The Announcer

The Announcer
Rena Dan Yudha Jadian!


Rena Pun Langsung Menuju Ke Tempat Tersebut Dengan Menggunakan Mobil Kinal. Sepanjang Jalan, Hati Rena Berdebar-Debar Terus Menerus Tanpa Berhenti.


"Kira-Kira Yudha Bakal Terima Aku Gak Yah? Atau Mungkin Dia Nolak? Tapi, Apa Mungkin Yudha Berbohong Dengan Perkataannya Itu? Atau.....??" Sejuta Pertanyaan Itu Muncul Dalam Pikirannya.


"Fokus Rena, Jangan Memikirkan Hal Yang Lain" Rena Mengatur Nafasnya.


Kira-Kira Setengah Jam Perjalanan Karena Terjebak Macet, Rena Pun Akhirnya Sampai Di Tempat Tersebut Dan Langsung Mencari Keberadaan Yudha. Tapi, Rena Masih Terlihat Ragu.


"Apa Benar Ini Tempatnya? Kok Aku Jadi Gak Yakin Yah?" Kata Rena Ragu.


"Kalau Misalkan Salah Gimana? Berarti Aku Sama Yudha Gak Jodoh Dong" Runtuknya.


"Kamu Gak Salah Kok, Ren" Seseorang Menjawab Pertanyaan Rena Dan Rena Pun Menoleh Ke Belakang.


"Yudha!" Rena Sedikit Terkejut.


"Kamu Udah Berhasil, Ren" Yudha Mengacungkan Jempolnya.


"Apa Itu Artinya Kita Jadian, Yud?" Tanya Rena.


Yudha Langsung Memegang Tangan Rena Tanpa Menjawab Pertanyaan Rena.


"Ren, Tempat Ini Akan Jadi Saksi Hari Bahagia Kita Hari Ini Dan Aku Harap Kita Bisa Terus Bersama Sampai Ke Jenjang Pernikahan Nanti" Kata Yudha Sambil Menatap Mata Rena.


"Iya, Yud, Aku Juga Mengharapkan Hal Yang Sama" Rena Tersenyum.


"Oh Iya, Ren, Ngomong-Ngomong Kamu Kesini Naik Apa?" Tanya Yudha.


"Aku Kesini Naik Mobil, Tadi Adik Sepupuku, Kinal, Pinjamkan Mobilnya Ke Aku" Jelas Rena.


"Oh... Gitu. Tapi, Kinal Gak Lagi Buru-Buru Kan?" Tanya Yudha.


"Takutnya Nanti, Dia Juga Ada Urusan Atau Apa Gitu" Lanjut Yudha.


"Gak Sih, Emang Kenapa, Yud?" Rena Berbalik Bertanya.


"Kalau Gak Buru-Buru, Aku Mau Ajakin Kamu Dulu Nih Jalan-Jalan Di Sekitar Bendungan Kampili Ini, Kata Orang-Orang Tempatnya Disini Keren Dan Ada Spot Yang Cocok Buat Yang Pacaran, Tempatnya Romantis Banget" Kata Yudha.


Rena Pun Mengikuti Langkah Yudha Yang Menggenggam Tangannya. Rena Benar-Benar Bahagia Dan Tidak Pernah Menyangka Kalau Dia Bisa Jadian Sama Yudha.


"Rasanya Kayak Mimpi Aja, Aku Bisa Jadian Sama Yudha. Terima Kasih Tuhan, Karena Telah Mengabulkan Permintaanku Ini, Hidupku Rasanya Udah Lengkap Kalau Kayak Gini" Batin Rena.


"Aku Masih Gak Nyangka Aja, Bisa Jadian Sama Yudha, Padahal Di Awal Pertemuanku Dengan Yudha, Bisa Dibilang Itu Hal Yang Menjengkelkan, Tapi, Itulah Cinta, Hari Ini Benci Besok Bisa Berubah Jadi Suka, Jatuh Cinta" Lanjutnya.


