I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Rumah kayu


Mobil Laura berhenti dipinggir tempat biasa dia parkirkan mobilnya kalau kesini. Tangan kanan Laura membawa serangkaian bunga. Dia berjalan menghampiri sebuah batu nisan yang tertulis Antonius Vero.


Laura berlutut, menaruh serangaikan bunga itu. Tangannya memegang batu nisan dengan pelan.


"Pa, Ara kangen sama papa," lirih Laura. Setelah pernikahan Alma dengan Arief, Laura sudah tidak pernah ke sini lagi. Baru ini dia sempat menghampiri pemakaman ayahnya.


Mata Laura mulai memanas. Dia kangen dimasa ayahnya selalu mengelus-elus rambutnya, selalu mengingatkan makan ketika dia baru pulang sekolah, dan sebagainya. "Sekarang mama udah punya pengganti papa. Tapi, dihati Ara masih ada papa. Gak ada yang bisa gantiin papa sampai kapan pun. Ara kangen.. banget sama papa. Oh ya, Ara sekarang punya kakak. Dia bermuka dua, pa. Dia selalu jahatin aku kalo dibelakang orang-orang. Aku gatau mau cerita ke siapa. Aku takut."


Air mata Laura lolos begitu saja. Tangannya masih mengelus batu nisan ayahnya.


Mungkin di sekolah Laura selalu terlihat anak yang ceria. Tidak ada yang tau bagaimana keadaan Laura yang sebenarnya. Hatinya terluka.


"Pa, Ara gak bisa lama-lama. Aku pulang dulu ya," ucap Laura sambil menghapus air matanya. Setelah itu dia berdiri perlahan menuju mobilnya.


*


Dert


Laura menoleh ke arah ponselnya yang memunculkan sebuah notifikasi. Disana terdapat nama 'Nathan gans'


Awalnya Laura malas untuk membalas pesan itu. Tapi, ada rasa penasaran yang membuatnya ingin melihat pesan dari Nathan.


Nathan gans.


Ra, sorry td gw mrh².


Gk seharusnya gw ngmng gt.


Tanpa disadari Laura tersenyum samar. Tuh cowo bisa minta maaf juga ternyata. Dikira cowo model kayak Nathan akan ogah-ogahan untuk minta maaf.


Laura.


Iya.


Laura menaruh kembali ponselnya, lalu fokus mengendarai mobilnya menuju rumah.


Mini Cooper Laura terparkir di basement rumahnya. Dia berjalan masuk ke rumahnya, menuju kamarnya.


Laura mengecek notifikasi di ponselnya. Disana ada pesan dari Nathan dan juga dari Adriel. Tentu saja, Laura membalas pesan dari Adriel terlebih dahulu.


Adriel.


Ra, bsk mau jalan?


Laura.


Boleh.


Kebetulan besok adalah hari sabtu, jadi Laura bisa pergi bersama dengan Adriel. Disamping itu, Laura lupa untuk membalas pesan Nathan karena dia langsung saja mematikan layar ponselnya. Dia memilih untuk mandi karena badannya sudah lengket karena keringatan.


Ketika Laura baru saja keluar dari kamar mandinya, dia mendengar ada getaran dari ponselnya. Dengan cepat, dia meraih ponselnya, lalu mengangkat telepon itu tanpa melihat nama si penelepon.


"Halo?"


"Hai."


Laura menjauhkan ponselnya, lalu melihat nama dari penelepon. 'Nathan gans'


"Kenapa?"


"Lagi bosen. Temenin dong," minta Nathan dengan nada manjanya.


Laura memutar bola matanya malas. Dia berjalan menuju kasurnya. "Main game aja sono. Ngapain juga telepon gue."


"Maunya telepon lo."


Jantung Laura terasa cenat-cenut. Kenapa Nathan selalu membuatnya seperti itu? Kenapa cowo lain gak bisa membuat Laura merasakan ini?


"Basi! Demen amat sih lo gombalin gue?!"


"Canda. Lagi apa lo?"


Laura membaringkan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamarnya. "Tiduran."


"Bisa keluar gak sekarang?"


