The Announcer

The Announcer
Dia Yang Berbuat, Dia Pula Yang Bertanggung Jawab


Dodi pun menemukan Rena yang sedang terikat di sebuah kursi dan berjalan perlahan mendekatinya, sambil tetap mengamati keadaan sekitarnya.


"Jangan ribut yah, takutnya nanti tiba-tiba Stella datang" Dodi sedikit berbisik.


"Bukannya kamu yang waktu itu, ngaku driver ojek online kan?" Tanya Rena dengan suara pelan.


"Iya, nanti aja ceritanya, yang penting sekarang kita keluar dulu dari sini" kata Dodi sambil melepaskan ikatan di badan Rena.


Dodi dan Rena pun segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Namun, baru saja mereka mau keluar dari gudang tersebut, mereka mendengar ada suara mobil yang mendekat dan berhenti tepat di depan gudang tersebut.


"Apa jangan-jangan ini Stella yang datang?" Tanya Dodi dalam hatinya.


"Kita ngumote dulu, karena kayaknya ada orang yang turun dari mobil itu dan berjalan menuju kemari" kata Dodi.


"Kamu benar, kita ngumpet dulu" Rena mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.


"Itu Stella bukan sih?" Tanyanya pada Rena.


"Kok kamu bisa kenal sama Stella? Apa jangan-jangan Stella yang lakukan ini semua dan bekerjasama dengan kamu?" Selidik Rena.


"Iya, maafkan aku, aku memang salah dan aku terpaksa lakukan ini, Karena ancaman Stella" kata Dodi dengan wajah penuh penyesalan.


"Tapi, kenapa aku yang harus kamu giniin? Apa yang diinginkan Stella?" Tanya Rena dengan raut wajah kebingungan.


"Stella ingin memisahkan kamu dan juga Yudha, agar dia bisa memiliki Yudha seutuhnya tanpa ada yang mengganggunya, karena Stella masih menyayangi Yudha dan berharap Yudha bisa balikan lagi sama dia, itu sih yang aku tahu" jelas Dodi.


"Jadi, semua yang dilakukan Stella ini, masih ada hubungannya dengan itu" Rena menggelengkan kepalanya.


"Aku gak habis pikir sama dia, kenapa dia harus melakukan hal ini hanya untuk mendapatkan seorang cowok yang jelas-jelas udah gak cinta lagi sama dia, padahal diluar sana aku yakin, ada cowok yang akan mencintai dia apa adanya" Rena seakan tidak percaya dengan semua yang dilakukan Stella tersebut.


"Yah.... Namanya juga cinta, Ren, apapun bakal dilakukan untuk menggapai seseorang yang dia cintai, sekalipun cintanya itu tidak terbalaskan" kata Dodi.


"Ya udah, sekarang yang terpenting kita keluar dulu dari sini" Dodi menambahkan.


"Tapi, gimana caranya, Stella kan ada di depan sana, mana dia bawa beberapa orang lagi?" Tanya Rena kebingungan.


"Aku tahu, kita lewat pintu belakang, aku tahu tempat ini, tapi, Stella gak tahu kalau tempat ini punya pintu lain, selain pintu depan" jawab Dodi.


Dodi dan Rena keluar melalui pintu belakang. Setelah berhasil keluar dari gudang itu, mereka ingin segera pergi dengan mobil yang dibawa Dodi. Tapi, ternyata di depan pintu gudang itu, masih ada 2 orang yang berjaga diluar, sementara Stella sudah masuk kedalam gudang tersebut bersama 2 orang lainnya.


"Aduh..... Masih ada orang lagi yang berjaga disitu, gimana dong ini" Rena semakin kebingungan.


"Tenang, mendingan sekarang kamu sembunyi dulu, di semak-semak itu, sambil aku mengalihkan perhatian kedua orang itu" kata Dodi.


Rena mengikuti perkataan. Dodi, sementara Dodi mencoba mengalihkan perhatian 2 orang yang berdiri di depan pintu gudang. Dodi melemparkan sebuah batu kearah 2 orang tersebut.


"Woy.... Siapa itu yang melempar" pria itu berteriak.


"Ada apa sih?" Tanya teman yang disampingnya.


"Itu, ada yang lempar batu, tapi, gak tahu siapa" katanya.


"Ya udah kita cari orangnya" usul temannya. Kedua orang yang tadi berdiri di depan pintu itu pun mencari orang yang tadi melemparkan batu kearahnya.


Sementara Dodi dan Rena bersembunyi dibalik drum minyak yang ada di depannya.


"Nanti kalau aku kasi aba-aba untuk lari, kita lari ke mobil aku yang warna putih Disana itu" kata Dodi. Rena hanya menganggukkan kepalanya.


