I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Nyaman


Kedua mata Laura membulat. Apa-apaan ini? Sejak kapan mereka resmi pacaran? Pacar dia itu Nathan, bukan Martin.


"Hah?" bingung Laura sambil melihat Martin, butuh penjelasan darinya.


Martin terlihat tidak bercanda dengan omongannya. Dia malah mendekat ke arah Laura, dan merangkulnya. "Kenalin, ini temen-temen aku," ucap Martin kepada Laura sambil menunjukkan teman-temannya.


Aku? Gak salah dengar? Ini lagi kenapa sih? Laura bingung sendiri dengan keadaan sekarang. Dia hanya bisa tersenyum canggung dan sesekali menoleh ke arah Martin.


"Ke toilet dulu ya." Laura perlahan melepas rangkulan Martin dan berjalan meninggalkan gerombolan mereka. Entah kemana arah jalannya, yang penting dia menjauh dulu dari kumpulan cowo aneh itu.


Telinganya masih bisa mendengar jelas perbincangan mereka. "Itu beneran cewe lo? Oke juga." Dan ada yang membalas. "Cantik sih, mayan lah dari pada mantan-mantan lo."


Dulu, sebelum kenal Nathan, diperlakukan seperti ini rasanya tak masalah. Tapi kenapa sekarang merasa kesal dan sedih?


Langkah Laura terhenti didepan pintu masuk Club. Dia bimbang. Apakah dia pulang sendiri aja? Apa dia harus balik menemukan Martin?


Waktu menunjukkan pukul 20:34, agak ngeri juga kalau dia pulang sendirian. Nathan tolong gue, lirih Laura dalam hati.


Dengan penuh keyakinan, Laura memutuskan jawabannya disaat itu juga. Dia memilih untuk berjalan pulang sendirian. Tidak peduli kalau nantinya kejadian beberapa tahun lalu terjadi lagi. Dia tidak ingin berlama-lama di Club. Alasan paling kuat, karena tidak ingin Nathan mencarinya.


Suara tangisan anak kecil membuat Laura terdiam ditempat. Dia mencari asal suara itu. Isak tangis anak kecil itu membuat hati Laura merasa iba. Dia melangkah mendekati anak kecil yang sedang berjongkok dengan tangis yang tidak mereda.


"Misi," ucap Laura hati-hati. Dia mencoba memegang bahu anak kecil itu.


Tangisnya berhenti sebentar, tangannya menghapus air matanya. Matanya menatap Laura lekat. Terlihat ada yang luka di dalam sana.


"Kamu kenapa?" tanya Laura yang masih berhati-hati. Dia membungkukkan tubuhnya, menyamakan tingginya dengan anak kecil itu.


"Mama sama papa aku berantem, kak." Detik itu juga tangisnya meledak kembali. Laura bisa merasakannya. Dia mengerti gimana perasaan anak kecil itu sekarang. Tangan Laura perlahan melingkari tubuh anak kecil itu, mencoba menguatkan.


Laura menepuk-nepuk punggung anak kecil itu. "Terus kenapa kamu sendirian kesini?"


"Aku cape, kak. Tiap hari mereka berantem. Mereka gak sayang sama aku," jelasnya dengan isak tangis yang semakin menjadi.


"Mereka sayang sama kamu. Kakak yakin. Mungkin mereka memang lagi ada masalah aja."


Disamping itu, Nathan melihat jelas perbuatan baik Laura. Sangat tersentuh. Ini diluar dugaannya. Dia berjalan menghampiri keduanya.


"Ra?" panggil Nathan yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


Laura menoleh ke samping dan mendapati sosok Nathan. Senyumnya terukir jelas. Hatinya merasa lega. Rasa takut untuk pulang sendiri berkurang.


"Kok lo disini?" tanya Laura penasaran. Padahal tempat ini sangat tidak memungkinkan untuk ditemukan. Karena memang bukan jalan utama.


Bukannya menjawab, Nathan malah bertanya. "Nama kamu siapa?"


"Aku Andi, kak," jawab anak kecil itu sambil menghapus kembali air matanya. Dia berdiri dan diikuti oleh Laura.


"Andi, aku anter kamu pulang ya. Kasihan, nanti mama sama papa kamu nyariin," kata Nathan sambil meraih tangan Andi dan membawanya ke mobil. Sebelum itu, dia juga memberi kode ke Laura agar ikut dengannya.


Laura menganggukkan kepalanya sambil mengikuti langkah mereka. Pikirannya masih penuh dengan pertanyaan. Mengapa Nathan bisa disini? Dia marah gak ya? Tapi gak ada raut marah tadi.


"Ra," panggil Nathan menyadarkan Laura dari lamunannya.


"Hmm?"


"Temen lo kemana? Katanya tadi sama dia?" tanya Nathan dengan nada sedikit meninggi. Sepertinya benar dugaan Laura, Nathan marah.


Laura menelan salivanya dengan susah payah. Gak mungkin dia bilang kalau dia kabur dari Club. "Tadi.. gue-"


"Kak, rumah aku belok ke sana," ucap Andi setengah berteriak. Tangannya menunjukkan arah rumahnya.


"Eh, iya," jawab Nathan. Dia kembali diam, fokus mengikuti arahan dari Andi.


Mobil Nathan terhenti didepan rumah yang terlihat sederhana. Andi tidak langsung turun. Dia memajukan sedikit wajahnya ke antara tempat duduk Laura dan Nathan. "Makasih, kakak. Aku doain, semoga nanti kalian enggak kayak mama sama papa aku yang berantem terus." Andi menoleh ke arah Nathan, dia berkata, "kakak jangan marah-marah mulu ya. Sayangin kakak ini." Diakhir kalimatnya, Andi menoleh ke arah Laura.


