I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
17-an Feli


Setelah pembelajaran berakhir, mereka langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Laura dan teman-temannya berjanji akan make up bersama di rumah Claretta.


Laura langsung saja menuju kamar mandinya, setelahnya dia memakai dress berwarna putih polos yang panjangnya diatas lutut. Tidak lupa dia menyemprotkan parfumnya. Setelahnya dia meraih tas Charles and Keith miliknya. Juga dia memakai sepatu heels berwarna senada.


Karena tidak ingin membuat temannya menunggu lama, Laura pun segera turun untuk berpamitan kepada mamanya. Ponselnya bergetar, mendapatkan pesan dari Nathan. Cowo itu memaksa untuk menjemputnya. Mau tidak mau Laura mengiyakannya.


"Mama, Laura pergi ya," pamit Laura kepada Alma yang sedang asik menonton televisi.


Alma menoleh dan memperhatikan penampilan anaknya. "Mau kemana, nak?"


"Aku diundang ke acara tujuh belasan adik kelas, ma." Sesekali Laura menoleh ke arah ponselnya, yang terus mendapatkan notifikasi dari grup berisi ketiga temannya.


"Kalo gitu, Olin juga sama dong?" tanya Alma yang sudah merubah posisi setengah tidurnya menjadi duduk tegak. "Olin.. sayang.." panggil Alma setengah berteriak.


Laura terdiam. Jangan bilang mamanya akan menyuruh mereka berangkat bersama? Malah Nathan yang akan menjemputnya. Bisa-bisa dia akan bete di mobil.


"Iya, ma? Kenapa?" tanya Olin yang baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan yang tidak jauh rapih dari Laura. Sore ini dia memakai dress hitam-putih.


Alma tersenyum. "Kalian berangkat bareng ya? Supir lagi jemput papa. Gapapa kan?" tanya Alma sambil menoleh ke arah Laura diakhir kalimatnya.


Laura tidak langsung menjawab. Dia melirik ke arah Olin. Sungguh menyebalkan. "Iya, ma. Tapi aku di jemput Nathan. Dia masih di jalan."


Tangan Laura mengetik sebuah pesan kepada grupnya. Dia memberi kabar kalau Olin akan ikut dengannya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Olin bergabung dengan teman-temannya. Bisa-bisa Claretta akan marah-marah gak jelas.


Dert


Notifikasi lain masuk ke ponselnya. Laura langsung membuka dan membacanya. Nathan sudah sampai. Buru-buru dia membalas dan berpamitan dengan ibunya.


"Gue duduk didepan!" bisik Olin sebelum masuk ke mobil Nathan.


Laura hanya bisa pasrah mengikuti apa kata-kata kakak tirinya. Dia tidak ingin bertengkar saat ini.


"Loh?! Kok lo? Gue maunya Laura didepan!" ucap Nathan setengah berteriak. Dia menoleh ke arah Laura, berharap cewe itu akan berbicara juga.


Rasanya Laura ingin menjambak rambut Olin dan mengusirnya dari mobil. Tapi itu tidak akan pernah bisa dia lakukan.


"Gapapa, gue dibelakang aja," jawab Laura santai sambil mengalihkan pandangannya.


Nathan menoleh ke belakang. "Serius?" tanyanya memastikan. "Btw ini ke rumah Retta ya?"


Sontak Olin menoleh dan memutar bola matanya malas. Harus banget ke rumah temen Laura yang banyak gaya itu?!


Tidak butuh waktu lama, mobil Nathan akhirnya memasuki perumahan Claretta. Sesekali Laura menunjukkan arah jalannya. "Itu didepan," tunjuk Laura sambil menunjuk rumahnya.


"Kalian duluan aja, nanti gue sama yang lain," ucap Laura sebelum turun. Dia tidak sama sekali melihat ke arah Olin. Pandangannya hanya ke Nathan. "Nanti ketemuan aja disana."


"Eng-"


"Bye." Laura melambaikan tangannya dan langsung turun. Dia tidak ingin Nathan menolak dan tetap menunggunya. Dia percaya Nathan tidak akan berpaling darinya. Semoga.


Langkah Laura pelan masuk ke halaman rumah temannya. Tangannya mengetuk pintu rumah itu, dan mendapatkan sosok Claretta yang sudah menunggunya.


"Lo biarin Nathan anter Olin berduaan?!" tanya Claretta yang mulai emosi. Dia menarik tangan Laura untuk langsung masuk ke rumahnya.


Laura mengikuti langkah temannya ke kamarnya. "Abisnya mau gimana lagi?" pasrahnya.


Tidak ada jawaban dari Claretta. Mungkin dia juga sudah bingung dengan ini. Mereka pun make up bersama dan bersiap-siap. Seperti biasa, cewe itu tidak mungkin tidak lama kalau urusan make up. Sudah hampir 1 setengah jam mereka masih mengurus wajahnya. Kecuali Laura yang sudah siap dari beberapa menit lalu. Setelah semuanya siap, mereka berangkat.


Nathan menarik nafasnya pelan. Berusaha tidak emosi dengan cewe disebelahnya. Mobilnya sudah terparkir rapih di parkiran.


"Nath," panggil Olin. Dia menyeimbangi langkah Nathan yang lebih cepat darinya. "Jangan cepet-cepet, nanti kaki gue copot!" teriak Olin sambil menarik tangan Nathan.


