
Yudha dan Panji saling melempar senyum dan menjabat tangan satu sama lain.
"Yud, aku tinggal bentar yah, aku mau ke kamar dulu, mau ganti baju, kamu ngobrol deh sama ayah" kata Rena dan berlalu dari hadapan Yudha.
"Kamu yang di hotel waktu itu kan? Bareng sama seorang gadis" Panji mengingatnya.
"Om yang gandengan mesra dengan Stella waktu itu kan? Om, ingat, om udah punya anak dan istri, lagipula Stella itu lebih pantas jadi anak dibanding pacar" Yudha mengingatkan Panji.
"Yudha, kamu gak usah nasehati aku, kamu juga menduakan Rena dibelakangnya dengan jalan berdua sama gadis itu" kata Panji.
"Om salah kalau om menyangka aku selingkuh, dia itu sepupu aku dan sebentar lagi mau nikah, yang waktu kita ketemu itu, aku sama Uchy abis anterin undangan, aku gak pernah duakan Rena" Yudha menjelaskan tentang Uchy pada Panji.
""Alah.....!! Udah deh, Yudha, kamu gak usah munafik, kita ini sama-sama laki-laki, laki-laki selingkuh itu hal yang wajar, terkadang memang ada kalanya kita udah merasa bosan dengan pasangan kita, karena sudah tidak menarik lagi dimata kita dan mencari pelampiasan diluar" Panji mengibaratkan Yudha sama seperti dirinya.
"Tapi, ini beneran, om, Uchy itu sepupu aku, kalau om gak percaya, om bisa tanya langsung sama Rena, dia udah aku kenalin ke Rena, bahkan ke semua teman-temanku di Yori" Yudha berusaha meyakinkan Panji, bahwa yang dikatakannya itu sesuai dengan kenyataannya.
"Oke.... Oke, ya udah aku percaya" kata Panji sambil tertawa sinis.
"Kalau saja om Panji ini bukan ayahnya Rena udah gampar mulutnya itu, enak aja dia samakan aku dengan dirinya yang suka selingkuh" Yudha kesal dalam hatinya.
"Sabar Yudha, ingat, ini ayahnya Rena, harus tetap dihormati" Yudha mencoba mengontrol emosinya.
"Om, bukannya aku mau menggurui atau apa, cuma menurutku, mending om akhiri hubungan gelap om itu dengan Stella, sebelum om melangkah terlalu jauh. Karena cepat atau lambat hubungan om dan Stella akan ketahuan, sekalipun om berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya. Coba om bayangkan gimana sakit tante Andien di khianati, terus gimana juga dengan perasaan Kinal dan Rena kalau tahu ayahnya selingkuh dengan gadis seusianya, pasti akan berpengaruh terhadap kondisi psikis mereka kedepannya dan menimbulkan perasaan trauma untuk menjalin hubungan dengan laki-laki" Yudha mencoba menasehati Panji.
"Kuharap om mau merenungkan hal itu, sebelum semuanya terlambat" lanjut Yudha.
"Yud, ayo kita berangkat sekarang, aku udah siap nih" Rena menghampiri Yudha diruang tamu.
"Ya udah, om, aku sama Rena mau jalan dulu" Yudha berdiri dari tempat duduknya.
"Loh.... Kamu mau kemana, Ren?" Tanya Panji.
"Ini yah, aku sama Yudha kebetulan ada job MC gitu, untuk acara nikahan, aku pamit yah" Rena salim pada Panji.
Malam harinya, Panji merenungi semua perkataan Yudha padanya.
"Apa yang dikatakan oleh Yudha tadi sore itu ada benarnya juga, kalau sampai hubunganku ini ketahuan oleh Andien atau ada salah satu diantara anak-anakku yang melihatku jalan sama Stella, gimana perasaan mereka" Panji menyadari kalau yang dilakukannya itu salah.
"Aku gak mau berpisah dengan anak-anakku, aku sayang sama mereka, aku juga gak mau kehilangan istri yang begitu tulus menyayangiku, aku gak mau sia-siakan dia, aku harus mengakhiri hubunganku dengan Stella, aku harus temui dia" Panji bertekad dalam hatinya.
Jam 9 pagi, Panji berangkat, dengan alasan ingin menemui temannya pada Andien. Butuh waktu sekitar setengah jam perjalanan naik ojek online, Panji sampai di hotel tempat Stella menginap.
