
Setelah menanyakan beberapa tugas dari guru-guru tadi, Nathan langsung saja menyusul teman-temannya yang janji akan nongkrong di cafe dekat sekolah. Tadinya Olin memaksa untuk pulang bareng, tapi Nathan menolaknya. Dan berakhir Nathan meninggalkan cewe itu sendirian di sekolah.
"Woi," teriak Nathan mengagetkan kedua temannya.
Jason mengisap kembali batang rokoknya. "Baru aja kita ngomongin lo."
"Ngomongin apa?" Nathan menarik kursi lalu duduk dihadapan kedua temannya. Dia membulak-balikkan buku menu.
"Tentang lo sama Laura. Tadi dia cemburu tau pas tau lo nugasnya sama Olin," ujar Ethan sambil menaik-turunkan kedua alisnya berkali-kali. Dia menyenggol pelan tubuh Nathan. "Itu artinya?"
Nathan mengerutkan alisnya. Model kek Laura bisa cemburu? Keren! Cewe cuek gitu bisa cemburu. "Mau bikin gue baper? Iya?"
Jason mengehembuskan nafasnya dengan kumpulan asap. Dia menggelengkan kepalanya cepat. "Beneran. Lo mah gak peka! Udah pacaran juga."
"Masa sih? Coba deh bikin dia cemburu lagi." Nathan terkekeh setelahnya.
*
Otak Laura cukup mumet sekarang. Dia harus berhadapan dengan bahasa Jerman, yang sama sekali gak dia ngerti. Cowo disebelahnya sama sekali tidak keberatan dengan bahasa Jerman, mungkin karena pada dasarnya dia bisa.
Berkali-kali Laura melirik ke arah Martin, melihat bagaimana cara cowo itu belajar. Mungkin saja dengan cara mengikuti cara belajarnya, Laura jadi bisa.
"Kenapa?" tanya Martin dengan suara yang cukup keras. Bahkan bu Yuna pun bisa mendengarnya.
Laura menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak. Gapapa."
Sebenarnya dia tau kenapa Laura melihatnya. Pasti cewe itu tidak ngerti bagaimana cara membaca tulisan-tulisan ini. Dengan inisiatif, Martin memiringkan tubuhnya dan mulai membaca setiap tulisan di buku milik Laura.
Mendapat respon dari Martin seperti ini membuat Laura sedikit terkejut. Padahal dia tidak minta Martin untuk melakukannya. Tapi syukur deh, setidaknya bisa tau gimana cara bacanya.
"Makasih," gumam Laura nyaris tak terdengar. Martin hanya membalas dengan senyumnya.
Setelah belajar kurang lebih 2 jam, akhirnya proses pembelajaran sore ini telah berakhir. Mata Laura kini menjadi lebih segar berlipat-lipat kali dari sebelumnya. Dengan semangat, dia membawa buku-bukunya untuk menuju kamar. Tapi sayangnya, langkahnya lebih dahulu terhenti karena suara mamanya cukup terdengar kencang.
"Laura, tadi bu Yuna nyuruh kamu beli kamus. Besok kamu pergi sama Martin aja ya. Mama gak bisa anter kamu. Besok mama ada perlu," ucap Alma setengah berteriak. Tangannya masih penuh busa sabun dengan piring-piring cuciannya.
Martin merespon lebih santai dibanding dengan Laura. Dia hanya diam yang artinya setuju dengan permintaan Alma.
"Aku sendiri aja, ma. Besok aku pulang sekolah langsung," tolak Laura tanpa menoleh ke arah Martin. Dia melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.
"Emang kamu bisa milihnya? Udah gapapa, Martin gak keberatan kan?" tanya Alma yang menoleh ke arah cowo itu.
Martin menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum canggung. "Gapapa kok, tante."
"Tuh, besok kan gak ada les. Kalian ke Gramedia aja, nyari kamus ya." Alma tetap kekeh untuk menyuruh anaknya pergi dengan Martin. Karena kalau membiarkan anaknya itu pergi sendiri, yang ada malah belanja ke mall, bukannya beli kamus.
Dengan pasrah, Laura hanya bisa menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya dia lanjut menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Buku-buku di tangannya, dia letakkan ke atas meja belajarnya. Dia melihat beberapa notifikasi yang masuk ke ponselnya pada saat proses les bahasa.
