The Announcer

The Announcer
Rencana Karin Dan Darto


Hampir Di Setiap Momen, Rena Terlihat Berusaha Untuk Bisa Berduaan Dengan Yudha Atau Sekedar Memberikan Perhatian-Perhatian Kecil Padanya. Yudha Mungkin Menganggapnya Sebagai Hal Yang Biasa.


"Mmm....Yud, Kamu Mau Nambah Tehnya Lagi Gak?" Tanya Rena.


"Kayaknya Udah Cukup Deh, Ren" Kata Yudha.


"Atau Mau Nambah Gorengan Lagi, Masih Banyak Kok, Aku Ambilkan Yah" Rena Menawarkannya Pada Yudha.


"Gak, Ren, Makasih" Yudha Menolak Secara Halus.


"Kalau Kamu Butuh Apapun, Kasi Tahu Aja, Nanti Aku Ambilkan, Okey, Aku Kesana Dulu, Nyamperin Anak-Anak Yang Lain" Rena Berdiri Dan Menghampiri Teman-Temannya Yang Lain. Yudha Hanya Mengangguk.


-


-


"Ini Anak Kenapa Yah, Gak Kayak Biasanya Gitu, Biasanya Dia Cuek-Cuek Aja, Sekarang Tiba-Tiba Perhatian Banget Kayak Gini, Aneh Juga Ini Cewek" Yudha Terheran-Heran Melihatnya.


"Yud, Sendirian? Tadi Perasaan Sama Mbak Rena?" Tanya Alam Yang Datang Menghampirinya.


"Rena Kesana Tuh, Nyamperin Anak-Anak Yang Lain" Yudha Menunjuk Dengan Dagunya.


"Yud, Aku Perhatikan Mbak Rena Itu Perhatian Banget Sama Kamu, Apa Jangan-Jangan Dia Suka Lagi Sama Kamu" Alam Menerka.


"Jangan Ngaco Kamu, Lam, Gak Mungkin Lah, Aku Tahu Banget Tipe Cowok Dia Kayak Gimana" Yudha Menepisnya.


"Yud, Gini Yah, Cewek Kalau Udah Ngasi Perhatian Lebih Dari Biasanya Sama Cowok, Biasanya Dia Itu Punya Perasaan Suka. Emang Sih, Gak Perlu Ngomong Langsung Kalau Dia Suka Sama Kita, Tapi, Dia Udah Ngasi Sinyal Dan Berharap Kitanya Yang Peka, Karena Cewek Biasanya Gengsi Plus Malu Kalau Ngomong Duluan" Kata Alam Dengan Gaya Ala Pujangga Cinta.


"Tapi, Amanda Sama Alika, Ngomong Langsung Tuh, Tanpa Harus Ngasi Sinyal-Sinyal Yang Kamu Bilang Itu, Mereka Juga Kan Cewek, Sama Kayak Rena, Gimana Tuh" Kata Yudha.


"Gak Semua Cewek Itu Punya Karakter Yang Sama, Yud" Jawab Alam.


"Udah Ah, Susah Ngomong Sama Kamu, Mending Jalan-Jalan Sama Amanda, Nikmati Pemandangan Indah" Alam Beranjak Pergi Dari Hadapan Yudha.


Karin Sedari Tadi Memperhatikan Rena. Karin Senyum-Senyum Sendiri Melihat Tingkah Rena Yang Lain Dari Biasanya Itu.


"Rena...Rena, Dengan Perhatian Kamu Yang Seperti Itu, Malah Semakin Menunjukkan Dengan Jelas Kalau Kamu Itu Suka Sama Yudha" Karin Menggeleng-Gelengkan Kepalanya.


"Rin, Kamu Ngapain Sih?" Tanya Seseorang Yang Menghampiri Karin, Darto.


"Eh... Kamu, Darto" Karin Menoleh.


"Lagi Lihatin Apa Sih?" Darto Mengikuti Arah Pandangan Karin.


"Itu, Ngeliatin Si Rena Sama Yudha Tadi, Berduaan Terus" Karin Menunjuk Ke Arah Yudha Dan Rena Yang Tadi Duduk Berduaan.


"Itu Yudha Sama Rena Kalau Aku Perhatikan, Selalu Aja Berduaan, Kayak Ada Sesuatu Yang Spesial Gitu Diantara Mereka" Kata Darto.


"Ya Iyalah, To, Rena Itu Suka Sama Yudha. Kamu Lihat Kan Tadi, Rena Tuh Berusaha Banget Biar Bisa Berdua Terus Sama Yudha, Nunjukin Perhatiannya Ke Yudha" Jelas Karin.


"Haah! Kamu Yang Bener Dong, Rin? Jangan Bikin Gosip Lagi Kamu, Yang Ada Bakal Heboh Nantinya" Darto Terkejut Dan Seakan Tidak Percaya Dengan Yang Dikatakan Oleh Karin.


"Siapa Juga Yang Gosip, Ini Beneran Lah, To, Rena Sendiri Kok Yang Bilang Sama Aku Tadi" Kata Karin Dengan Yakin.


"Katanya Udah Beberapa Hari Ini Dia Gelisah, Menahan Perasaannya Pada Yudha, Tapi, Tahulah Si Rena, Gengsian Untuk Ngomong Duluan" Lanjut Karin.


"Tapi, Kamu Kan Pernah Bilang, Pas Mereka Pertama Kali Siaran Bareng, Mereka Sempat Bertengkar Gitu Sebelum Siaran, Mereka Saling Membenci Satu Sama Lain" Darto Mengingat Kejadian Di Awal Pertemuan Yudha Dan Rena.


