
Sebelum Arief bergegas meninggalkan rumahnya untuk pergi kerja, dia menghampiri kembali istrinya yang sedang mencuci piring. Tas yang berada digenggamannya, dia taruh di atas meja.
"Ma, papa mau bicara," ucap Arief sambil berdiri tidak jauh dari Alma.
Alma langsung mencuci tangan yang penuh busa sabun, lalu berdiri menghadap Arief. "Kenapa, pa?"
"Mama ngerasa aneh gak sih sama anak kita? Nanti mereka deket, terus tiba-tiba cuek. Awalnya papa kira mereka cuma ngambek karena masalah kecil, tapi lama-lama papa liat mereka tuh kayak ada masalah di belakang kita," jelas Arief. Sudah lama dia ingin membahas ini, tapi menunggu waktu yang tepat.
Alma berpikir sejenak, mengingat beberapa kejadian. "Iya ya, pa. Olin yang minta pindah sekolah supaya bisa bareng sama Laura terus kan? Tapi mereka kenapa jarang berangkat bareng? Mama baru engeh loh."
Arief tidak langsung menjawab. Dia kembali mengingat beberapa sikap aneh Laura selama ini. Laura jarang sekali ingin bergabung untuk makan bersama. Dan anehnya lagi, kenapa selama ini Arief tidak menyadari itu.
"Kayaknya ada yang harus kita cari tau."
*
Sampai didepan ruang ujian 2 , Laura dan Claretta terpaksa berpisah karena beda ruangan. Laura harus berjalan lebih jauh dibanding Claretta.
"Nih minuman lo." Claretta menaruh minuman di tangannya ke tangan temannya. "Gue masuk kelas ya, bye, Ra."
Laura hanya mengangguk sebagai respon. Dia menoleh ke minuman di tangannya. Dari pada dibuang, lebih baik dia minum saja.
"Ehem.. masih pagi udah minum aja," ucap Nathan sambil menyenggol pelan tubuh Laura.
Untung saja tidak tersedak. Dia buru-buru menjauhkan kaleng itu dari mulutnya. "Ngagetin!"
Nathan tertawa kecil sambil mengelus puncak kepala Laura pelan. "Abis ke kantin emang? Kok pagi-pagi udah minum aja. Tumben."
Otak Laura seketika stuck begitu saja. Dia harus jawab apa? Kalau nanti Nathan cemburu dan ngambek gimana? Laura tidak pandai dalam urusan merayu. Dia tidak pernah seperti itu.
"Hmm.. tadi-"
"Hai," sapa seseorang sambil menepuk pundak Nathan pelan. Dia tersenyum.
Nathan membalas senyumnya singkat. "Iya."
"Nath, kayaknya jumat ini kita harus mulai nugas deh," ucapnya sambil melirik Laura sekilas. "Soalnya tugas kita banyak, bukan satu doang. Udah gitu gue takut nanti ketumpuk sama tugas lain. Yang ada nanti jadi gak kelar. Lo bisa kan?"
Kalau aja gue bisa bilang cemburu, gue bakal bilang, Nath. Laura memalingkan wajahnya, pura-pura sibuk merhatikan objek lain.
"Iya, bisa," jawab singkat Nathan. Setelahnya, dia kembali menoleh ke Laura. "Kelas, yuk."
"Lo atur waktu sama dia dulu aja. Gue nunggu di kelas," jawab Laura dengan senyumnya. Itu kan yang diinginkan Olin?
Nathan terdiam. Apa pacarnya sedang cemburu? Atau emang dia ngerti kalo sedang membahas tugas yang cukup penting? Sungguh teka-teki yang sulit.
"Yauda. Tapi gue gak janji sempet ke kelas lo. 3 menit lagi beli. Semangat ya ujiannya."
Kata-kata 'gak janji' yang membuat hati Laura terasa semakin perih. Kenapa gak bilang 'sampai ketemu nanti' aja? Bisa untuk istirahat atau pulang sekolah. Dari pada harus mendengar kalimat tadi.
Laura menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju kelas. Senyumnya langsung pudar ketika membelakangi mereka.
Benar apa yang Nathan bilang, cowo itu tidak kesini. Senyum miris kini terlihat di wajahnya. Sepengen itu lo disamperin dia?
*
Sudah 5 menit lalu bel istirahat berbunyi, tapi Laura masih diam di kelas. Dia menunggu Nathan yang entah kemana. Kaila sudah berkali-kali mengajaknya untuk ke kantin, tapi dia tolak. Alhasil, Kaila sudah bergegas ke kantin bersama dengan teman-teman yang lain.
Laura meraih ponselnya untuk mengecek, apakah cowonya ada memberi kabar? Jawabannya, tidak ada pesan yang masuk dari Nathan. Cowo itu kemana lagi? Apa mungkin belajar di perpus? Dia memutuskan untuk mengecek kesana.
