
Nathan langsung saja membaringkan tubuhnya ke kasur miliknya. Sedangkan Jason dan Ethan, mereka melempar tasnya ke atas sofa di kamar Nathan, lalu duduk di tepi kasur.
"Bro, masa tamu gak disediain cemilan?" Ethan terkekeh pelan sambil memberi kode agar diambilkan makanan.
Nathan merubah posisinya menjadi duduk seperti kedua temannya. "Lo turun, terus nanti bakal ada kulkas di dapur. Coba lo buka, kalo ada yang tertarik, ambil aja. Dan kalo kurang, ambil di lemari samping kulkas," suruhnya.
Merasa lapar, butuh cemilan, Jason ikut berdiri. "Gue ikut dong. Mau cemilan juga."
Baru saja mereka melewati pintu kamar, Nathan sudah berteriak yang membuat telinga mereka terasa panas.
"Woi, Jason! Tutup pintu! Gak punya rumah ya lo?! Mangkanya ga bisa tutup pintu," teriak Nathan dengan sangat kencang.
Ethan menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya. "Pengeng, *****!"
Jason membalas tatapan ke Nathan dengan malas. Toh dia kan akan balik lagi, tidak pergi lama. Tangannya menutup pintu dengan senyum terpaksanya.
"Jangan baperan!" teriak Nathan lagi.
Ethan dan Jason balik ke kamar Nathan dengan tangan yang dipenuhi oleh berbagai snack. Di mulut mereka pun sudah penuh dengan kue. Keduanya memang tidak pernah mau rugi.
"Kalo gini kan enak denger ceritanya. Jadi lebih semangat gitu loh," ucap Ethan. Tangannya tergerak untuk membuka salah satu snack yang dia ambil.
Nathan menggeleng kepalanya heran. "Lo pada laper? Apa gimana?"
"Belom makan siang, bro. Maklumin aja," jawab Ethan sambil memperlihatkan deretan giginya.
Jason berdiri sambil menepuk-nepuk perutnya. "Gak ada niatan kasih kita makan gitu? Rumah boleh besar, tapi kok pelit," sindirnya.
Langsung saja Nathan memanggil pelayan rumahnya, meminta agar menyiapkan makan siang. Kedua temannya terdiam melihat Nathan yang langsung bertindak.
"Gue cuma bercanda. Kok lo jadi-"
Kalimat Jason langsung dipotong oleh Nathan. "Gak usah ge-er. Karena gue laper mangkanya minta mereka siapin makanan."
Kalau bukan karena sedang laper, mungkin sekarang Ethan sudah rusuh. Dia masih mengunyah berbagai snack yang dia ambil dari lemari makanan. Tidak berniat membalas obrolan mereka.
"Jadi Laura kenapa ngambek?" tanya Jason setelah menyelesaikan kegiatan makan siangnya. Dia menaruh sendok dan garpu menyilang.
Nathan yang masih melahap makanannya, langsung menghentikan kegiatannya. "Tadi tuh gue disuruh bu Ani buat belajar di perpus sama Olin. Tiba-tiba Laura udah nyamperin gue. Pas gue panggil mau jelasin, dia pergi gitu aja."
"Cemburu dia. Lagian ngapain harus belajar di perpus sih?" heran Jason sambil menyeruput minumannya.
Ethan tidak ikut membuka suara. Dia masih fokus dengan makanan didepannya. Tau begini mending tiap hari ke rumah Nathan. Lumayan, makan gratis. Enak-enak pula.
"Kata bu Ani, gue harus ngejar materi yang tertinggal. Mau gak mau gue nurut lah," jelas Nathan. Sesekali dia mengecek ponselnya menunggu Laura membalas pesannya.
Jason mengangguk paham. "Sorry, bro. Seandainya gue pinter, gue mau ajarin deh. Sayangnya nilai gue juga pas-pasan." Dia tertawa diakhir kalimatnya.
"Lo kalo di perpus belajar sama siapa emang? Gak mungkin Olin yang ajarin kan?" Kini Ethan membuka suaranya. Walaupun mulutnya masih penuh dengan nasi, dia ikut penasaran juga.
"Olin pinter. Dia lebih ngerti dari gue. Tapi gak selalu dia yang ngajarin sih, kan gue dipandu sama guru juga," jawab Nathan.
"Yauda lah. Semoga Laura bisa ngertiin lo." Jason menaikkan sebelah alisnya.
Ethan bergumam. "Iya. Gue bantu dalam doa."
*
Ponsel Laura terus bergetar, membuat dia kesal. Dia meraih ponselnya, lalu mengangkat teleponnya.
"Kenapa?" tanya Laura dingin. Moodnya sedang tidak mendukung saat ini.
"Marah ya? Sorry, tadi bu Ani yang nyuruh belajar di per-"
Laura malas membahas ini. Dari pada dia emosi, lebih baik dia mengganti topik lain. "Gue mau keluar rumah, mau ikut?"
Dengan semangat Nathan langsung mengiyakan. "Oke. Gue jemput aja ya."
"Hai," sapa Laura dengan senyum tipisnya. Tentu saja senyum itu dibuat-buat olehnya.
Nathan tersenyum lebar. "Hai. Kita mau kemana?"