Nathan gans.
Bsk gw jmpt ya.
Jangan tdr mlm².
Senyum Laura sedikit mengembang. Sedikit sekali. Sangat tipis. Jari jemarinya tergerak untuk membalas pesan itu.
Laura.
Ok.
Ibu jarinya sudah menekan tombol kirim beberapa detik yang lalu. Setelah itu dia membiarkan ponselnya diatas meja. Dia bergegas untuk mandi.
*
Dert dert
Getaran pada ponsel Laura tidak kunjung berhenti. Telepon ke 3 kali, membuat pemilik ponsel terbangun dari tidurnya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali, menyesuaikan pandangannya.
"Halo?" Suara serak Laura membuat orang diseb'rang sana terkekeh pelan.
"Suara lo kocak."
Mata Laura kembali tertutup rapat sekarang. Rasa ngantuknya masih menguasainya. "Hmm."
"Yahh.. lo tidur lagi? Gue udah dibawah nih," ujar Nathan dengan semangat. Dia berkali-kali mengetuk pintu tetapi tidak ada yang membukakannya. Apa mungkin kepagian? Enggak kok. Sekarang pukul 06:15.
"Hah?! Lo udah sampe?!" Suara Laura naik drastis. Dia sungguh panik. Dia belom mandi dan sarapan.
Nathan tertawa kecil dari seberang sana. Suara Laura sangat imut dan menggemaskan. "Jangan gemes-gemes kek, Ra. Gue makin sayang nih."
Seketika ngantuk Laura hilang begitu saja. Matanya sudah terbuka sempurna. "Apaan sih, gak usah gombal!"
"Idih, siapa yang gombal? Orang beneran," sahut Nathan tidak terima dibilang gombal. Tangannya mulai pegal untuk mengetuk pintu rumah ini.
Laura menoleh ke arah jam di kamarnya, masih pukul 06:17. Biasanya juga dia baru bangun. "Yauda, sabar. Gue mandi dulu."
"Oke, bakal gue tungguin kok**."
Tut tut
Setelah mematikan telepon sepihak, Laura langsung saja melempar ponselnya asal ke kasur untuk bergegas mandi. Yang biasanya mandi hampir setengah jam, pagi ini berubah menjadi 5 menit saja.
"Pagi, om." Nathan menyalami tangan Arief dengan sopan.
Arief pun membalas dengan ramah. "Pagi."
"Saya mau jemput Laura, om," ujar Nathan masih dengan nada yang sopan. Senyumnya tidak pudar dari halaman depan rumah tadi.
"Oh, iya, tunggu aja disana." Tangan kanan Arief mengarah ke bangku sofa ruang tamu rumahnya.
Nathan menganggukkan kepalanya, lalu berjalan dan duduk disana. Mama sama papanya ramah kok, tapi kenapa anaknya jutek ya?
"Nath," panggil Laura yang baru saja selesai bersiap-siap. Tangannya masih merapihkan kemeja sekolahnya.
Senyum Nathan melebar, dia berdiri dari sofa itu. Tangannya mengarah ke puncak kepala Laura. "Gemes."
Deg.
Denyutan jantung Laura menjadi cepat. Detik berikutnya, rasa kesal yang muncul. "Ish. Rambut gue berantakan lagi!"
"Sini gue rapihin," kata Nathan dengan santai. Dia melepas kunciran milik Laura, dan mencoba untuk merapihkan kembali.
Bukannya rapih, malah makin hancur. Rambut Laura jadi berantakan dan kusut. "Woi! Udah, udah. Makin berantakan!"
Nathan terkekeh. Dia memberikan sekumpulan rambut di tangannya ke tangan Laura yang berusaha ingin menguncir rambutnya dari tadi.
"Sayang, kamu gak sarapan dulu, nak?" tanya Alma yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Langsung saja Nathan mengulurkan tangannya untuk menyalami calon mertuanya. "Pagi, tante."
Alma merespon tangan Nathan dan memberikan senyum lebarnya. "Pagi juga."
"Aku gak usah sarapan, ma. Nanti di sekolah aja," jawab Laura dengan tangan yang masih sibuk menguncir rambutnya.
"Lo sarapan dulu aja. Gue tungguin kok," sahut Nathan dengan cepat.
