
"Jujur Aja Yah, Hari Ini Siaran Kalian Itu Buruk! Gak Enak Di Dengar, Apa Kata Pendengar Kalau Hal Seperti Itu Terjadi, Tidak Ada Kekompakan Seperti Biasanya, Ada Apa Dengan Kalian? Kalian Lagi Ada Masalah Atau Apa?" Karin Menatap Yudha Dan Rena Bergantian.
"Kalian Bukan Partner Yang Baru Sehari Atau Dua Hari Dipasangkan, Tetapi Sudah Setahun, Kemana Chemistry Kalian, Yang Selama Ini Kalian Bangun. Mana Janji Kalian Yang Katanya Akan Bertindak Profesional Dan Tidak Mencampur Adukkan Dengan Masalah Pribadi Kalian. Ini Bukan Pertama Kalinya, Kalian Seperti Ini, Beberapa Bulan Yang Lalu, Yudha Tiba-Tiba Minta Re-Schedule Jadwal Siaran Dengan Alasan Kuliah, Padahal Kalian Lagi Bertengkar, Sekarang Begini Lagi!" Karin Terlihat Begitu Kecewa Dengan Yudha Dan Rena.
"Maafin Kita, Mbak" Jawab Yudha Dan Rena Bersamaan.
"Rena, Kamu Sebagai Penyiar Senior Harusnya Bisa Kasi Contoh Yang Baik Buat Yudha, Kamu Disini Sudah Hampir 8 Tahun, Masa Kamu Masih Seperti Ini, Kayak Anak Kecil, Apa-Apa Ngambek, Gak Mau Ngomong! Aku Tahu Kamu Itu Sahabatku, Tapi, Kamu Harus Tunjukkan Profesionalisme Kamu" Karin Menasehati Rena.
"Kamu Juga Yudha, Seharusnya Kamu Nasehati Rena Kalau Dia Salah Atau Apa, Jangan Karena Rena Ini Senior Kamu, Kamu Gak Berani Negur, Gak Apa, Disini Senioritas Tidak Berlaku, Semuanya Punya Hak Untuk Menegur Partnernya Jika Ada Yang Salah Atau Tidak Sesuai, Ngerti Kamu Yudha!" Karin Menatap Yudha.
"Iya, Mbak" Yudha Mengangguk Pelan.
"Ya Sudah, Kalian Berdua Boleh Keluar, Saya Gak Mau Hal Ini Terulang Lagi, Kalau Terulang Lagi, Kalian Akan Tahu Konsekuensinya" Ucap Karin.
"Kamu Sih, Ren, Jadi Kena Omel Mbak Karin Kan! Lagian Kamu Kenapa Sih, Gak Kayak Biasanya Gitu, Siaran Kita Kacau" Yudha Terlihat Sedikit Kesal Pada Rena.
"Iya, Iya, Janji Besok Gak Akan Terulang Lagi, Udah Ahh, Aku Mau Cabut, Mau Cari Angin, Lagi Mumet Kepalaku" Rena Langsung Beranjak Pergi Dari Hadapan Yudha.
"Rena Kenapa Sih, Sikapnya Kayak Gitu, Apa Jangan-Jangan Masalah Aku Yang Mau Nikah Sama Talitha Lagi, Pikirannya Jadi Kacau Gitu, Kasihan Aku Lihat Rena Seperti Itu, Jadi Gak Fokus Gara-Gara Masalah Itu" Yudha Merasa Kasihan Dengan Rena Yang Sedang Galau.
"Loh.... Ibu! Kok Kesini? Ada Apa? Apa Ada Hal Yang Penting Gitu?" Yudha Terkejut Melihat Ibunya Datang Ke Tempat Kerjanya.
"Iya, Memang Ada Hal Yang Penting, Yang Mau Ibu Sampaikan Sama Kamu" Jawab Ibunya.
"Soal Apa, Bu?" Tanya Yudha Penasaran.
"Soal Pernikahan Kamu Sama Talitha, Pernikahan Kalian Batal" Ucap Ibunya.
"Alasannya Apa, Bu? Bukannya Kemarin-Kemarin Ibu Yang Minta Aku Nikahin Talitha Untuk Ikuti Permintaan Terakhirnya, Kok Sekarang Malah Dibatalkan" Yudha Bingung.
"Talitha Itu Berbohong Soal Penyakitnya. Dia Sebenarnya Tidak Sakit, Dia Hanya Merekayasa Semua Ini, Agar Kamu Bisa Nikahi Dia, Jadi, Dia Lakukan Segala Cara, Termasuk Dengan Berpura-Pura Sakit Parah Seperti Itu" Terang Ibunya.
"Ibu Tahu Darimana, Kalau Semua Ini Rekayasa Talitha Aja?" Tanya Yudha.
"Tadi Ibu Ketemu Dia Di Mall Sama Ibunya, Dia Terlihat Sehat-Sehat Saja, Tidak Terlihat Orang Uang Sedang Sakit Dan Dia Juga Sudah Mengakuinya Sendiri" Jawab Ibunya.
"Jadi, Ibu Minta, Kamu Lanjutkan Rencana Pernikahan Kamu Dengan Rena, Mungkin Ini Pertanda Bahwa Kamu Dan Rena Memang Ditakdirkan Untuk Bersama" Pinta Ibunya. Dalam Hatinya, Yudha Bahagia Karena Bisa Melanjutkan Kembali Rencana Pernikahannya Dengan Wanita Yang Begitu Dia Cintai, Rena.
