
"Hai... Rena!" Sapa Stella Yang Tiba-Tiba Muncul Di Hadapan Rena Dan Ghea.
"Stella! Kamu Kok Bisa Ada Disini?" Tanya Rena Bingung.
"Itu Tidak Penting, Yang Terpenting Adalah Kamu Tidak Jadi Nikah Sama Yudha. Sudah Aku Bilang Kan, Kamu Itu Gak Pernah Bisa Nikah Sama Yudha" Kata Stella Dengan Tatapan Sinis.
"Dengar Yah, Stella! Aku Sama Yudha Tidak Jadi Nikah, Bukan Karena Yudha Pergi Tinggalin Aku, Tetapi, Ada Sesuatu Dan Lain Hal Yang Tidak Perlu Kamu Tahu" Rena Sedikit Emosi.
"Whatever! Yang Jelas, Kamu Dan Yudha Tidak Jadi Nikah Dan Sebentar Lagi Yudha Pasti Akan Jadi Milikku" Kata Stella Dengan Penuh Percaya Diri.
"Kita Lihat Saja Nanti, Siapa Yang Akan Tertawa Pada Akhirnya" Jawab Rena.
Melihat Situasi Yang Sedikit Memanas, Ghea Langsung Menarik Tangan Rena Dan Beranjak Pergi Meninggalkan Stella.
"Kak Rena, Gak Usah Ladeni Orang Kayak Stella, Yang Ada Nanti Kak Rena Jadi Kayak Orang Gila" Ghea Menasehati Rena.
"Aku Juga Sebenarnya Malas Ladeni Dia, Tapi, Omongannya Tadi Itu Yang Bikin Aku Gak Tahan, Makanya Sampai Terpancing Juga" Kata Rena.
"Ya Udahlah, Kak, Gak Usah Pikirin Dia, Gak Penting Juga" Ucap Ghea.
"Eh... Bentar Yah, Ghe, Ada Telpon Masuk Nih" Rena Merogoh Kantongnya Dan Menjawab Panggilan Di Handphone-nya.
"Iya, Yud, Ada Apa?" Tanya Rena Diujung Telpon.
"Ren, Kamu Dimana Sekarang? Aku Dirumah Kamu Nih Sekarang, Ibumu Bilang Kamu Belum Pulang" Kata Yudha.
"Aku Lagi Dijalan, Ini Mau Jalan Kerumah, Ada Apa Emangnya?" Tanya Rena Penasaran.
"Nanti Aja Pas Kamu Nyampe Rumah Baru Aku Jelasin, Gak Bisa Kalau Lewat Telpon, Ya Udah Kamu Hati-Hati Pulangnya, Bye" Yudha Langsung Memutus Telponnya.
"Kenapa, Kak?" Tanya Ghea.
"Ini Yudha Lagi Dirumahku Sekarang, Ada Hal Penting Yang Mau Dia Omongin Katanya, Mungkin Masalah Kerjaan Kali Yah" Jawab Rena.
"Ya Udah Kalau Gitu, Ghe, Aku Balik Yah, Next Time Kita Ngobrol Banyak Lagi, See You, Bye" Rena Beranjak Pergi Dari Hadapan Ghea.
"Hati-Hati Yah, Kak!" Teriak Ghea Sambil Melambaikan Tangannya. Rena Membalas Dengan Lambaian Tangan Sambil Tersenyum.
Kira-Kira 30 Menit Perjalanan, Rena Sampai Dirumahnya. Dia Melihat Yudha Dan Juga Ibunya Duduk Di Ruang Tamu, Ditemani Ibunya, Andien Dan Juga Kinal, Adiknya.
"Akhirnya Kamu Datang Juga, Sini, Nak, Yudha Pengen Ngomong Hal Penting" Kata Andien.
"Hal Penting Apa Sih Emangnya?" Tanya Rena Yang Sedari Tadi Dilanda Rasa Penasaran.
"Jadi, Gini, Ren, Aku Udah Jelaskan Semuanya Sama Ibu Dan Adik Kamu, Soal Pernikahan Kita. Nah.... Maksudnya Aku Mau Melanjutkan Kembali Rencana Kota Yang Sempat Tertunda Itu" Terang Yudha.
