The Announcer

The Announcer
Rumah Tangga Panji Dan Andien Diambang Kehancuran


Tak terasa sudah jam 3 sore. Panji dan Andien memutuskan untuk pergi dari pantai dan beranjak menuju ke sebuah restoran yang letaknya hanya berjarak 1 km dari pantai. 15 menit kemudian, mereka pun sampai di restoran tersebut.


"Selamat datang, pak Panji dan ibu Andien!" Sapa salah satu pelayan di restoran itu.


"Pak Panji sekarang datang bareng istrinya yah? 2 minggu yang lalu datang berdua sama anaknya kalau tidak salah" katanya. Panji memberi kode untuk diam. Andien menoleh kearah Panji dan seolah bertanya-tanya tentang maksud dari pelayan tersebut.


"Mari, pak, bu, saya tunjukkan meja spesial untuk anda berdua" pelayan tersebut mengantarkan Panji dan Andien ke sebuah meja yang sudah disiapkan khusus untuk mereka, pelanggan setia restoran itu.


"Mas, pesanannya kayak biasa aja, makasih" kata Panji. Pelayan tersebut mengangguk dan meninggalkan mejanya.


"Mas coba kamu jelaskan ke aku, maksud dari ucapan pelayan tadi, yang katanya 2 minggu yang lalu kamu kesini sama anak? Kamu sebelumnya kesini sama Kinal? Atau Rena?" Andien melontarkan pertanyaan, yang seolah membuat Panji tersudut.


"Eh.... Sayang, lihat deh interior resto ini, artistik banget yah, keren sih ini" Panji mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Mas Panji gak usah mengalihkan pembicaraan, aku gak mempan digituin, sekarang mas jelaskan ke aku, maksud dari pelayan itu" Andien menunggu jawaban.


"Gini, sayang, waktu aku abis ketemu teman aku, aku memang kesini, cuma pas aku masuk, ada anak gadis yang masuk bareng aku, jadi, pelayan itu menyangka aku datang bareng dia dan menyangka kalau aku ayahnya anak gadis itu, gitu ceritanya" terang Panji.


"Apa itu benar kejadiannya seperti itu atau kamu lagi berbohong?" Selidik Andien dan seolah ragu dengan ucapan Panji.


"Beneran, sayang, kejadiannya emang seperti itu, aku gak mungkin membohongi kamu" Panji mencoba meyakinkan Andien.


"Oke, aku berusaha untuk percaya sama kamu, tapi, awas kalau kamu berbohong" Andien menatap dengan tatapan tajam.


"Untung aja, aku masih sempat memikirkan penjelasan yang masuk akal dan membuat Andien percaya, walaupun gak sepenuhnya sih" batin Panji dengan perasaan lega.


"Kenapa juga pelayan itu pake bilang seperti tadi didepan Andien, bikin ribet aja jelasinnya" runtuk Panji.


"Permisi, pak, bu, ini pesanannya dan selamat menikmati" pelayan menata makanan pesanan Panji dan Andien di depannya, lalu beranjak pergi sambil mengangguk pelan.


"Kita makan dulu yuk, sayang" kata Panji.


"Sini aku suapin, kayak waktu kita kencan dulu itu" Panji menyodorkan sesuap nasi ke hadapan Andien.


"Gak usah, mas, aku bisa sendiri" Andien menolaknya.


"Kalau kamu bersikap kayak gini, makin kelihatan kalau kamu itu lagi berusaha menutupi sesuatu dengan bertingkah mesra gitu" batin Andien. Keduanya saling diam dan menghadapi makanannya masih-masing.


"Selamat datang mbak Stella!" Sambut pelayan itu.


"Mas, meja untuk satu orang yah" kata Stella.


"Gak mau gabung aja sama ayah dan ibunya disana? Pak Panji dan ibu Andien sudah ada disana sejak setengah jam yang lalu" kata pelayan itu.


"Mas Panji ada disini? Tunggu dulu bareng sama Andien? Bukannya itu nama ibunya Rena yah? Apa jangan-jangan mas Panji itu ayahnya Rena lagi" Stella bertanya-tanya dalam hatinya.


"Mbak kok malah bengong? Gimana, mau di meja terpisah aja atau gabung sama Pak Panji dan Ibu Andien nih?" Tanya pelayan itu.


"Gabung aja deh sama mereka" jawab Stella singkat. Pelayan itu mengantarkan Stella ke meja Panji dan Andien.


"Stella? Kamu ngapain disini? Terus kenapa pelayan itu malah bilang kamu anak kami?" Tanya Andien yang sepertinya kebingungan.


"Mas Panji, aku mencari kamu kemana-mana, mas, akhirnya kita ketemu disini" Stella tersenyum bahagia, melihat Panji. Panji terlihat sangat panik dan tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Mas Panji? Kamu panggil suami saya dengan panggilan mas? Gak salah?" Andien semakin terlihat bingung.


