
Setelah 10 tahun merantau ke Palembang, akhirnya Panji, ayahnya Rena kembali ke Makassar. "Akhirnya bisa kembali juga kesini, aku udah kangen banget sama Andien, Rena dan Kinal, mereka pasti senang banget aku balik lagi ke Makassar" batin Panji.
*Handphone Panji berdering*
"Iya, Stella sayang, ada apa?" Tanya Panji saat menjawab panggilannya.
"Sayang, kamu udah dimana sekarang? Aku udah kangen banget sama kamu" ucap Stella dengan nada manja.
"Aku udah di pelabuhan, baru aja turun dari kapal" jawab Panji.
"Ya udah kalau gitu, aku tunggu kamu di parkiran, abis itu kita langsung jalan, okey" kata Stella dengan sedikit memaksa.
"Ya udah, tunggu yah" Pani memutus telponnya.
"Tadinya aku mau naik taksi dan langsung Kerumah, ngasi kejutan buat istri dan anak-anakku, tapi, karena Stella udah keburu disini, jalan sama Stella gak ada salahnya" pikir Panji.
Selang 20 menit kemudian, Panji datang dan langsung memeluk Stella yang sedari tadi menunggunya.
"Aku kangen banget sama kamu, sayang" Stella memeluk Panji erat.
"Oh iya, nih.... Oleh-oleh buat kamu, aku sengaja beli buat kamu" Panji memberikannya pada Stella.
"Ya udah, kita jalan sekarang, yuk" ajak Stella. Mobil Stella keluar dari parkiran dan menuju ke suatu tempat yang akan mereka tuju, sebuah penginapan.
Dua hari sebelumnya, Panji sudah booking satu kamar yang akan digunakannya bersama Stella.
"Sayang, malam ini aku khususkan buat kamu" ucap Panji.
"Terus kalau istri kamu nelpon dan nanyain kamu, gimana?" Tanya Stella yang terlihat sedikit panik.
"Kamu tenang aja, aku belum bilang kok sama istri dan anakku kalau aku nyampe hari ini, aku bilangnya besok, jadi, aman kita hari ini" terang Panji.
"Makasih yah, sayang, aku senang dengarnya, bisa lebih puas senang-senangnya sama kamu" Stella tersenyum semringah.
"Sayang, kita singgah makan dulu, yuk, dirumah makan favoritku, enak-enak loh makanannya" pinta Stella.
"Duh... Jangan deh, kamu pesan online aja, makannya di hotel aja, lebih aman, gak apa-apa kan" ucap Panji.
"Kenapa, sayang? Bukannya tadi kamu bilang, kamu belum ngasi tahu istri dan anak kamu, kalau kamu udah nyampe Makassar? Apa yang kamu takutkan sekarang?" Stella bertanya-tanya.
"Iya, emang, cuma yang aku takutkan, kalau misalkan keluargaku atau keluarga istriku, melihat kita jalan berdua, kacau jadinya" Panji memberikan penjelasan pada Stella.
"Aku takut aja nanti ada yang kenali aku" lanjut Panji.
"Kita harus main halus, sayang, kamu pasti ngerti maksud aku" Panji menambahkan.
"Iya juga sih, sayang, benar kata kamu" Stella mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Maaf yah, sayang, aku gak kepikiran sampai situ" kata Stella. Panji hanya tersenyum.
Selang 45 menit kemudian, Panji dan Stella sampai di hotel yang telah di booking Panji. Namun, dari kejauhan, tanpa disadari oleh Stella, ada seseorang yang melihatnya, Yudha. Yudha benar-benar dibuat terkejut. Stella bergandengan mesra dengan laki-laki yang jauh lebih tua dari Stella.
"Haah! Stella? Ngapain dia jalan sama laki-laki yang jauh lebih tua usianya dari dia? Mana mesra banget lagi gandengnya?" Yudha bertanya-tanya dalam hatinya.
"Laki-laki itu lebih pantas jadi ayahnya dibanding pacarnya" pikir Yudha.
"Tapi, sebaiknya jangan pikir macam-macam dulu, siapa tahu itu beneran ayahnya, cuma mungkin dulu waktu dekat sama Stella gak sempat ketemu ayahnya" Yudha berusaha untuk berpikir positif.