"Aku Maunya Kita Nikah Bulan Depan, Di Tanggal 15 Juli, Kamu Setuju Atau Tidak, Atau Kamu Maunya Dipercepat" Lanjut Yudha.
"Terus Gimana Soal Pernikahan Kamu Sama Si Cewek Uang Kamu Bilang Itu? Bukannya Kamu Nikah Sama Dia Yah Hari Ini?" Rena Bertanya-Tanya.
"Soal Pernikahan Yudha Dengan Talitha Dibatalkan, Karena Talitha Terbukti Merekayasa Soal Penyakitnya Itu, Doa Hanya Pura-Pura Sakit Agar Supaya Yudha Kasihan Dan Mau Menuruti Keinginannya Itu" Ibunya Yudha Angkat Bicara.
"Rena, Ibu Harap Kamu Mau Melanjutkan Kembali Rencana Kalian Berdua Itu" Pinta Ibunya Yudha.
"Gimana, Ren, Kamu Mau Atau Tidak?" Andien Melemparkan Pertanyaan Pada Rena.
"Udah Kak, Terima Aja, Kalau Gak, Nanti Kakak Nyesel Loh" Ucap Kinal Berbisik.
"Mungkin Ini Yang Dinamakan Jodoh Gak Akan Kemana, Aku Ditakdirkan Untuk Bersama Yudha, Meskipun Jalannya Harus Berliku Seperti Ini" Batin Rena.
"Makasih Yah, Ren, Kamu Udah Mau Nerima Aku Lagi" Ucap Yudha. Rena Hanya Tersenyum. Disela Kebahagiaan Rena Dan Yudha, Ada Kabar Yang Kurang Baik Yang Diterima Ibunya Yudha Via WhatsApp.
"Jeng Fani, Saya Minta Doanya Untuk Talitha Yah, Supaya Dia Bisa Melewati Masa Kritisnya, Karena Sekarang Dia Di ICU, Kena Penyakit Kanker Paru-Paru Dan Ini Bukan Rekayasa, Karena Saya Sendiri Yang Membawanya Ke Rumah Sakit, Maafkan Kesalahan Yang Pernah Talitha Lakukan".
"Jeng Fani, Ada Apa? Kok Mukanya Kayak Gitu?" Tanya Andien.
"Bu, Ada Apa?" Tanya Yudha Yang Terlihat Sedikit Panik.
"Barusan Ibunya Talitha Chat Ibu, Katanya Talitha Sekarat Dirumah Sakit Karena Kanker Paru-Paru Dan Dia Minta Bantuan Do'a Untuk Kesembuhan Talitha" Terang Ibunya Yudha.
"Gimana Kalau Kita Semua Kerumah Sakit Sekarang" Rena Memberi Usul.
"Ide Yang Bagus, Ren, Yuk, Berangkat Sekarang" Ajak Yudha. Semuanya Pun Segera Beranjak Menuju Ke Rumah Sakit Dengan Mobil Yudha.
Sesampainya Dirumah Sakit, Ibunya Talitha Terlihat Sangat Gelisah Dan Tidak Berhenti Berdoa.
"Jeng Hera, Gimana Udah Perkembangan Tentang Keadaan Talitha?" Tanya Ibunya Yudha. Ibunya Talitha Hanya Menggeleng Pelan.
"Kita Berdoa Saja Semoga Talitha Bisa Melewati Masa Kritisnya Ini" Ucap Yudha.
"Terus Ini Siapa?" Tanya Ibunya Talitha.
"Ini Rena, Calon Istriku, Disebelahnya Itu Ibunya Dan Juga Adiknya" Yudha Memperkenalkan Satu Persatu Pada Ibunya Talitha.
"Terima Kasih Kalian Sudah Mau Datang Kesini" Ucap Ibunya Talitha Yang Masih Terisak. Selang 30 Menit Kemudian, Dokter Yang Menangani Talitha Keluar Dari Ruang ICU. Semuanya Mengerubungi Dokter, Untuk Mendengar Penjelasan Dari Dokter.
"Gimana Keadaan Anak Saya? Dia Selamat Kan, Dok?" Tanya Ibunya Talitha.
