
Rena dan Vanessa yang tengah asik ngobrol di sofa, mendengar sesuatu dan membuat mereka beranjak, menghampiri tempat tidur Andien. Benar saja, suara itu adalah suara Andien yang memanggil-manggil nama Panji dalam tidurnya.
"Bu, ibu, sadar, Bu" Rena mencoba membangunkan Andien perlahan.
"Ren, Panji itu siapa? Kok ibu kamu mengigau nama dia?" Tanya Vanessa.
"Itu ayahku, Nes" jawab Rena singkat. Beberapa saat kemudian, Andien perlahan membuka matanya.
"Alhamdulillah, ibu akhirnya sadar juga" Rena sangat senang melihat ibunya sudah sadarkan diri.
"Ibu dimana ini, Ren?" Tanya Andien, saat melihat ruangan yang asing baginya.
"Ibu lagi dirumah sakit, kemarin pas acara pesta pernikahan aku, ibu jatuh pingsan dan kita semua langsung bawa ibu kesini" jelas Rena.
"Berhubung ibu kamu sudah sadar dan kondisi beliau juga sudah mulai stabil, aku tinggal yah, Ren, masih ada pasien lain yang harus aku periksa, Tante, aku permisi yah" Vanessa beranjak keluar.
"Ren, dokter tadi itu, kayaknya ibu familiar dengan wajahnya, kayak pernah lihat sebelumnya, cuma ibu lupa kapan dan dimana" Andien mencoba mengingat-ingat.
"Itu tadi Vanessa, Bu, ibu masih ingat kan sama Vanessa?" Tanya Rena.
"Vanessa teman kuliah kamu dulu, yang sering kerumah kan" Andien menerka.
"Iya, Bu, benar. Sekarang Vanessa udah jadi dokter spesialis penyakit dalam dirumah sakit ini" terang Rena.
"Ibu gak nyangka Vanessa jadi dokter sekarang, ibu senang lihat dia sekarang udah sukses dan tidak berubah, tetap santun seperti itu, itu yang bikin ibu salut" kata Andien.
"Oh iya, Ren, Yudha mana?" Tanya Andien.
"Yudha kan siaran pagi, bu, seperti biasanya, tapi, dia tadi bilang selesai siaran, bakal langsung kesini kok, Bu" jawab Rena.
Yudha mempersiapkan materi untuk siaran seperti yang dilakukannya setiap hari.
"Yud, bisa ngobrol sebentar?" Karin sudah berdiri dibelakang Yudha.
"Eh... Mbak Karin, ada apa, mbak?" Yudha menoleh ke belakang dan menghentikan sejenak pekerjaannya.
"Aku cuma mau ngasi tahu, kalau mulai hari ini, kamu siaran dengan penyiar baru yang akan jadi partner siaran baru kamu, penggantinya Rena. Namanya Vivi, ini hari pertama dia siaran, aku harap kamu bisa menciptakan chemistry yang baik dengan Vivi, seperti halnya dengan Rena dulu, okey" jelas Karin.
"Iya, mbak" Yudha mengangguk.
"Oh iya, Yud, gimana keadaan ibunya Rena? Apa beliau udah siuman?" Tanya Karin.
"Belum, mbak, ibunya Rena belum siuman waktu aku anterin Rena tadi" jawab Yudha.
"Selamat pagi, mbak Karin" seseorang yang baru datang, menyapa Karin.
"Pagi juga, eh... Kamu udah datang, kebetulan nih, aku mau kenalin kamu sama Yudha, partner siaran kamu dan Yudha, ini dia yang namanya Vivi, yang aku ceritakan tadi" Karin memperkenalkan Yudha dan Vivi satu sama lain.
"Halo, Vivi, salam kenal yah" Yudha mengulurkan tangan, Vivi menjabat tangan Yudha sambil tersenyum.
"Ya udah, kalian berdua silahkan diskusi mengenai materi siaran kalian, aku tinggal kalian yah, selamat bekerja" Karin meninggalkan Yudha dan Vivi berdua.
"Kak, jujur aku senang banget, pas tahu kalau partner siaranku itu kak Yudha, soalnya aku ngefans banget sama kak Yudha, aku sering dengerin kak Yudha siaran, aku suka aja dengan suara kak Yudha dan seolah mimpi jadi kenyataan bisa siaran bareng kak Yudha" Vivi bercerita panjang.
"Aku bukan cuma jatuh cinta sama suaranya aja, tapi, orangnya juga, aku pengen kenal dia lebih dekat lagi, mana tahu bisa jadian kan" batin Vivi.
"Oke, Vivi, siap-siap, 10 menit lagi kita opening, setelah 2 lagu ini selesai" kata Yudha. Vivi hanya mengangguk.
"Wihh.... Yud, cantik juga nih, partner siaran kamu yang baru ini, gak kalah sama Rena" puji salah satu temannya.