Belum lebih dari 6 langkah masuk ke perpustakaan, Laura sudah melihat keberadaan Nathan yang sedang mengambil buku dibalik tubuh Olin. Posisi mereka sangat dekat. Bahu Laura seketika melemas. Laura paham dia bukan anak rajin dan pintar, tapi apa ini semua jauh lebih penting?
"Hai, kak Laura," sapa seorang cewe sambil melambaikan tangannya.
Suara itu terdengar jelas di telinga Nathan. Sontak dia menoleh, dan mendapatkan tatapan lemah Laura. "Ra?"
Laura membalas adik kelasnya dengan senyuman. Lalu dia bergegas pergi karena ingin menghindar dari Nathan. Sungguh perasaannya sangat campur aduk sekarang.
Tentu saja Olin sangat senang, tanpa harus melakukan apa-apa, dia bisa melihat kesedihan adik tirinya itu.
Laura berhenti didepan kelasnya, dia menoleh sekilas ke arah belakang. Dia kira Nathan akan mengejarnya dan menjelaskan semua, tapi nyatanya tidak. Cowo itu tidak muncul. Kesimpulan yang dia dapat, bagi Nathan semua itu lebih penting darinya.
Dengan malas, dia masuk ke kelas dan menaruh kepalanya diatas meja, dengan tangan sebagai tumpuan. Apa dia gak serius sama gue? Guenya terlalu bodoh gak sih?! Harusnya gue jangan percaya dulu sama dia! Kayak gini kan bikin sakit hati. Malah belom pernah. Gak ngerti gimana cara hilangin rasa sakit hati kalo emang dia milih Olin nantinya. Pikiran Laura penuh dengan itu.
*
Setelah ujian selesai, Laura langsung saja bergegas pulang dengan cepat. Sebelumnya dia sudah berpamitan dengan Kaila, dan memintanya untuk bilang ke teman yang lain. Untung saja dia bawa mobil hari ini. Keputusan bawa mobil sendiri tidak salah.
Perjalanannya tidak langsung menuju rumah, tapi ke Starbucks. Dia ingin membeli minuman favoritnya.
Seperti biasa caramel frappuccino menjadi minuman yang selalu dia pesan. Senyumnya sesekali terlihat karena membayangkan sosok ayahnya sedang duduk dihadapannya.
Salah gak sih gue beneran sayang sama dia?
Apa ini karma buat gue, karena sering mainin cowo?
Gak salah kan gonta-ganti cowo demi nyari yang nyaman?
Pikiran Laura langsung terganti dengan topik itu. Dia menggelengkan kepalanya cepat, berusaha melupakan cowo itu dari pikirannya. Tapi tidak bisa.
*
"Laura mana?" tanya Nathan panik. Dia mencari sana-sini pacarnya. Sudah hampir semua kelas dia lihat. Dia juga tidak bisa menemukan teman-teman Laura.
Tangannya tergerak untuk menelpon Laura. "Please, angkat. Jangan marah sama kejadian di perpus tadi," gumam Nathan.
"Halo?" Suara Laura kini terdengar jelas di balik telepon.
Nathan mengembuskan nafas lega. "Akhirnya lo angkat juga. Lo dimana?"
"Udah balik," jawab Laura. Iya, dia berbohong. Dari pada nantinya Nathan menghampirinya, lebih baik dia bilang sudah di rumah.
"Kok gak nunggu gua dulu? Kan bisa jalan ke parkiran bareng." Sekekali Nathan memberi kode kepada kedua teman disebelahnya untuk menunggunya sebentar.
"Nath, gue matiin teleponnya dulu ya. Dipanggil mama."
Tut tut
Nathan menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Ngambek nih dia."
Jason terkekeh. "Lagian lu apain anak orang? Ha?"
Ethan ikut terkekeh juga. "Selama gue kenal dia, dia jarang ngambek loh sama cowo."
"Gue ceritain. Kalian ke rumah gue ya."
*
Untung saja tadi Laura sempat berlari ke toilet supaya Nathan tidak mendengar suara berisik pengunjung lainnya. Dia berjalan balik ke kursinya setelah menutup telepon.
Laura kembali menikmati minuman kesukaannya. Entah apa yang harus dia lakukan. Terus terang kalau dia cemburu? Atau menutupi seperti sekarang ini?
Yang Laura yakin sekarang, cepat atau lambat, Olin pasti akan menarik perhatian pacarnya. Disaat itu lah Laura harus menerima keadaan dan mengalah.
Harusnya dari awal aja, sebelum rasa sayangnya tumbuh. Ucap Laura dalam hati.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam duduk sendiri di Starbucks, Laura memutuskan untuk balik ke rumah.
Selama diperjalanan, musik yang terputar di mobilnya kebanyakan lagu mellow. Mungkin hanya kebetulan saja. Tapi kenapa lagu-lagunya harus sama dengan isi hatinya?
Jangan lupa like, komen ya.
Tunggu episode selanjutnya🤗