
Tiba di lapangan, keduanya terpaksa berdiri menghadap bendera. Disana sudah ada pak Budi yang mengawasi mereka, karena diminta oleh bu Ani. Rese, tuh guru.
Sudah 1 jam setengah mereka berdiri menahan rasa cape. Dan butuh waktu kurang lebih 1 jam lagi mereka harus berdiri dibawah teriknya panas matahari.
Nathan menoleh ke arah Laura. Cewe itu terus mengeluarkan keringat. Dan berkali-kali Laura terciduk memegang keningnya.
"Lo gapapa, Ra?" tanya Nathan dengan nada yang khawatir. Dia melangkah sedikit mendekat ke arah Laura.
"Gapapa. Sedikit pusing aja."
"Mau duduk dulu gak? Jangan dipaksa, nanti lo kenapa-napa," ucap Nathan sambil menatap wajah Laura yang terlihat lebih pucat dari biasanya.
Laura menggelengkan kepalanya. "Lebay lo! Sans aja. Gue gapapa."
Karena Laura menolak ajakan Nathan, akhirnya dia balik ke posisinya lagi. Laura sangat keras kepala.
Beberapa menit setelah itu, kepala Laura terasa berat. Pandangannya mulai kabur.
Bruk.
Nathan panik, dia langsung saja menggendong Laura seperti kemarin, menuju UKS.
"Ra, bangun, Ra," lirih Nathan sambil memukul pelan pipi milik cewe itu.
Dengan cepat, Nathan lari menuju kantor guru. Dia tidak memperdulikan kalau bu Ani akan marah dengannya karena sudah meninggalkan hukumannya. Lebih penting Laura sekarang.
"Pak, bu, tolong saya. Laura pingsan. Sekarang dia di UKS," ucap Nathan membuat beberapa guru yang di kantor menghentikan kegiatannya, lalu berjalan mengikuti Nathan ke UKS.
Mata Laura masih tertutup, belum sadar. Salah satu dokter yang menjadi petugas di sekolahnya sudah memeriksa keadaan Laura. Katanya, Laura membutuhkan waktu untuk istirahat. Dan mungkin karena Laura belum sarapan mangkanya dia pingsan.
Guru-guru sudah menyuruh Nathan untuk balik ke kelas, bahkan memaksa, tapi cowo itu membantah akan tetap menemani Laura di UKS. Mau tidak mau guru-guru membiarkan Nathan di UKS.
Disentuhnya pipi mulus Laura. Ternyata kalau kalem seperti ini, lebih cantik. Senyum Nathan terlihat jelas. Perlahan jari jemari Nathan mengarah kepada rambut ke-coklatan milik Laura. Mengelusnya dengan lembut.
Tidak lama kemudian, kedua mata Laura mulai terbuka. Dia membuka-tutup matanya pelan berkali-kali.
"Lo?!" kaget Laura yang melihat Nathan dengan jarak yang cukup dekat. Dan posisi Nathan masih memegang rambut Laura.
"Lo gapapa kan?" tanya Nathan tanpa merubah posisinya.
Tangan Laura mendorong tubuh milik Nathan, membuat sebuah jarak antar mereka. "Ngapain lo?! Gila ya! Sum-"
"Shh." Nathan menempelkan jari telunjuknya tepat didepan bibir Laura. Dia berhasil membuat Laura berhenti berbicara.
Mereka saling menatap beberapa detik. Dan dipecahkan oleh suara pintu yang amat sangat kencang.
"Kalian ya!!" teriak bu Ani dari pintu sana.
Keduanya menoleh, dan memasang wajah panik. Takut disangka berbuat yang aneh-aneh.
"Abis ngapain kalian? Kok deket-deket begitu? Wahh.. saya laporin ke kepala sekolah ya, biar dipanggil orang tua kalian."
"Enggak, bu," respon Laura dengan cepat. Dia menggerakan tubuhnya untuk turun.
Dengan cepat, Nathan menghalang. Dia tidak memberikan Laura untuk turun. "Lo diem disini aja. Lo harus istirahat!"
Bu Ani menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan mendekat ke mereka. "Masih sempat-sempatnya pacaran didepan saya! Nathan! Masuk kelas!"
"Iri ya, bu?" ledek Nathan dengan tawanya.
Laura memutar bola matanya malas. Memilih untuk diam saja.
"Dasar kamu ya! Sana ke kelas!" suruh bu Ani dengan suara yang bergema.
Karena sudah pusing mendengar ocehan bu Ani, Nathan pun mengalah untuk pergi meninggalkan UKS. Sebelum dia benar-benar keluar, dia menyempatkan untuk menoleh ke arah Laura dan memberikan senyumnya.
"Kamu pulang saja, nanti saya suruh orang tua kamu jemput," ujar bu Ani dengan nada kesal. Dia membiarkan Laura pulang. Dari pada Laura kenapa-napa, nanti dia yang disalahkan.
"Gak usah, bu. Lagian saya bawa mobil. Saya udah gak kenapa-napa." Laura berdiri dari tempat tidur itu. Menunjukkan kepada bu Ani bahwa dia sudah baik-baik saja.
"Yauda. Terserah kamu deh."
Laura berjalan gontai menuju kelasnya. Jarak UKS menuju kelasnya cukup jauh. Suasana pun terlihat sepi, karena jam pembelajaran masih berlangsung. 10 menit lagi, baru istirahat.
"Ra, abis dari mana?" tanya Kevin yang sedang berjalan menghampirinya.