Cowo itu menoleh dan terdiam. Dia mencoba tetap santai walaupun sebenarnya dia risih. Nathan masih belum membuka mulutnya untuk bicara.


"Jangan liatin mulu, nanti suka," ledek Olin dengan tawanya.


"Kepedean lo!" Nathan berjalan kembali meninggalkan Olin yang masih berusaha mengejarnya.


Beberapa pasang mata menuju kepada Nathan dan Olin yang sedang berjalan berdekatan. Sepertinya kepergian mereka ketahuan. Pasti orang-orang tau kalau mereka berangkat bareng. Bisikan mulai terdengar di telinga keduanya. Baik Nathan maupun Olin sama-sama menyadari kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian. Buru-buru Nathan pergi menjauh dari tempat itu.


1 jam berlalu begitu cepat, tapi Nathan belum menemukan keberadaan pacarnya. Dia mengirim pesan kepada Laura, ternyata cewe itu sudah hampir sampai.


Olin yang tadinya sudah pergi menghampiri teman-temannya, kini kembali mengganggu suasana aman Nathan. Cewe itu mengajak ngobrol Nathan. Terpaksa Nathan meresponnya walaupun Olin yang lebih banyak bicara.


Seseorang dengan sengaja mendorong tubuh Olin yang membuat cewe itu jatuh kedepan. Reflek Nathan menahannya. Tapi karena tidak memiliki keseimbangan, keduanya terjatuh ke tanah. Posisi mereka terlihat sedang pelukan.


Suara yang tadinya ramai menjadi hening. Pandangan mereka semua terfokus pada keduanya yang baru saja terjatuh ke tanah. Beberapa kamera menyoroti mereka.


Pasang mata Laura melihatnya jelas. Hatinya serasa dihantam seketika. Tangannya terkepal kencang. Matanya mulai memanas. Terlebih lagi tangan Nathan terletak di punggung Olin, yang artinya cowo itu juga membalas pelukan. Entah ini sengaja atau tidak, yang jelas Laura melihat kalau mereka pelukan. Dengan posisi yang sangat dekat.


Kaila mengelus pundak Laura, memberikan ketenangan. Dia juga mengisyaratkan kedua teman lainnya untuk membawa Laura menjauh dari tempat ini.


Bisikan teman-teman sekolah memanggil dan menyebutkan nama 'Laura' yang membuat Nathan menoleh. Dia melihat sepasang mata Laura tertutup oleh lapisan cairan bening. Laura menangis karenanya. Buru-buru Nathan melepas tubuh Olin dan dia berdiri. Belum sempat dia mengejar Laura, cewe itu sudah hilang.


"Ada yang liat Laura gak?" tanya Nathan kepada beberapa teman-temannya.


Olin tersenyum sambil melirik kepada seseorang yang mendorongnya tadi. Dia menaikkan jempolnya disamping tubuhnya. Seolah-olah misi mereka berhasil.


Jason dan Ethan juga berada disana saat kejadian. Mereka mengakui kalau Nathan keren. Hanya Nathan yang bisa membuat hati Laura terluka. Sebelumnya Laura sangat dikenal gonta-ganti cowonya. Tapi setelah dengan Nathan semuanya berubah begitu saja.


Laura menghentikan langkahnya ketika sudah menjauh dari tempat tadi. Dia menyuruh ketiga temannya untuk tetap ikut acara tujuh belasan tanpa dirinya. Ketiga temannya pun balik meninggalkan Laura yang sedang duduk di sebuah cafe, seberang acara 17-an Feli.


Matanya terus mengeluarkan air. Pipinya sudah basah. Make up pun sudah mulai luntur. Dia merasa dirinya sangat bodoh saat ini. Semuanya seakan-akan asing baginya. Ini pertama kalinya dia nangis karena seorang cowo. Good job, Nathan.


Tiba-tiba seseorang duduk disebelahnya dan menghapus air matanya. Orang itu tersenyum. "Jangan nangis."


Laura tidak mampu menolak ini. Dia hanya bisa diam. Air matanya masih belum berhenti. Kejadian tadi terus terlihat di pikirannya. Posisi mereka, tangan Nathan, cara Olin memeluknya, semuanya terlihat jelas tadi.


"Gue tau lo nangis kenapa. Cowo kayak dia gak usah lo tangisin, Ra. Gak pantes," ucapnya sambil menghapus air mata yang terus menetes membasahi pipi Laura.


"Makasih." Suara serak Laura hanya mampu berkata itu. Dia tersenyum paksa sambil mengalihkan pandangannya. Dia menerawang lurus kedepan.


Perlahan tangan orang itu menyentuh kepala Laura. Dia mengelusnya pelan. "Tenangin diri lo dulu."


Laura menganggukkan kepalanya pelan. Mencoba untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk tentang mereka.


Nathan melihat jelas yang orang itu lakukan ke Laura. Tadinya dia ingin datang dan menonjok pipi orang itu. Tapi dia urungkan. Lebih baik Laura tenang dulu. Kehadirannya disana bisa-bisa membuat cewe itu kembali sedih, pikir Nathan.


Perlahan Nathan melangkahkan kakinya keluar cafe dengan berat. Rasa penyesalan datang begitu saja. Baru saja masalah kuliah sudah dia anggap selesai. Sekarang masalah baru kembali datang.


Hope you like it!