Mendengar pertanyaan dari Nathan, Laura sedikit tersentak. "Hah? Ngapain?"


"Jalan. Mau ya.." mohon Nathan seperti anak kecil.


"Hmm."


"Yauda. Gue otw naik motor ya, siap-siap."


Laura berjalan menuju lemarinya, mencari hoodie miliknya. Malam itu dia menggunakan kaos, dan celana pendek. Dan ditambah hoodie oversize berwarna kuning.


Nathan gans.


Gw udh di dpn rmh lo.


Dengan cepat, Laura berlari kecil menuruni anak tangga rumahnya. Dia melihat ada Olin yang sedang berduduk manis di ruang tamu, sambil menonton drakor di televisi.


"Mau kemana lo?!" tanya Olin yang masih fokus menonton drakor.


"Keluar." Laura tetap berjalan agar Olin tidak bertanya lebih jelas.


Laura melihat Nathan yang sedang duduk di motor ninja miliknya. Cool, satu kata yang terlintas dipikiran Laura.


"Hmm," deham Laura membuat Nathan menoleh ke arahnya.


"Udah siap?" tanya Nathan sambil tersenyum samar. Tidak menyangka kalau Laura akan mengiyakan ajakannya.


"Mau kemana?"


"Naik aja," suruh Nathan yang sudah siap melajukan motor ninjanya.


Selama diperjalanan, Laura sibuk merhatikan jalanan disekitarnya. Sedangkan Nathan, dia fokus mengendarai motornya. Sesekali Nathan melihat Laura dari kaca spion motornya.


"Ngapain ke sini sih?!" dumel Laura sambil memukul pundak Nathan cukup keras.


Nathan terkekeh. Melihat wajah Laura yang sedang ketakutan. "Sama bu Ani gak takut, kayak gini doang takut. Cupu!"


Laura tidak senang mendengar perkataan Nathan. Dia langsung saja mendorong kasar kepala cowo didepannya. "Rese lo! Cepetan, pergi dari sini. Tau gitu gue gak mau pergi sama lo!"


"Bawel. Turun aja sih, gak ada apa-apa," suruh Nathan yang sudah mematikan mesin motornya.


Wajah Laura berubah menjadi bete. Dari dulu Laura selalu takut dengan kegelapan. Apa lagi suasana sangat sunyi. Gak ada orang selain mereka karena waktu sudah menunjukkan pukul 20:41.


"Gue takut gelap, Nath," lirih Laura. Dia memegang sisi samping hoodienya dengan kencang.


"Ada gue, santai aja. Cepet, turun."


Karena Nathan terus-terusan memaksa, Laura pun menyerah. Mau Laura menolak sampai gimana pun, Nathan pasti tetap memaksa.


Laura menoleh kesana-sini. Rasanya sangat tidak nyaman. Dikira Nathan akan mengajaknya ke tempat yang ramai, atau bagus. Ternyata, malah seperti ini.


"Males deh gue sama lo! Tau gitu, gue gak bakal mau ikut lo lagi!" dumel Laura yang rasa kesalnya belum mereda.


Nathan ikut turun dari motornya, lalu berjalan menuju sebuah tempat kecil yang dibangun oleh batang pohon. Sebut saja rumah kayu.


"Tungguin!" teriak Laura sambil berlari kecil mengikuti langkah Nathan.


"Masuk," suruh Nathan yang mempersilahkan Laura untuk masuk duluan.


Kepala Laura masuk terlebih dahulu, mengecek keadaan didalam sana. Tidak seburuk yang dia bayangkan. Laura pun masuk ke dalam sana, dan diikuti oleh Nathan.


"Kita ngapain sih kesini?" tanya Laura sambil memberani posisi duduknya.


Nathan membaringkan tubuhnya menatap langit-langit rumah kecil dari kayu itu. "Kalo bosen, gue pasti kesini."


Tidak ada sahutan dari Laura. Nathan menoleh ke arah cewe itu. Ternyata, Laura sedang mengamati seisi rumah kecil ini.


"Lo, kenapa mau iyain ajakan gue?" tanya Nathan disela-sela keheningan.


