
"Jadi, aku udah salah paham dong? Aku pikir Yudha dan Uchy pacaran, ternyata salah, Duh.... Tengsin banget nih" batin Rena.
"Makanya, Ren, kalau kamu belum tahu pasti, kamu cari tahu dulu, jangan langsung menyimpulkan sesuatu yang masih samar-samar, jadi malu sendiri kan kalau ternyata gak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan" Yudha memberikan nasehat pada Rena.
"Iya deh, maaf, Yud" Rena tertunduk karena malu. Rena pun langsung beranjak pergi. Feby yang melihat Rena keluar, langsung mengejarnya.
"Rena, tunggu!" Feby berusaha mengejar Rena.
"Kamu kenapa sih, pergi gitu aja?" Tanya Feby.
"Aku tengsin tahu gak sih, Feb, aku udah salah sangka lagi, kan malu jadinya" wajah Rena masih memerah.
"Tapi, kamu lega kan? Kalau ternyata Yudha bukan calon suaminya Uchy" Feby menerka.
"Iya sih, Feb, dalam hati aku juga senang sih" kata Rena.
"Kak Rena, boleh ngomong bentar gak?" Uchy menghampiri Rena yang sedang ngobrol dengan Feby tanpa dia sadari.
"Boleh kok" jawab Rena singkat.
"Ya udah, kalian berdua ngobrol yah, aku masih ada kerjaan" Feby berlalu dari hadapan Rena dan Uchy.
"Ada apa, Chy?" Tanya Rena.
"Gini, kak Yudha pernah cerita sama aku, katanya kak Rena sama kak Yudha dulu udah mau nikah, tapi, batal gara-gara kak Yudha terpaksa mengabulkan permintaan terakhir cewek yang juga naksir sama kak Yudha" kata Uchy.
"Iya benar, cuma ternyata hanya rekayasa si cewek itu, yang terlalu terobsesi untuk mendapatkan Yudha" jelas Rena.
"Iya, kak, kak Yudha juga udah ceritain itu kok. Mmm... Kak Rena mau gak lanjutin rencana pernikahan kak Rena sama kak Yudha, karena kak Yudha itu sayang banget sama kak Rena, bukan bermaksud membela kak Yudha yah, kak, mau yah, kak" pinta Uchy.
"Jujur, aku sayang banget sama Yudha, aku juga merasa bersalah karena udah salah sangka sama dia, aku mungkin terlalu berlebihan cemburunya" kata Rena.
"Yah... Semoga hubungan kalian terus bertahan sampai nanti kalian ke jenjang pernikahan" harap Uchy.
"Uchy, yuk, kita balik sekarang, kita kan masih harus urus yang lainnya lagi" Yudha menghampiri Uchy yang sedang ngobrol dengan Rena.
"Nanti kita sambung lagi yah, kak, see you" Uchy beranjak dari hadapan Rena. Rena hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Chy, aku lihat tadi kamu serius banget ngobrol sama Rena, ngomongin apa sih?" Tanya Yudha penasaran.
"Oh.... Gak kok, kak, biasa masalah cewek, kak Yudha gak perlu tahu" kata Uchy.
"Kak Yudha sama kak Rena secepatnya nyusul juga dong, biar aku cepat punya ponakan gitu, hehehe.....!" Uchy tertawa kecil.
"Yah..... Kamu doakan aja, Chy, aku sama Rena juga bisa segera nyusul ke pelaminan" kata Yudha.
"Oh iya, ini jalan ke hotel yang kamu booking itu lewat mana?" tanya Yudha.
"kak Yudha lurus aja, nanti ketemu perempatan belok kanan, terus pertigaan belok kiri, hotelnya itu pas depan minimarket" terang Uchy.
...*****...
*Stella sayang, aku pamit yah, aku mau pulang kerumah, anak dan istriku sudah menungguku" ucap Panji sambil mengusap lembut kepala Stella.
"mas, kamu gak bisa apa, semalam lagi disini, aku masih kangen sama kamu" kata Stella dengan nada manja.
"iya, sayang, aku tahu atau gini deh, besok aku kesini, terus kita senang-senang lagi, nanti aku bisa bilang sama istriku, kalau ada urusan yang harus diselesaikan, gimana" usul Panji.
"ya udahlah, mau gimana lagi" kata Stella pasrah. Panji dan Stella berjalan keluar menuju lobby, tapi, Stella terkejut, karena berpapasan dengan Yudha.