"Kami Tim Medis Sudah Berusaha Semaksimal Yang Kami Bisa Lakukan, Akan Tetapi, Saudari Talitha Tidak Bisa Diselamatkan, Dia Meninggal Dunia" Ucapnya Dengan Raut Wajah Sedih. Saat Itu Pula Tangis Ibunya Talitha Pecah. Ibunya Yudha Mencoba Menenangkannya Dan Memberinya Kekuatan Agar Bisa Menerima Takdir.
"Jeng Hera, Yang Sabar Yah, Tuhan Lebih Sayang Sama Talitha, Jeng Harus Ikhlas Menerima Kenyataan Ini" Ibunya Yudha Memeluknya.
"Talitha Yang Awalnya Cuma Pura-Pura Sakit, Sekarang Malah Menderita Sakit Itu Dan Meninggal, Yah.... Takdir Seseorang Memang Tidak Ada Yang Tahu, Namun Kita Sebagai Manusia Harus Bersiap, Karena Semua Manusia Di Dunia Ini Suatu Saat Akan Merasakan Yang Namanya Kematian Dan Tak Ada Seorangpun Yang Bisa Menghindar" Batin Yudha.
Setelah Mengurus Semuanya, Prosesi Pemakaman Talitha Dilangsungkan Di Pemakaman Yang Tidak Jauh Dari Rumah Sakit.
"Talitha, Kenapa Kamu Harus Pergi Begitu Cepat, Nak. Andai Saja Kamu Mau Mendengar Apa Kata Ibu Untuk Tidak Memperturutkan Ambisimu Itu, Mungkin Kamu Masih Hidup Sampai Detik Ini, Kamu Yang Mendoakan Dirimu Sendiri Dengan Berpura-Pura Sakit Parah, Yang Akhirnya Membuat Nyawamu Melayang" Ibunya Talitha Terduduk Disamping Makam Talitha. Ibunya Yudha Mencoba Menguatkannya.
"Talitha, Semoga Kamu Tenang Di Alam Sana Dan Mendapatkan Tempat Terbaik Disisi-NYA" Ucap Yudha Sambil Memegang Nisan.
"Permisi, Saya Dari Pihak Rumah Sakit, Ingin Menyerahkan Surat Ini Pada Kalian, Saya Menemukannya Di Ruang ICU, Barangkali Ini Surat Penting Yang Ditinggalkan Oleh Almarhumah Talitha" Katanya Sambil Menyerahkan Sepucuk Surat.
"Terima Kasih, Pak" Yudha Menerima Surat Tersebut.
"Tante, Ini Suratnya, Biar Tante Aja Yang Baca, Mungkin Ada Pesan Yang Ditinggalkan Talitha Untuk Tante Melalui Surat Ini" Yudha Menyerahkan Surat Tersebut Pada Ibunya Talitha.
Ibunya Talitha Membuka Surat Yang Ditulis Oleh Talitha.
"Terima Kasih Untuk Ibu, Yang Udah Merawatku Dari Kecil Sampai Besar Seperti Sekarang Ini, Maaf Kalau Aku Sering Tidak Mendengarkan Nasehat Ibu Dan Hanya Memperturutkan Ambisiku Itu. Aku Juga Mau Minta Maaf Pada Yudha Dan Tante Fani, Karena Sudah Membohongi Kalian Tentang Penyakitku, Meskipun Pada Akhirnya Aku Benar-Benar Merasakannya, Mungkin Ini Karma Buatku, Namun, Aku Ikhlas Menerimanya Karena Ini Memang Kesalahanku"
Tertanda, Talitha.
"Tante, Aku Dan Ibu Sudah Memaafkan Semua Kesalahan Yang Dilakukan Talitha" Ucap Yudha.
"Makasih Yah, Nak Yudha, Kamu Sudah Mau Memaafkan Talitha Yang Sudah Membohongi Kamu Dan Ibumu" Ibunya Talitha Masih Terisak.
"Terima Kasih Talitha, Karena Kamu Pernah Menempatkan Aku Di Hatimu. Yah.... Walaupun Kamu Harus Berpura-Pura Sakit Parah Agar Aku Kasihan Dan Menikahi Kamu. Hanya Satu Yang Aku Harapkan, Semoga Kamu Bahagia Di Alam Sana".