
Seperti apa yang dibilang Nadine, hari ini guru-guru akan mengadakan rapat. Jadi seluruhnya mendapatkan free class. Seharusnya, semua murid diam di kelas. Tapi, Laura dan teman-temannya nekat pergi ke roof top. Hal ini sudah biasa karena mereka terkenal nakalnya.
"Jelasin! Kenapa lo bisa sama Nathan tadi!" ketus Claretta dengan wajah betenya. Rasanya sangat kesal dengan Laura.
Laura menoleh ke arah Claretta yang sedang membaringkan tubuhnya disalah satu sofa kecil disana. "Mau tau?"
"Dia deketin lo, Ra?" tanya Nadine yang juga penasaran dengan kedekatan mereka.
Kaila hanya diam, menyimak setiap perkataan mereka. Walaupun pandangannya fokus kepada novel ditangannya, tapi telinganya fokus pada teman-temannya.
"Gue gak deket sama dia. Sans aja, Ta. Kemarin kan ujan, terus dia maksa gue buat anterin dia. Mungkin, karena ga enak, jadinya dia jemput gue tadi. Udah gitu doang. Nothing special."
"Hmm. Emang kemarin dia gak dijemput gitu?" bingung Nadine sambil meneguk minuman yang dibelinya di kantin sebelum ke roof top.
Laura menggelengkan kepalanya, lalu menaikkan kedua bahunya. Menandakan kalau dia tidak tau.
"Intinya gue bete sama lo!" dumel Claretta sambil menatap langit biru.
Laura terkekeh. Dia berjalan menuju pinggir roof top, menikmati pemandangan ke jalanan bawah.
"Nanti malem gue harus ikut ortu makan malem. Gue mau kabur aja, tapi gimana ya?" tanya Laura yang masih setia memandangi jalanan.
"Jangan lah, kasihan ortu lo," balas Kaila dengan cepat. Kaila sangat tau gimana Alma. Dia tidak mau Laura terus-terusan memiliki rasa kecewa kepada Alma.
Mendengar perkataan dari Kaila, Laura pun langsung menoleh ke arahnya. "Gue gatau juga mau ngapain disana."
"Setidaknya, lo dateng, Ra."
Laura menghela nafasnya, mengangguk pasrah.
*
Waktu menunjukkan pukul 15:02, Laura bingung ingin pulang dengan siapa. Hari ini dia tidak membawa mobil, karena Nathan menjemputnya tadi pagi.
Laura tidak berani memesan taxi online karena dia pernah mengalami kejadian yang membuatnya jadi trauma. Ketiga temannya sudah pulang duluan. Claretta ada janjian dengan cowo, Nadine sudah pulang dengan pacarnya, dan Kaila berniat untuk menuju toko buku dekat rumahnya. Terpaksa, Laura pulang sendirian.
"Dasar cowo gak bertanggung jawab. Pagi ngejemput, pulang gak dianter. Malah dibiarin aja," dumel Laura sambil berkacak pinggang.
"Apa gue minta mama teleponin supir ya?" tanyanya pada diri sendiri. Laura mulai mencari nomor telepon Alma di ponselnya.
Tin
Sontak Laura menoleh ke asal suara itu. Mobil sport merah berhenti dihadapannya. Laura tau siapa pemilik mobil itu.
"Bertanggung jawab juga lo!" teriak Laura kepada Nathan yang baru saja membuka kaca jendela mobilnya.
Nathan tersenyum miring. "Naik."
Setelah Laura duduk disamping kursi pengemudi, Nathan pun melajukan mobilnya.
"Mau pergi dulu gak?" tanya Nathan tiba-tiba.
"Gak bisa. Gue ada janji sama nyokap. Next time aja."
Nathan mengangguk setuju. Berarti, Laura memberikan janji kepadanya, 'next time' mereka akan pergi bersama.
Sampai di perkarangan rumah yang terlihat elegant, Nathan pun menghentikan mobilnya.