"Stella sayang, buka pintunya" Panji mengetuk pintu kamar Stella.
Klik! Terdengar suara kunci dan pintu dibuka.
"Kamu kok dandan cantik kayak gini? Mau kemana?" Panji terlihat heran.
"Gak mau kemana-mana kok, mas, aku sengaja dandan cantik kayak gini untuk kamu, mas, kamu kan spesial buat aku, mas" kata Stella nada menggoda.
"Ini nih yang bikin aku sayang sama Stella, dia selalu tampil cantik dihadapanku" batin Panji.
"Apa aku sanggup untuk berpisah dengan Stella? Aku sama Stella udah lebih dari 4 tahun menjalin hubungan, rasanya sulit untuk berpisah dengan dia" Panji merasa tidak sanggup untuk mengucapkan kata pisah pada Stella.
"Tapi, ini demi istri dan anak-anakku, demi keutuhan keluargaku juga, aku harus bisa" Panji kembali memantapkan hatinya.
"Mas, katanya kamu mau ngomong sesuatu, mau ngomong apa, mas?" Tanya Stella yang terlihat begitu penasaran.
"Apa jangan-jangan, mas Panji mau lamar aku yah?" Stella menerka-nerka.
"Stella, gini, kita kan udah menjalin hubungan selama 4 tahun lebih nih dan jujur saja, makin lama aku makin sayang sama kamu, aku juga merasakan kenyamanan saat berada di dekat kamu....." Panji menghentikan perkataannya sejenak.
"Terus... Terus!" Stella mendengarkan dengan wajah penuh semangat.
Panji menghela nafas panjang dan melanjutkan perkataannya, "cuma sekarang, aku harus ambil keputusan dan aku berharap kamu bisa menerima keputusanku ini dengan ikhlas, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita ini".
Mendengarkan hal itu, seketika raut wajah Stella berubah. Senyumannya pun menghilang.
"Mas Panji cuma pura-pura kan, mas Panji gak benar-benar serius dengan ucapan mas barusan kan?" Tanya Stella yang seolah tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Aku serius, Stella, aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini" kata Panji dengan yakin.
"Tapi, kenapa, mas? Apa salahku sampai kamu ingin mengakhiri hubungan kita ini, aku sayang banget sama kamu, mas" air mata Stella menetes di pipinya.
"Maafin aku, Stella, aku udah gak bisa lanjutkan hubungan kita lagi, aku merasa bersalah sudah mengkhianati istriku, kuharap kamu bisa mengerti semua ini, sudah cukup aku menyakitinya dengan menduakan dia dibelakangnya" Panji mencoba memberikan pengertian pada Stella.
"Kenapa baru sekarang kamu ngomong seperti ini mas, kemarin-kemarin kita jalanin aja, tanpa kamu pikirkan tentang ini, tapi, kenapa sekarang kamu berubah seperti ini, kenapa!" Mata Stella masih berkaca-kaca.
"Disitulah letak kesalahanku, maka dari itu, aku minta maaf kalau kamu harus mendengar hal yang menyakitkan ini, aku doakan semoga kamu bisa menemukan laki-laki yang tulus mencintai kamu, selamat tinggal Stella" Panji beranjak keluar dari kamar Stella.
"Mas....! Jangan tinggalin aku!" Stella berteriak memanggil Panji.
"Woi....!! Jangan teriak-teriak, disini bukan hutan, ganggu aja!" Penginap yang kian keluar dari kamarnya dan marah pada Stella. Stella tidak memedulikannya.
"Kenapa kamu tega tinggalin aku, disaat aku udah sayang banget sama kamu, mas, jahat kamu, mas!" Stella tersedu-sedu.
"Lihat aja kamu, mas, aku akan lakukan segala cara untuk dapatkan kamu, sekalipun harus menghancurkan rumah tangga kamu! Aku gak rela kamu melakukan ini sama aku" Stella mengepalkan tangannya, saking marahnya dia pada Panji.
"Aku berharap kedepannya, rumah tanggaku dengan Andien bisa semakin harmonis, aku gak menyesal dengan keputusanku mengakhiri hubunganku dengan Stella, aku sudah melakukan hal yang benar" batin Panji.