"Kamu ikut sarapan aja," suruh Alma kepada Nathan. Dia berjalan menuju meja makan untuk menyendokkan nasi suaminya.
Laura menaruh tasnya di sofa, dan berjalan menuju meja makan. Tidak ada tanda-tanda Nathan mengikutinya, dia membalikkan tubuhnya. Benar dugaannya, Nathan tidak mengikutinya.
"Ayuk," ajak Laura kepada Nathan.
"Lu aja, gue enggak," balas Nathan yang kembali duduk di sofa. Dia memang selalu seperti ini kalau disuruh makan di rumah orang lain.
Laura berjalan kembali ke cowo itu, dan menarik tangannya pelan. Nathan serasa lemah diginiin Laura. Dia nurut dengan tarikkan tangan Laura.
"Ehh.. ada Nathan?" Suara Olin membuat Laura terdiam sejenak.
Perlahan Laura melepas tangan cowonya. Selalu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau didepan Olin. Dan tidak tau alasannya kenapa.
Menyadari perubahan sikap Laura, Nathan meraih kembali tangan Laura dan menaruh ke tangannya semula. "Jangan lepas," bisik Nathan disamping telinga Laura.
Laura sedikit heran dengan yang cowo itu lakukan. Kalau saja posisinya bukan di rumahnya, pasti dia sudah tanya 'kenapa' ke Nathan. Kini Nathan yang meraih tangan Laura.
"Om, tante, saya sarapan disini gapapa? Saya makan gak banyak kok," ucap Nathan hati-hati. Kalau saja bukan karena pacarnya, dia tidak ingin sarapan di rumah orang lain.
"Iya, gapapa. Makan yang banyak," jawab Arief dengan wajah ramahnya.
Alma memberikan piring baru kepada Nathan. Dia juga menyendokkan nasi ke piring itu. "Makan yang banyak ya."
Nathan tersenyum canggung. Alma seperti mamanya, selalu menyendokkan nasi dan menyuruh makan banyak setelahnya.
"Makasih, tante, om," ucap Nathan setelah menyelesaikan sarapannya. "Mau berangkat?" tanya Nathan setengah berbisik ke Laura.
Laura mengangguk dan segera berdiri untuk mengambil tasnya. Mulutnya masih tidak bersuara.
"Tante, om, saya berangkat ya," pamit Nathan sambil menyalami mereka bergantian. Setelah itu menoleh ke Olin, "duluan ya."
"Ma, pa, Olin, aku berangkat," pamit Laura yang sudah siap untuk meninggalkan rumahnya.
Mereka berdua segera berjalan keluar, akan telat kalau tidak buru-buru berangkat.
Olin berdecak sebal. Susah banget buat pisahin mereka. "Aku berangkat sama siapa?" tanya Olin dengan wajah bete.
"Sama supir aja ya," jawab Arief sambil menyeruput air minumnya.
"Yauda, pa, ma, Olin berangkat," pamit Olin dengan cepat. Dia berlari kecil menghampiri mereka yang mungkin saja masih berada diluar halaman rumah. Benar, mereka masih disana.
"Naik," suruh Nathan kepada Laura. Tapi sebelum Laura benar-benar menaiki motor ninja Nathan, kehadiran kakak tirinya membuat dia terdiam sebentar.
"Nath, gue bareng lo ya? Laura sama supir aja," minta Olin tanpa dosa. Dia mengambil alih posisi Laura. Tangan Olin mendorong pelan tubuh Laura dengan sengaja.
Laura menghela nafasnya pelan. Senyumnya semakin memudar. Moodnya pun semakin kacau.
"Enggak. Gue mau sama pacar gue," tegas Nathan yang lalu menoleh ke arah Laura. "Naik, Ra."
"Lo anter dia aja. Gue bawa mobil atau sama supir bisa kok," jawab Laura dengan senyum paksanya. Dia segera berbalik dan berjalan menghampiri supirnya. Sudah malas untuk membawa mobil sendiri.
Dengan semangat, langsung saja Olin naik ke atas motor Nathan. Senyumnya terukir jelas. Bodoh lo, Ra. Semakin lo ngalah, semakin juga gue gampang dapetin cowo lo.
Like dan komen ya❣️
Tunggu episode selanjutnya.