
Setelah berpikir cukup lama, Andien akhirnya mengambil keputusan.
"Sepertinya aku harus menerima mas Panji lagi. Yah.... Walaupun sebenarnya ini bertentangan dengan kata hatiku, tapi, demi Rena, akan aku lakukan, Rena membutuhkan wali nikah dan hanya mas Panji yang bisa" pikir Andien.
"Gimana, Bu? Apa ibu sudah ada jawabannya?" Tanya Rena.
"Iya, Ren, ibu sudah punya jawabannya, sekarang kita temui ayahmu diluar" Andien beranjak dari tempat tidur dan berrjalan keluar dari kamar bersama Rena.
Panji dan Yudha yang menunggu selama satu jam, menoleh kearah pintu kamar yang terbuka. Andien dan Rena menghampiri mereka diruang tamu.
"Jujur saja, aku mulai muak melihat wajah mas Panji, apalagi kalau ingat pengkhianatan yang dia lakukan, tapi, demi Rena, aku akan mencoba bertahan, setidaknya sampai pernikahan Rena selesai dilaksanakan" batin Andien.
"Setelah aku pikir-pikir, aku akan memberikan kesempatan untuk kamu, mas, tapi, bukan karena aku masih mencintaimu, kamu jangan Ge-er, ini aku lakukan semata-mata untuk Rena" kata Andien.
"Makasih yah, sayang, kamu udah mau memberiku kesempatan, aku janji gak akan mengecewakan kamu" Panji mendekat dan menggenggam kedua tangan Andien.
"Makasih yah, Bu, aku senang banget dengarnya" Rena memeluk Andien. Andien membalas dengan senyum.
"Ya udah, kalian berdua lanjut ngobrol deh, ayah sama ibu mau kedalam dulu, ayo, sayang" Panji menggenggam tangan Andien dan beranjak dari ruang tamu.
"Oh iya, Ren, gimana soal keputusanmu resign dari Yori?" Tanya Yudha.
"Soal itu, aku bakal ngomong langsung ke mbak Karin besok dan besok akan jadi siaran terakhirku sama kamu" jawab Rena.
"Karena aku udah bertekad untuk jadi ibu rumah tangga aja dan mengurus kamu, ibu juga jadi ada temannya Dirumah, karena kan ayah harus balik lagi ke Palembang, terus Kinal juga cuma weekend aja baru ada dirumah, jadi, itu alasanku" Rena mengutarakan alasannya.
Sesuai dengan yang direncanakannya kemarin, Rena akan menyampaikan pada Karin tentang rencana resign dari Yori pada Karin.
"Ren, kalau kamu udah selesai ngomong sama mbak Karin, kamu temui aku diluar yah, aku tunggu kamu" kata Yudha.
"Iya, Yud, aku gak lama kok" Rena beranjak menuju ke ruangan Karin.
"Permisi, mbak Karin" Rena mengetuk pintu ruangan Karin.
"Eh... Ren, masuk sini" Karin mempersilahkan masuk.
"Ada apa nih, Ren? Perasaan aku gak manggil kamu deh, terus soal siaran kamu juga baik-baik aja, bagus seperti biasanya kok" Karin heran Rena menemuinya diruangannya.
"Jadi, gini, mbak, maksud aku temui mbak Karin, aku mau resign dari sini" kata Rena.
"Aduh.... Ren, kamu gak usah nge-Prank gitu deh, gak mempan aku digituin, udah jangan bercanda" Karin justru menganggap perkataan Rena barusan tidak serius.
"Siapa yang bercanda, mbak aku serius loh ini" Rena menegaskan.
"Tapi, alasannya apa, Ren? Bukannya kamu bilang, selama 9 tahun ini kamu merasa nyaman disini? Kenapa tiba-tiba kamu mau resign? Apa karena bosan? Atau kamu mau siaran di jam lain? Kamu ngomong sekarang, Ren" Karin bertanya-tanya bingung.
"Karena kamu itu penyiar terbaik, Ren, sayang aja kalau kamu harus resign" lanjut Karin.
"Iya, mbak, aku memang udah sangat nyaman disini, bahkan udah kayak keluarga kedua bagiku, cuma aku bertekad untuk jadi ibu rumah tangga aja, sekalian aku mau temani ibu, ibu sendirian dirumah, karena ayahku gak lama lagi akan berangkat ke Palembang setelah acara pernikahanku selesai, terus adik aku juga pas weekend aja baru ada dirumah" jelas Rena.
"Kalau hari-hari sebelumnya, ada ART yang temani ibu, tapi, dia pun sekarang minta berhenti karena harus urus suaminya yang sering sakit-sakitan di kampung" lanjut Rena.
"Baiklah, Ren, kalau memang itu keputusan kamu, aku gak bisa menghalangi" jawab Karin.
