
Panji segera meninggalkan restoran itu dan mengejar taksi yang dinaiki oleh Andien.
"Mas, jangan tinggalin aku, aku gak bisa hidup tanpamu" Stella mencegat Panji.
"Minggir kamu, Stella! Kita gak ada hubungan apa-apa lagi dan jangan pernah ganggu aku lagi" Panji mendorong Stella dan langsung beranjak pergi dengan mobilnya.
Para pelayan di restoran itu menyaksikan semua kejadian yang terjadi di tempat parkir restoran.
"Kasihan Bu Andien, dikhianati oleh pak Panji, mana selingkuhnya dengan wanita muda seperti Stella lagi, benar-benar tidak disangka" kata salah satu diantaranya.
"Jadi, si Stella itu ternyata pelakor toh, aku kirain anaknya pak Panji dan Bu Andien. Duh.... Aku jadi gak nih sama mereka berdua, gara-gara aku bawa Stella ke meja mereka, pak Panji dan Bu Andien jadi berantem gitu" kata yang lainnya.
"Eh....! Eh....! Apa-Apa'an kalian ini, malah ngumpul disini semuanya! Kalian gak lihat banyak costumer tuh disana!" Manajer resto keluar dari ruangannya dan membubarkan para pelayan yang berkerumun.
"Itu, bu, tadi pak Panji dan Bu Andien berantem di depan, di parkiran, gara-garanya pak Panji ketahuan selingkuh sama gadis yang bernama Stella, dia salah pelanggan tetap disini juga seperti halnya pak Panji dan Bu Andien, baru saja mereka semua pergi, bu" jelasnya.
"Udah kalian Bubar semuanya, kembali kerja sana, lagipula itu bukan urusan kalian" perintahnya pada semua pelayan.
Diruangannya, sang manajer tampak menelpon seseorang.
"Halo, Ren, tadi kata karyawan aku, ayah sama ibu kamu berantem di resto, gara-gara ayahmu selingkuh sama gadis yang bernama Stella" katanya.
"Haah! Yang bener, mbak?" Rena benar-benar terkejut mendengarnya.
"Kata karyawan aku yang melihat kejadian itu sih, bilangnya seperti itu, aku gak lihat kejadiannya langsung sih" jawabnya.
"Kok bisa gitu yah, mbak? Padahal nih tadi pagi sebelum mereka berdua berangkat, kelihatannya baik-baik aja, bahkan keluar dari kamar ayah sama ibuku gandengan mesra gitu, malahan nih, mbak, masih sempat bercanda sama Kinal, adik aku" Rena merasa heran.
"Aku gak tahu pasti sih, kronologi kejadiannya seperti apa, cuma aku sarankan nih, kamu tanyain ke ibu kalau nanti dia udah balik kerumah, sebisa mungkin kamu ada disampingnya, takutnya ibu kamu emosi berlebihan dan membuatnya jadi drop gitu, itu aja sih, Ren" sarannya.
"Iya, mbak, makasih Sebelumnya yah, mbak, udah ngasi tahu dan maaf juga, kalau pertengkaran ayah dan ibu tadi, mengganggu ketenangan customer mbak yang lain" kata Rena.
"Gak apa-apa, Ren, santai aja, udah dulu yah, cuma itu yang pengen aku sampaikan ke kamu, see you, Ren" mengakhiri panggilannya.
"Ada apa, Ren? Siapa yang nelpon?" Tanya Yudha penasaran.
"Mbak Wardah, yang punya resto Marina, yang aku bilang resto favorit ayah dan ibu, waktu mereka pacaran dulu" jelas Rena.
"Mbak Wardah ngasi tahu aku, kalau tadi ayah sama ibuku berantem di restonya mbak Wardah, gara-garanya, ayah ketahuan selingkuh dengan Stella" lanjut Rena.
"Tuh.... Kan, akhirnya ketahuan juga, udah aku bilang waktu itu ke om Panji, tapi, dianya gak dengerin aku, gini kan jadinya" batin Yudha.
"Dan yang bikin aku terkejut, ayah selingkuhnya dengan gadis seusiaku, benar-benar yah cewek itu! Kemarin-kemarin dia berusaha untuk memisahkan kita berdua dengan menyekap aku di gudang tua itu, sekarang dia ingin membuat ayah dan ibu berpisah, apa sih maunya! Rasanya pengen aku cakar mukanya itu" Rena menghantamkan tangannya ke meja dihadapannya, saking marahnya dia.
"Ren, kamu jangan terbawa emosi begitu, kamu harus hadapi dengan kepala dingin, tenang" Yudha mencoba meredam amarah Rena yang tengah membara.
"Tenang kamu bilang! Giman aku bisa tenang kalau kayak gini, Yud! Coba kalau misalkan kamu berada diposisiku, pasti kamu juga akan bereaksi sama sepertiku!" Rena memelototi Yudha.