"Kemana aja. Gue bosen di rumah."
Ini nih. Cewe selalu membiarkan cowo yang memilih. Tapi ketika pilihan itu tidak dia suka, pasti cowo yang akan disalahkan.
"Hmm.. rumah kayu mau?" tanya Nathan hati-hati. Dia memang jarang pergi ke banyak tempat. Hanya rumah kayu, dan beberapa mall saja yang sering dia kunjungi selama di Jakarta. Lain halnya dengan di Malang, dia sering ikut teman-temannya pergi ke berbagai tempat wisata setiap weekend.
Laura mengangguk dan tersenyum singkat sebagai responnya. Beruntung hari ini tidak ada les bahasa, sehingga sekarang dia bisa keluar rumah. Dan untungnya juga, orang tua Laura tidak mengengkang. Beberapa orang tua akan melarang anaknya pergi ketika ujian. Orang tua Laura bukan salah satu dari mereka.
Kali ini Laura sudah siap menggenggam ponsel untuk menyalakan flash, karena dia tidak ingin dibuat kesal oleh Nathan. Bisa-bisa dia akan meluapkan emosinya.
Nathan terdiam sambil melihat Laura yang sudah menyalakan flash ponselnya. Biasanya cewe itu akan meminta padanya. "Kok udah nyalain duluan?"
"Iya, biar gak repotin lo," jawab Laura malas. Dia berjalan duluan masuk ke rumah kayu. Membiarkan Nathan yang masih bertanya-tanya disana.
"Ngambek gak sih dia? Bikin bingung aja," gumam Nathan. Lalu dia berlari kecil menyusul cewenya.
Keduanya terdiam cukup lama. Laura sibuk berdiri menikmati angin malam, sedangkan Nathan sibuk duduk sambil merhatikan pacarnya.
"Ra, lo marah?" Nathan akhirnya berbicara duluan.
Laura menoleh ke arah Nathan. "Nath, kalo seandainya lo liat Kevin kasih gue minuman gimana?" tanya Laura. Ekspresinya sungguh sulit diartikan.
"Dia kasih lo minuman lagi? Oh, minuman kaleng tadi pagi dari dia?" tanya Nathan dengan nada yang meninggi.
Laura tersenyum miris. Enak ya jadi lo, bisa terus terang kalo cemburu. Gue ga bisa kayak gitu, entah apa alasannya.
"Ra?" panggil Nathan. Perlahan dia berdiri, melangkah mendekat ke arah Laura. "Ada masalah? Kok hari ini lo beda sih?"
"Tadi itu perumpamaan, Nath," jawab Laura sambil mengalihkan penglihatannya. Dia sudah mencoba untuk memberi tau kalau dia cemburu.
Nathan mengerutkan alisnya. Tidak mengerti maksud dari pembicaraan cewe itu. "Maksud lo?"
"Gak. Gak usah dimengerti." Laura mengangkat tangannya ke langit, dia merasakan angin menyentuh kulit tangannya. "Lo percaya sama takdir?" tanyanya.
Pertanyaan Laura terlalu aneh malam ini. Entah apa yang membuat cewe itu menjadi seperti ini. Nathan bingung.
"Percaya," jawab Nathan ragu. Dia ikut mengangkat tangannya, bermain dengan angin.
Laura tersenyum samar. "Gue benci takdir," ucapnya pelan. Suaranya terdengar lemah.
Nathan langsung saja menurunkan tangannya, dan menoleh ke arah pacarnya. "Kenapa? Cerita sama gue. Apa yang bikin lo kayak gini?"
"Buat gue ini gak adil. Gue iri sama kalian semua yang masih punya sosok ayah. Cuma dia yang bisa nyemangatin gue. Ayah gue doang yang bisa larang gue ini-itu. Dulu emang ibu gue sama protektifnya. Tapi sekarang enggak. Dia beda sama yang dulu, Nath." Laura menoleh ke arah Nathan. Memperlihatkan kesedihannya. "Sebenernya gue pengen dia larang gue pergi malem gini. Tapi malah sebaliknya. Dia selalu perbolehin gue pergi, seakan-akan kalau gue ilang, dia gak peduli."
Nathan bisa lihat kedua mata Laura yang berkaca-kaca. Cewe itu terlihat rapuh. Perlahan Nathan memeluk tubuh Laura, memberikan kekuatan.
"Ra, semuanya itu udah rencana Tuhan. Lo harus tetep bersyukur. Banyak orang yang lebih buruk dari lo. Sekarang juga lo punya gue. Gue siap kok nyemangatin lo." Nathan berusaha memberikan semangat kepada pacarnya. Dia juga bisa merasakan kesedihan itu. Hatinya ikut perih.
Laura mempererat pelukannya. Dia memohon agar keadaan ini tidak pernah berakhir. Dia ingin sekali Nathan selalu ada disampingnya. Memberikan semangat, mengisi hari-harinya, menjaganya.
"Nath, jangan pernah tinggalin gue," lirih Laura tepat disamping telinga Nathan. Dia sungguh bermohon.
Nathan terdiam sejenak. Tidak biasanya Laura memohon seperti ini. "Iya, Ra. Gak akan."
Semoga suka ya💓
Tunggu part selanjutnya.
Like dan komen.