"Yudha! Uchy! ka.... kalian Kok bisa disini" Stella sedikit gelagapan.
"iya, kak, aku nginap disini, terus kak Yudha anterin aku, bantuin bawa barang aku" jelas Uchy.
"kak Stella sendiri ngapain? terus bapak yang Disamping kakak siapa?" tanya Uchy penasaran.
"Eh.... Mmm.... Itu.... Anu.... Dia....." Stella amat kebingungan untuk menjawabnya.
"udah yuk, Chy, kamu harus istirahat, kamu pasti capek banget" ajak Yudha sambil menarik tangan Uchy dan berlalu dari hadapan Stella.
"Duh.... Kenapa juga aku harus ketemu Yudha disini, Yudha pasti menyangka aku yang tidak-tidak" runtuk Stella.
"Tapi, emang iya sih, hubunganku dengan mas Panji ini, hubungan gelap, kalau sampai istri mas Panji tahu, baka dimaki habis-habisan aku sama dia" dalam hatinya, Stella mulai khawatir.
"Semoga aja gak terjadi deh" harapnya.
"ya udah, sayang, aku pamit yah" Panji mengecup kening Stella dan masuk kedalam taksi yang ditumpanginya. Sambil melambaikan tangannya sampai taksi itu berlalu dari hadapannya.
"Ehh.... Yudha" Stella berpapasan dengan Yudha di pintu. Yudha tidak menghiraukannya sedikitpun.
"Yud, yang tadi itu, bukan siapa-siapa aku, sebatas teman biasa aja, cuma aku emang biasanya gitu kalau udah akrab sama orang, bersikap kayak tadi, jadi, orang mengiranya kayak pacaran, padahal sebenarnya gak sama sekali" Stella mengutarakan alasan.
"Terus? hubungannya sama aku apa? lagian aku juga gak peduli, kamu mau jalan sama siapa, bodo amat" Yudha seakan tidak peduli dengan yang dikatakan Stella.
"Aku cuma gak mau kamu salah sangka sama aku, berpikir yang tidak-tidak tentang aku" kata Stella.
"Stel, aku gak peduli kamu mau ngapain, yang aku pikirkan sekarang itu hanya pernikahanku dengan Rena yang gak lama lagi akan kami langsungkan" Yudha langsung berlalu dari hadapan Stella.
"Ihh..... Gimana caranya sih, supaya aku bisa mendapatkan perhatian kamu lagi, kayaknya susah banget luluhkan hati kamu" Stella kesal.
Yudha buru-buru ingin segera pergi dari tempat itu. Baru saja jalan sedikit, ada seseorang yang menelponnya. Yudha menepi dan melihat nama yang menelponnya.
"Alika? tumben dia nelpon ada apa yah?" Yudha bertanya-tanya dalam hati.
"Halo, Al, ada apa?" Yudha menjawab panggilan dari Alika.
"Yud, kamu bisa tolong aku gak, penting ini" kata Alika, yang terdengar panik.
"Kamu kenapa, Al? Suaramu kayak panik gitu?" tanya Yudha.
"Ini, Yud, anak aku, tiba-tiba kayak kejang gitu, aku gak tahu harus berbuat apa" Alika makin panik.
"Al, kamu share sekarang alamat kamu, aku Kesana sekarang juga, nanti kita bawa Kerumah sakit sama-sama, jangan panik, okey" Yudha berusaha menenangkan Alika. Alika menutup telpon Yudha dan mengirim lokasi rumahnya pada Yudha.
Setelah mendapat alamat rumah Alika, Yudha langsung beranjak menuju ke alamat tersebut.
"Kasihan juga Alika, dia harus sendirian urus anaknya, yah.... gitulah kalau gak ada pasangan, gak ada yang bantuin ngurus anaknya saat sakit seperti sekarang ini" Yudha merasa kasihan dengan kondisi Alika sekarang.
Selang 15 menit kemudian, Yudha sampai di depan rumah Alika sambil membunyikan klakson mobil. Tak berapa kemudian Alika keluar dengan menggendong anaknya.
"Yud, buruan yah, aku takut anakku kenapa-kenapa" kata Alika.
"Iya, Al" jawab Yudha singkat.
"Semoga aja anaknya Alika gak kenapa-kenapa" batin Yudha.