"Terima Kasih, Ya Allah, Engkau Telah Menunjukkan Kebesaran-MU, Hamba Sangat Bersyukur, Hamba Masih Memiliki Kesempatan Untuk Bisa Hidup Bersama Dengan Rena" Ucap Yudha Dalam Hatinya.
Entah Bagaimana Perasaan Rena Saat Ini. Rena Masih Terus Mengingat Kejadian Itu, Saat Dia Tahu Ternyata Yudha Membatalkan Pernikahannya Yang Tinggal Menghitung Hari Itu. Rena Tahu Kalau Yudha Itu Terpaksa Membatalkan Dan Menggantikannya Dengan Sosok Wanita Lain, Hanya Karena Ingin Mengabulkan Permintaan Terakhir Dari Wanita Tersebut. Biar Bagaimanapun Juga, Yang Namanya Wanita Pasti Sakit Kalau Diperlakukan Seperti Ini. Tapi, Apa Boleh Buat, Rena Hanya Bisa Pasrah Dan Berusaha Ikhlas Dengan Semua Yang Terjadi Ini.
Dalam Perjalanannya Pulang Ke Rumahnya, Rena Tanpa Sengaja Berpapasan Dengan Seseorang Di Halte, Yang Sepertinya Dia Mengenalinya Dan Seseorang Tersebut Juga Mengenali Rena.
"Ini Cewek Familiar Banget Yah Mukanya, Tapi, Siapa Yah?" Rena Bertanya-Tanya Dalam Hatinya.
"Ehh.... Tunggu Dulu Deh, Bukannya, Mbak Ini, Kak Rena Yah? Senior Aku Di Kampus" Dia Pun Menerka-Nerka.
"Ghea Yah?" Rena Berbalik Bertanya. Dia Pun Mengangguk.
"Ya Ampun, Kak Rena, Apa Kabar, Long Time No See" Ghea Terlihat Semringah.
"Kabar Aku Baik Kok, Ghe" Jawab Rena Singkat.
"Oh Iya, Kak, Gimana Persiapan Pernikahan Kak Rena Sama Kak Yudha? Kapan Nih Acaranya?" Tanya Ghea Penasaran.
"Aku Udah Gak Sabar Loh, Lihat Kak Rena Sama Kak Yudha Bersanding Di Pelaminan" Lanjut Ghea.
Rena Langsung Tertunduk Sedih Mendengar Ucapan Ghea. Ghea Melihat Raut Wajah Rena Yang Tiba-Tiba Berubah Jadi Sedih.
"Kak Rena Kenapa? Kok Sedih Gitu?" Tanya Ghea.
"Gak Kok, Ghe, Gak Ada Apa-Apa" Rena Berusaha Menutupi Kesedihannya Dari Ghea. Tanpa Disadarinya, Rena Meneteskan Air Matanya.
"Kak Rena Gak Usah Bohong Deh, Aku Bisa Lihat Kok Dari Raut Wajah Kakak, Tuh Lihat Kak Rena Nangis Gitu, Ceritain Aja Lah Kak, Aku Siap Dengerin Kok" Ghea Berusaha Membujuk Rena.
Dengan Menarik Nafas Panjang, Rena Pun Mulai Menceritakannya Pada Ghea.
"Sebenarnya Aku Tuh Sedih, Ghe, Karena Aku Sama Yudha Itu Batal Nikah" Rena Tertunduk Sedih.
"Loh.... Kok Bisa Seperti itu Sih, Kak? Alasannya Apa?" Ghea Bingung.
"Yudha Terpaksa Menikahi Wanita Lain, Alasannya Itu Sebagai Permintaan Terakhirnya Si Wanita Itu, Karena Dokter Sudah Memvonis Kalau Umurnya Itu Gak Lama Lagi, Maka Dari Itu Yudha Menurutinya. Yudha Juga Tidak Tega Melihatnya, Disisi Lain Yudha Juga Berat Untuk Membatalkan Pernikahan Kita Ini, Tapi, Mau Gak Mau Dia Harus Memilih" Jelas Rena.
"Yah.... Meskipun Itu Hal Yang Menyakitkan Sih, Kak. Mungkin Ini Udah Takdir Dari Tuhan, Kak. Kalau Memang Kak Rena Dan Kak Yudha Berjodoh, Pasti Akan Ada Caranya, Agar Kalian Dipersatukan Kembali" Ghea Menguatkan Rena.
"Makasih Yah, Ghe, Kamu Emang Sahabat Terbaikku, Meskipun Kita Beda Angkatan Sih, Tapi, Aku Merasa Nyaman Aja Curhat Sama Kamu" Rena Tersenyum.
"Iya Kak, Sama-Sama, Aku Juga Senang Punya Sahabat Seperti Kak Rena" Ucap Ghea.
-
-
Tanpa Sepengetahuan Rena Dan Ghea, Dari Tadi Ada Seseorang Yang Menguping Pembicaraan Mereka, Yaitu, Stella, Orang Yang Paling Benci Dengan Rena, Karena Selalu Kalah Saing Dengan Rena. Padahal Rena Tidak Pernah Merasa Bersaing Dalam Hal Apapun Dengan Stella. Tapi, Rasa Iri Stella Tumbuh Semakin Besar Dan Berubah Menjadi Benci. Mendengar Pembicaraan Ghea Dan Rena, Dalam Hati, Stella Sangat Bahagia Karena Yudha Dan Rena Batal Menikah.
"Yes... Akhirnya Mereka Batal Nikah Juga, Keinginanku Terkabul" Batin Stella Dengan Senang Hati.