"Kini Aku Benar-Benar Yakin, Kalau Rena Mencintaiku Sepenuhnya, Bukan Sekedar Menjadikanku Pelarian, Tapi, Perasaan Yang Benar-Benar Jujur Dan Tulus Dari Dalam Hatinya, Aku Berjanji Akan Menjaga Cinta Suci Ini Sebaik-Baiknya, Selama Jantung Masih Berdetak Dan Nafas Masih Berhembus" Batin Yudha.


"Yud, Benar Kata Kamu, Pemandangannya Itu Indah Banget" Rena Kagum Dengan Pemandangan Di Bendungan Kampili Tersebut.


"Iya, Ren, Disini Itu....." Perkataan Yudha Terpotong dengan Suara Teriakan Di Belakangnya.


"Kak Rena!" Panggil Seseorang Di Belakang Dan Rena Pun Menoleh.


"Kinal! Kamu Kok Disini!" Rena Terkejut.


"Ren, Ini Siapa?" Tanya Yudha.


"Oh Iya, Yud, Kenalin Ini Adik Aku, Kinal Dan Kinal Ini Yudha" Rena Memperkenalkan Yudha Dan Kinal Satu Sama Lain.


"Cie... Pacar Baru Nih" Bisik Kinal Di Telinga Rena.


"Kinal Apa'an Sih" Wajah Rena Sedikit Memerah Karena Malu.


"Ngomong-Ngomong Kamu Ngapain Nyusulin Kakak Kesini?" Tanya Rena.


"Oh Iya, Sampai Lupa, Aku Kesini Disuruh Sama Ibu, Kak Rena Balik Sekarang Yuk, Katanya Ibu Mau Ngomong Penting Katanya, Ibu Sekarang Ada Di Penginapan" Jelas Kinal.


"Ya Udah Kalau Gitu, Kamu Buruan Balik, Ren, Kasihan Ibu Kamu Nungguin" Kata Yudha.


"Kalau Gitu Aku Sama Kinal Pamit Balik Duluan Yah" Rena Beranjak Pergi Meninggalkan Yudha.


Rena Heran Dan Bertanya-Tanya Dalam Hatinya.


"Tumben Ibu Datang Ke Penginapan, Ada Apa Yah?" Tanyanya Dalam Hati.


"Dek, Ibu Bilang Gak Mau Omongin Apa?" Tanya Rena Pada Kinal.


30 Menit Kemudian, Rena Dan Kinal Pun Sampai Di Penginapan Keluarganya Tersebut.


"Ibu, Tumben Kesini, Bu?" Tanya Rena Begitu Melihat Ibunya.


"Ibu Lagi Suntuk Di Kota, Jadi Ibu Putuskan Kesini, Tadi Di Anter Sama Pak Budi Kesininya" Jelas Ibunya, Andien.


"Bu, Kata Kinal, Ibu Mau Ngomong Sesuatu, Mau Ngomong Apa Sih, Bu?" Tanya Rena Penasaran.


"Gini, Ren, Kamu Kenal Kan, Sama Anaknya Pak Mamat Yang Namanya Ronal Itu, Teman Kecil Kamu Dulu Itu" Andien Mengingatkan.


"Ronal, Yang Dulu Kribo Itu Kan" Rena Menerka.


"Iya, Ren, Itu Sudah" Katanya.


"Terus Hubungannya Dengan Rena Apa, Bu?" Rena Semakin Penasaran.


"Nah... Ibu Sama Pak Mamat Itu, Berniat Untuk Menjodohkan Kamu Sama Si Ronal Itu. Ibu Kan Juga Udah Tahu Betul Latar Belakang Keluarganya Ronal Itu Bagaimana, Jadi, Ibu Tidak Ragu Menerima Tawaran Dari Pak Mamat Itu" Jelas Andien.


"Haah! Di Jodohkan?" Rena Terkejut.


"Iya, Ren, Kamu Mau Kan?" Andien Berbalik Bertanya Pada Rena.


