
Ditengah kebahagiaan yang saat ini dirasakan Yudha dan Rena, secara tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan sebuah insiden yang tidak diduga. Andien jatuh pingsan dan badannya langsung ditahan oleh Kinal uang berdiri disampingnya. Secara refleks Yudha dan Rena menghampiri. Sontak semua tamu undangan juga menghampirinya.
"Nal, ibu kenapa?" Tanya Rena yang terlihat panik.
"Gak tahu juga kak, tiba-tiba aja ini pingsan" ucap Kinal yang ikut panik.
"Kalian berdua jangan panik, kita bawa ini Kerumah sakit sekarang" Yudha langsung menggendong Andien ke mobilnya dan segera membawanya Kerumah sakit, ditemani Rena dan Kinal.
Selang 30 menit kemudian, mereka pun sampai Dirumah sakit. Andien langsung dibawa ke ruang ICU untuk segera ditangani dokter. Yudha, Rena dan Kinal menunggu di depan ruang ICU, sambil memanjatkan doa terbaik untuk kesembuhan ibunya.
"Semoga aja ini gak kenapa-kenapa dan bisa cepat siuman" harap Kinal.
"Kita berdoa aja yah, Nal, semoga ibu bisa melewati masa kritisnya" Yudha berusaha menenangkan Kinal.
Sudah lebih dari 1 jam Andien didalam, namun, belum selesai juga. Dokter beberapa kali keluar masuk ruang ICU tanpa berkata apapun. Dokter hanya memberi isyarat pada ketiganya untuk tetap tenang dan tidak berhenti berdoa.
"Ren, gimana ibu kamu, udah siuman?" Tanya Karin yang datang bersama Darto dan teman-temannya yang lain, menyusul ke rumah sakit.
"Belum, udah lebih dari 1 jam, tapi, belum ada kabar dari dokter tentang keadaan ibu" terang Rena.
"Kamu yang sabar yah, Ren" Karin menguatkan Rena.
Akhirnya, tepat jam 3 sore, dokter yang menangani Andien keluar dari ruang ICU.
"Dok, gimana keadaan ibuku?" Tanya Rena.
"Ibu Andien terkena penyakit stroke, tapi, sekarang kondisinya sudah lumayan stabil. Tidak perlu khawatir, beliau masih bisa sembuh, tinggal nunggu siuman saja" jelas dokter tersebut.
"Kalau ada yang mau masuk kedalam silahkan, tapi, masuknya bergantian yah, kalau gitu saya permisi" dokter berlalu pergi. Rena dan Kinal masuk terlebih dahulu.
"Bu, ibu cepat sembuh yah, biar kita bisa kumpul bareng lagi dirumah, apalagi sekarang anggota keluarga kita bertambah, ada Yudha" Rena terus berceloteh, meskipun Andien belum sadarkan diri.
"Dek, kalau malam ini kamu yang jagain ibu, gak apa-apa kan? Soalnya aku capek banget nih, tapi, aku janji besok pagi aku kesini, kebetulan besok Yudha kan ada jadwal siaran pagi, jadi bisa sekalian minta antar Yudha kesini besok" kata Rena.
"Iya kak, gak apa-apa, kakak istirahat aja dirumah, biar aku yang jagain ibu dulu" Kinal bersedia.
"Kalau kamu butuh sesuatu atau apa, untuk dibawain besok, kamu hubungi kakak atau kak Yudha yah" kata Rena dan beranjak keluar dari ruang ICU.
"Beb, aku mau ngomong sesuatu, tapi, janji kamu gak marah yah" Rena membuka pembicaraan, setelah cukup lama mereka saling diam.
"Ngomong aja, beb, aku janji gak akan marah" kata Yudha sambil tetap fokus menyetir.
"Gini, aku berpikir, gimana kalau kita tunda dulu rencana bulan madu kita, sampai kondisi ibu benar-benar sudah membaik" kata Rena.
"Oh... Itu toh, kirain mau ngomong apa, kalau soal yang itu, aku setuju banget, lebih baik memang kita tunda dulu bulan madu kita, bagiku kesehatn ini jauh lebih penting" Yudha menyetujuinya.
