The Announcer

The Announcer
Melakukan Segala Cara Untuk Menjauhkan Rena Dari Yudha


"Assalamualaikum! Permisi!" Yudha mengetuk pintu rumah Rena.


"Waalaikumsalam!!" Seseorang menjawab dari dalam.


"Eh.... Kak Yudha! Masuk dulu, kak, kak Rena masih dikamarnya, bentar lagi juga selesai" kata Kinal, saat membuka pintu. Yudha hanya mengangguk.


Selang 15 menit kemudian, Rena keluar dari kamarnya. Yudha seolah pangling melihat Rena yang terlihat cantik dengan balutan dress berwarna putih.


"Ngelihatnya biasa aja kali kak, gak usah sampe segitunya" kata Kinal.


"Yah.... Mau gimana lagi, Nal, kakak kamu ini cantik banget, udah kayak princess" puji Yudha.


"Gak usah berlebihan gitu deh, Yud" Rena sedikit tersipu malu.


"Udah, kalian berangkat sekarang, nanti telat loh, tuh lihat jam berapa sekarang, biasanya jalanan macet jam segini" Kinal menunjuk jam di dinding. Mereka pun berangkat dengan mobil.


"Yud, jujur aja nih, agak risih juga Pake dress kayak gini, gak terbiasa soalnya" kata Rena.


"Ya udah, gak apa-apa, Ren, nanti juga lama kelamaan bakal terbiasa kok. Anggap aja ini sekarang latihan, jadi, nanti pas kita nikah kamu jadi gak canggung lagi" Yudha mengerlingkan mata.


"Apa'an sih kamu, Yud" Rena tersenyum malu-malu.


1 jam kemudian, mereka berdua pun sampai di gedung pernikahan Uchy. Pesta pernikahan Uchy baru dilangsungkan 10 menit kemudian. Semua tamu undangan satu persatu berdatangan. Mulai dari keluarga besar kedua mempelai, teman-temannya dan juga beberapa kolega dari orang tua mereka.


"Selamat yah, Chy, atas pernikahan kamu, semoga kalian berdua bisa menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah Warahmah" Rena menyalami Uchy dan juga suaminya.


"Makasih yah, kak Rena, udah mau meluangkan waktu untuk datang ke pernikahanku, aku senang banget" Uchy tersenyum semringah.


Sekitar jam 2 siang, tamu undangan yang berdatangan sudah pulang satu persatu, yang tersisa hanyalah keluarga terdekat kedua mempelai.


"Lelah juga yah, tapi, bahagia juga sih rasanya bisa dilihat banyak orang diatas pelaminan" batin Uchy.


"Ciee.... Yang udah resmi nikah" Yudha sedikit menggoda.


"Hehehe..... Iya, kak, ini juga berkat kak Yudha, udah bantuin aku" Uchy tertawa kecil.


"Oh iya, kak Yudha sama kak Rena kapan nih nyusul?" Uchy menatap Yudha dan Rena bergantian.


"Doakan aja, Chy, semoga bisa secepatnya, ya gak, Ren" Yudha mengedipkan matanya.


"Insya Allah kita berdua nyusul, persiapannya juga udah 80%" Rena menimpali.


"Hai..... Pengantin baru!" Teriak seseorang dari bawah sambil melambaikan tangannya.


"Ghea....!!!" Teriak Uchy histeris.


"Long time no see, Ghe" Uchy tersenyum semringah.


"Iya yah, sejak kita tamat SMA, gak pernah ketemu lagi, kira-kira 5 tahun yang lalu deh kayaknya" Ghea menerka.


"Oh.... Jadi kalian berdua ini temenan waktu SMA?" Tanya Yudha.


"Iya kak, bisa dibilang aku sama Uchy ini sahabat. Sejak Uchy melanjutkan kuliahnya di Oxford, kita baru ketemu lagi sekarang" terang Ghea.


"Loh.... Kok kak Rena ada disini juga" Ghea terkejut melihatnya.


"Iya, Ghe, aku juga diajak Yudha kesini" jawab Rena.


"Emang kak Yudha sama Uchy temenan juga yah?" Tanya Ghea.


"Bukan Ghe, Uchy ini sepupu aku" kata Yudha.


Yudha, Rena, Ghea dan Uchy terlihat sangat bahagia dan tertawa bersama. Tapi, tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Dialah Stella, tetangga Rena yang dari dulu tidak suka kalau Rena dekat dengan Yudha dan selalu mencari segala macam cara untuk memisahkan Yudha dan Rena.