"Masih cantikan Rena sih menurutku dan gak ada yang bisa menandingi" kata Yudha.
"Iya deh, yang cinta berat sama Rena, oh iya, Yud, kata mbak Karin, kamu ke ruangan dia nanti, kalau kamu udah kelar siaran, itu aja sih yang pengen aku sampaikan, oke, selamat bertugas sobat" katanya dan beranjak keluar dari ruang siaran.
"98.5 FM Yori barometer musik Indonesia. Selamat pagi Yori Lova, sapa Makassar kembali lagi ke ruang dengar kalian dengan berita update seputar Makassar. Hari ini saya gak sendirian, ada yang mene......"
"Ada saya juga yang akan menemani kalian semua sampai jam 11 siang, jadi, dengerin kita yah, stay tune" Vivi langsung memotong perkataan Yudha. Sontak membuat Yudha kesal dengan Vivi.
"Vi, kamu jangan main potong gitu aja dong,kan aku bakal ngasi kode kapan kamu masuk atau paling gak harus pas kalau mau menyela gitu, jangan kayak barusan, opening kita jadi kacau balau" Yudha terlihat kesal pada Vivi.
"Kamu jangan lupa, siaran kita ini dimonitor langsung sama mbak Karin, aku juga yang bakal kena omel sama mbak Karin kalau siaran kita jelek, kesannya aku gak bisa ajarin kamu, ngerti!" Yudha berbicara dengan sedikit tegas pada Vivi.
"Maaf kak, aku tadi terlalu bersemangat, sampai-sampai kayak gitu tadi, aku gak ada maksud untuk bikin kacau opening tadi" Vivi minta maaf pada Yudha.
"Semangat boleh, tapi, harus tetap kamu kontrol, biar gak kejadian kayak tadi. Ya udah, kamu siapkan berita yang aku minta tadi, nanti bacain aja, pas kita masuk lagi" kata Yudha.
"Maaf, kak, aku belum nyiapin, abisnya kepepet sih" jawab Vivi.
"Kamu ini gimana sih! Kamu niat suara atau gak! Kalau gak, mending kamu keluar deh dari ruang siaran, biar aku siaran sendiri aja, sana keluar!" Bentak Yudha. Vivi langsung keluar dari siaran, karena marah sama Yudha.
"Loh... Vivi, bukannya kamu siaran sama Yudha yah sekarang, kok malah keluar, ada apa?" Tanya Feby yang kebetulan lewat di ruang siaran.
"Itu, Yudha ngeselin banget, marah-marah gitu, aku kesal tahu gak!" Vivi terlihat begitu kesal.
"Aku tahu Yudha itu seperti apa, jadi, gak mungkin dia marah tanpa ada sebabnya, coba ceritakan sama aku, ada apa" Feby membujuk Vivi dan mengajaknya duduk sejenak.
"Tadi pas opening aku tuh emang tiba-tiba miring omongan Yudha, terus tadi dia minta aku nyari berita update gitu, cuma aku lupa nulisnya, abisnya juga waktunya mepet banget, tinggal 15 menit lagi waktunya, mana cukup gitu" Vivi menjelaskannya pada Feby.
"Pantesan aja Yudha marah, kamunya kayak gitu, Yudha itu anaknya disiplin banget dan segala sesuatunya harus Perfect, apalagi menyangkut siarannya dia, karena dia belajar dari Rena yang juga seperti itu, makanya mereka itu tandem siaran yang klop banget dan membuat mbak Karin bangga saat acara sapa Makassar itu dihandle sama Yudha dan Rena" terang Feby.
"Oh iya, aku jadi penasaran, Rena itu sebenarnya seperti apa sih, maksudnya orangnya seperti apa, aku kepengen tahu gitu" kata Vivi.
"Kalau kamu mau tahu Rena seperti apa, tanyakan langsung ke sahabatnya, mbak Karin atau ke suaminya, Yudha" Feby memberi saran.
"Kak Yudha itu suaminya Rena yah? Gagal deh rencanaku" Vivi cemberut.
"Gagal? Maksudnya gimana, Vi? Aku benar-benar gak ngerti" Feby terlihat bingung.
"Jadi, gini, aku tuh jatuh cinta sama kak Yudha, tapi, harapanku pupus, ternyata kak Yudha udh nikah, aku kirain belum, aku baru berencana mau PDKT" terang Vivi.
"Vivi, kenapa kamu malah disini, terus itu Yudha kenapa, bilangnya kamu tiba-tiba ada urusan yang darurat, ada apa ini? Terus tadi pas opening juga kacau, kamu menyela tiba-tiba, kayak gak ada komunikasi sebelumnya, aku benar-benar gak ngerti, kamu ikut ke ruanganku sekarang" Karin kelihatan begitu marah.
"Feby, kalau Yudha udah kelar siaran, suruh dia keruanganku yah" pinta Karin. Feby hanya mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya, melanjutkan kembali pekerjaannya.