I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Perasaan baru


Setelah menatap punggung Alma yang perlahan menghilang, Olin pun memberanikan dirinya untuk menciptakan obrolan terlebih dahulu.


"Temenin gue keliling dong," ajak Olin kepada keduanya. Lebih tepatnya kepada Nathan. Dia hanya mentatap Nathan, dan hanya berharap Nathan yang akan menemaninya.


Laura menghela nafasnya, lalu memilih untuk berjalan meninggalkan mereka.


"Mau kemana?" tanya Nathan yang berhasil mencegah kepergian cewenya.


"Lo temenin dia aja! Gue mau ke kantin!" Laura sama sekali tidak menatap ke arah Olin. Kalau melakukan itu sama saja membuat dirinya semakin emosi. Tanpa banyak bicara lagi, Laura langsung saja melangkahkan kakinya pergi. Walaupun hatinya ingin mengajak Nathan ke kantin bersamanya.


Langkah Laura sudah agak jauh dari mereka. Tapi Nathan tak kunjung mengejarnya. Kenapa Laura jadi ingin dikejar oleh Nathan? Duh! Perasaan apa ini! Perlahan Laura menolehkan sedikit kepalanya, dia masih bisa melihat keduanya dari jauh. Mereka masih berbincang. Mood Laura mendadak buruk. Dia tidak berjalan menuju kantin, melainkan menuju roof top.


Nathan menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal. Dia bingung ingin beralasan apa agar bisa meninggalkan Olin tanpa rasa tidak enaknya. Ingin sekali mengejar Laura yang berjalan menuju kantin sendirian. Tapi dia tidak bisa meninggalkan Olin sendirian. Karena Olin baru pertama kali kesini.


Kebetulan. Ada Bima lewat! Bagus-bagus!


"Bim, sini deh," panggil Nathan sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi.


Bima menurut saja. Dia berjalan menghampiri Nathan. "Kenapa?"


"Tolong temenin dia keliling sekolah ya. Dia murid baru. Gue mau nyusul Laura," minta Nathan sambil memukul pundak Bima. Tanpa menunggu jawaban dari Bima, Nathan langsung saja berjalan cepat menuju kantin.


Olin menghela nafasnya pasrah melihat Nathan yang lebih memperdulikan Laura dari padanya.


*


Laura masih memikirkan apa yang sedang dia rasakan. Sungguh aneh. Kenapa Laura jadi sedih seperti ini? Apakah dia sedang cemburu? Tidak mungkin! Laura harus bisa melawan rasa ini.


"Gue kenapa sih.. gak pernah kayak gini kok sebelumnya," gerutu Laura sambil mengacak rambutnya frustasi.


Dia memegang gagang yang menjadi ujung dari tembok yang mengarah ke jalanan dibawah. Terbesit lagi kenangannya dengan ayahnya. Dulu, sebelum ayahnya benar-benar pergi, dia tidak pernah membiarkan Laura sedih seperti ini. Bahkan bisa dibilang Laura termasuk anak yang beruntung. Semenjak Alma menikah dengan Arief beberapa bulan lalu yang membuat sikap Laura berubah menjadi dingin. Tidak seperti dulu dengan Anto, Laura yang hangat.


*


"Serius dia gak kesini?" panik Nathan ketika mereka menjelaskan kalau Laura tidak balik ke kantin lagi setelah kepergian tiba-tibanya tadi. "Terus dia kemana?"


Dengan santai Claretta hanya menaikkan kedua bahunya. "Palingan di kelas, atau gak toilet."


"Tenang aja sih, Nath. Pacar lo gak bakal ilang!" umpat Ethan yang masih menikmati makanannya.


"Bukan gitu. Tapi tadi pas abis ketemu kakaknya, mukanya jadi sedih. Gue takut dia kenapa-napa." Penjelasan Nathan membuat ketiga cewe itu mengalihkan pandangannya. Kakak yang dimaksud Nathan adalah Olin?