"Gak bilang makasih? Atau thank you gitu?" tanya Nathan ketika melihat Laura sudah siap menuruni mobilnya.
Laura menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. "Harus banget?"
"Harus. Kata nyokap sama bokap gue, harus bilang makasih," jelas Nathan dengan senyumnya.
Mendengar 'nyokap sama bokap' membuat Laura terlintas rasa kecewa lagi. Disisi lain, Laura sangat kangen dengan ayahnya. Tapi, dia tidak memiliki waktu untuk pergi ke pemakaman, karena jaraknya sangat jauh.
Nathan melambaikan tangannya tepat didepan wajah Laura. "Kok bengong? Kenapa? Gue salah?"
"E-enggak. Gue masuk dulu ya. Makasih," jawab cepat Laura. Lalu dia keluar dari mobil Nathan, dan berjalan cepat masuk ke rumahnya.
Laura membaringkan tubuhnya diatas kasurnya. Rasa kangen kepada ayahnya semakin besar. Pandangan Laura terarah kepada sebuah foto yang terletak diatas meja. Foto dia bersama dengan ayahnya 4 tahun yang lalu. Mata Laura terasa panas.
Duk duk duk
Ketukan pintu yang sangat keras, membuat Laura menghapus air matanya dengan cepat. "Masuk," suruh Laura dengan suara seraknya.
Olin menatap Laura dengan penuh pertanyaan. Dia abis nangis? Cengeng banget. "Disuruh mama siap-siap. Setengah jam lagi berangkat."
"Iya."
Dilihatnya sebuah dress pemberian ayahnya, Laura pun berniat untuk mengenakannya pada malam ini. Masih pas. Belum kekecilan. Tidak lupa, dia menyemprotkan parfumnya. Setelah itu, merias wajahnya sedikit menggunakan maskara dan lip gloss.
Alma mengedipkan matanya berkali-kali. Sangat terpukau dengan penampilan anaknya malam ini. Dia ingat, dress itu dibelikan oleh Anto saat beberapa bulan sebelum Anto meninggal.
"Kamu cantik, nak," ucap Alma tanpa disadari.
Mendengar itu membuat kuping Olin terasa panas. Baginya, penampilan Laura biasa saja. Malah dibawah rate-nya.
"Makasih, ma," jawab Laura memberikan senyumnya. Tidak sengaja sepasang mata Laura melihat tatapan sinis dari Olin. Jujur saja, sangat malas rasanya untuk bergabung makan malam dengan kakak tirinya.
Tiba disebuah restaurat yang ternama di Jakarta, keempatnya berjalan menuju ruangan VIP yang sudah direserve sebelumnya. Ternyata disana sudah ada teman Arief yang menunggu.
"Udah nunggu lama ya?" tanya Arief sambil bersalaman dengan temannya.
"Enggak kok, baru aja sampe. Gimana kabarnya?"
"Baik." Kedua mata Erlan mengarah kepada Laura dan Olin bergantian. "Jadi yang mau ke Jerman yang mana nih?"
Mendengar itu membuat Laura sedikit bingung. Jerman? Siapa yang mau kesana?
Istri Erlan pun ikut membuka suara. "Kalian belum tau ya?"
Laura mengangguk sebagai respon dari pertanyaan cewe dihadapannya. "Emang siapa yang mau ke Jerman ya?"
"Mari, duduk dulu. Biar kami jelaskan," ucap Erlan.
"Sayang, kenalin, ini om Erlan, yang itu istrinya, tante Rany," ujar Alma kepada Laura dan Olin.
"Om, tante, saya Laura." Laura menundukkan sedikit kepalanya. Melihat ke arah Erlan dan Rany bergantian.
Begitu juga Olin, dia melakukan hal yang sama seperti yang Laura lakukan.
"Jadi, tujuan kita makan malam untuk membicarakan kepergian menuju Jerman."