Kedua orang tadi mencari orang yang melemparkan batu tersebut.


"Mana orangnya yah, kok gak ada" katanya sambil melihat kanan kiri.


"Loh.... Ini kan pintu belakang gudang" katanya.


Setelah melihat kedua orang tersebut masuk di pintu belakang gudang, Dodi dan Rena segera berlari menuju mobil.


"Akhirnya kita aman juga, sekarang tinggal pergi dari sini" kata Dodi. Mobil Dodi pun segera beranjak pergi dari gudang tersebut.


"Makasih yah kamu udah tolongin aku" kata Rena.


"Justru seharusnya aku yang mau bilang maaf, karena gara-gara aku, kamu di sekap kayak gini, gara-gara aku yang mengikuti semua perkataan Stella. Aku takut sama ancamannya dia yang katanya bakal membongkar semua rahasiaku ke keluargaku. Terutama ke ayahku, makanya dengan sangat terpaksa aku ikuti apa yang dia mau" kata Dodi.


"Iya, gak apa-apa, aku ngerti kok" Rena tersenyum.


"Tapi, kamu gak akan laporkan aku ke polisi kan?" Tanya Dodi.


"Kamu tenang aja, kamu juga kan sudah bertanggung jawab atas perbuatan kamu dan aku harap sih kamu gak ulangi lagi, ini yang terakhir kamu berbuat seperti ini" kata Rena.


"Aku janji gak akan pernah lagi berbuat seperti ini, demi Ghea, pacarku, demi nama baik band aku juga!" Jawab Dodi dengan tegas.


"Ghea? Pacar kamu? Emang kamu beneran pacaran sama Ghea?" Rena berbalik bertanya.


"Iya, Ren, aku juga tadi kaget pas Ghea datang kerumahku, dia ngenalin si Yudha, pacar kamu katanya, mereka berdua berteman. Tadi Yudha datang kerumahku bareng sama paman aku yang kerja di gedung tempat pernikahan yang waktu itu" jelas Dodi.


"Oh.... Gitu toh ceritanya" Rena menganggukkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian, Dodi dan Rena pun sampai.


"Rena, kamu gak apa-apa kan?" Yudha langsung menghampiri Rena yang baru turun dari mobil.


"Tenang aja, Yud, aku baik-baik aja kok" Rena tersenyum.


"Dod, makasih yah atas bantuan kamu" kata Yudha pada Dodi.


"Iya, Yud, sama-sama, aku juga minta maaf atas kelakuanku ini" Dodi Menjabat tangan Yudha.


"Nah.... Kalau gini kan, masalahnya jadi kelar kan" celetuk Ghea yang kebetulan masih ada di rumah Dodi.


"Loh.... Bukannya tadi kamu pulang yah, Ghe?" Tanya Dodi heran.


"Aku tuh cuma pura-pura aja, biar kamu yakin aja gitu" kata Ghea.


"Ghe, kamu gak akan putusin aku kan?" Tanya Dodi.


"Hmm.... Gimana yah" Ghea berpikir sejenak.


"Please, jangan yah, Ghe, aku tuh sayang banget sama kamu" Dodi memohon.


"Iya deh, gak kok. Lagian juga aku gak mungkin putusin kamu, karena kamu udah berhasil mencuri hatiku" Ghea tersipu malu. Rena dan Yudha hanya tersenyum melihat tingkah Dodi dan Ghea.


"Ya udah kalau gitu, aku sama Rena pamit yah, mari semuanya" Yudha berpamitan pada semua yang ada disitu. Rena mengikuti langkah Yudha.


"Ren, aku lega akhirnya masalah ini selesai, aku khawatir pas tahu kamu itu hilang, waktu aku kerumahmu, takut kamunya kenapa-kenapa" kata Yudha.


"kamu juga sih, kalau saja waktu itu kamu gak nolak dan bersikeras naik ojek online, pasti kejadiannya gak akan seperti ini kan! Kamu itu bikin panik aja tahu gak! Aku sampai kena marah juga sama kamu, gara-gara aku gak bisa jagain kamu" Yudha terlihat kesal.


"Yud, udah dong, aku minta maaf yah, aku emang keras kepala, janji deh, mulai sekarang aku bakal dengerin kata-kata kamu, belajar jadi istri yang baik, kan bentar lagi juga kita halal, hehehe...." Rena tertawa kecil.


"aku benar-benar beruntung bisa dipertemukan dengan Yudha, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, buktinya aja sekarang belum jadi istrinya aja, dia udah kayak gini, gimana kalau udah jadi istri, pasti bakal lebih protect lagi, semoga aja aku dan Yudha akan terus bersama sampai akhir hayat" batin Rena penuh harap.