The Announcer

The Announcer
Diantara Dua Pilihan Sulit


"Mmm... Ren, Ada Yang Pengen Aku Kasi Tahu Nih Sama Kamu" Kata Yudha.


"Apa'an Sih, Yud?" Tanya Rena Penasaran.


"Gini, Ren, Untuk Beberapa Hari Ini, Kita Gak Ketemu Dulu, Gak Apa-Apa Kan?" Yudha Berbalik Bertanya.


"Emang Kamu Mau Kemana?" Tanya Rena Dengan Tatapan Serius.


"Gak Kemana-Mana Sih, Sayang, Cuma Kan Aku Mau Ngurusin Semua Keperluan Untuk Pernikahan Kita Nanti, Ini Kurang Dari Seminggu Lagi Loh, Sayang" Jelas Yudha.


"Oh... Gitu, Eh... Mau Aku Bantuin Gak? Siapa Tahu Aku Bisa Bantu Apa Gitu" Rena Menawarkan Bantuan.


"Gak Usah, Sayang, Kamu Jaga Kesehatan Kamu Aja, Sampai Hari Pernikahan Kita Tiba, Kamu Juga Kan Baru Pulih, Masih Perlu Banyak Istirahat" Yudha Menolak.


"Aku Bisa Kok, Selesaikan Ini Sendirian, Kamu Tenang Aja Yah, Sayang, Lagipula Tinggal Dikit Lagi Sih" Lanjut Yudha.


"Iya Deh, Aku Nurut" Jawab Rena Pasrah.


"Hitung-Hitung Belajar Jadi Istri Solehah, Menuruti Perkataan Suami Hehehe.....!" Rena Tertawa Kecil.


"Kamu Bisa Aja Deh" Yudha Mencubit Pelan Kedua Pipi Rena. Mereka Berdua Tertawa Bahagia.


-


-


Sepertinya, Kisah Cinta Yudha Dan Rena Tidak Hentinya Di Uji. Kali Ini, 3 Hari Jelang Pernikahan Yudha Dan Rena. Sore Itu, Yudha Baru Saja Pulang Kerja. Ibunya Sedang Duduk Santai Di Teras Rumahnya, Menunggu Yudha Datang.


"Loh... Bu, Ibu Kok Disini, Ngapain?" Tanya Yudha Pada Ibunya.


"Gak Kok, Yud, Ini Cuma Nyari Angin Aja" Jawab Ibunya Singkat.


"Oh Iya, Yudha, Ada Hal Yang Penting, Yang Pengen Ibu Omongin Sama Kamu" Lanjut Ibunya.


"Hal Penting Apa Itu, Bu?' Yudha Penasaran Dan Duduk Didepan Ibunya.


"Kamu Masih Ingat Gak Sama Talitha, Anaknya Tante Hera. Dulu Waktu Kalian Kecil Sering Main Bareng" Ibunya Mengingatkan Teman Masa Kecil Yudha. Yudha Berpikir Sejenak Dan Berusaha Mengingat-Ingat Temannya Sewaktu Kecil Dulu.


"Oh... Iya, Aku Ingat, Bu, Yang Dulu Rambutnya Suka Di Kuncir 2 Kan, Bu?" Yudha Sepertinya Mengingat.


"Nah... Itu Dia, Kamu Benar Banget" Ibunya Membenarkan.


"Terus... Terus, Bu?" Yudha Makin Penasaran.


"Minggu Lalu, Talitha Masuk Rumah Sakit Dan Dokter Memvonis, Kalau Dia Terkena Kanker Paru-Paru Stadium Akhir Dan Hidupnya Kurang Dari Seminggu Lagi, Kasian Banget Ibu Dengarnya, Yud" Ibunya Yudha Meneteskan Air Matanya Karena Sedih.


"Terus Hubungannya Sama Yudha Apa, Bu?" Yudha Masih Belum Mengerti Arah Pembicaraan Ibunya.


"Talitha Juga Sudah Cerita Sama Ibunya Dan Juga Ibu, Katanya Dia Punya Permintaan Terakhir Sebelum Dia Meninggalkan Dunia Ini. Talitha Udah Lama Suka Sama Kamu, Bahkan Katanya, Dia Follow Semua Akun Sosmed Kamu Dan Stalking Sosmed Kamu, Saking Dia Pengen Tahu Tentang Kamu. Talitha Ingin, Kamu Menikahinya Dan Memberikan Hari Yang Paling Bahagia Di Hari-Hari Terakhirnya Dia" Terang Ibunya.


Yudha Terdiam Sejenak Dan Tidak Menjawab Apapun. Yudha Berpikir Dan Mencoba Memilih Diantara Dua Pilihan Yang Sangat Sulit Baginya.


"Duh.... Gimana Nih, Aku Kan Bentar Lagi Mau Nikah Sama Rena. Aku Gak Mungkin Batalkan Pernikahanku Sama Rena, Gimana Perasaan Rena Dan Ibunya Nanti Kalau Tahu Hal Ini" Batin Yudha Kebingungan.


"Bu, Kayaknya Yudha Gak Bisa. Ibu Kan Tahu, Kalau Bentar Lagi Aku Dan Rena Menikah, Gak Mungkin Aku Batalkan Begitu Saja, Bu" Yudha Berusaha Menolaknya.


"Ibu Tahu Itu, Nak. Tapi, Ini Juga Ibu Lakukan Untuk Membalas Jasa Ibunya Talitha Yang Selama Ini Banyak Bantuin Ibu, Ibu Mohon Kamu Mau Yah, Yudha" Pinta Ibunya.


"Balas Jasa Sih Boleh, Bu, Tapi, Bukan Dengan Cara Ini Juga Kan Caranya" Yudha Berusaha Memberikan Pengertian Pada Ibunya.