"Tadi dia bilang mau kemana?" tanya Kaila dengan cepat. "Lo gak langsung ngikutin dia?!"


Nathan menggelengkan kepalanya. "Tadi gue nyuruh Bima dulu buat nemenin Olin."


Nadine menghela nafasnya kasar. "Duh!"


"Coba cek kelas dulu. Bisa aja dia ke kelas duluan kan? Gak usah panikan deh!" Kini Jason ikut mengeluarkan suara. Dia kesal kegiatan makannya jadi terganggu karena mereka.


Tanpa ba-bi-bu, Claretta berjalan cepat menuju kelasnya. Dia yakin kalau Laura sedang menahan emosinya. Karena setaunya, tujuan Olin pindah sekolah kesini adalah untuk Nathan. Yang paling membuatnya kesal, Laura ingin dia tidak bilang ini ke siapa-siapa. Laura tidak mau nama Olin tercemar di sekolah ini. Segitu baiknya Laura?


Tidak ada. Laura tidak ada di kelasnya. Claretta berlari kecil mencari temannya kesana-sini. Mulai dari toilet, kelas XII-Ips 1, kelas XII-Ipa 1&2. Tujuan terakhir Claretta adalah roof top. Tempat dimana biasanya Laura bolos.


"Ra," panggil Claretta ketika melihat tubuh Laura yang membelakanginya.


"Hmm?"


"Olin kesini?" tanya Claretta dengan hati-hati.


"Ara!!" teriak Nadine dan Kaila bersamaan membuat pertanyaan Claretta terlewatkan.


Laura membalikkan tubuhnya. "Kenapa?"


"Lo bikin khawatir aja!" kesal Nadine sambil mengatur nafasnya yang sudah tidak stabil.


"Apaan?" Laura masih berusaha membalikkan moodnya.


"Nathan sih yang bikin panik. Ribet tuh anak!" dumel Kaila dengan nafas yang terengah-engah.


Laura mengerutkan alisnya. Nathan?


"Oh."


"Ra, lo udah nyaman sama Nathan?"


Pertanyaan dari Kaila membuat keadaan menjadi hening seketika. Ketiganya menunggu jawaban dari Laura.


"Gue gatau. Gue gak yakin sama perasaan gue sekarang. Terlalu banyak perasaan aneh yang muncul bersamaan."


"Itu tandanya?" Suara Kaila terdengar jahil membuat kedua teman yang lain ikut menatap Laura dengan tatapan menggoda.


Bel istirahat telah berakhir. Laura memilih untuk bolos sekolah siang ini. Moodnya yang berantakan sudah sulit untuk disusun kembali. Banyak sekali pertanyaan dipikirannya sekarang. Dia harus menemukan jawabannya satu persatu.


Yang membuat moodnya semakin buruk, karena Nathan tidak sama sekali berusaha untuk menghampirinya. Hati kecilnya ingin sekali balik ke kelas. Tapi lebih besar keinginannya untuk tetap di roof top.


Beberapa menit yang lalu, ketiga temannya memutuskan untuk tetap mengikuti proses pembelajaran. Dan mereka berjanji akan membuat alasan kepada guru-guru mengenai Laura yang tidak kembali ke kelas.


Pandangan Laura kosong. Dia terdiam beberapa saat. Hidupnya sungguh membosankan. Tidak ada yang spesial.


Kurang lebih setelah berdiam diri di roof top selama 4 jam, suara bel pun terdengar samar. Dengan rasa malas, Laura berjalan gontai menuju kelasnya untuk mengambil tas. Dia sengaja melambatkan gerakan jalannya, dengan niat agar teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu.


"Nathan?" Cowo itu menunggunya? Laura mengalihkan pandangannya kepada jam yang melingkar ditangannya. Waktu pulang sekolah sudah lewat 15 menit. Seharusnya Nathan sudah pulang sekarang.


"Dari mana, Ra?" lirih Nathan sambil berdiri dari kursinya. Dia sungguh khawatir. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya.


