani amanah dari ibu kamu sebaik-baiknya" Yudha mengutarakan alasannya.


"Iya, Yud, aku ngerti" jawab Amanda singkat. Melihat sikap Yudha itu, Rena merasa cemburu.


"Jujur, aku cemburu dengan sikap kamu yang sebegitu khawatirnya sama Amanda, walaupun aku tahu kamu anggap Amanda seperti adikmu sendiri, cuma tetap saja ada rasa cemburu, ketika kamu memberikan perhatian berlebih pada wanita lain" batin Rena.


Hari itu Rena pulang agak lambat dari biasanya, karena ada jadwal siaran tambahan, menggantikan penyiar lain yang berhalangan datang. Rena yang diantar pulang oleh Yudha, menurunkan Rena di depan lorong rumahnya, karena memang Rena yang memintanya untuk diturunkan di depan lorong rumahnya saja. Namun, secara tiba-tiba, ada seorang wanita yang mencegat Rena. Rena pun terkejut melihatnya dan sepertinya Rena mengenali wanita itu.


"Loh.... Kamu bukannya Dian, Yah, temannya Ramdan kan" Rena menerka.


"Iya, lebih tepatnya calon suamiku" jawab Dian tegas. Seketika Rena terkejut dengan pengakuan Dian. Rena dibuat bingung, karena apa yang dikatakan oleh Ramdan, berbanding terbalik dengan yang dikatakan Dian barusan.


"Okey, sekarang gini aja, biar ngobrolnya lebih enak, kita ke cafe situ aja" Rena menunjuk sebuah cafe yang letaknya beberapa blok dari lorong rumahnya.


"Oke, kamu ngomong deh apa yang pengen kamu omongin dan jelasin ke aku, yang tadi kamu bilang kalau Ramdan itu calon suami kamu, soalnya berbanding terbalik dengan yang dikatakan oleh Ramdan" Rena menunggu penjelasan Dian.


"Sebelum aku ngomong, kamu lihat ini aja dulu" Dian Menyodorkan sebuah undangan pada Rena.


Rena terkejut melihat nama yang ada di undangan tersebut, Dian dan Ramdan.


"Jadi, ternyata yang dikatakan Dian itu benar. Tapi, kenapa Ramdan tidak ceritakan ini ke aku, apa karena Ramdan sengaja, supaya bisa dekati aku? Tapi, gak bisa juga, karena aku dan Yudha bentar lagi bakal nikah, aku tahu kenapa Dian seperti ini, dia pasti mengira aku menjalin hubungan spesial dengan Ramdan" batin Rena.


"Kamu ngerti kan sekarang, Ren? Jadi, aku mohon sama kamu, kamu jauhi Ramdan" pinta Dian.


"Dian, gini, kamu mungkin salah sangka, sebenarnya aku sama Ramdan itu gak hubungan apa-apa, aku juga gak mungkin jalin hubungan sama Ramdan, karena aku udah punya calon suami dan bentar lagi kita nikah" Rena Mencoba Menjelaskan Pada Dian.


"Tapi, kalau kamu mau aku jauhi Ramdan, aku bakal lakuin itu, biar gak ada kesalahpahaman lagi diantara kita, aku paham kok akan kekhawatiran kamu" lanjut Rena.


"Gak apa-apa kok, aku juga bisa paham gimana sakitnya hati kamu kalau ada wanita lain yang mendekati aeseorang yang nantinya bakal jadi suami kita" jawab Rena.


"Ya udah kalau gitu, aku pamit yah, aku capek banget dan kalau misalkan gak berpapasan dengan jadwal siaran aku, aku pasti datang kok ke acara nikahan kamu" Rena berpamitan pada Dian dan beranjak pergi meninggalkannya.


Untuk apa coba Ramdan menyembunyikan ini semua. Kalau misalkan dia begitu untuk bisa dekat sama aku, itu cara yang salah, lagipula aku juga gak mungkin terima dia, ya udahlah, itu urusannya dia, gak mau mikirin, mending fokus sama rencana pernikahanku dengan Yudha" pikir Rena.


Setelah pertemuannya dengan Dian barusan, hari itu juga, Rena memutuskan komunikasinya dengan Ramdan. Mulai dari memblokir nomernya, memblokir Ramdan di semua sosial medianya.


"Permisi.....!!" Ada seseorang yang berteriak dari luar.


"Itu kayak suara Ramdan deh, ngapain lagi coba dia Kesini? Aku kan udah gak mau lagi dia deketin aku" batin Rena kesal.


"Yud, tolong dong, kamu lihat siapa tuh yang datang" pinta Rena.


Iya, mas, mau cari siapa yah?" Tanya Yudha.


"Aku mau ketemu Rena dong, mas, aku Ramdan" katanya.


"Oh... Tunggu bentar yah" Yudha pun kembali masuk kedalam menemui Rena.


"Siapa, Yud?" Tanya Rena.


"Itu si Ramdan nyariin Kamu" jawab Yudha.


"Mmm.... Yud, aku boleh minta tolong gak, kamu suruh dia pergi yah, aku gak mau ketemu dia, kamu bilang aku lagi sibuk atau apa gitu, please" Rena memohon.


"Emang ada apa sih, Ren? Kemarin-kemarin kamu senang aja ketemu Ramdan, sekarang malah gak ketemu dia" Tanya Yudha bingung.


"Aduh..... Yud, tolongin aku, nanti aku jelasin deh" kata Rena.


Yudha menuruti keinginan Rena dan kembali menemui Ramdan.


Maaf yah, Ramdan, Rena gak bisa diganggu, dia lagi banyak kerjaan" kata Yudha pada Ramdan.


"Cuma sebentar aja kok, mas, aku cuma mau minta penjelasan aja dari dia" Ramdan tetap memaksa untuk bertemu dengan Rena.


"Tapi, Rena memang tidak bisa diganggu, dia yang bilang sendiri sama aku" Yudha juga berusaha bersikeras.


"Pokoknya aku mau ketemu Rena" Ramdan pun bersikeras untuk masuk kedalam. Tapi, secara spontan Yudha langsung menahan Ramdan.


"Kamu ini kok ngotot banget sih, sudah dibilang Rena gak bisa ditemui" Yudha mulai kesal.


"Mending kamu pergi sekarang, sebelum aku bertindak lebih keras lagi" Yudha sedikit mengancam.


Ramdan pun akhirnya mengalah dan beranjak pergi dari hadapan Yudha.


"Ini orang apa sih, di kasi tahu, malah ngotot gitu untuk ikuti kemauannya" Yudha menggeleng-gelengkan kepalanya.