
Vivi mengikuti langkah Karin menuju ke ruangannya. Vivi tahu, kali ini Karin pasti akan memarahinya karena kesalahan yang dia lakukan saat opening siaran tadi.
"Vivi, kamu tahu kan, alasan aku manggil kamu kesini dan kamu tahu apa kesalahan kamu?" Tanya Karin.
"iya, mbak, aku minta maaf, sudah mengacaukan siaran hari ini" Vivi menundukkan kepalanya.
"Vivi, aku tahu kamu itu punya potensi yang cukup baik, cuma apa yang kamu lakukan tadi itu, seolah membuat citra kamu di telinga pendengar kita itu seperti tidak tahu apa-apa soal siaran" Karin membuka pembicaraan.
"Tapi, mbak, aku tadi cuma terlampau semangat dan lagipula Yudha juga gak ngasi kesempatan buat aku ngomong, jadi, aku lakukan itu" Vivi membela diri.
"Vivi, kamu gak usah membela diri, disini sudah jelas kamu yang salah, aku monitor kalian loh saat kalian opening, Yudha openingnya sebenarnya sesuai dengan porsinya dia, cuma kamunya yang langsung motong gitu aja, kalau kamu mau menyela, harus pas timingnya, jangan seperti tadi, terkesan gak ada kompaknya, ingat, siaran berdua itu harus ada chemistry yang baik antara satu sama lain" Karin mencoba menasehati Vivi.
"Gini aja, aku akan kasi kamu satu kesempatan, tapi, bukan siaran bareng Yudha, tapi, sama mas Darto di siaran sore besok dan aku harap kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, kalau tidak, mohon maaf, aku gak bisa pertahankan kamu disini dan aku bakal cari pengganti kamu, catat itu baik-baik" Kata Karin dengan tegas.
"Baik, mbak, kalau gitu aku permisi" Vivi beranjak keluar dari ruangan Karin.
"Vi, gimana, apa kata mbak Karin?" Tanya Feby saat melihat Vivi keluar dari ruangan Karin.
"Mbak Karin jelas marah banget sih dan dia bakal ngasi satu kesempatan buat aku, besok sore aku siaran sama mas Darto, kalau aku gagal, aku bakal digantikan dengan yang lain, dengan kata lain aku bakal dikeluarin" Vivi tertunduk sedih.
"Padahal jadi penyiar ini, pekerjaan impian aku, sekarang karirku disini malah berada diujung tanduk" Vivi semakin lesu.
"Kamu jangan menyerah, justru kamu harus tunjukkan sama mbak Karin, kalau kamu bisa, tetap semangat yah" Feby menyemangati Vivi.
"Makasih yah, Feb, cuma kamu yang bisa ngertiin aku" kata Vivi.
"Ya udah, aku lanjut kerja dulu yah" Feby berlalu dari hadapan Vivi.
"Permisi, mbak Karin" Yudha mengetuk pintu ruangan Karin.
"Eh... Yud, masuk sini" Karin mempersilahkan masuk.
"Tadi kata Feby, mbak Karin nyuruh aku kesini, ada apa, mbak?" Tanya Yudha.
"Gini, Yud, beberapa hari yang lalu, klien nelpon aku, dia mau bikin pesta ulang tahun untuk anaknya, dia mau MC-nya kamu sama Rena" jelas Karin.
"Kamu sama Rena bisa gak? Soalnya ini permintaan dari klien, aku gak mau mengecewakan dia" lanjut Karin.
"Aku sih bisa, mbak, cuma kalau Rena gak tahu deh, soalnya kan ibunya masih dirumah sakit, belum tahu kapan diizinkan pulang ke rumah" jawab Yudha.
"Aku minta tolong tanyain ke Rena yah, aku tungguin yah, karena acaranya tinggal seminggu lagi, usahakan secepatnya yah, supaya kalau misalkan kamu sama Rena gak bisa, biar aku cari gantinya, nanti biar aku yang kasi pengertian ke klien, tapi, aku sangat berharap kalian berdua bisa" Karin benar-benar berharap, Yudha dan Rena mau memenuhi permintaan dari klien Karin tersebut.