"Kalo boleh tau siapa yang mau ke Jerman ya, om?" tanya Olin yang sudah penasaran sejak tadi.
"Laura," jawab Arief dengan cepat.
Reflek, Laura menoleh ke arah Arief. Kenapa dadakan banget? Belum pernah membahas ini sebelumnya.
Raut wajah Olin berubah drastis. Kenapa harus Laura yang pergi? Kenapa gak dia aja?
"Kok aku, pa?" bingung Laura.
"Oke, jadi gini, setelah lulus SMA kamu akan ikut saya dan tante Alma ke Jerman untuk kuliah disana. Selain itu, kamu juga akan mengurus perusahaan disana," jelas Erlan to the point.
Laura menggelengkan kepalanya cepat. Dia menolak rencana itu. "Enggak. Aku gak bisa."
"Loh, kenapa, nak?" tanya Rany yang heran melihat respon dari anak itu. Bukannya pada umumnya anak sekarang mau kuliah diluar negeri ya?
"Aku ga siap hidup sendirian disana. Aku-"
"Kamu gak sendirian, nak. Nanti ada anaknya tante Rany yang nemenin kamu," potong Alma sambil mengelus punggung tangan milik Laura.
"Tapi kan aku gak kenal sama anaknya, ma."
Rany tidak bisa menahan senyumnya. Laura sangat lucu dimatanya. Penampilannya terlihat dewasa, tetapi pemikirannya seperti anak kecil.
"Nanti tante kenalin, mau kan?" tanya Rany disela-sela kebingungan Laura.
Lagi-lagi Alma memberi tatapan memohon. Mau tidak mau Laura pun menyetujuinya.
*
Sepulang dari makan malam, Olin terus-terusan menatap Laura tidak senang.
"Ra, ke kamar yuk," ajak Olin kepada Laura didepan orang tuanya.
Belum sempat menjawab, tangan milik Laura sudah ditarik oleh Olin. Mungkin yang dilihat oleh orang tua mereka, kedua anaknya sangat akrab. Tapi, yang dirasakan oleh Laura adalah kebalikannya.
Sampai di kamar milik Laura, Olin menghempas tangan Laura dengan kasar. Membuat Laura merasakan sakit.
"Jangan kira gue bakal diem aja ya! Lo pake apaan sih sampe bokap gue ngasih lo ke Jerman? Ha?!"
"Gue gamau debat," jawab singkat Laura sambil berjalan menuju kasurnya.
Olin tidak bisa menahan amarahnya. Dia menarik tangan Laura dengan kasar. Membuat tubuh Laura membalik ke arahnya, hanya dengan tarikan tangan.
"Lin, gue gamau debat," lirih Laura menatap kedua mata Olin.
Senyum miris terlihat diwajah Olin. Membuat Laura bingung dengan tingkah cewe itu.
"Sampe kapan sih lo ambil semua yang gue punya?" tanya Olin dengan serius. Wajahnya memerah karena menahan emosinya.
"Jaga mulut lo. Gue ambil apa dari lo?" Perkataan Olin berhasil membuat Laura terpancing.
Olin melepaskan tangan Laura. Dia melipat kedua tangannya didepan dada. "Mangkanya, sadar diri!"
"Stop! Sekarang lo keluar dari kamar gue!" Kini suara Laura meninggi. Moodnya sedang campur aduk.
"Lo ngusir gue?!"
"Iya!"
"Berani-beraninya lo ngusir gue! Lo tuh yang harusnya gue usir. Lo gak pantes ada disini!"
Perkataan yang keluar dari mulut Olin membuat perasaan Laura semakin memburuk.
"Gue bilang keluar dari kamar gue!" teriak Laura sambil menunjuk ke arah pintu.
Olin berjalan menuju pintu kamar. Sebelum keluar, dia menoleh ke arah Laura. "Inget ya, lo gak pantes ada disini!"
Gimana episodenya? Komen ya.
Ditunggu next episodenya.
Jangan lupa buat like❤️