The Announcer

The Announcer
Hari Bahagia


Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga, hari pernikahan Rena dan Yudha. Disebuah gedung yang cukup mewah, sedang dilangsungkan akad nikah.


"Gimana kamu udah siap?" Tanya Alam, yang mendampinginya menuju ke gedung pernikahan.


"Jujur, aku deg-degan banget, Lam, aku gugup" kata Yudha.


"Yud, kamu harus tetap rileks, tenang, kan semalam udah latihan" Alam mencoba menenangkan Yudha.


"Iya sih, cuma kan beda kali, ini mah yang benerannya" Yudha merasa makin deg-degan.


"Pokoknya kamu berdoa saja, mudah-mudahan dilancarkan semuanya, okey" kata Alam.


"Mobil udah siap tuh, yuk, berangkat sekarang, nanti telat loh" Amanda yang juga ikut mendampingi, masuk menghampiri keduanya.


"Yuk, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim! Kita berangkat".


Alam dan Yudha jalan bersamaan menuju ke mobil dan segera berangkat ke gedung pernikahan.


Butuh waktu sekitar 40 menit untuk sampai di gedung tersebut. Saat mereka melangkah masuk, disana sudah menunggu Andien, Kinal dan juga Panji, yang bertindak sebagai wali nikah Rena, yang akan menikahkan langsung, dibimbing oleh penghulu disampingnya. Selang beberapa saat kemudian, Rena yang didampingi oleh sahabatnya, Karin berjalan keluar dari kamar rias pengantin. Rena tampak terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna putih, berjalan menghampiri Yudha dan duduk disampingnya.


"Baiklah kalau seperti itu, kedua mempelai sudah ada disini, kita langsung saja mulai acara akad nikahnya. Yudha silahkan jabat tangan pak Panji" penghulu tersebut memberi instruksi.


"Bismillahirrahmanirrahim. Yudha Bagaskara, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Rena Arista Fitria Binti Panji Sudrajat dengan mas kawin uang tunai 577 ribu rupiah dan seperangkat alat Shalat dibayar tunai!"


"Saya terima nikahnya Rena Arista Fitria Binti Panji Sudrajat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


"Gimana para saksi, sah?" Bertanya pada kedua saksi di sisi kiri dan kanan.


"Sah!" Menjawab bersamaan.


"Alhamdulillah!" Semua yang hadir mengucap syukur secara bersamaan dan memanjatkan doa sejenak.


"Mulai hari ini kalian berdua sah sebagai pasangan suami istri dan semoga kalian menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah Warahmah".


"Amiiin....!" Yudha dan Rena menjawab bersamaan.


Yudha dan Rena saling memasangkan cincin satu sama lain di jari manis masing-masing.


"Selamat yah, nak, kalian berdua sudah sah jadi suami istri, semoga pernikahan kalian ini menjadi yang pertama dan terakhir" harap Andien.


"Oh iya, Yudha, ibu kamu mana, kok gak ada aku lihat?" Tanya Andien.


"Mama gak bisa datang, Bu, kondisi beliau lagi kurang enak badan" jawab Yudha.


"Ya sudah, nanti selesai acara biar ibu yang telpon mamamu" kata Andien.


"Ada yang lihat ayah gak yah? Aku cari-cari dia gak ada, sejak akad nikah selesai, ayah malah menghilang, ibu cari dulu yah, bentar lagi tamu undangan mulai berdatangan" Andien keluar mencari keberadaan Panji.


"Alhamdulillah! Akhirnya yah, Ren, kita nikah juga, setelah kemarin-kemarin selalu saja tertunda rencana kita, ada aja gitu halangannya" kata Yudha dengan senyum semringah.


Raut wajah kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Yudha dan juga Rena.


"Kisah cintaku yang berliku, berakhir dengan happy ending. Walau awalnya aku juga tidak menyangka kalau Yudha adalah jodohku, karena di awal pertemuanku dengan Yudha, kita berdua tidak saling menyukai satu sama lain, malah aku sempat membenci dia. Tapi, seiring berjalannya waktu, semakin hari kita berdua semakin dekat, ditambah lagi setiap hari siaran bareng. Sampai akhirnya pacaran dan berbagai macam rintangan datang silih berganti, namun, dengan kesabaran dan ketabahan, semuanya itu bisa dilewati. Benar kata orang, kalau kita membenci seseorang, nanti lama kelamaan akan berubah menjadi rasa cinta, seperti kisah cintaku sama Yudha. Lucu juga sih kalau diingat-ingat lagi" dalam hatinya, Rena merasa geli sendiri mengingat kisah perjalanan cintanya dengan Yudha.