"Tapi, Cuma Ini Jalan Satu-Satunya, Nak" Jawaban Ibunya Seolah Memaksa Yudha Berada Diantara Dua Pilihan Yang Sulit.


"Tuhan, Beri Aku Petunjuk, Agar Aku Tidak Salah Menentukan Pilihanku Ini, Agar Salah Satu Dari Keduanya Tidak Ada Yang Tersakiti" Jerit Hati Yudha.


Yudha Memantapkan Pilihannya Itu, Yaitu Mengikuti Apa Yang Dikatakan Ibunya. Meskipun Yudha Tahu, Hal Ini Akan Menyakiti Hati Rena, Namun Yudha Terpaksa Melakukannya, Agar Talitha Bisa Pergi Dengan Tenang.


Siang Itu, Setelah Istirahat Makan Siang, Yudha Meminta Rena Untuk Menemuinya Di Taman Yang Tidak Jauh Dari Rumah Rena.


"Yud, Ada Apa Sih, Tiba-Tiba Ngajak Aku Ketemuan, Katanya Gak Bisa Ketemu Dulu, Karena Mau Urusin Pernikahan Kita, Kok Malah Ngajak Ketemuan" Rena Heran.


"Ren, Sebelumnya Aku Minta Maaf Yah Sama Kamu, Soalnya Ini Ada Hubungannya Dengan Pernikahan Kita" Yudha Menatap Mata Rena Serius.


"Ada Apa, Yud? Gedung Yang Kamu Booking Gak Ada Yang Kosong? Atau Cateringnya Belum Dapat? Undangannya Belum Selesai Dicetak Semua? Cincinnya Belum Ketemu Yang Pas?" Pertanyaan-Pertanyaan Itu Terlontar Dari Mulut Rena. Yudha Hanya Menggelengkan Kepalanya.


"Aku Minta Maaf, Kayaknya Kita Gak Bisa Menikah" Yudha Mengatakannya Dengan Berat Hati.


"Kenapa, Yud?" Tanya Rena Yang Terlihat Bingung.


Mendengar Hal Itu, Rena Langsung Meneteskan Air Matanya.


"Ren, Please, Kamu Dengerin Dulu, Sebenarnya Ini Juga Terpaksa Aku Lakukan, Soalnya Anak Dari Teman Ibu Aku Itu, Teman Masa Kecilku Juga Sih, Divonis Kanker Paru-Paru Dan Umurnya Gak Nyampe Seminggu Lagi Kata Dokternya. Jadi, Dia Itu Punya Permintaan Terakhir, Dia Ingin Menikah Denganku, Karena Katanya Dia Udah Suka Sama Aku, Itu Alasannya" Terang Yudha.


"Kalau Boleh Jujur, Aku Juga Sebenarnya Berat Melakukan Ini, Ren, Tapi, Mungkin Ini Adalah Jalan Yang Terbaik Untuk Kita, Bukannya Aku Tidak Sayang Sama Kamu, Tapi, Inilah Pilihan Terbaik Yang Tuhan Pilihkan Untuk Kisah Kita Dan Kita Harus Menerimanya Dengan Ikhlas" Lanjut Yudha.


"Aku Paham Posisi Kamu, Yud, Aku Ikhlas Kamu Nikahi Dia. Jika Suatu Saat, Kamu Ingin Mencariku Lagi, Hatiku Akan Selalu Terbuka Untuk Kamu, Aku Tidak Pernah Marah Atau Apapun, Mungkin Belum Waktunya Kita Berjodoh Atau Mungkin Saja Tuhan Menundanya" Rena Meneteskan Air Matanya.


"Selamat Berbahagia Yah, Yud, Selamat Tinggal, Yudha" Rena Beranjak Pergi Dari Hadapan Yudha. Meskipun Perasaannya Hancur, Rena Berusaha Untuk Tegar, Karena Dia Yakin Yudha Sudah Memilih Yang Terbaik Untuk Hubungannya Dengan Yudha.


"Pada Akhirnya Kisah Cintaku Dan Yudha Harus Berakhir. Terkadang Takdir Tuhan Itu Tidak Sama Seperti Yang Kita Harapkan, Bahkan Terkesan Menyakitkan Buat Kita. Namun, Kalau Kita Bisa Menerima Semuanya Itu Dengan Ikhlas, Pasti Suatu Saat Tuhan Akan Memberikan Yang Lebih Baik Lagi, Karena Tuhan Maha Tahu Apa Yang Terbaik Bagi Hamba-NYA" Jerit Hati Rena.


Di Kamarnya Talitha Tertawa Bahagia, Karena Cintanya Pada Yudha Terbalaskan Dan Tak Lama Lagi Mereka Berdua Akan Menikah.


"Akhirnya, Setelah 20 Tahun Lamanya Menanti, Yudha Akan Jadi Milikku Seutuhnya, Dia Akan Jadi Suamiku" Talitha Terlihat Sangat Bahagia.


"Talitha, Kamu Kok Girang Gitu Sih, Kamu Harus Istirahat Loh, Sayang, Kan Lagi Sakit" Ibunya Terlihat Cemas.


"Sakit Apa'an, Aku Sehat-Sehat Aja" Jawab Talitha Santai.


"Bukannya Kata Dokter Kamu Terkena Kanker Paru-Paru Stadium Akhir Dan Umurmu Gak Akan Lama Lagi?" Tanya Ibunya.


"Hahaha.... Itu Cuma Rekayasa Aku Aja, Bu" Talitha Tertawa.


"Rekayasa? Maksudnya Apa?" Tanya Ibunya Yang Terlihat Masih Bingung.