"Yah... Itulah Cinta, To, Hari Ini Bisa Jadi Benci, Besoknya Bisa Berubah Jadi Cinta, Dimulut Bilangnya Gak Suka, Tapi, Dihati Sebenarnya Ada Cinta Yang Terpendam" Karin Menyandarkan Kepalanya Ke Tembok Dan Melipat Kedua Tangannya Di Dada.


"Hadeeh...!!! Dasar Dewi Pujangga!" Darto Sedikit Meledek.


-


-


Rena Berdiri Agak Jauh Dari Tempat Yudha Duduk Dan Menoleh Ke Arah Yudha.


"Aku Mau Sih Ngomong Langsung Ke Yudha, Tapi, Aku Malu, Masa Iya Sih Cewek Yang Ngomong Duluan. Tapi, Kalau Aku Gak Ngomong, Yudha Gak Akan Tahu Tentang Perasaanku Ini, Ahh.... Bingung Aku Jadinya!!" Batin Rena Bimbang.


.......


"Aku Jadi Punya Ide Deh, Rin. Gimana Kalau Kita Bantuin Aja Rena Biar Bisa Jadian Sama Yudha" Darto Menjentikkan Jarinya.


"Caranya?" Karin Berbalik Bertanya.


"Sini Deh Aku Bisikin Ke Kamu" Darto Membisikkan Rencananya Tersebut Ke Telinga Karin. Karin Mengangguk-Angguk Mendengarnya.


"Gimana, Rin, Oke Kan, Ide Aku?" Tanya Darto.


"Oke Sih, To, Tapi, Kenapa Harus Bisik-Bisik Coba, Kan Bisa Ngomong Biasa Aja" Karin Heran.


"Yah... Biar Gak Ada Anak-Anak Yang Dengar Gitu, Kamu Kan Tahu Sendiri Anak-Anak Itu Suka Pada Heboh Semua, Nanti Yang Ada Rencana Kita Malah Berantakan Lagi" Jelas Darto.


"Iya Juga Sih, To, Hihihi...." Karin Tertawa Kecil.


"Tapi, Gak Sekarang Lah Kita Jalani Rencana Kita Itu" Kata Darto.


"Sekarang Juga Bisa Kok, To, Gak Perlu Nunggu Nanti" Kini Karin Yang Lebih Siap Dengan Rencana Tersebut.


"Lah... Gimana Caranya, Kita Kan Gak Ada Persiapan?" Darto Terlihat Bingung.


"Serahkan Sama Aku, To, Ini Sih Urusan Kecil" Jawab Karin Enteng.


"Nanti Kamu Selipkan Surat Yang Aku Tulis Itu, Di Bawah Bantalnya Yudha, Kamu Kan Sekamar Sama Yudha. Meskipun Cara Ini Jadul Sih, Tapi, Aku Yakin Masih Cukup Ampuh Kok" Lanjut Karin.


-


-


"Nah... Ini Dia Nih, Surat Yang Aku Tulis Kemarin Di Kamar, Tanpa Sepengetahuan Rena. Disitu Aku Nulis "Aku Menunggumu Sore Ini Di Kebun Teh. Dariku, Penggemar Rahasiamu". Nanti Tinggal Aku Ajak Aja Rena Ke Kebun Teh Itu" Jelas Karin.


"Sekarang Kamu Simpan Surat Ini Di Bawah Bantal Yudha" Karin Menyerahkan Surat Yang Di Tulisnya Pada Darto.


............


Sore Harinya Setelah Membaca Sebuah Surat Yang Dia Temukan Di Bawah Bantalnya, Yudha Langsung Menuju Ke Kebun Teh.


"Aku Penasaran Sama Si Pengagum Rahasia Ini, Siapa Yah Dia? Darimana Dia Tahu, Kalau Aku Disini?" Yudha Bertanya-Tanya Dalam Hatinya.


"Eh... Cewek Yang Berdiri Disana Itu Siapa Yah? Kayaknya Aku Kenal Deh Dari Cara Dia Berdiri" Yudha Memperhatikan Seseorang Tersebut, Tidak Jauh Dari Tempatnya Sekarang.


Yudha Pun Berjalan Perlahan Mendekatinya Dan Bertanya Padanya. Yudha Terkejut, Ternyata Seseorang Yang Tadi Di Lihatnya Itu Adalah Rena.


"Ren, Kamu Ngapain Berdiri Sendirian Disini?" Tanya Yudha.


"Eh... Yudha, Kok Kamu Bisa Disini Sih" Rena Menoleh Ke Belakang.


"Aku Nanya Kamu, Kamunya Malah Balik Nanya" Yudha Menggeleng-Gelengkan Kepalanya.


"Tadi Aku Kesini Sama Mbak Karin, Dia Minta Ditemani Kesini, Katanya Mau Jalan-Jalan" Jelas Rena.


"Terus Mbak Karin Mana?" Tanya Yudha Mencari-Cari Keberadaan Karin.


"Gak Tahu Nih, Tadi Katanya Mau Ke Toilet" Jawab Rena.


"Kamu Sendiri, Ngapain?" Rena Berbalik Bertanya.


"Aku Kesini Karena Ini" Yudha Menunjukkan Surat Yang Dibawanya Pada Rena.


"Ini Surat Dari Siapa, Yud?" Tanya Rena Sambil Memegang Surat Tersebut.


"Gak Tahu Juga, Ren, Tapi, Disitu Dia Cuma Nulis, Pengagun Rahasia. Dia Nyuruh Aku Kesini Buat Temuin Dia, Tapi, Aku Cari Dari Tadi, Dianya Gak Ada Ini, Aku Juga Bingung Jadinya" Yudha Menggaruk-Garuk Kepalanya.