
*kejadian setelah Laura pulang*
"Tuh anak beneran mau les?" Ethan kini yang paling heran diantara mereka. Seorang Laura yang sangat malas itu mau les? Keren!
Nathan terkekeh. "Sirik amat lo." Dia meraih tasnya berniat untuk bergegas pulang.
"Nath, gue bareng ya," minta Olin dengan senyumnya. Ini lah caranya untuk menarik perhatian Nathan.
Ketiga cewe yang sudah bosan melihat tingkah cewe caper, segera berjalan meninggalkan kelas tanpa pamit. Sudah muak melihat tingkah-tingkah cewe di sekolahnya yang selalu caper sama cowo.
"Duluan ya, Nath," pamit Ethan lalu menepuk pundak Nathan sekali. Dia tidak mau seperti Bima yang selalu menjadi korban.
Kini kelas tinggal mereka berdua saja. Nathan berniat untuk menolak dan mengabaikan Olin. Entah gimana caranya.
"Nath, bareng ya," mohon Olin sambil menarik-naik hoodie yang Nathan pakai. Mungkin sekarang cowo itu lebih sering menolaknya, tapi nanti dia pastikan, Nathan tidak akan pernah menolaknya lagi.
Nathan memutar bola matanya malas. "Pulang sendiri aja." Pandangannya sama sekali tidak mengarah kepada Olin.
"Gue gatau mau pulang sama siapa. Supir gue lagi anter bokap. Terus gue gak berani naik taxi online," jelas Olin dengan nada seperti anak kecil. Mungkin kalau Olin berbuat seperti ini ke cowo lain, cowo itu sudah baper. Tapi sayangnya ini tidak berlaku ke Nathan. Nathan lebih suka memperjuangkan dibandingkan diperjuangkan.
Sangat risih rasanya ketika melihat cewe yang gak disuka kayak gini. Seandainya Laura yang kayak gini, pasti Nathan langsung mengantarnya. Kemana pun itu.
"Siapa suruh lo gak bareng Laura?!" Nathan mulai frustasi. Olin selalu menganggunya.
Olin menundukkan kepalanya. "Kan gue pernah bilang. Gue gak suka wangi-wangian mobilnya."
"Lo pulang sama siapa kek lah! Jangan gue," ucap Nathan setengah berteriak. Olin yang gak bisa pulang, kenapa jadi dia yang ribet?
"Gue kan belom kenal siapa-siapa. Please, anterin gue balik," lirih Olin dengan senyumnya. Kalau saja bukan Nathan, dia tidak mau rela-rela merengek seperti ini.
"Yauda! Terakhir!" tegas Nathan dengan serius.
*
Tok tok tok
"Permisi."
Alma berjalan membukakan pintu. Disana ada seorang cowo yang sepertinya anak dari temannya. "Kamu Martin ya?" tanya Alma dengan senyum ramahnya.
Martin mengangguk dan membalas senyum Alma. "Saya Martin, tante."
"Iya, silahkan masuk. Gurunya sudah datang."
Martin berjalan mengikuti langkah Alma. Dari kejauhan dia sudah melihat ada dua cewe yang sedang fokus melihat ke buku yang ada di meja. "Misi."
Laura mengerutkan alisnya. "Lo?" Sepertinya dia pernah liat cowo itu. Dimana ya? Hmm.. Club? Iya! Di club!
"Loh? Kalian saling kenal?" tanya Alma dengan bingung. Mereka tidak satu sekolah, dan juga mereka belum pernah ketemu setau Alma.
Martin mencoba mengingat kembali. Dimana dia bertemu dengan cewe ini. Seiingatnya, cewe ini bukan deretan dari gebetan yang dia PHP-in. Berarti dia masih aman.
"Kita ketemu dimana ya?" tanya Martin hati-hati. Dia sungguh tidak ingat. Terlalu banyak wajah cewe yang terdeteksi di matanya.
Laura tidak menjawab. Tidak mungkin dia bilang mereka bertemu di Club didepan mamanya. Bisa-bisa dia diomelin abis-abisan.
