
"Ra, ada yang cariin tuh diluar," teriak Bima yang sedang berjalan masuk ke kelasnya.
Laura menoleh keluar, disana ada Kevin yang sedang berdiri sambil melihat ke arahnya. Tiba-tiba Laura teringat dengan ucapan Nathan tadi pagi, kalau tidak suka melihatnya dengan Kevin.
Ternyata, Nathan sudah melihat keberadaan Kevin terlebih dahulu sebelum Laura melihatnya. Kedua tangan Nathan terkepal keras diatas mejanya.
Laura berdiri, menghampiri Kevin yang sudah menunggunya.
"Kenapa?"
"Jadi jalan kan?" tanya Kevin untuk mengingati janji mereka tadi pagi.
Tanpa disadari, Laura menoleh ke arah Nathan sekilas. Nathan terus memperhatikan keduanya dari dalam kelas.
"Next time aja ya, Kev. Lagian gue juga bawa mobil." Laura tersenyum kaku karena tidak enak menolaknya.
"Lo nolak dua kali nih," keluh Kevin dengan tawa paksanya.
Tiba-tiba Laura merasakan sedang dirangkul oleh seseorang. Dan benar saja, Nathan sudah berada disampingnya.
"Ng-ngapain?" tanya Laura. Entah nada bicaranya biasa saja atau ketus, sulit diartikan.
Nathan mempererat rangkulannya, menoleh ke arah Laura sebentar setelah itu beralih ke Kevin. "Jangan ganggu cewe gue," tegas Nathan.
Seketika Laura menjadi salah tingkah. Rangkulan Nathan terasa hangat. Apa ini yang namanya nyaman?
"Ngimpi lo!" Kevin tidak percaya dengan pengakuan Nathan. Jelas-jelas Laura selalu jutek padanya. Mana mungkin pacaran.
Nathan tersenyum miring, lalu rangkulannya beralih menjadi sebuah gandengan. Jari jemari Nathan terselip diantara jari jemari milik Laura. Awalnya Laura terkejut dengan itu, dan berusaha melepasnya. Tapi, Nathan semakin mempererat. Rasanya hangat.
"See," unjuk Nathan sambil memperlihatkan aksinya. Untung saja Laura tidak melawannya. Kalau saja Laura melawan atau memarahinya, Nathan akan malu dengan Kevin.
Sial! Gue ketinggalan jauh - batin Kevin. Tidak menyangka kalau Nathan sudah mengambil langkah lebih cepat darinya.
"Gue duluan, Ra," pamit Kevin kepada Laura. Sebelum berbalik, kedua mata Kevin melihat ke Nathan. Seperti ada kebencian disana.
Setelah melihat Kevin menjauh dari mereka, Nathan memiringkan tubuhnya tanpa melepas genggamannya. "Ara, jalan yuk."
"Hah? Jalan?" Laura tersentak kaget karena ajakan dari Nathan secara tiba-tiba.
"Merayakan hari pertama pacaran," ucap Nathan dengan senyumnya.
"Gue bawa mobil, Nath."
"Gampang. Yang penting mau kan?" tanya Nathan. Dibalas anggukkan oleh cewe itu.
Senang rasanya, ketika Laura menjadi nurut seperti ini. Jarang sekali Laura bisa mengiyakan tanpa harus marah-marah terlebih dahulu.
Gue bakal bikin lo yakin sama perasaan lo, Ra.
*
Laura sedikit heran dengan Nathan yang terlalu memaksakan keadaan untuk pergi. Padahal bisa sore nanti, tapi Nathan kekeh untuk pergi sekarang.
"Ma, Laura pergi sama temen dulu ya," pamit Laura setelah menaruh kunci mobilnya di meja ruang tamu.
Alma menyipitkan matanya, memandang Laura curiga. "Temen atau pacar?"
"Apa sih, ma," gumam Laura dengan wajah betenya.
Setau Alma, Laura bukan lah tipe cewe yang suka bawa teman cowo ke rumahnya. Laura adalah tipe pemilih untuk membawa cowo ke rumahnya.
"Yauda iya, hati-hati ya. Bilang ke pacar kamu eh-maksudnya temen kamu, jagain anak mama," ledek Alma dengan tawanya. Sangat menggemaskan melihat anaknya yang jadi salah tingkah karenanya.
"Terserah mama deh, aku pergi dulu. Bye."
Langkah Laura terhenti ketika melihat Nathan sedang ngobrol dengan seorang cewe didepan sana. Kakinya seperti diikat oleh sesuatu, tidak bisa bergerak.
"Lo suka bt21 juga?" tanya Olin antusias ketika melihat gantungan kunci milik Nathan bergambar tata-dikenal dengan karakter milik Kim Taehyung.
Nathan mengangguk pelan. "Suka."
"Gue juga suka. Tapi, gue paling suka yang punya Jungkook."
Laura menajamkan pendengarannya. Kepo dengan pembahasan mereka. Kakinya sangat sulit untuk berjalan menghampiri kedua orang yang sedang berbincang disana.
"Eh, Ra, udah?" tanya Nathan yang baru menyadari keberadaan Laura. Dia langsung saja berdiri dari motornya. "Ayuk."
Olin memutar bola matanya malas. "Gue ke dalem dulu deh. Bye, Nath." Sekarang lo boleh pergi sama Nathan. Tapi nanti gue yang akan di posisi itu!
Nathan mengangguk sebagai respon. Pandangannya kembali ke arah Laura yang masih diam didepan pintu rumahnya.
"Ra, ayuk. Kok masih diem disitu?"