"Mas Panji, tolong jelaskan, ada apa ini sebenarnya" Andien melirik kearah Panji.


"Udahlah, mas, kamu bilang aja yang sebenarnya sama dia atau kamu mau aku yang bilang ke dia" Stella angkat bicara.


"Duh..... Gimana ini, aku bingung harus mulai darimana jelasin ini semua" Panji kebingungan.


"Oke..... Oke, aku jujur sekarang, sebenarnya aku sama Stella punya hubungan dibelakang kamu, yang telah kita jalani selama 4 tahun" Panji akhirnya mengakuinya.


"Tapi, aku udah putusin Stella dan sekarang kita berdua udah gak ada hubungan apa-apa, cuma Stella aja yang masih mengejar aku. Aku memilih untuk tetap mempertahankan rumah tangga kita, karena aku sadar, yang aku lakukan itu salah" lanjut Panji.


"Aku minta maaf sudah mengkhianati kamu, aku benar-benar khilaf saat itu, sayang" Panji meminta maaf pada Andien. Seketika kebahagiaan yang dia rasakan beberapa jam yang lalu seakan luntur semuanya saat dia mendengar kenyataan pahit, kalau Panji mengkhianatinya selama ini.


"Kenapa aku bisa tidak tahu, kalau selama ini mas Panji bermain api dibelakangku selama 4 tahun, pantas sikap mas Panji berubah menjadi sangat romantis, ternyata ini jawabannya, dia menutupi perselingkuhannya dengan cara bersikap romantis padaku, seolah-olah tidak terjadi apa-apa" hati Andien benar-benar hancur saat itu.


"Mas, kamu benar-benar tega melakukan ini semua dan yang lebih menyakitkan, kamu selingkuh dengan wanita yang usianya sama dengan anak kita, apa yang ada dalam pikiran kamu, sampai-sampai kamu memacari Stella" air mata Andien mengucur deras.


"Sayang, aku benar-benar minta maaf, aku khilaf saat itu dan entah kenapa aku bisa dibutakan oleh kecantikan Stella, aku seolah terhipnotis dengan pesonanya. Sayang, aku ingin memperbaiki semuanya dan aku janji gak akan mengulanginya lagi" Panji menatap mata Andien dan memegang kedua tangannya.


"Mas Panji, aku mohon sama kamu, kamu mau yah balikan sama aku, kita rajut kembali cinta kita, bukannya kamu pernah berjanji akan menikahiku? Apa kamu udah lupa sama janjimu itu?" Stella memohon-mohon.


"Jangan sembarangan ngomong kamu, Stella, sejak kapan aku bicara seperti itu, kamu gak usah ngarang cerita yang tidak-tidak" Panji memelototi Stella dengan pandangan marah.


"Sayang, jangan kamu dengarkan ucapan Stella, dia itu ngawur, aku gak pernah bilang seperti itu ke dia" Panji berusaha meyakinkan Andien.


"Kamu tahu kan, mas, sebelum kita menikah kita pernah membuat sebuah komitmen, kalau suatu saat diantara kita ada yang selingkuh, saat itu juga harus menggugat cerai, kamu gak lupa kan?" Andien mengingatkan.


"Iya, sayang, aku tahu itu, tapi, aku mohon kasi aku kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kita, demi anak-anak kita, sayang" Panji masih berusaha untuk membujuk Andien.


"Dalam kamus hidupku, tidak ada yang namanya kesempatan kedua, sekalipun itu kamu lakukan secara tidak sengaja, tapi, sekali kamu selingkuh, tidak menutup kemungkinan kamu akan mengulanginya lagi dan aku gak mau merasakan rasa sakit yang sama, lebih baik kita hidup masing-masing!" Andien berdiri dan akan beranjak pergi. Namun, Panji menarik tangan Andien dan menahan langkahnya.


"Sayang, aku mohon sama kamu, kasi aku kesempatan, aku belum siap pisah sama kamu, aku harap kamu mau mengubah keputusanmu" Panji begitu berharap, Andien mau mengubah keputusannya itu.


"Keputusanku sudah bulat, aku gak akan mengubah keputusanku, aku tunggu secepatnya surat gugatan cerai dari kamu" Andien menepis tangan Panji dan melangkah pergi dari restoran itu. Panji langsung mengejar Andien, tapi, tangannya ditarik oleh Stella.


"Mas, udahlah, gak usah kamu kejar lagi, masih ada aku yang siap menggantikan posisinya" kata Stella. Panji menepis dengan kasar dan berlari mengejar Andien.


"Sayang, aku mohon, aku gak mau pisah dari kamu, please!" Panji berlutut dihadapan Andien.


"Udahlah, mas, mau kamu lakukan apapun, itu gak akan mengubah keputusanku, aku udah terlanjur sakit hati, lepasin, biarin aku pergi" Andien menghentikan sebuah taksi dan langsung beranjak pergi dari hadapan Panji.