"Kalian mulai aja belajarnya, kasihan tuh gurunya udah dateng dari tadi," suruh Alma sambil menarik kursi disebelah Laura, mempersilahkan Martin duduk disana.
Pandangan Martin masih tertuju pada Laura. Boleh juga nih cewe. Cantik. Kebetulan kan nanti pergi bareng ke Jerman.
"Hmm," deham bu Yuna memecahkan keheningan diantara mereka. Dia menatap kedua anak itu bergantian.
Martin memperbaiki posisi duduknya, menghadap lurus ke arah bu Yuna. "Saya Martin, bu."
"Saya bu Yuna. Mari kita mulai belajarnya." Bu Yuna membawa fokus mereka ke buku yang selalu dia bawa kalau ingin mengajar muridnya. Sudah hampir 3 tahun dia mengajar berbagai murid.
Ditengah proses pembelajaran, Laura menjadi tidak fokus karena mendengar suara motor dari luar rumahnya. Siapakah yang datang?
Dengan penuh usaha, Laura mencoba tetap fokus kepada bu Yuna dan bukunya. Menit berikutnya, Laura bisa mendengar samar-samar perbincangan beberapa orang disana. Akhirnya, rasa penasarannya semakin besar. Dia menoleh ke arah pintu yang cukup jauh tapi masih bisa terlihat. Disana ada seorang cowo bersama dengan kakak tirinya.
"Laura?" panggil bu Yuna membuat Laura tersentak kaget.
Martin yang dari tadi fokus memahami beberapa kata yang dia tulis, menjadi ikut menoleh ke arah Laura.
"Hmm? Maaf," ujar Laura sambil kembali melihat bukunya. Dia tidak salah lihat kan? Tadi itu, Nathan. Nathan yang berdiri dengan Olin.
Proses pembelajaran akan berakhir 15 menit lagi. Pikiran Laura sudah jauh kemana. Dia sudah tidak bisa fokus ketika melihat kehadiran Nathan.
"Coba, sebelum les hari ini berakhir, saya mau kalian perkenalin diri kalian pakai bahasa Jerman. Sesuai yang saya ajarkan tadi," minta bu Yuna sambil melipat kedua tangannya diatas meja.
Martin melirik ke arah Laura, menunggu sampai cewe itu berbicara duluan. Tapi ternyata Laura tak kunjung bicara. Cewe itu diam dengan tatapan kosong.
Bu Yuna menganggukkan kepalanya. "Sekarang kamu Laura."
Laura menelan salivanya. Dia tidak mengerti bagaimana cara membacanya. Ketika dijelaskan tadi, Laura terlalu fokus dengan Nathan yang menyangkut di pikirannya. "Hmm.. i-ich haibe-"
"Cara baca kamu salah, Laura.." Bu Yuna menggelengkan kepalanya heran. Padahal ini masih gampang. Belum sampai ke kalimat yang susah.
Martin terkekeh pelan. Dia melihat Laura dengan wajah meledek. Alhasil, dia mendapat tatapan tajam dari cewe itu.
"Saya lagi kurang fokus, bu. Janji, besok saya akan lebih fokus," kata Laura sambil tersenyum kaku. Sangat susah baginya kalau tidak pernah niat belajar, tiba-tiba keadaan menyuruhnya untuk belajar. Terlebih lagi dia adalah tipe anak yang malas untuk belajar.
Bu Yuna memahaminya, mungkin Laura memang butuh waktu untuk beradaptasi. "Baik. Kalau gitu proses pembelajaran hari ini sampai sekian dulu. Besok jam empat saya kesini lagi."
"Makasih, bu." Laura tersenyum tipis dan membiarkan bu Yuna berjalan keluar sendiri, karena sudah ada Alma yang duduk di ruang tamu sana.
Martin masih terdiam di posisi awalnya, dia tidak berdiri untuk pulang. Menunggu sampai Laura berbicara dengannya.