"Makasih yah, mbak, mbak Karin udah baik banget sama aku selama ini, meskipun terkadang bikin mbak Karin kesal, terus terima kasih juga untuk ilmu yang selama ini mbak Karin berikan padaku, sekali lagi terima kasih, mbak, aku gak akan lupakan semua kebaikan mbak Karin" Rena menyalami Karin.
"Ya udah kalau gitu, aku permisi yah, mbak, aku sama Yudha mau fitting baju pengantin" Rena berdiri dan beranjak keluar dari ruangan Karin.
"Ren, kamu abis ngapain diruangan mbak Karin?" Tanya Vania, yang melihat Rena keluar dari ruangan Karin.
"Resign? Kenapa, Ren?" Tanya Vania.
"Aku cuma mau fokus aja jadi ibu rumah tangga, sekalian aku bisa temani ibuku, kasihan ibuku sendirian dirumah gak ada yang temani" terang Rena.
"Terus kalau kamu resign dari sini, kedepannya kamu mau kerja apa? Masa iya cuma ngandelin Yudha, gak mungkin dong" kata Vania.
"Aku udah pikirkan itu kok, aku mau coba bisnis pastry gitu, aku kan dulu pernah kursus ditambah lagi ini juga sering ngajarin, jadi, kenapa gak aku coba gitu kan" jawab Rena.
"Tapi, kamu harus janji, kapan-kapan kita hangout bareng, Okey, awas kalau gak yah" kata Rena.
"Iya, Van, aku janji, ya udah, aku balik yah, pangeran aku udah nungguin didepan, kasihan kalau dia nunggunya lama, bye" Rena beranjak pergi dari hadapan Vania.
"Hadeeh.....! Rena, lebay amat sih, tapi, emang gitu kali yah rasanya punya pasangan, aku jadi pengen juga punya pasangan, cuma gak tahu nyarinya dimana, auu ah... Pusing aku mikirnya" Vania masa bodo.
"Yud, ayo, kita udah ditungguin nih, dari tadi udah chat aku" ajak Rena.
"Oh iya, Yud, kalau nanti aku bisnis Dirumah gak apa-apa kan? Biar aku bisa menyalurkan ilmu yang aku pelajari waktu aku kursus dulu, boleh kan?" Rena meminta Izin pada Yudha.
"Boleh dong, beb, aku dukung kamu sepenuhnya" jawab Yudha.
"Makasih yah, Yud, aku senang deh dengarnya" Rena tersenyum.
Setengah jam kemudian, mereka berdua sampai di butik. Rena dan Yudha langsung mencoba baju pengantin yang akan mereka kenakan nanti di hari pernikahannya.
"Ini sih, udah bagus, mbak, cuma aku agak kurang nyaman nih di bagian lengannya, agak sempit gitu" kata Yudha.
"Iya, Yud, nanti aku perbaiki, kalau Rena sendiri gimana?" Menoleh ke Rena.
"Udah oke banget, mbak, aku suka, kayak gini aja, mbak, aku udah puas kok" kata Rena.
"Oke, kalau gitu, udah kelar yah, aku jamin hasilnya gak akan mengecewakan dan untuk Yudha kamu tenang aja, aku akan perbaiki secepat mungkin, okey" mengacungkan jempolnya.
"Kalau gitu, kita berdua pamit yah, mbak, mari" Yudha dan Rena beranjak pergi.
"Eh... Bentar, Yud, ada telpon dari Kinal" Rena menjawab telpon dari adiknya.
"Halo, dek, kenapa?" Tanya Rena Diujung telpon.
"Kak, bisa temani aku gak, aku mau beli sepatu untuk aku pakai nanti di acara nikahan kakak, cuma aku bingung" kata Kinal.
"Oh... Ya udah, aku temani deh, kamu kesini aja, ke butiknya mbak Sarah, sekarang yah, aku tungguin" jawab Rena.
"Oh... Kebetulan banget, aku dekat banget dari butiknya mbak Sarah, kak, 10 menit lagi nyampe" Kinal menutup telponnya.
"Yud, kamu balik aja duluan, soalnya aku mau pergi sama Kinal, dia minta ditemani beli sepatu" kata Rena.
"Oh.... Gitu, ya udah, kamu hati-hati yah, jangan pulang malam loh, ingat, kamu harus jaga kesehatan, biar gak drop pas nikahan kita" Yudha mengingatkan. Rena mengangguk.
"Rena!" Seseorang berpapasan dengan Rena didalam butik.
"Loh... Kevin? kamu ngapain disini? Mau fitting baju pengantin?" tanya Rena.
"gak, aku cuma mau anterin pesanan kakak aku, Sarah, yang punya butik ini" Kevin menjelaskan.
"Oh.... jadi, mbak Sarah itu kakak kamu yah, aku baru tahu loh, Vin" jawab Rena.
"kalau aku tadi, abis fitting baju pengantin sama calon suamiku, baru aja dia balik" lanjut Rena. Kevin hanya mengangguk mendengarkan Rena berbicara.