I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
UTS


Laura sama sekali tidak membuka bukunya. Seperti biasanya, dia tidak akan belajar untuk UTS. Hanya bisa mengandalkan teman-teman pintar di ruangannya.


"Gue ke ruangan gue ya, semangat ujiannya," ucap Nathan sebelum beranjak dari ruang ujian Laura, dan dibalas anggukkan oleh Laura.


Walaupun absen mereka berjarak dekat, tapi keberuntungan tidak lagi bersama dengan mereka. Ruangan mereka terpisah dengan tembok. Laura di ruang 4 sedangkan Nathan di ruangan 5 bersama dengan Olin. Iya, Olin.


Selama ujian Laura terus menoleh ke kanan-kiri, berharap ada yang bisa membantunya. Soal matematika mampu membuat otak Laura mumet seketika. Dia tidak mengerti apa pun.


"Shh." Laura melambaikan tangannya di udara, berusaha memanggil teman yang duduk di pojok kiri. Ketika temannya menoleh ke arahnya, mulut Laura membentuk sebuah kalimat yang tidak bersuara. 'Bagi jawaban semua'.


Setelah mendapat hampir semua jawaban, Laura menaruh kepalanya ke atas meja dengan tumpuan tangannya. Senyumnya terukir ketika membayangkan momen semalam. Sangat indah.


"Laura, udah selesai kamu?" tanya pak Budi sambil menujuk ke arah kertas ujian Laura. "Jangan tidur-tidur di meja!"


"Iya, pak," jawab malas Laura. Dia merubah posisi duduknya menjadi tegak. Ganggu aja nih guru!


Kring kring


Kaila menghampiri Laura yang sedang sibuk mengisi jawaban yang masih kosong. "Lagian bukan dari tadi kelarin. Lo nanya ke Resa ya? Tadi mah nanya gua aja."


"Lo duduk didepan, gimana manggilnya," gumam Laura yang masih sibuk mengisi jawaban dengan asal.


"Kaila, jangan bantuin temannya!" teriak pak Budi yang sedang mengumpulkan lembar ujian murid lainnya.


"Iya, pak." Kaila menunjuk berapa jawaban, membantu Laura. "Tuh udah gue kasih tau. Gue tunggu didepan ya."


Laura menganggukkan kepalanya, dengan cepat dia menghitamankan jawabannya sesuai petunjuk Kaila.


Kini mereka ber4 sudah duduk di kursi kantin, dengan makanan yang sudah mereka pesan.


"Nathan gak samperin lo?" tanya Claretta sambil melahap makanannya.


Laura tidak membuka suaranya. Dia hanya menaikkan kedua bahunya sambil menggeleng pelan.


"Hmm.. Ra, tadi gue denger Nathan mau belajar sama Olin di perpus," ucap Nadine pelan-pelan. Ketika bel istirahat tadi, dia gak sengaja dengar obrolan Nathan dan Olin yang seruangan dengannya. "Jangan cemburu ya."


Claretta dan Kaila langsung menoleh ke Laura kompak. Mereka yakin, mood Laura pasti memburuk sekarang.


"Oh," jawab singkat Laura sambil melanjutkan kegiatan makannya.


Bener Nathan temenin Olin? Laura harus membuktikannya sendiri. Dia mempercepat lahapan makannya.


"Gue duluan," pamit Laura yang langsung pergi meninggalkan kantin. Dia tidak langsung balik ke ruangan ujiannya, tapi ke perpustakaan.


Langkah Laura berhenti didepan pintu perpustakaan. Dia harus siap dengan kenyataan nanti. Entah apa yang akan dia lakukan kalau perkataan Nadine benar. Marah? Gak mungkin.


Tidak mau menunggu lama, Laura membuka pintu perpustakaan dan melangkah masuk kesana. Dia merhatikan tiap sudut ruangan, mencari orang yang dia cari.


Tatapan Laura melemah ketika melihat sosok Nathan sedang membaca buku yang duduknya berhadapan dengan seorang cewe. Apa benar cewe itu Olin? Dan alasan apa yang Nathan akan jelaskan nanti? Seharusnya dia bilang dulu, tapi kenapa langsung kesini sama cewe itu?! Pikiran Laura sudah kemana-mana.


"Nath," panggil Laura.


Sontak Nathan dan cewe itu menoleh. Dan benar, dia Olin. Sesuai dengan perkataan Nadine tadi.


"Ra? Lo gak ke kantin?" tanya Nathan sambil berdiri dari posisi duduknya.


Mata Laura mengalih ke Olin. Cewe itu tersenyum miring seperti menunjukkan kemenangan.


"Dia disuruh belajar sama gue. Gak usah cemburu." Suara Olin terdengar tenang. Dia kembali melanjutkan kegiatannya, membaca beberapa materi yang tertinggal.


Laura tersenyum bentar, lalu kembali menatap Nathan. "Gue balik ke kelas duluan."


Nathan meraih tangan Laura. Dia tau Laura cemburu. Terlihat dari tingkahnya barusan. "Gue ikut."


Olin langsung saja melihat ke arah mereka. Rasa kesal kini menaik. "Lo kan disuruh belajar. Ngapain ikut dia?" Suara Olin meninggi.


"Gue belajar di kelas aja," jawab Nathan sambil menarik tangan Laura keluar dari perpustakaan.


