
Rena Membaca Isi Surat Tersebut Dan Memperhatikan Baik-Baik. Rena Sepertinya Mengenali Bentuk Tulisan Tersebut.
"Ini Kok Kalau Aku Lihat Dari Tarikan Penanya, Tulisannya Ini Persis Sama Tulisannya Mbak Karin Yah?" Tanya Rena Dalam Hatinya.
"Ren, Kamu Kenapa, Diam Gitu?" Yudha Seketika Membuyarkan Lamunan Rena.
"Eh... Oh... Gak Kok, Yud, Gak Ada Apa-Apa" Rena Tersadar Dari Lamunannya.
Rena Mengarahkan Pandangannya Ke Arah Utara Dan Rena Melihat Karin Dari Kejauhan Dan Sepertinya Memberi Kode Pada Rena.
"Haah...! Mbak Karin, Itu Dia Ngasi Kode Gitu, Maksudnya Apa Yah" Rena Mengerutkan Keningnya.
"Oh... Aku Ngerti Sekarang, Jadi, Ini Rencananya Mbak Karin Toh, Mbak Karin Atur Ini Semua Biar Aku Bisa Punya Waktu Lebih Banyak Untuk Berduaan Dengan Yudha" Rena Tersenyum.
Rena Menganggukkan Kepalanya Tanda Dia Mengerti Maksud Karin. Karin Memberi Isyarat Pada Rena Untuk Segera Mengajak Yudha Pergi. Rena Membalas Dengan Mengacungkan Jempol.
"Mmm.... Yud, Daripada Kamu Nungguin Si Pengagum Rahasia Itu Gak Datang-Datang, Mending Kita Jalan-Jalan Di Sekitar Sini Sama Aku, Yuk" Rena Menarik Tangan Yudha.
"Iya Deh Kalau Gitu, Daripada Nungguin Yang Gak Pasti" Jawab Yudha Pasrah.
Dalam Hatinya Rena Sangat Bahagia Bisa Jalan Berdua Dengan Yudha. Padahal Saat Pertemuan Pertamanya Beberapa Bulan Yang Lalu, Rena Sangat Membenci Yudha. Bahkan Menganggap Yudha Cowok Yang Menyebalkan Yang Pernah Dia Temui. Tapi, Seiring Dengan Berjalannya Waktu Rasa Benci Itu Berubah Drastis Menjadi Rasa Suka.
"Harus Aku Akui, Perasaan Benci Dalam Hatiku Ini Mulai Berubah Menjadi Rasa Sayang. Ternyata Benar Kata Orang, Kita Jangan Terlalu Benci Terhadap Seseorang, Nanti Perasaan Itu Akan Berubah Menjadi Cinta, Justru Itu Yang Sekarang Terjadi Sama Aku" Batin Rena.
"Ren, Makasih Yah, Udah Ajakin Aku Jalan-Jalan, Kalau Gak Ada Kamu, Aku Gak Tahu Mau Ngapain" Kata Yudha Tersenyum.
"Jujur Aja, Ini Cukup Menyenangkan Bisa Jalan-Jalan Seperti Ini" Yudha Menambahkan.
"Iya, Yud, Sama-Sama" Rena Tersenyum.
"Aku Ingin Momen Seperti Ini, Gak Cepat Berlalu, Agar Aku Bisa Berdua Dengan Yudha Dalam Waktu Yang Lama" Batin Rena Yang Sedang Berbunga-Bunga.
"Lihat Deh, To, Mereka Kelihatan Senang Banget, Terutama Rena, Dia Sepertinya Sangat Menginginkan Momen Seperti Ini" Karin Memperhatikan Dari Kejauhan.
"Kayaknya Sebentar Lagi, Ada Yang Bakal Jadian Nih" Darto Terlihat Sangat Senang Melihatnya.
"Yah... Semoga Aja Sih, To, Biar Rena Gak Galau Terus" Harap Karin.