"Makasih yah, beb, untuk pengertian kamu" ucap Rena sambil tersenyum.
"Iya, beb" Yudha mengelus lembut kepala Rena.
*Handphone Rena berdering*
"Gini, Ren, ini soal tiket bulan madu ke Bali, yang tadi aku kasi ke kamu, sudah aku beritahu ke suamiku, katanya jadwal keberangkatannya bisa di re-schedule, kamu nanti bilang aja kapan kamu dan Yudha siap berangkat" terang Karin.
"Oh... Gitu, makasih yah, mbak, mbak Karin udah mau repot-repot lakukan ini" jawab Rena.
"Iya, sama-sama, kebetulan suamiku punya kenalan yang bisa urus soal itu. Ya udah yah, Ren, cuma itu aja yang mau aku sampaikan, bye, Ren" Karin pun memutus telponnya.
"Ada apa, beb, mbak Karin telpon kamu?" Tanya Yudha penasaran.
"Itu loh, soal tiket yang tadi mbak Karin kasi, harusnya kan berangkat besok, tapi, karena ibu sakit kayak gini, mbak Karin inisiatif untuk re-schedule jadwal keberangkatan kita dan katanya, suami mbak Karin punya kenalan buat urus itu" terang Rena.
"Ya ampun, mbak Karin sampai repot gitu untuk kita, baik banget yah, mbak Karin" kata Yudha.
"Iya, Yud, mbak Karin emang baik banget, itu juga alasannya kenapa aku betah di Yori selama 9 tahun, karena mbak Karin" jawab Rena.
"Beb, besok tanggal berapa yah?" Tanya Rena.
"Tanggal 15, emang kenapa?" Yudha berbalik bertanya.
"Kamu ingat gak besok hari apa?" Rena sepertinya memberi kode pada Yudha.
"Aku tahu yang dia maksud, besok kan Rena ulang tahun, aku pura-pura gak tahu aja, aku mau bikin dia bete dulu, baru abis itu kasi dia kejutan yang tidak dia sangka, yang sudah aku rencanakan sama anak-anak Yori" batin Yudha.
"Besok kan hari Senin, beb" jawab Yudha seadanya.
"Maksud aku, besok ada hari apa gitu? Yang spesial" Ucap Rena.
"Yang spesial? Martabak? Kamu mau martabak, beb? Kita singgah yah di depan sana" Yudha menunjuk kearah persimpangan di depannya.
"Ihh... ! Bukan itu! Au ahh... Capek aku jelasinnya" raut wajah Rena menjadi cemberut.
"Ya udah kalau capek, kamu tidur aja, nanti kalau udah nyampe rumah aku bangunin" Yudha mengusap lembut kepala Rena.
"Ihh....! Aku malas sama kamu" Rena menepis tangan Yudha. Yudha Menyingkirkan tangannya dan kembali fokus ke jalan.
"Yudha sayang gak sih sebenarnya sama aku? Masa hari ulang tahunku aja dia gak ingat? Padahal aku kan udah ngasi tahu, sekarang malah lupa" runtuk Rena.
"Oke, sekarang udah jam 11, artinya tinggal sejam lagi, aku lambatnya dikit kali yah laju mobilku" batin Yudha. Rena mungkin tidak menyadari kalau laju mobil Yudha melambat. Rena sedari tadi cemberut dan tidak mau bicara dengan Yudha.
"Beb, kamu kok diam dari tadi?" Tanya Yudha untuk memecah keheningan.
"Gak apa-apa!" Jawab Rena sedikit ketus.
"Gak apa-apa, tapi, kamunya cemberut gitu, apa karena aku yang gak ingat tentang hari spesial itu" Terka Yudha.
"Udah deh, fokus aja ke jalanan, nanti nabrak lagi, udah larut malam banget ini" Rena memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya ke dada, saking kesalnya.
"Lihat aja bentar, Ren, kamu bakal menangis terharu dengan surprise yang sudah aku siapkan sama anak-anak dan aku jamin ini akan berkesan buat kamu" batin Yudha.