
Laura melihat dirinya dari cermin. Siang ini dia memakai sweater berwarna biru dan celana jeans sobek-sobek. Dilengkapi oleh sepatu skate.
Adriel berjanji akan menjemput Laura pada pukul 1 siang. Dan Laura masih memiliki waktu setengah jam untuk merias wajahnya. Seperti biasa, Laura hanya menggunakan maskara dan lip gloss.
"Mau kemana, nak?" tanya Alma yang melihat anaknya baru saja turun dari lantai atas.
Tangan Laura meraih minuman dari kulkas dan membuka minuman itu. "Pergi sama temen, ma."
"Yauda, hati-hati ya."
Hari ini Laura belum melihat keberadaan kakak tirinya. Biasanya, siang ini pasti Olin sedang menonton drakor di televisi.
"Olin kemana, ma?"
"Oh, dia pergi sama temennya dari pagi."
Laura mengangguk mengerti. "Yauda, aku berangkat ya, ma."
"Hati-hati."
"Iya, dah mama."
Laura melangkah keluar rumah, dia sudah melihat mobil terparkir disana. Sepertinya itu mobil Adriel.
Kaca jendela mobil itu terbuka. Kedua bola mata Laura melotot. Bukan Adriel yang di dalam sana. Tapi Nathan!
"Nathan?!"
"Kok lo tau sih gue mau ajak jalan? Lo bisa baca pikiran gue ya?" ledek Nathan dengan senyum menggoda.
Laura memutar bola matanya malas. "Ge-er lo! Siapa juga yang mau jalan sama lo! Gue ada janji sama temen gue!"
"Oh. Ra, tau gak-"
"Gak!" potong Laura dengan cepat.
Nathan terkekeh. "Serius nih. Ternyata gue kangen sama lo. Mangkanya gue kesini mau ajak jalan."
"Apa sih! Stop it! "
"Hah? Stupid? Lo katain gue bodoh?"
"Stop. It! " teriak Laura penuh penekanan.
Tin
Sebuah mobil datang dari belakang. Laura yakin, itu beneran Adriel. Nathan menoleh ke belakang. Lalu menatap Laura penuh tanda tanya.
"Siapa?" tanya Nathan yang mendadak jadi serius.
"Adriel. Gue mau jalan sama dia. Lo pulang aja, hush."
Nathan diam di tempat. Melihat kepergian Laura. Nathan melihat dari kaca spion mobilnya. Dari awal Nathan melihat Adriel, ada perasaan tidak enak. Bukan karena cemburu, tapi Nathan yakin kalau Adriel bukan lah cowo baik-baik. Terlihat dari tampang cowo itu.
Laura memperlihatkan senyumnya kepada Adriel. "Hai."
"Hai," sapa balik Adriel sambil melihat Laura yang sedang masuk ke mobilnya.
"Kita mau kemana?"
Adriel tersenyum miring. Terlihat tampan. Tidak seperti Nathan. Kalau Nathan yang senyum miring, terlihat songong. Seperti anak berandal. Walaupun begitu, Nathan tidak kalah tampan dengan Adriel.
"Pergi makan mau?" tanya Adriel sambil melajukan mobilnya.
Laura mengangguk setuju.
*
Beberapa menu makanan sudah ada di meja makan mereka. Mereka pun mulai makan. Sejak sampai di restaurant, Adriel selalu fokus ada ponselnya. Sejujurnya Laura bete. Percuma pergi kalau si cowonya sibuk dengan kegiatan sendiri.
"Hmm," deham Laura setelah melahap makanannya. Pandangannya fokus kepada Adriel. Cowo itu masih saja fokus pada ponselnya, sesekali tangan kanannya menyendok makanan dan melahapnya.
Laura menghela nafasnya. "Adriel."
"Ya?" Adriel melihat sekilas ke arah Laura. Setelah itu fokus mengetik pada ponselnya.
Tidak ada sahutan dari Laura, Adriel pun meletakkan ponselnya di meja. "Ra, sorry tadi ada yang harus dibahas sama temen."
"Iya."
Lumayan banyak makanan yang tersisa di meja mereka. Keduanya sama-sama kenyang. Sudah tidak mampu menampung makanan lagi.
"Ra, kayaknya gue ga bisa anter lo balik deh. Gue ada urusan sama temen," ucap Adriel dengan hati-hati. Ada rasa tidak enak kepada Laura.
"Yauda, gapapa." Laura melontarkan yang berbalik dengan hatinya. Tau kayak gini, mending di rumah aja.
Setelah membayar makanan itu, Adriel dan Laura berjalan menuju luar restaurant.
"Lo gapapa balik sendiri? Mau gue pesenin taxi gak?" tanya Adriel sebelum bergegas pergi.
"Gapapa. Gue bisa minta supir jemput."
"Yauda. Sorry ya, Ra. Hari ini gak seindah ekspektasi lo. Next time gue janji bakal lebih indah dari hari ini." Adriel menyelipkan helaian rambut Laura ke belakang telinga cewe itu.
Laura menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum singkat.
"Iya, bye."
Laura melihat kepergian mobil Adriel dari hadapannya. Wajahnya berubah jadi bete. Mending di rumah saja kalau berakhir seperti ini. Malah Laura gak berani pesan taxi online.
Dengan malas, Laura berjalan menuju mall yang jaraknya tidak jauh dari sana. Dia berniat menghabiskan waktu disana.