"UKS."
"Ngapain? Lo sakit?"
"Gak enak badan tadi. Lo ngapain keluar kelas?"
"Boleh."
Keduanya berjalan menuju kelas XII-Ips 2 yang berada di lantai 4. Setelah mengantar Laura, Kevin langsung bergegas pergi karena takut dicari oleh guru di kelasnya.
Tok tok
Laura berjalan masuk ke dalam kelas. Ternyata, kelas mereka sedang jamkos. Ketika Laura masuk, semua yang berisik langsung diam. Dan detik selanjutnya, heboh memberikan berbagai pertanyaan kepadanya.
"Ra, lo tadi pingsan?" tanya Nadine membuat seisi kelas ikut menanyakan hal yang sama.
"Cieee, Nathan gendong ya tadi," ledek Ethan membuat teman sekelasnya juga ikut meledeki mereka.
"Cocok lu berdua," sahut Claretta dengan suara yang kencang.
Kuping Laura terasa panas. Tau begini, mending dia diam di UKS saja, atau pulang sekalian.
"Berisik! Diem lo semua!" teriak Laura. Tapi itu tidak mampu membuat teman sekelasnya berhenti mengejeknya.
Disamping itu, Nathan malah terkekeh mendengar ucap-ucapan teman-temannya. Tanpa merasa malu atau pun kesal.
Laura berjalan menuju kursinya. Dia menutup kupingnya rapat-rapat. Sebisa mungkin tidak menghiraukan sekelilingnya.
"Maaf ya, tadi gue gak ke UKS. Soalnya, kita semua dilarang keluar kelas," kata Kaila yang sudah membalikkan tubuhnya ke arah Laura beberapa menit yang lalu.
"Iya, gapapa. Santai aja." Laura memijat pelan keningnya yang masih terasa sakit.
Nathan memukul pelan pundak Laura berkali-kali. Alhasil Laura pun menoleh ke arahnya. "Apaan lagi?!"
"Buset, galak beut!" Nathan memasang wajah cemberut. Seperti anak kecil yang sedang ngambek. Sangat menggemaskan.
"Apaan?! Gc!" kesal Laura tanpa merasa kasihan kepada cowo itu. Karena Nathan, dia jadi diejek oleh teman-teman sekelasnya. Bukan hanya teman-teman, bu Ani pun juga. Mungkin bentar lagi guru-guru yang lain.
"Padahal gue mau nanyain keadaan lo, eh malah dimarahin," ucap Nathan seperti mengadu apa yang telah dilakukan oleh Laura.
"Gue gak kenapa-napa. Udah gue bilang berkali-kali, gak usah lebay!"
Entah kenapa, perkataan Laura barusan membuat raut wajah Nathan berubah. Menjadi serius. Rasanya sangat sesak. Berkali-kali Nathan menunjukkan rasa pedulinya, tapi Laura malah membalasnya dengan marahan.
Suasana kelas pun menjadi hening ketika mendengar suara Laura yang cukup kencang.
"Keterlaluan lo, Ra! Nathan ampe diem kan. Masih untung lo dikasih perhatian ama temen gue. Dikasih hati mintanya jantung, ew!" ujar Ethan yang tidak terima melihat respon dari Laura. Walaupun Laura merasa tidak nyaman dengan perhatian dari Nathan, setidaknya dia menghargai itu.
Gantian Laura. Seperti dihantam oleh sesuatu. Rasa bersalah timbul dalam hatinya. Kedua mata Laura menoleh ke arah Nathan yang sedang menatapnya juga.
"Sorry," lirih Laura lebih serius dari sebelumnya.
Nathan tidak merespon. Dia tetap diam melihat ke arah cewe dihadapannya. Tanpa berniat untuk menjawab.
"Lagian lo sih, Ra! Bukannya ngehargain malah kayak gitu. Biasanya juga lo mau diperhatiin sama cowo-cowo. Kenapa sama Nathan gak mau?" tanya Claretta ditengah keheningan mereka. Pandangan sekelas masih terfokus pada Laura dan Nathan.
"Gue liat juga cara Nathan beda dari cowo-cowo yang lain," sahut Nadine yang juga setuju dengan perkataan Claretta.
Kring kring
Murid kelas XII-Ips 2 beranjak dari kursinya. Seperti biasa, memanfaatkan waktu istirahat untuk cuci otak. Sumpek terlalu lama di kelas.
"Kantin gak?" tanya Kaila memecahkan keheningan diantara keempatnya.
"Ayuk," respon Nadine sambil berdiri dari kursinya. Sudah siap untuk ke kantin.
Claretta berdiri dari kursinya, lalu mengarahkan tubuhnya ke arah Laura.
"Gue cuman ingetin ya, Ra. Penyesalan bakal datang terakhir. Jangan sampe lo nyesel," kata Claretta sebelum berjalan meninggalkan kelas.
Karena tidak mau mempersulit keadaan. Laura melawan egonya. Dia tetap ikut ke kantin bersama dengan ketiga temannya. Dan perkataan teman-temannya tadi, termasuk perkataan Ethan masih mutar-mutar di kepala Laura.
Setelah kejadian tadi, Nathan tidak berbicara lagi dengan Laura. Hanya melihat ke arah cewe itu, tidak lama kemudian mengarahkan pandangannya ke arah lain.
Apa gue minta maaf aja?
Laura bakal minta maaf sama Nathan gak ya?
Komen dan like ya!
Share ke temen² kalianš
Tunggu part berikutnya.