"Yud, udah semua nih, kita balik sekarang kerumah" Rena memasukkan semua belanjaan yang dibawanya kedalam mobil.
"Eh... Kamu, Ren!" Yudha terkejut.
"Ayo, kita balik, aku udah selesai belanjanya" kata Rena. Yudha segera beranjak dan masuk ke mobil.
"Yud, kamu tuh lagi liatin apa sih? Serius banget kamu, sampai gak dengar aku ngomong" tanya Rena.
"Oh.... Itu, Ren, tadi aku gak sengaja lihat Stella jalan sama laki-laki terus mereka masuk ke hotel yang didepan minimarket tadi" terang Yudha.
"Terus, kamu jealous gitu? Lihat Stella jalan sama laki-laki lain?" Selidik Rena.
"Apa jangan-jangan kamu masih sayang lagi sama Stella dan belum bisa move on dari dia" Rena sedikit curiga.
"Enak aja, gak lah, Ren, aku tuh sayangnya cuma sama kamu" Yudha menepis kecurigaan Rena.
"Gini loh, Ren, maksudnya itu, aku heran aja lihat Stella itu jalan sama bapak-bapak, mana mesra banget lagi. Maksud aku, apa segitu putus adanya dia karena gak ada satupun cowok yang seumuran dengannya yang mau sama dia, sampai beralih ke laki-laki tua dan terlihat lebih pantas jadi ayahnya dibandingkan pacar" lanjut Yudha.
"Atau bisa jadi itu ayahnya Stella lagi? Cuma akunya yang gak sempat ketemu dulu" Yudha menerka-nerka.
"Kalau ayahnya Stella gak mungkin deh, soalnya ayahnya udah meninggal 4 tahun yang lalu karena kecelakaan" kata Rena.
"Udahlah, Yud, gak usah dipikirin, terserah dia mau pacaran sama siapa bodo amat lah" lanjut Rena.
*Handphone Rena berdering*
"Halo, Man, ada apa?" Tanya Rena Diujung Telpon.
"Mbak Rena lagi dimana?" Amanda berbalik bertanya.
"Lagi dijalan mau pulang kerumah sama Yudha" jelas Rena. Rena mendengar suara Amanda sedikit bergetar, seperti orang ketakutan.
"Man, kamu gak kenapa-kenapa kan? Soalnya aku dengar sekilas, suaramu bergetar gitu" Rena ingin memastikan kalau Amanda baik-baik saja.
"Mbak, aku takut, tolongin aku" suara Amanda semakin bergetar.
"Amanda, kamu tenang yah, aku sama Yudha bakal nolongin kamu, sekarang kamu share lokasi kamu, okey" Rena mencoba menenangkan Amanda.
"Kamu tetap disitu sampai kita datang, jangan kemana-mana" Rena langsung memutus telponnya.
"Ada apa, Ren? Amanda kenapa? Apa Amanda dalam bahaya?" Yudha terlihat panik.
"Sepertinya sih gitu, Yud, tapi, aku udah minta Amanda untuk share lokasinya dia, supaya kita bisa jemput dia" kata Rena. Selang beberapa menit kemudian, Rena menerima pesan dari Amanda via WhatsApp.
"Yud, ini Amanda udah kirim lokasinya dia" Rena menunjukkannya pada Yudha. Yudha menepi sejenak, untuk melihat lokasi yang dikirim Amanda pada Rena.
"Ini sih gak jauh dari sini, aku tahu jalan pintasnya, supaya kita bisa cepat sampai disitu" Yudha memberikan handphone Rena kembali dan melanjutkan menyetir.
"Semoga aja Amanda gak kenapa-kenapa, aku takut terjadi sesuatu sama dia" Yudha terlihat makin panik.
"Kamu tenang, Yud, Amanda pasti akan baik-baik saja" Rena mencoba menenangkan Yudha.
"Kamu harus tetap fokus ke jalan, kalau gak, nanti kamu bisa nabrak" Rena mengingatkan.
Sekitar 15 menit perjalanan, mereka sampai di lokasi tersebut.
"Yud, itu dia disana, yang pake sweater pink" Rena menunjuk seseorang yang berdiri dibawah pohon.
"Amanda!" Rena melambaikan tangannya dan memberi isyarat agar segera naik ke mobil. Setelah Amanda naik, mobil Yudha kembali melaju.