"Oh iya, mbak, aku sekalian mau omongin soal penyiar baru itu, si Vivi, aku tadi terpaksa suruh dia keluar dan aku bilang pas siaran tadi kalau dia ada urusan penting" jelas Yudha.
"Aku tuh kesal banget sama dia, pas voice over malah nyambar dan motong gitu aja lagi, terus aku suruh dia nyari berita update juga, dia gak siapin, beralasan mepet lah waktunya, aku gak tahan, kalau bisa jangan dia deh partner siaran aku, mbak, aku gak mau siaranku jadi kacau balau kayak opening tadi" Yudha menambahkan.
"Iya, Yud, soal itu kamu tenang aja, mulai besok kamu siaran sendiri lagi, sampai aku menemukan partner yang pas untuk ditandemkan sama kamu, karena mulai besok dia siaran bareng mas Darto, kalau dia gagal, dengan sangat terpaksa aku harus keluarin dia dan menggantikan dia dengan yang lain" jawab Karin.
"Emang mbak Karin dapat dia dimana sih, sampai dapat penyiar yang kayak gitu?" Tanya Yudha.
"Itu referensinya Feby, dia yang bawa Vivi kesini, awalnya aku juga gak yakin sama dia, tapi, Feby meyakinkan aku kalau dia bisa bekerja sebaik-baiknya dan aku pikir, gak ada salahnya kasi dia kesempatan, tapi, nyatanya gak sesuai dengan ekspektasi" Karin terlihat sedikit menyesali keputusannya saat itu. Yudha hanya mengangguk mendengarkan Karin.
"Ya udah kalau gitu, mbak, cuma itu yang mau aku sampaikan, aku permisi, mau kerumah sakit, kasihan Rena sendirian jagain ibunya" Yudha beranjak keluar dari ruangan Karin.
"Aku salut sama Yudha, tampaknya dia begitu menyayangi tante Andien. Rena benar-benar beruntung memiliki suami seperti Yudha, yah.... Semoga kalian bahagia terus dan setia sampai akhir hayat" harap Karin dalam hati.
Kak Yudha, tunggu bentar, aku mau ngomong sesuatu" Vivi mencegat langkah Yudha yang hendak pergi.
"Ngomong aja buruan, aku gak punya banyak waktu" kata Yudha.
"Aku minta maaf soal tadi, aku mengakui kesalahanku dan kuharap kak Yudha mau maafin aku, please, maafin aku kak" Vivi memohon-mohon.
"Iya, gak apa-apa, tapi, jangan pernah kamu ulangi lagi dan perlu kamu ingat baik-baik, ini adalah kesempatan terakhir kamu, kamu harus bagus saat siaran sama mas Darto nanti, kalau kamu gak manfaat kesempatan ini, dengan sangat terpaksa kamu harus keluar dari Yori" Yudha mengingatkan. Vivi mengangguk.
"Aku juga minta maaf, karena tadi sudah marahin kamu diruang siaran, aku cuma mau kamu itu menjadi lebih baik lagi dan membuktikan pada mbak Karin kalau kamu bisa" Yudha menyentuh pundak Vivi.
"Ya ampun, mimpi apa aku semalam, disentuh kak Yudha seperti ini, rasanya mau melayang saking senangnya aku" batin Vivi.
"Ya udah, aku pergi yah, aku mau kerumah sakit, bantuin Rena jagain ibunya yang dirawat, bye" Yudha beranjak pergi dari hadapan Vivi.
"Woi....! Vi, ngapain berdiri disini sendirian" Feby menghampiri Vivi dan mengagetkannya.
"Gak, Feb, gak ngapa-ngapain kok" Vivi menoleh.
"Eh iya, aku mau makan siang nih, kamu mau ikut gak?" Tanya Feby.
"Mau, Feb, kebetulan banget kalau gitu, gak enak juga soalnya kalau makan siang sendiri" jawab Vivi.
"Ya udah, yuk" ajak Feby. Vivi mengikuti langkah Feby dari belakang.