The Announcer

The Announcer
Happy Birthday, Rena!


Tepat pukul 00:00, mereka sampai Dirumah Rena.


"Ren, yuk, turun, besok kan kita harus Kerumah sakit pagi-pagi, jadi, kita harus cepat istirahat juga" kata Yudha, saat mematikan mesin mobilnya.


"Silahkan turun, nona Rena kesayangan" Yudha membuka pintu untuk Rena. Rena masih saja cemberut.


"Beb, udah dong ngambeknya, cemberut terus, nanti cantiknya hilang loh kalau cemberut kayak gitu" kata Yudha.


"Udah deh, bawel banget, buruan buka pintunya" mata Rena melotot. Yudha membuka pintu. Rena mendahului Yudha masuk. Saat Rena menyalakan lampu ruang tamu, seketika membuat Rena terkejut melihat semua teman-temannya. Rena yang sedari tadi cemberut seketika berubah menjadi senyum dan mata berkaca-kaca. Diiringi dengan nyanyian lagu selamat ulang tahun dari teman-temannya. Karin berjalan menghampiri Rena dan menyodorkan kue yang dibawanya dengan lilin yang tertancap diatasnya.


"Kamu tiup lilinnya, tapi, sebelum itu make a wish dulu" kata Karin. Rena memejamkan matanya sejenak dan memanjatkan doa dalam hatinya. Rena membuka mata kembali dan meniup lilin. Semua yang hadir bertepuk tangan.


"Potongan kue pertama ini, aku berikan pada Yudha, suamiku tercinta" Rena memberikan sepotong kue pada Yudha.


"Happy birthday yah, beb, panjang umur, sehat selalu, rejekinya dilancarkan dan semoga tercapai semua yang kamu cita-citakan" Yudha mengecup kening Rena.


"Amiin....!" Sahut teman-temannya bersamaan.


"Satu lagi, Yud, yang kelupaan, semoga bisa jadi istri solehah" Celetuk Darto.


"Iya, mas, yang itu juga" jawab Yudha.


"Ren, ini kado buat kamu, semoga kamu suka yah sama kado pemberian kita" Vania memberikan kado yang dibawanya pada Rena.


"Tapi, aku bingung, kalian semua masuk darimana? Pintu semuanya terkunci" tanya Rena.


"Kan ada kunci serepnya sama kita, Yudha yang ngasi waktu Dirumah sakit tadi, pas kamu dan adik kamu masuk ke ruang ICU, ini semua Yudha yang rencanain" jelas Vania.


"Sudah aku duga, ini pasti rencananya Yudha, termasuk juga membuatku kesal dengan berpura-pura lupa dengan hari ulang tahunku" Rena sudah menduga dari awal.


"Oh iya, Ren, Yudha sempat cerita sama aku, katanya dia punya hadiah yang spesial buat kamu, Yudha udah ngasi tahu tentang hal itu ke kamu?" Tanya Vania.


"Belum, Van, Yudha gak cerita apa-apa, aku juga tahunya ini dari kamu, tapi, nanti deh, aku tanyain ke dia langsung" kata Rena.


"Sekali lagi makasih yah buat kalian semua, jujur, aku terharu dengan kejutan ini, meskipun sekarang aku bukan bagian dari Yori lagi" mata Rena berkaca-kaca.


"Iya, Ren, aku sama anak-anak juga senang lakuin ini, meskipun kamu bukan penyiar Yori lagi, tapi, kita masih anggap kamu sebagai keluarga kedua kita, seperti dulu dan aku akan tetap jadi sahabat kamu sampai kapanpun" Karin memeluk Rena.


"Kalau gitu kita semua pamit yah, Ren, Yud" Karin berpamitan pada keduanya, mewakili teman-temannya.


"Gak mau tidur disini dulu, udah jam berapa loh ini, paling tidak nunggu sampai subuh lah, kita gelar karpet Diatas, tidur bareng-bareng disitu" Rena menawarkan pada teman-temannya.


"Iya, kalian tidurnya disini aja, bahaya kalau pulang jam segini, apalagi kalian semua pada naik motor" Yudha menimpali.


"Tapi, apa kita gak gangguin pengantin baru nih, biasanya kan kalau pengantin baru cuma pengen berdua aja, hehehe....." Celetuk Feby sambil tertawa kecil.


"Apa'an sih, gak lah, santai aja lagi" kata Rena.