"Iya, Ren, aku ngerti, aku bisa ngerasain gimana marahnya kamu ke Stella itu, yang membuat hubungan ayah dan ibu retak" Yudha seolah memahami apa yang tengah dirasakan oleh Rena saat ini.
"Maaf, Yud, aku gak bisa kontrol emosiku saat ada masalah seperti ini dan membuatku tidak bisa berpikir" Rena perlahan menenangkan dirinya.
Selang beberapa menit kemudian, Andien datang dengan bercucuran air mata.
"Bu! Ibu kenapa?" Rena menghampiri Andien dan langsung memeluknya.
"Ayah kamu tega, Ren, dia tega khianati ibu" Andien tersedu-sedu.
"Udah, Bu, tenangin diri ibu, Rena antar ke kamar yah, istirahat, biar ibu tenang" Rena mengusap lembut punggung Andien.
"Nak Yudha, tante minta tolong, kalau om Panji datang, kamu tahan dia dan jangan biarkan dia masuk ke kamar, tante gak mau ketemu dulu sama dia, tante mohon yah" pinta Andien.
"Iya, tante, mau sekalian aku ambilkan minum?" Yudha menawarkan.
"Gak usah, nak, nanti biar Rena aja" Andien menggeleng.
"Yud, aku antar ibu bentar yah ke kamar" Rena membawa Andien ke kamar dan beranjak dari hadapan Yudha.
"Kasihan tante Andien, dikhianati seperti itu oleh om Panji" Yudha merasa kasihan pada Andien. Beberapa saat kemudian, Panji datang dan langsung berlari menuju ke kamarnya. Tapi, Yudha langsung menahannya, sesuai dengan permintaan Andien tadi.
"Om Panji jangan masuk dulu ke kamar" Yudha menahan Panji depan pintu kamar.
"Yud, kamu gak usah ikut campur, ini urusanku sama tante Andien, minggir kamu!" Panji menyingkirkan Yudha dari depan pintu.
"Maaf, om, bukannya aku mau ikut campur, cuma ini permintaan tante Andien sendiri, beliau bilang gak mau ketemu dulu dengan om Panji, saran aku sih, mending om Panji tunggu sampai tante Andien benar-benar tenang dan obrolkan baik-baik dengan tante Andien" kata Yudha. Panji akhirnya mengalah dan menjauh dari kamar.
Panji duduk termenung di kursi ruang tamu dan merenungi semua kesalahannya itu.
"kalau saja waktu itu, aku tidak pacaran dengan Stella, mungkin aku gak akan bertengkar seperti ini dengan Andien dan rumah tanggaku pasti gak hancur seperti ini, aku memang bodoh telah mengkhianati istri yang begitu mencintaiku dan selalu setia disisiku dan selalu ada dalam kondisi apapun" Panji benar-benar menyesali semua perbuatannya itu.
"Kalau memang perceraian adalah jalan satu-satunya, aku ikhlas menerimanya, tapi, tentunya aku masih berharap Andien mau memberiku kesempatan kedua dan aku akan memperbaiki semuanya" harap Panji dalam hati.
"Om, yang namanya penyesalan pasti datang diakhir, yang paling penting sekarang, gimana caranya untuk kembali meyakinkan tante Andien lagi dan mau menerima om lagi, siapa tahu saja dengan cara itu, bisa mengubah keputusan tante Andien untuk bercerai dari om" Yudha memberikan saran.
sementara itu, didalam kamar, Andien masih terus menangis.
"Bu, udah dong, jangan nangis terus, aku tahu hati ibu sakit karena dikhianati ayah, cuma aku khawatir nanti ibu bisa sakit kalau seperti ini terus" Rena terlihat cemas melihat keadaan ibunya saat ini.
"Ren, ibu udah benar-benar kecewa dengan ayah kamu, dia udah khianati ibu, padahal ini selama ini sudah mencintainya setulus hati, tapi, malah dibalas dengan pengkhianatan, ibu mau pisah saja" kata Andien dalam tangisnya.
"Bu, ibu pikirkan baik-baik, jangan memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi, harus berpikir dengan jernih dengan hati yang tenang dan siapa tahu saja ada jalan lain selain perceraian, aku butuh ayah, apalagi aku mau nikah sama Yudha, siapa yang jadi wali aku nanti, kalau ayah dan ibu cerai dan ayah pergi jauh, aku mohon ibu pertimbangkan lagi keputusan ibu itu" Rena berusaha membujuk Andien.
"apa aku harus tetap mempertahankan rumah tanggaku ini, setelah pengkhianatan itu? atau aku tetap pada pendirianku untuk berpisah dari mas Panji? Tapi, bagaimana dengan Rena? Rasanya aku egois sekali, kalau harus membuat Rena sedih" dalam hatinya Andien masih bimbang.
"Benar kata Rena, aku harus pikirkan baik-baik, sebelum aku mengambil keputusan dan semoga saja keputusanku nanti menjadi yang terbaik" batin Andien dan masih berpikir sebelum mengambil keputusan.