"Selain Itu, Biar Chemistry Mereka Makin Kuat Lagi Pas Siaran Nanti, Pasti Bakal Beda Tuh, Iya Kan, To? Kamu Mengerti Maksudku Kan?" Karin Menoleh Ke Arah Darto.
"Aku Sependapat Sama Kamu, Rin" Darto Mengangguk.
"Udah Ah, Kita Biarkan Mereka Menikmati Waktunya Berdua, Kita Tunggu Nanti Kabar Baiknya Dari Rena, Pas Nyampe Di Penginapan, Yuk Ah" Ajak Karin. Darto Mengikutinya Dari Belakang, Sambil Melihat Ke Arah Yudha Dan Rena Sekilas, Sambil Tersenyum.
.........
Setibanya Di Penginapan, Karin Langsung Saja Menghampiri Rena Yang Baru Datang, Saking Tidak Sabarnya Dia Ingin Mendengar Hasilnya.
"Ren, Gimana Tadi?" Tanya Karin Yang Terlihat Begitu Penasaran.
"Gimana Apanya, Mbak?" Rena Bingung Dengan Pertanyaan Karin.
"Gimana Tadi Kamu Sama Yudha, Yudha Bilang Apa, Terus Dia Terima Kamu Atau Gak" Kata Karin Dengan Antusias.
"Gimana Mau Terima, Menyet Aja Belum, Mbak" Kata Rena.
"Loh.... Kok Belum, Ren, Kamu Gimana Sih, Udah Susah Payah Dibantuin Juga" Karin Sedikit Kecewa Pada Rena.
"Bukannya Gitu, Mbak, Cuma Aku Belum Berani Buat Ngomong Sama Yudha Soal Perasaanku Yang Sebenarnya, Masih Ada Rasa Canggung" Rena Melontarkan Alasannya.
"Loh... Kenapa, Ren?" Karin Terlihat Heran.
"Selain Itu, Aku Juga Masih Ragu, Mbak" Lanjut Rena.
"Ragu Kenapa Lagi Sih, Ren?" Tanya Karin.
"Aku Ragu Kalau Yudha Juga Punya Perasaan Yang Sama Denganku" Jawab Rena.
"Ren, Kan Gak Ada Salahnya Di Coba, Kamu Menyet Ke Dia. Karena Kalau Aku Lihat, Dia Kayaknya Suka Sama Kamu, Dari Cara Dia Menatap Kamu, Sikapnya Dia" Karin Berusaha Membujuk Rena.
"Lagian Nih, Kalau Kamu Gak Ngomong Ke Yudha, Gimana Dia Tahu Tentang Perasaanmu" Karin Menambahkan.
"Aku Gak Mau Kecewa Lagi, Mbak. Aku Gak Mau Merasakan Sakit Untuk Kedua Kalinya, Udah Cukup Aku Merasakan Sakit Karena Kevin" Rena Terlihat Sedih.
"Kalau Boleh Aku Tahu Nih, Emangnya Kevin Sakiti Kamu Kayak Gimana?" Karin Penasaran.
"Jadi, Gini Ceritanya, Mbak......." Rena Mengingat Kejadian Yang Dia Alami 10 Tahun Yang Lalu Waktu Dia Masih SMA.
-
-
"Vin, Aku Boleh Ngomong Sesuatu Gak Sama Kamu" Rena Sedikit Tersipu Malu.
"Mau Ngomong Apa Sih, Ren?" Kevin Berbalik Berbalik Bertanya Sambil Tetap Bermain Game Di Handphone-nya.
"Jujur, Setiap Kali Aku Di Dekatmu, Hatiku Rasanya Deg-Degan Gitu, Mmm.... Aku Suka Sama Kamu Dan Aku Berharap Kita Bisa Lebih Dari Sekedar Teman" Rena Sedikit Gugup Mengatakan Itu Pada Kevin.
Kevin Yang Sedari Tadi Sibuk Dengan Handphone-nya, Langsung Menoleh Ke Sampingnya.