Laura membalas tatapan Nathan. "Gabut di rumah."


Nathan menganggukkan kepalanya pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke atas lagi. "Kok lo mau sih jalan sama gue? Kan kita baru kenal. Lo gak takut gitu?"


"Ngapain takut? Udah biasa kali. Bahkan gue sering pergi sama cowo yang belom pernah ketemu sama sekali," jelas Laura yang mengalihkan pandangannya ke salah satu benda disana.


"Itu apa?" tanya Laura sambil menunjuk ke arah sebuah foto.


Nathan menoleh, lalu merubah posisi tidurnya menjadi duduk. "Mantan gue."


"Oh."


"Nanti, ada saatnya gue cerita. Gak sekarang. Gue gamau terlalu cepet ambil langkah."


Laura mencoba mencerna perkataan dari cowo itu. 'Gamau terlalu cepat ambil langkah' maksudnya gimana?


"Tumben lo gak bawel lagi?" tanya Nathan dengan nada meledek. Ya, memang benar. Tumben banget Laura duduk diam.


"Diem salah, bawel salah. Heran gue mah!"


Nathan tertawa lepas. Laura sangat menggemaskan baginya.


"Besok gak ketemu lo deh sehari," ucap Nathan tiba-tiba, membuat Laura menoleh ke arahnya.


"Hmm?"


"Besok kan sabtu, jadinya gak ketemu. Minggu juga ga ketemu. Bakal kangen gak ya?" iseng Nathan mencoba menggodai cewe disebelahnya. Nathan melirik ke arah Laura yang sudah siap dibalas oleh tatapan tajam.


Benar saja, Laura menatap Nathan dengan tajam. "Gak jelas lo!"


Nathan terkekeh. "Mau liat bintang gak, Ra?"


Spontan, Laura mengangguk. Dia ingin melihat bintang. Sebelumnya, dia pernah melihat bintang bersama dengan Anto dan Alma ketika liburan ke Yogyakarta. Hanya itu sekali. Dan mungkin, ini akan menjadi kedua kalinya.


Nathan berdiri dan diikuti oleh Laura. Mereka menaiki anak tangga yang berada diujung rumah kecil itu. Ternyata ada atap yang melihat langsung ke arah langit. Sangat indah. Banyak bintang disana. Ada bulan juga.


Senyum Nathan terukir jelas diwajahnya. Entah bagaimana, perasaan dia jadi senang ketika melihat Laura tersenyum.


"Suka?" tanya Nathan yang masih setia memandangi wajah Laura dari samping.


"Suka," jawab lembut Laura.


Lagi-lagi, Nathan mengembangkan senyumnya. Kapan lagi Laura bisa selembut itu. Biasanya kan kayak toa suaranya.


Layar pada ponsel Nathan menunjukkan pukul 21:56, dia memutuskan untuk mengajak Laura pulang sekarang.


"Ra, pulang yuk," ajak Nathan sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Iya."


Motor Nathan berhenti didepan halaman rumah Laura. Dia mematikan mesin motornya agar tidak menganggu orang disekelilingnya. Walaupun Nathan iseng, dia tidak mau mengganggu disaat seperti ini. Dia masih bisa memilih waktu untuk bercanda.


"Sono masuk," suruh Nathan sambil mendorong pelan tubuh Laura. Sengaja. Nathan sengaja. Ingin membuat Laura marah padanya. Karena Laura sangat menggemaskan kalau sedang marah-marah.


"Apaan sih!"


Nah kan, Laura langsung marah. "Galak," ucap Nathan penuh penekanan.


"Lo sono yang pergi! Ini kan rumah gue! Hush," usir Laura sambil mengibaskan tangannya, menyuruh Nathan segera pergi.


"Ya ya." Nathan menyalakan kembali mesin motornya, dan bergegas pulang.


Tanpa disadari, Laura menatapi punggung Nathan sampai tidak terlihat. Nathan berhasil menghiburnya malam ini. Makasih, Nath.


Semoga suka ya💘


Dishare ke temen-temen kalian ya..


Like dan komen, tunggu episode berikutnya👋🏻