"Bu, Ini Tuh Udah Era Millenial, Bukan Lagi Jamannya Siti Nurbaya, Gak Jaman Lagi Buat Jodoh-Jodohan Kayak Gitu, Bu" Rena Berusaha Menolak.


"Rena Sayang, Ibu Tahu Kamu Pasti Nolak, Tapi, Ini Semua Ibu Lakukan Untuk Kebaikan Kamu, Ibu Gak Mau Kamu Salah Pilih" Andien Mencoba Memberikan Pengertian Pada Rena.


"Terbaik Untuk Aku Atau Untuk Ibu! Aku Tahu, Ibu Mau Jodohkan Aku Sama Ronal, Supaya Perusahaan Pak Mamat Dan Ibu Itu Bisa Bekerja Sama Kan! Aku Tahu, Bu" Amarah Rena Mulai Sedikit Naik.


"Kak, Sabar, Jangan Marah-Marah Sama Ibu" Kinal Berusaha Menenangkan Rena.


"Bukan Itu Maksud Ibu, Nak. Ibu Gak Maksa Kalau Misalkan Nanti Kamu Merasa Tidak Cocok Dengan Ronal, Tapi, Paling Tidak Kalian Itu Saling Mengenal Dulu, PDKT Dulu" Andien Masih Berusaha Membujuk Rena.


"Gak, Bu, Rena Gak Mau, Lagian Juga Rena Udah Punya Pacar Dan Rena Gak Mau Sakiti Dia" Rena Tetap Pada Pendiriannya.


"Kalau Ibu Tetap Memaksa Rena, Rena Bakal Pergi Dari Rumah" Ancam Rena.


Rena Pun Beranjak Pergi Dari Hadapan Ibunya Dalam Keadaan Marah Dan Pergi Meninggalkan Penginapan Tersebut Dengan Sebuah Motor.


"Kinal, Tolong Kamu Kejar Kakak Kamu" Pinta Andien Pada Kinal.


"Iya, Bu!" Kinal Menganggukkan Kepala Dan Beranjak Menyusul Rena.


"Kak Rena, Berhenti Dulu Kak!" Kinal Memanggil Rena.


"Kamu Gak Usah Ikuti Kakak, Kakak Gak Bakalan Balik, Kalau Ibu Tetap Memaksakan Perjodohan Itu!" Teriak Rena.


"Kak Rena, Ini Gak Ada Hubungannya Sama Perjodohan Itu, Justru Aku Mau Bantuin Kakak!" Katanya Berteriak.


Mendengar Jawaban Kinal, Rena Pun Berhenti Dan Menepi Di Pinggir Jalan.


"Kamu Beneran Kan, Kin, Mau Bantuin Kakak?" Tanya Rena Yang Masih Ragu.


"Beneran Dong, Kak, Emang Kapan Sih Aku Bohong Sama Kakak" Kinal Meyakinkan Rena.


"Gini, Aku Punya Ide Nih, Itupun Juga Kalau Kakak Setuju" Kinal Memberi Usul.


"Apa'an Idenya, Dek?" Tanya Rena Penasaran.


Kinal Pun Membisikkan Idenya Tersebut Ke Telinga Rena.


"Gimana, Kak?" Tanya Kinal.


"Boleh Juga Tuh Ide Kamu, Kakak Tahu Harus Kemana" Pikir Rena.


"Eh...! Tapi, Kalau Misalkan Kamu Balik, Terus Ibu Nanyain Aku, Gimana?" Rena Berbalik Bertanya.


"Kakak Tenang Aja, Soal Itu Biar Aku Yang Atur" Jawab Kinal Santai.


"Makasih Yah, Kin, Kamu Selalu Bantuin Kakak" Rena Tersenyum.


Setelah Ngobrol Sebentar, Rena Dan Kinal Pun Berpisah. Rena Pergi Ke Tempat Yang Ingin Dia Tuju, Sedangkan Kinal Kembali Ke Penginapan, Seolah-Olah Kehilangan Jejak Rena.