Perasaan apa lagi yang sekarang Laura rasakan. Dia kira dengan cara menerima Nathan, dia tidak akan merasa takut kehilangan cowo itu. Tapi ternyata keadaan berkata lain. Rasa takut itu semakin besar.
"Kita mau kemana?" tanya Laura yang mendadak bersikap dingin lagi. Pikirannya sedang campur aduk. Masalah dengan Olin akan semakin bertambah.
Nathan mengerutkan alisnya. Kenapa nih cewe? Kayaknya tadi gak sejutek ini deh.
"Nonton bioskop mau?"
Pertanyaan Nathan sangat mengingatkan Laura dengan sosok ayahnya. Sering sekali Anto menanyakan itu padanya. Kebetulan hobi Anto dulu adalah nonton.
"Ra?" panggil Nathan sambil melambaikan tangannya didepan wajah Laura.
"Hmm? Iya, boleh." Suara Laura lebih lembut dari yang sebelumnya. Itu yang membuat Nathan sedikit heran. Nih cewe benar-benar cepat merubah suasana.
*
Nathan menoleh ke arah Laura yang sedang melihat-lihat jadwal film sore ini. "Mau nonton apa, Ra?"
"Dilan 1991, mau?" Kini Laura ikut menoleh ke arah Nathan. Tidak disangka kalau jarak mereka sekarang sangat dekat. Mereka saling bertukar tatap.
"Boleh," jawab Nathan memecahkan keheningan diantara mereka. Jantungnya berdebar lebih cepat, yang membuat dia harus menyudahi keadaan ini sebelum detak jantungnya bisa didengar oleh Laura.
Lampu-lampu didalam ruang bioskop mereka mulai redup. Tidak terlalu sepi yang menonton sore ini. Kebanyakan dari mereka adalah anak sekolah.
Ditengah film, Laura tersenyum-senyum sendiri karena adegan dari filmnya. Tanpa disadari, Nathan sedang memperhatikannya dari tadi. Senyum Nathan pun ikut mengembang.
"Untuk pertama kali gue liat lo senyum kayak gini," bisik Nathan membuat Laura menoleh ke arahnya. Senyumnya memudar, tapi dia tidak marah. Detik berikutnya pandangan Laura kembali fokus melihat Dilan dan Milea disana.
Tidak disangka, Laura menangis setelah film itu selesai. Padahal pas awal-awal nonton, Laura tersenyum melihat adegan mereka.
"Ih, cengeng," iseng Nathan sambil menyenggol tubuh Laura.
Laura membalas dengan tatapan tajam. "Berisik!"
"Ra, gue seneng bisa liat lo senyum tadi. Jangan pernah pelit-pelit senyum lagi ya sama gua," lirih Nathan membuat Laura terpaku sebentar di tempat.
"Mau temenin gue ga?" tanya Laura tiba-tiba. Walaupun itu bukan jawaban yang diinginkan Nathan, pertanyaan Laura membuat Nathan merasa senang. Jarang sekali cewe itu meminta sesuatu kepadanya. Bukan jarang, lebih tepatnya tidak pernah.
"Dengan senang hati."
"Gue mau ke pemakaman bokap."
Nathan menghentikan langkahnya. Pemakaman bokap? Kok dia baru tau hal ini? Setaunya, di rumah Laura ada seorang ayah.
"Ra? Bokap lo-"
"Dia udah gak ada," jelas Laura yang setelah itu melanjutkan langkahnya.
Karena tidak ingin merusak suasana, Nathan tidak ingin banyak bicara. Dia mengikuti langkah Laura dari belakang.
"Kok lo jadi diem? Sans aja kali," tanya Laura yang heran dengan Nathan. Tumben sekali cowo itu tidak banyak bicara.
Nathan tersenyum samar. Ternyata Laura bisa menyadari itu. "Gapapa. Takut lo marah."
Laura tertawa kecil. Untuk pertama kalinya juga Laura memperlihatkan tawanya. Nathan semakin meleleh dibuatnya.
"Ra, lo bikin gue gemes tau gak sih? Liat senyum sama tawa lo hari ini bikin gue meleleh." Tangan Nathan mengacak-acak rambut milik Laura dengan gemas.
"Lebay!"
Ternyata gak salah juga ya buat selepas ini dengan Nathan. Laura akui kalau sekarang dia merasa nyaman.
Motor ninja Nathan terhenti dipinggir jalan. Warna langit sudah gelap. Waktu menunjukkan pukul 19:04.
Langkah keduanya terhenti didepan batu nisan ayahnya Laura. Laura berlutut, yang diikuti oleh Nathan.
Hati Nathan terasa perih ketika melihat Laura meneteskan air matanya. Dia baru tau kalau Laura memiliki permasalahan seperti ini dalam hidupnya. Kalau dilihat dari keseharian cewe itu, dia terlihat ceria. Hanya saja terkadang jutek.
"Jangan bilang ke siapa-siapa ya, kalo gue ajak lo kesini," lirih Laura ditengah tangisnya.
Nathan menarik dagu cewe itu, lalu perlahan menghapus air matanya. "Jangan nangis, Ra. Gue juga ikut sedih."
Sudut bibir Laura bergerak, membentuk senyuman. Hari ini Nathan sangat beruntung. Bisa diterima dengan Laura, melihat senyumnya berkali-kali, melihat tawanya, sekaligus melihat tangisnya yang mungkin hanya orang tertentu yang bisa melihatnya. I'm lucky.
Laura mulai merasakan nyaman yang sesungguhnya, tapi apakah kedatangan Olin bisa membuatnya pisah?
Tunggu part selanjutnya!
Komen dan like😉