Langkah Laura terhenti ketika seseorang berdiri disampingnya. "Lo lagi? Ngapain sih?! Gak usah ngikutin gue!"
Nathan tertawa mendengar kata-kata Laura. "Galak amat sih, neng. Tadi gue ngikutin lo sama Adriel. Benerkan, dia bukan cowo baik-baik. Mana ada cowo ninggalin cewe sendirian."
Laura terdiam. Tidak berniat membalas perkataan Nathan. Ya benar juga sih. Mana ada cowo yang ninggalin cewe sendirian. Apa lagi pas perginya dijemput, pulangnya ditinggal.
"Pulang sama gue aja," ajak Nathan seperti pahlawan. Menyelamatkan Laura dari kebingungan.
"Gak!" Laura berjalan meninggalkan Nathan.
Nathan mengikuti langkah Laura dari belakang. "Yakin? Emang lo mau balik sama siapa kalo gak balik sama gue?"
Laura menghentikan langkahnya lagi, membalikkan tubuhnya ke arah Nathan. Kepalanya sedikit mendongak karena tubuh Nathan yang tinggi. "Yauda! Tapi gue mau jalan di mall dulu."
"Oke. Gue temenin," jawab Nathan antusias. Keberuntungan bisa jalan sama Laura dua hari berturut.
Tangan Nathan sudah dipenuhi oleh berbagai barang yang dibeli oleh Laura. Sengaja. Laura menjadikan Nathan pesuruhnya, untuk membawakan barang belanjaannya. Siapa suruh Nathan mau jalan sama dia.
"Belom cape? Duitnya belom abis?" tanya Nathan yang mulai bosan. Dari tadi Laura berhenti ke setiap toko, membeli banyak sekali baju, sepatu, tas, make up, dan lain-lain.
"Bawel ih! Siapa suruh lo ikut gue! Diem aja!" suruh Laura sambil melihat-lihat baju dihadapannya.
Terpaksa Nathan menutup mulutnya rapat. Menyesal karena sudah bertindak ceroboh. Harusnya dia menunggu Laura di parkiran saja. Lebih baik dia bosan di dalam mobil menunggu Laura, dari pada harus membawa barang belanjaan Laura yang super duper banyak ini.
Setelah hampir 3 jam setengah mengikuti Laura dibelakang, membawa belanja-belanjaan Laura, akhirnya Laura meminta untuk pulang. Nathan tersenyum senang. Penderitaannya segera berakhir.
"Ayuk, pulang," minta Laura yang masih berjalan didepan Nathan.
"Iya."
Sampai di parkiran, Nathan menaruh barang belanjaan Laura ke kursi belakang. Setelah itu masuk ke kursi pengemudi.
"Mau makan lagi gak, Ra?" tanya Nathan sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Terserah."
Nathan melajukan mobilnya. Mereka berhenti dipinggir jalan. Laura menatap Nathan dengan bingung. Mau ngapain Nathan parkir mobilnya dipinggir jalan?
"Ngapain? Udah sampe?" tanya Laura yang masih bingung.
"Iya, turun."
Mereka jalan menuju salah satu gerobak sate, yang sudah banyak pembelinya. Laura menggeleng pelan kepalanya, tidak menyangka kalau Nathan suka makan dipinggir jalan. Setau Laura, Nathan bukan orang yang suka makan dipinggir jalan seperti ini. Apa lagi ketika melihat rumah mewah milik orang tua Nathan.
"Mas, satenya dua porsi ya," pesan Nathan kepada mas-mas yang jual.
"Iya, dek."
Mereka duduk disalah satu kursi yang berada dibelakang gerobak. Tiba-tiba, Laura teriak histeris karena ada kucing yang bersandar pada kakinya.
"Nathan!!!"
"Kenapa?" panik Nathan. Seluruh pembeli dan juga mas-mas penjual menoleh ke arah mereka berdua.
"Ada kucing! Dia nyender dikaki gue!" Suara Laura masih sama. Membuat telinga Nathan terasa pengang.
"Kucing doang, Ra." Nathan tertawa lepas melihat Laura berdiri menjauh dari kucing itu.
"Gue gak suka kucing, Nath."
Nathan berdiri dari kursinya, mengusir kucing itu agar menjauh dari meja mereka. "Udah gue usir, duduk lagi, sini."
Laura menurut, dia duduk lagi. Menghela nafasnya lega.
"Gak usah ketawa," kesal Laura yang melihat Nathan dari tadi ketawa melihat tingkahnya.
"Lucu," gumam Nathan yang masih bisa didengar oleh Laura.
Blush.
1 kata itu mampu membuat Laura terpaku di tempat. Padahal hanya kata 'lucu'. Hanya Nathan yang berhasil membuat Laura merasa seperti ini.
"Misi, ini satenya," ucap mas-mas itu sambil menaruh dua piring sate ke atas meja mereka.
Setelah menyelesaikan kegiatan makannya, mereka pun membayar, dan bergegas pulang.
"Makasih, Nath," ucap tulus dari bibir Laura.
Nathan mengembangkan senyumnya. "Sama-sama."
Laura segera turun dari mobil Nathan, lalu berjalan masuk ke rumahnya. Tanpa disadari, senyum samar terlihat diwajah Laura.
Dukung sama Nathan atau sama Adriel nih?
Komen dan like ya🥰
Tunggu episode selanjutnya!