"Ya udah, kalau gitu, kalian masuk deh semuanya" ajak Yudha.


Keesokan paginya, Rena dan Yudha bersiap berangkat kerumah sakit. Sekitar 30 menit, mereka sampai dirumah sakit.


"Kamu hati-hati yah, beb" Rena melambaikan tangan.


"Dek, gimana keadaan ibu, apa udah ada kemajuan?" Tanya Rena, saat masuk ke ruang rawat.


"Belum, kak, ibu dari semalam masih kayak gini" jawab Kinal dengan raut wajah sedih.


"Kamu jangan sedih dong, dek, kakak yakin ibu akan siuman secepatnya" Rena mencoba menenangkan Kinal.


"Permisi yah, pagi ini saya mau periksa kondisi ibu Andien" dokter melangkah masuk.


"Vanessa!" Rena terkejut melihatnya.


"Eh... Rena, long time no see, kamu apa kabar sekarang, aku kangen banget tahu sama kamu" Vanessa terlihat sangat senang bisa bertemu dengan Rena lagi.


"Aku baik kok, Nes, seperti yang kamu lihat sekarang" Rena tersenyum.


"Aku periksa ibu kamu dulu yah, abis itu kita ngobrol di sofa disana itu" Vanessa mengeluarkan stetoskop dari jasnya.


"Ini sih, kondisi ibu kamu perlahan mulai stabil dan mudah-mudahan secepatnya bisa siuman" kata Vanessa.


"Yang terpenting kalian berdua, jangan berhenti berdoa untuk beliau" lanjut Vanessa. Rena dan Kinal mengangguk.


"Dok, saya permisi yah, mau cek pasien yang lain lagi" suster yang tadi masuk bareng Vanessa, beranjak pergi setelah menyelesaikan tugasnya. Vanessa hanya mengangguk.


"Oh iya, Ren, aku lihat postingan kamu di Instagram, kamu posting foto pernikahan gitu, emang kamu udah nikah yah?" Tanya Vanessa.


"Iya, Nes, baru kemarin aku nikah" jawab Rena singkat.


"Berarti ibu kamu gak lihat kamu nikah dong, karena terbaring Dirumah sakit" kata Vanessa.


"Justru ibu baru kemarin dirawat disini, kejadiannya itu begitu cepat, ibu jatuh pingsan, saat acara pernikahanku berlangsung. Aku, suamiku dan adik aku langsung bawa ibu kesini" jelas Rena.


"Kamu yang sabar yah, Ren" mengelus lembut punggung tangan Rena.


"Jujur aja, Nes, aku gak nyangka kamu jadi dokter, gimana ceritanya sih, setahuku kamu di fakultas ekonomi dan bisnis deh waktu kuliah dulu, kok sekarang malah jadi dokter, jauh banget" Rena terlihat bingung.


"Jadi, aku tuh ambil fakultas kedokteran waktu aku lanjutin kuliah aku dan ambil spesialis penyakit dalam, karena aku bertekad, suatu saat ilmu yang aku dapatkan ini, bisa bermanfaat bagi orang banyak dan bisa membantu orang yang membutuhkan" terang Vanessa.


"Oh iya, Ren, aku pernah janji sama kamu, bahwa aku akan balikin uang yang kamu berikan padaku, mohon diterima yah dan terima kasih udah nolongin aku waktu itu" Vanessa memberikan uang pada Rena, dengan jumlah yang sama dengan yang diberikan Rena dulu padanya.


"Gak usah, Nes, aku nolongin kamu itu ikhlas dan gak ada terbesit di pikiran aku, kalau kamu harus membalasnya atau menggantinya, kamu simpan saja uang kamu itu yah" Rena menolak uang pemberian Vanessa.


""Atau gini deh, anggap aja uang ini hadiah ulang tahun kamu, hari ini ulang tahun kamu, kan? Kamu gak boleh nolak kali ini, gak baik tahu nolak rejeki" Vanessa sedikit memaksa.


"Ya udah kalau seperti itu, aku terima deh, makasih yah, Nes" dengan enggan, Rena pun menerima uang pemberian Vanessa.


"Eh... Tunggu dulu deh, Nes, darimana kamu tahu kalau hari ini aku ulang tahun?" Tanya Rena bingung.


"Aku akan selalu ingat, orang yang selama ini baik sama aku dan selalu membantuku. Aku beruntung banget punya teman seperti kamu, Ren" Vanessa tersenyum.