"Lihat saja kamu, Rena , aku bakal lakukan sesuatu dan aku jamin kamu gak akan bisa ketemu Yudha dan tidak seorangpun yang akan bisa menemukan kamu" pikir jahat Stella kembali muncul.


Sekitar jam 4 sore, semua yang ada di gedung itu pun pulang dengan menggunakan mobil masing-masing


"Ren, yuk, kita balik sekarang" ajak Yudha.


"Kamu duluan aja deh, Yud, aku masih ada urusan" Rena menolak.


"Oh... Ya udah, kalau gitu aku anterin aja yah" Yudha menawarkan diri.


"Gak usah, Yud, aku naik ojek online aja, aku udah pesan kok, aku gak apa-apa kok sendirian" kata Rena.


"Oh... Gitu, ya udah kamu hati-hati yah, kalau kamu butuh bantuan atau apa, hubungi aku aja, okey, aku duluan yah kalau gitu, see you, sayang" Yudha berlalu dari hadapan Rena.


Yudha meninggalkan Rena sendirian di halaman gedung tersebut.


"Duh.... Ini drivernya mana lagi belum nongol juga, katanya udah OTW, tapi, belum nyampe juga, bisa telat aku nih" Rena menggerutu.


"Permisi, mbak, dengan mbak Rena yah?" Tanya seseorang yang tiba-tiba berhenti di depan Rena.


"Iya, benar" jawabnya singkat.


"Maaf yah, mbak, agak telat tadi, soalnya macet dikit" katanya.


"Tapi, kok, plat motornya gak sama dengan di aplikasi yah?" Tanya Rena heran.


"Iya, mbak, tadi motor aku tuhmogok, terus belum sempat matiin aplikasikan, baru mau aku matiin, udah masuk aja orderan mbak, jadi, terpaksa aku pinjam motor teman gitu" jelasnya.


Rena sebenarnya tidak tahu kalau seseorang itu adalah orang suruhan Stella yang berpura-pura menjadi driver ojek online. Rena pun tidak menaruh curiga sedikitpun pada pria tersebut.


Diperjalanannya, Rena baru sadar kalau ternyata jalan yang dilewati bukan arah menuju ke tujuan Rena.


"Loh.... Mas, kok ini arahnya beda yah, perasaan tujuanku arahnya bukan lewat sini deh" Rena bingung.


"Tenang aja, mbak, aku nyari jalan pintas, mbak, biar agak cepat, kalau lewat jalan yang biasa, macet kalau jam segini" pria tersebut mencari alasan.


"Iya juga sih, biasanya emang macet kalau jam segini, apalagi ini kan udah sore" pikir Rena. Rena hanya mengangguk saja.


Sudah hampir sejam mereka jalan, Rena belum juga sampai ditujunya. Padahal jarak dari gedung itu ke tempat tujuannya hanya memakan waktu 30 menit perjalanan saja. Rena mulai mempertanyakannya pada driver tersebut.


"Mas, kok perasaan kayak jauh banget yah, setahuku, jaraknya dari gedung itu cuma makan waktu setengah jam deh, kok ini udah sejam lebih belum nyampe juga?" Tanya Rena.


"Tahu gitu, mending lewat jalan biasa aja, meskipun macet, tapi, gak selama ini nyampenya" Rena mulai merasa was-was.


"Emang jaraknya agak jauh, mbak, tapi, cuma ini jalan pintas satu-satunya" jawabnya.


Tak berapa lama kemudian, pria tadi menepi dan meminta Rena turun sebentar dari motornya.


"Mbak Rena, bisa turun bentar gak" katanya.


"Kenapa, mas?" Tanya Rena.


"Ada sesuatu yang penting, yang mau aku ambil dibawah jok motorku" jelasnya.


Rena menurut dan turun dari motor itu. Berdiri sambil mengutak-atik handphone. Ternyata pria itu mengambil sebuah kain kecil dan sebuah botol kecil berisi sebuah cairan yang ternyata adalah obat bius. Rena tidak memperhatikan apa yang dilakukan pria tersebut. Melihat kesempatan itu, pria itu langsung saja membius Rena dari belakang. Rena sempat meronta, tapi, akhirnya pingsan juga karena menghisap obat bius dari kain yang dipegang oleh pria tersebut.


"Yes.... Berhasil, sekarang tinggal kabari Stella nih" batinnya. Pria tersebut langsung menelpon Stella, untuk datang ke tempat yang sudah mereka tentukan sebelumnya.