"Nunggu apa? Pulang gih, udah sore," suruh Laura sambil menaruh beberapa buku ke tangannya.
"Iya ini gue mau balik. Tapi, tolong anterin gue ke depan," minta Martin dengan alis yang terangkat.
Laura menghela nafasnya pelan. "Yauda, gc."
Martin mengikuti langkah Laura dari belakang. Senyum yang dia tahan dari tadi akhirnya terlihat jelas. Langkahnya terhenti karena Laura tidak melanjutkan langkahnya lagi. "Kenapa?"
"Ra?"
"Lo anterin Olin?" tanya Laura sambil melihat ke arah Nathan dan Olin bergantian. Dia tersenyum miris. Laura akui, sekarang dia sedang cemburu.
Nathan melangkah maju mendekat ke Laura. "Iya, katanya dia gatau mau balik sama siapa. Lo abis ngapain? Dia siapa, Ra? Katanya lo ada les?" Pandangan Nathan teralih pada sosok cowo yang sedang berdiri disamping cewenya.
Ingin marah tapi gak bisa. Hanya bisa cemburu dalam diam. Seharusnya Nathan jangan mengantar Olin pulang. Dengan cara seperti itu saja, Nathan sudah membuat Olin berharap lebih.
"Gue anter dia dulu ke depan." Tanpa menjawab pertanyaan dari Nathan, Laura langsung saja berjalan menuju halaman depan rumahnya. Dan diikuti oleh Martin.
"Makasih," kata Martin setengah berbisik. Dia melambaikan tangannya sambil berjalan menuju mobilnya.
Laura hanya membalas dengan senyum tipisnya, setelah itu berjalan kembali masuk ke rumahnya. Dia mengabaikan Nathan dan Olin begitu saja. Cewe itu berjalan cepat menaiki anak tangga. Bahkan Nathan sudah memanggil namanya berkali-kali, Laura tidak meresponnya.
Yang membuat Laura kesal adalah, kenapa Nathan mau anter Olin? Emang dasarnya Nathannya juga yang mau-an! Setelah dipikir-pikir, cowo itu memang semuanya sama.
Dert dert dert
Tangan Laura meraih ponselnya yang terletak tidak jauh dari posisi tidurnya. Disana ada pesan yang masuk.
Nathan gans.
Knp Ra?
Cemburu ya?
Gw cmn anter dia doang kok, g lbh.
Laura menekan tombol off dibagian kanan ponselnya. Sekarang niat untuk bersikap baik ke Nathan jadi hilang beberapa persen. Dia takut akan sakit hati nantinya.
*
Memasak adalah kegiatan sehari-hari bagi Alma. Setiap pagi, dia pasti masak untuk keluarganya. Tidak hanya pagi, sore pun sama.
"Sayang, ayuk sarapan," panggil Alma setengah berteriak. Seharusnya mereka masih bisa mendengar suara Alma walaupun hanya terdengar samar-samar.
Laura yang baru saja memakai sepatunya, dia segera meraih tas dan ponselnya, lalu bergegas menuju ruang makan.
"Pagi," sapa Laura kepada tiga orang yang sudah duduk lebih dulu darinya. Dia menarik kursi yang berhadapan langsung dengan Olin. Ini pun terpaksa. Kalau saja Alma tidak memaksanya untuk terus bergabung sarapan, dia tidak akan mau bergabung dengan sendirinya.
"Pagi sayang," sahut Alma dengan senyum hangatnya.
"Pagi," sambung Arief. Dia melanjutkan lagi kegiatan makannya.
Olin menatapnya tidak suka. Kehadiran Laura sungguh membuat selera makannya berkurang.
"Gimana sekolah?" tanya Arief kepada keduanya. "Olin nyaman sama sekolah sekarang?" tanya Arief setelah melahap sesendok nasi.
"Nyaman kok, pa," jawab Olin sambil melirik ke arah Laura sambil tersenyum miring.
Gimana nih kelanjutannya?
Tunggu di part selanjutnya!
Like dan komen ya❣️