"Sama-sama, kamu jangan pergi-pergi sendirian ya. Diluar bahaya." Laura mengelus pelan puncak kepala Andi. Dan memberi senyum hangatnya.


Nathan bisa melihat ketulusan itu. Sudut bibirnya ikut terangkat. "Dengerin kakaknya tuh, jangan keluar sendirian ya."


Andi menganggukkan kepalanya. Wajahnya terlihat lebih ceria dari sebelumnya. "Bye, kak."


Mobil Nathan terdengar hening setelah Andi turun dari mobilnya. Tidak ada yang mulai pembicaraan.


"Tadi lo belom jawab." Nathan terdengar dingin. Sepertinya dia memang marah saat ini.


Laura menghela nafasnya. "Tadi gue tinggalin dia, mangkanya gak sama dia sekarang."


Nathan mengerutkan alisnya, masih tidak mengerti. "Kenapa? Bukannya lo gak berani balik sendiri? Kenapa nekat?"


Suara Nathan terdengar sangat marah saat ini. Dan bingungnya kenapa Laura jadi takut. Takut Nathan akan lebih marah kalau dia jelaskan.


"Harusnya lo pergi sama gue aja. Gue pacar lo, gak usah gak enakan kalo mau minta tolong sesuatu." Nathan tidak menoleh sedikit pun ke arah Laura. Dia sudah telanjur kesal.


Laura bingung ingin menjawab apa pada saat seperti ini. Dia memejamkan matanya sebentar, setelah itu membukanya kembali. "Sorry. Mama yang nyuruh gue pergi sama dia."


Sedeket itu mamanya sama Martin? Sampai lebih percaya sama dia. Padahal mamanya tau kalau Nathan lah pacarnya.


"Sorry," lirih Laura sekali lagi. Dia merasa bersalah.


Senyum Nathan mengembang. Setakut itu kalau Nathan akan marah dengannya? Nathan tidak akan tega memarahi cewe itu.


"Gak usah sedih. Gue gak marah," ucap Nathan dengan tawa kecilnya. Dia menoleh ke arah Laura sekilas. "Gue ngerti kok."


Laura terdiam sejenak. Masih berusaha mengerti dengan suasana ini. "Jadi, lo gak marah?"


"Setakut itu? Takut banget ya kalo gue marah?" goda Nathan dengan alis yang dinaik-turunkan.


"Enggak, apaan sih," kesal Laura sambil membuang muka. Sangat malu rasanya.


Nathan terkekeh, tangannya tergerak mengambil tangan kanan milik Laura. Dia menggenggamnya erat. "Gue ngerti, Ra. Asal lo jujur, gue gak bakal marah."


"Hmm," deham Laura dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Lo sendiri kenapa bisa nemuin gue tadi?"


"Gak perlu tau. Gak penting. Hp lo kenapa tadi? Gue chat gak masuk, telepon gak aktif."


"Mati. Lupa gue cas," jujur Laura dengan cepat.


Nathan terkekeh. "Yauda. Lain kali jangan lupa cas."


Laura menganggukkan kepalanya pelan. Dia masih menikmati genggaman hangat dari Nathan. Rasanya nyaman seperti ini.


"Lain kali jangan jalan sama dia ya. Gue cemburu," lirih Nathan samar.


"Dasar cemburuan," balas Laura dengan ketus. Tapi Nathan tau, pasti pacarnya sedang bercanda.


"Namanya juga sayang, cemburu mah wajar kan?"


Jantung Laura berdetak lebih cepat kali ini. Padahal hanya kalimat sederhana, tapi mampu membuat Laura deg-degan.


"Ciee salah tingkah," ledek Nathan dengan tawanya. Seru banget bikin Laura seperti ini.


"Enggak," jawab Laura cepat. Dia memasang wajah bete.


"Masa sih?"


"Iya."


"Besok gue jemput ya," ucap Nathan sesekali menoleh ke arahnya. Tangan kanannya masih sibuk menyetir mobilnya. Sedangkan tangan kiri, sibuk mengelus punggung tangan Laura.


Laura menggelengkan kepalanya cepat. "Gak, gak usah."


"Kenapa?"


"Percuma, ujung-ujungnya gue sama supir juga," jawab Laura jujur. Dia tidak sengaja menjawab ini. Seakan-akan dia memberi tau kalau dia cemburu dengan kejadian tadi pagi.


Nathan tersenyum lebar. Rasa senangnya tidak bisa dia sembunyikan. "Cemburu nih?"


Pipi Laura memanas. Dia menahan rasa malunya. "Enggak."


"Lo kenapa sih.. bikin gemes tau gak. Pipi lo merah tuh, ngaca deh," suruh Nathan dengan tawanya.


Nathan berhasil membuat Laura sangat malu malam ini. Tidak hanya malu, senang juga. Senyumnya kini tidak bisa dia tahan. Kedua sudut bibirnya terangkat jelas.


"Ciee senyum-senyum," ledek Nathan lagi. Tawanya semakin jadi.


"Gak boleh?" tanya Laura tidak senang. Dia memasang tatapan tajam ke Nathan.


Nathan menggelengkan kepalanya. "Yang bilang gak boleh siapa?"


Laura terkekeh pelan. Hatinya tidak bisa bohong, sekarang dia merasa nyaman dan aman disamping Nathan.


"Pokoknya, besok gue jemput. Gue yang akan pastiin semuanya berjalan lancar. Lo gak bakal sama supir. Lo yang bakal duduk di mobil gue besok."


Semoga kebawa suasananya juga ya🥰


Ditunggu part selanjutnya.


Jangan lupa like dan komen.