Setengah jam kemudian, Andien kembali. Namun, tanpa Panji bersamanya.


"Gimana, bu? Ketemu ayah?" Tanya Rena.


"Gak ada, Ren, ibu cari kemana-mana, gak ketemu juga, ya udahlah biarin aja, ada Kinal ini yang temani ibu, gak usah dipikirkan" kata Andien. Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Tapi, Andien tiba-tiba saja penyakit stroke yang dideritanya selama 2 tahun terakhir ini kambuh lagi.


"Kenapa aku tiba-tiba kayak gini, aku harus kuat, paling tidak sampai pesta pernikahan Rena dan Yudha selesai, Ya Allah kuatkan hamba" Andien berdoa dalam hati.


"Bu, ibu kenapa? Ibu sakit?" Tanya Kinal khawatir.


"Gak kok, Nak, ibu baik-baik aja" Andien berusaha menutupinya dari Kinal.


"Hai, Ren, Yud, selamat yah buat kalian berdua, akhirnya nikah juga, aku senang lihat kalian berdua bersanding di pelaminan" Karin menyalami keduanya sambil tersenyum semringah.


"Makasih yah, mbak Karin, ini juga berkat bantuan mbak Karin, kalau tidak, mungkin sampai hari ini aku masih memendam perasaanku ke Yudha dan gak akan berani buat ungkapinnya" Ucap Rena.


"Oh iya, mbak, mbak Karin datang sendirian? Kirain tadi mbak Karin balik dan kesini lagi sama suami mbak Karin" Yudha mencari-cari suami Karin.


"Iya, Yud, tadinya sih gitu, cuma dia dapat telpon dari kantornya dan harus berangkat sekarang juga ke luar kota, dia disuruh untuk mengurus proyek yang sedang dikerjakan, gak bisa ditinggal juga, karena gak ada yang bisa gantikan, jadi, ya udah, aku kesini sendirian aja" jelas Karin.


"Dia cuma nitip ini buat kalian berdua" Karin memberikan dua tiket liburan ke Bali.


"Wah.... Makasih banyak yah, mbak Karin, aku sama Rena senang banget, sampaikan juga ucapan terima kasih kita berdua sama suaminya mbak Karin" kata Yudha dan menerima tiket pemberian Karin tersebut. Karin mengangguk.


"Oh iya, nanti kalau kalian sudah kembali dari bulan madu, kalian berdua temui aku di kantor yah, aku ada tugas buat kalian, oke, kalau gitu aku kesana dulu, mau nyamperin anak-anak yang lain" Karin beranjak pergi dari hadapan Yudha dan Rena, menghampiri teman-temannya yang lain, yang sudah datang.


"Hai kak Rena, kak Yudha, selamat yah, akhirnya kalian berdua nikah juga, aku senang banget, kak" Ghea datang dan menyalami Rena dan juga Yudha.


"Loh.... Ghe, kamu sendirian? Dodi mana?" Tanya Rena.


"Ada kok, kak, dia lagi nyari parkiran, aku disuruh masuk duluan, nah... Itu dia disana" kata Ghea, melihat Dodi masuk. Ghea melambaikan tangannya, agar Dodi menghampirinya.


"Hai, kalian berdua, selamat yah, semoga bahagia selalu dan bersama sampai maut memisahkan" ucap Dodi.


"Makasih banyak yah, Dod, udah sempatkan hadir" kata Yudha. Setelah menyalami keduanya, Ghea dan Dodi duduk di kursi tamu sambil menikmati makanan yang tersedia.


"Sayang, aku senang banget deh, lihat kak Yudha dan kak Rena nikah, aku jadi pengen juga deh cepat-cepat nyusul" kata Ghea.


"Iya, sabar yah, sayang, aku janji, aku pasti bakal nikahin kamu, aku tuh sayang banget loh sama kamu" jawab Dodi.


Semua tamu yang hadir di acara pernikahan Yudha dan Rena tampak menikmati hidangan yang tersedia, ditambah dengan alunan musik akustik, menambah suasana menyenangkan di pesta itu.