"Jangan lupa, abis UTS kita harus kelarin tugas yang dikasih kepala sekolah," teriak Olin mengingati Nathan. Dia tidak sabar UTS berakhir. Mengerjakan tugas ber2 dengan Nathan tiap pulang sekolah, yang membuat dia semakin gampang mengambil perhatian Nathan.


Laura berhenti yang membuat langkah Nathan ikut berhenti. "Kenapa?" tanya Nathan.


"Lo gak ganggu, Ra. Gue bisa belajar di kelas. Gak harus sama dia kan?" Kini suara Nathan meninggi. Dia tidak mau pacarnya salah paham. "Maaf. Tadi gue gak sempet ijin sama lo. Soalnya bu Ani nyuruh langsung ke perpus," jelas Nathan tak mengalihkan matanya dari Laura.


Laura menganggukkan kepalanya. "Gue paham. Lo balik ke perpus aja, gapapa. Serius." Kalimat ini berbalik dari kata hatinya. Laura ingin menyuruh Nathan belajar di kelas saja. Tapi dia tidak boleh egois. "Kasihan dia sendiri."


"Yauda deh. Nanti pulang sekolah jangan langsung balik. Gue anter." Perlahan dia melepas genggaman tangannya. "Semangat ujiannya."


"Iya," jawab Laura dengan senyum singkat. Senyum yang terpaksa. Dia melihat punggung Nathan yang berjalan balik masuk ke perpustakaan.


"Ngapain sih lo ngalah?" Suara Claretta membuat Laura sadar dari lamunannya. "Kesel gue jadinya. Harusnya lo larang dia balik. Kenapa lo jadi nyuruh dia balik?!"


Laura tidak merespon. Pikirannya masih bersama Nathan.


"Kasih tau gue, kenapa lo ngalah?" tanya Nadine yang juga kesal.


Kaila hanya diam mendengarkan mereka. Tidak berani terlalu banyak ikut campur dengan hubungan temannya. Cukup mendengar, dan ketika memiliki saran, dia ucapkan.


"Nanti kapan-kapan gue kasih tau," jawab Laura pelan. Baru kali ini dia lemah karena percintaan. Biasanya cowonya yang lemah karena Laura.


Langkah keempatnya terhenti ketika Kevin memanggil nama Laura.


"Kenapa?" tanya Laura yang pandangnya entah kemana. Yang penting dia tidak melihat Kevin sekarang.


Kevin memberikan sebuah botol air. "Semangat ujiannya ya, Ra."


Ke4 cewe itu terkejut. Aneh. Ngapain Kevin seperti ini?


"Makasih. Minumnya buat lo aja," ucap Laura dingin. Moodnya sudah kacau. Tidak ada niat banyak bicara sekarang.


Kevin meraih tangan Laura, memindahkan botol yang dia genggam ke tangan Laura. "Jangan nolak."


Claretta buru-buru menarik tangan Laura, menjauh dari Kevin. Nadine dan Kaila hanya mengikuti temannya dari belakang.


Ketika sudah menjauh dari Kevin, Claretta melepas genggaman itu. "Ra, Kevin suka sama lo."


"Hmm.. so?" Laura bergumam malas. Hal seperti ini sudah biasa dia dapatkan. Terlebih lagi sebelum Nathan masuk ke sekolah ini. Cowo-cowo berlomba mencari perhatiannya.


Claretta berdecak sebal. "Bikin Nathan cemburu! Lo gak boleh cemburu sendirian!"


"Gue setuju," sahut Nadine sambil mengangkat jempol kanannya.


"Males," jawab Laura sambil melangkah meninggalkan mereka.


"Lo gak perlu ngapa-ngapain. Nanti gue yang panasin Nathan. Gue yang bilang," kata Nadine semangat. Dia tidak sabar melihat reaksi Nathan akan seperti apa.


*


"Ra, ayuk balik," ajak Nathan yang baru saja menginjak ruang ujian Laura.


Laura mengangguk pelan. "Iya, bentar." Dia berjalan menghampiri Nathan, sebelum itu melewati meja Kaila dan berpamitan dengan temannya.


"Tadi Kevin ngasih lo minum? Terus nyemangatin ujian?" tanya Nathan ketika mereka sudah berada di mobil. Dia takut kejadian dulu keulang lagi.


"Nadine yang bilang?" tebak Laura yang teringat dengan ucapan Nadine ketika istirahat tadi.


Nathan melajukan mobilnya sambil sesekali menoleh ke arah Laura. "Iya, dia yang bilang. Bener?"


"Iya," jawab singkat Laura tak berekspresi. Sekilas dia menoleh ke arah cowonya, mencari tau ekspresi apa yang ditunjukkan cowo itu sekarang.


"Gue gak suka. Besok-besok jangan terima minum dari dia," ucap dingin Nathan. "Gue juga bisa beliin lo minum. Mau berapa? 1 galon tiap hari? Gue bawain!"


Laura tersenyum samar. Nathan terlalu posesif. Tapi dia senang. "Hmm."


Enak ya jadi Nathan, bisa mengungkapkan rasa cemburunya. Sedangkan dirinya? Selalu gagal. Entah Nathan sadar atau tidak kalau tadi dia cemburu melihatnya belajar dengan Olin di perpustakaan.


Jangan lupa like sama komen😊


Makasih yang udah baca.


Ditunggu ya part selanjutnya.