"Kamu, Suka Sama Aku?" Tanya Kevin Sambil Menatap Wajah Rena.
Rena Hanya Menganggukkan Kepalanya.
"Ren, Gini Yah, Aku Emang Sayang Sama Kamu, Tapi, Sorry, Aku Cuma Anggap Kamu Seperti Adik Aku Sendiri. Jadi, Kamu Jangan Salah Artikan Semua Perhatian Aku Selama Ini Ke Kamu, Aku Hanya Ingin Kamu Menggantikan Sosok Adikku Yang Meninggal Karena Kecelakaan Itu Aja Yang Aku Inginkan" Jelas Kevin.
"Kalau Kamu Mengharapkan Lebih Dari Itu, Maaf, Aku Gak Bisa" Lanjut Kevin.
"Maaf Yah, Ren, Aku Mau Jemput Lidya Dulu, Dia Udah Nungguin Di Gerbang Sekolahnya, Bye, Adik Manis" Kevin Beranjak Dari Tempat Duduknya Dan Mengusap Lembut Kepala Rena, Lalu Pergi.
Mendengar Jawaban Kevin Tersebut Seketika Membuat Hati Rena Hancur. Perasaan Dia Selama Pada Kevin Begitu Besar, Tapi, Sebaliknya Kevin Hanya Menganggap Rena Seperti Adiknya Sendiri.
"Rasanya Sakit, Vin, Aku Sayang Banget Sama Kamu, Tapi, Malah Kamu Hancurkan Perasaanku Dengan Jawabanmu Itu" Rena Meneteskan Air Matanya Sambil Berjalan.
-
-
"Begitu Ceritanya, Mbak" Rena Mengakhiri Ceritanya.
"Aku Ngerti, Ren, Perasaan Kamu Kayak Gimana. Emang Sih Terkadang Masa Lalu Yang Menyakitkan Itu Selalu Terbayang-Bayang Dipikiran Kita, Setiap Kita Melangkahkan Kaki Kita, Kita Selalu Berpikir Kalau Akhirnya Semua Akan Sama. Tapi, Semua Itu Salah, Tidak Semuanya Berakhir Dengan Cara Yang Sama. Jadikan Masa Lalu Itu Sebagai Pelajaran Buat Kita, Bukan Malah Kita Yang Menutup Diri Karena Masa Lalu Itu. Ingat, Ren, Masa Lalu Itu Hanya Akan Jadi Sejarah Dalam Hidup Dan Jangan Sampai Karena Masa Lalu, Masa Depan Akan Ikut Hancur, Kamu Harus Mulai Menatanya Sekarang" Karin Memberikan Nasehat Pada Rena.
"Apa Yang Dikatakan Mbak Karin Itu Ada Benarnya Juga, Aku Gak Mau Terbayang Terus Dengan Masa Laluku Yang Menyakitkan Itu" Batin Rena.
"Ren, Kejar Cintamu Itu Sebelum Terlambat. Jangan Menunggu Sampai Yudha Mengungkapkannya Sama Kamu, Gak Apa-Apa Kok Kalau Cewek Yang Ngomong Duluan" Karin Memberikan Semangat Pada Rena.
"Kalau Kamu Nungguin Yudha Yang Ungkapin, Terlalu Lama, Kalau Misalkan Ada Cewek Lain Yang Dekati Yudha Dan Sedikit Lebih Agresif Dari Kamu, Terus Menyet Ke Yudha Dan Yudha Terima Cewek Itu, Pupus Harapan Kamu Untuk Dapatkan Cintanya Yudha. Pikirkan Sebelum Semuanya Terlambat, Ren, Semua Keputusan Ada Di Tangan Kamu" Karin Menepuk Pundak Rena.
"Sepertinya Aku Duluan Yang Harus Ngomong Ke Yudha, Semoga Aja, Hasilnya Sesuai Dengan Yang Ku Harapkan Dan Kejadian Waktu SMA Itu Gak Terulang Lagi" Batin Rena Penuh Harap.