Dia khawatir? Kalo gak khawatir dia ngapain nungguin? Apa hanya kege-eran? Banyak sekali pertanyaan Laura yang menumpuk dikepalanya.


"Lo ngapain masih di sekolah?" Laura mengalihkan topiknya. Dia melangkah untuk mengambil tas, samping Nathan.


"Nunggu lo! Kemana aja sih? Tadi Retta larang gue buat nyari lo," jelas Nathan yang menjawab salah satu pertanyaan dipikiran Laura tanpa harus ditanyakan secara langsung.


Laura sudah membiarkan tasnya berada di punggungnya, dengan tali yang disangkutkan ke bahunya. Dia melangkah pergi, seakan tidak memperdulikan Nathan.


"Ra, lo kenapa sih? Jangan bikin gua bingung kek." Nathan ikut meraih tasnya dan berjalan menghampiri Laura.


Langkahnya tidak dihentikan. Pandangannya masih fokus ke depan. "Gak usah sok peduli!"


Tangan Laura berhasil diraihnya. Nathan membuat tubuh Laura membalik ke arahnya dengan sebuah tarikan. "Gue peduli sama lo, Ra!"


Laura bungkam. Tidak tau ingin merespon gimana. Apa sungguh cowo di hadapannya ini benar-benar peduli dengannya?


"Ra, kapan sih lo anggap gue serius sama lo?" lirih Nathan. Kali ini dia benar-benar serius. Wajahnya terlihat marah. Entah marah karena apa.


Baru saja Laura ingin menjawab pertanyaan dari Nathan, tapi seorang cewe menghalang itu. Olin berdiri diantara keduanya, yang memaksa Nathan harus melepaskan genggamannya.


"Nathan, gue balik sama lo ya," mohon Olin sambil tersenyum lebar seperti anak kecil. Tentu saja itu tidak membuat Nathan tertarik dengannya.


"Gue ga bisa," jawab dingin Nathan. Pandangan kembali fokus pada cewe yang sudah menjadi pacarnya. "Ra, lo bawa mobil ya?"


Laura mengangguk pelan. Raut wajahnya kembali datar. Setiap ada Olin, membuat dirinya tidak ingin banyak bicara. Sudah lelah dengan semua perbuatan jahat Olin.


"Kalo gitu kalian pulang bareng aja," suruh Nathan. Lebih baik dia berbicara seperti ini dari pada harus mengantar Olin pulang. Demi menjaga perasaan cewenya.


"Duh, gimana ya.. gue gak suka wangi-wangian di mobil dia," alasan Olin sambil berekspresi bingung. Setelahnya dia memang wajah sedih. "Yauda deh, gue balik sendiri aja."


"Lo anter dia aja," ucap Laura yang masih berwajah datar. Walaupun hatinya terasa sakit, dia lebih baik mengalah. Laura berjalan meninggalkan keduanya. Rasanya sangat berat. Moodnya semakin hancur.


Terpaksa Nathan anter Olin karena disuruh oleh Laura. Kalau saja Laura tidak menyuruhnya, dia tidak akan mengantar cewe yang bernama Olin itu.


"Naik," suruh Nathan dingin. Pikirannya masih ada di Laura. Kenapa Laura membiarkannya mengantar Olin? Padahal dia berharap kalau Laura akan cemburu dan melarangnya. Dia gak punya perasaan apa pun sama gue?


Olin yang dari tadi merasa menang, terus-terusan senyum. Perlahan tangannya melingkar ke pinggang Nathan. Tapi, belum sampai 3 detik Nathan sudah menarik tangan Olin dengan maksud agar tidak memeluknya dari belakang. Olin berdecak sebal. Gak peka!


Disamping itu Laura menatapnya dengan senyum miris. Memang ya, manusia tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Seperti Olin sekarang. Selalu berusaha keras merebut apa yang menjadi milik orang lain. Entah apa untungnya seperti itu.


Dukung Nathan dan Laura atau Nathan dan Olin? Komen ya. Like juga.


Tunggu next partnya🧔