
"Kenapa putus?"
Nathan menghela nafasnya. Dia mencoba untuk meredakan amarahnya. Dia tidak ingin emosi disaat yang tidak tepat. Lagian, seharusnya dia bisa melupakan semua ini. Biarkan semua itu berlalu. Mau marah segimana pun, yang sudah berlalu tidak akan berubah dan terulang.
"Dia gak pernah sayang sama gue. Waktu itu gue yang terlalu berharap," jelas Nathan tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Jarang sekali Nathan memperlihatkan sisi lemahnya. Jujur saja, kejadian perpisahan mereka masih terus mengisi pikiran Nathan sampai saat ini.
Ethan menepuk pundak Nathan kurang lebih 4 kali. "Jangan lemah karena cewe. Toh sekarang ada Laura kan?"
Senyum Nathan kembali terlihat. Bayangan sosok Laura ketika nonton film waktu itu terlihat. Hari yang cukup indah baginya.
"Justru sekarang ini yang gue takutin. Gue gatau perasaan Laura gimana, Than. Kalo dia sama aja kek Jessie? Gue gak siap buat sakit hati lagi."
Perlahan Ethan merubah posisinya menjadi duduk. Orang yang biasa selalu bercanda, mendadak serius ketika membahas masalah percintaan. Karena dia tau. Hal seperti ini tidak bisa dia candakan.
"Harus siap sakit hati kalo udah jatuh hati."
Hening. Tidak ada jawaban dari Nathan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Btw, kenal Jessie dari mana?" tanya Nathan yang mendadak jadi penasaran.
"Tetangga gue," jawab Ethan seadanya.
"Sampe sekarang?"
Ethan mengerutkan alisnya. "Iya. Kenapa? Mau CLBK?" Ethan tertawa puas. Sampai-sampai dia mendapatkan pukulan yang cukup keras di bahunya.
"Tapi kenapa putus sih? Dia gak cerita detailnya sama gue. Penasaran. Ceritain dong," mohon Ethan dengan wajah memelas. Karena setaunya mereka putus baik-baik, tapi kenapa Nathan membenci tetangganya ini.
Flashback on.
Hari ini, hari dimana hari yang paling di benci oleh Nathan. Dia tidak sengaja membaca pesan di ponsel pacarnya dengan cowo lain. Bukan karena cemburu, tapi karena isi dari pesan mereka.
Akhirnya Nathan tau apa alasan Jessie menerima cintanya. Pantes saja waktu itu Jessie menjawabnya dengan ragu. Ternyata selama ini dia cuma kasihan sama gue. Pacaran hampir 1 tahun, dan Nathan baru tau sekarang. Hatinya seperti disayat-sayat sekarang.
Selama ini Nathan mencoba menjadi yang terbaik untuk cewe itu. Menyayanginya dengan sepenuh hati, memberikan seluruh perhatiannya, merelakan beberapa yang dia miliki. Seperti; menghapus game online dan memilih untuk chat dengan si cewe, membatalkan segala janji dengan teman-temannya setiap diajak nongkrong, rela buang-buang bensin buat anter-jemput sekolah, dan lain-lain.
Dan lebih parahnya lagi, si cewe menyatakan perasaannya kepada cowo yang sama. Cowo yang tau alasan Jessie selama ini. Cowo itu temannya Nathan, tapi mengapa dia nusuk dari belakang?
"Nath," panggil Jessie membuat Nathan menaruh kembali ponsel cewe itu ke atas meja dengan cepat. Sorot mata Nathan terlihat dingin.
Tidak mendapatkan respon dari Nathan membuat Jessie berpikir keras. Sebelum dia pamit ke toilet, Nathan tidak sedingin ini. Bahkan Nathan tidak pernah dingin dengannya, selalu hangat.
"Nathan?" Tangan Jessie melambai-lambai ke depan wajah Nathan.
Pikiran Nathan sangat kacau saat ini. Apa yang dia lihat barusan semuanya benar? Atau hanya candaan?
"Nathan, kamu kenapa?" Kini Jessie berdiri disamping Nathan dan meraih tangan cowo itu.
Reflek Nathan menghempasnya. Emosinya sudah memuncak. "Bener, selama ini lo cuma kasihan sama gue?"
Jessie mundur selangkah. Dia terkejut dengan pertanyaan Nathan. Terlebih lagi menggunakan gue-lo. "Kamu ngomong apaan sih?"
"Ngomong jujur aja. Gak usah ditutupin lagi. Gue udah baca semua chat lo sama cowo lo itu!"
Jessie melihat ponselnya yang masih menyala. Disana terlihat room chat dengan Kevin. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Entah apa yang harus dia jelaskan. Dia tidak bermaksud untuk membuat Nathan sekacau ini.
"Jujur!" teriak Nathan membuat beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka.
Mata Jessie memanas. Air bening berhasil menutup penglihatannya. Pandangnya terlihat buram. "Maaf. Maaf banget. Gue gak bermaksud nyakitin lo."
Kalimat yang tidak ingin didengar Nathan kini dia dengar. 'Gue-lo'. Kenapa gak bilang ini bohongan aja sih? Kenapa harus beneran?!
"Jadi bener?" tanya Nathan yang suaranya lebih lemah dari sebelumnya.
Air mata Jessie membasahi pipinya. "Waktu itu gue kesepian. Dan gue pikir gak ada salahnya buat terima lo. Gue kira dengan berjalannya waktu, gue bakal suka sama lo. Ternyata enggak. Tadinya gue mau putusin lo, tapi dengan sikap yang lo tunjukin ke gue, bikin gue jadi ngurungin niat itu. Lo terlalu baik sama gue, Nath."
Nathan tersenyum miris. Dari tadi dia memalingkan wajahnya. Rasanya sangat bodoh seperti ini. Sudah memperjuangkan orang yang sama sekali tidak ingin diperjuangkan.
"Kevin?" lirih Nathan. Terlihat dari sorot matanya, Nathan sedang kecewa.
Jessie menghapus air mata dengan tangannya. Dia mencoba untuk menjelaskan semua ini. "Awalnya dia iseng nanya tugas, dan berujung jadi sering chat. Gatau kenapa, gue nyamannya sama dia. Dan harusnya gue gak dengerin omongan dia."
"Kita putus. Semoga langgeng sama Kevin."
Mendengar perkataan Nathan, membuat hati Jessie terasa perih. Dia belum siap hal ini terjadi sekarang. Dia sungguh merasa bersalah.
Flashback off.
"Kurang lebih gitu," jelas Nathan sambil mencabut-cabut rumput yang dia duduki.
Ethan menganggukkan kepalanya paham. Dia mengerti banget perasaan Nathan sekarang. "Turut berdukacita, eh--salah.. maap. Maksudnya ya gitu.. pokoknya tetep semangat, bro!"
Nathan terkekeh pelan. Tidak menyangka kalau Ethan bisa dijadikan teman curhat. Ya walaupun Ethan masih ada bercandanya, setidaknya dia bisa memberi tau apa yang dia rasakan saat ini.
*
Laura menoleh sana-sini mencari keberadaan Nathan dan Ethan yang tidak balik dari tadi. Bolosnya lama banget! Tanpa dia sadari, dia sedang mencari sosok Nathan.
"Napa lu?" tanya Claretta yang dari tadi merhatikan tingkah temannya ini.
"Nathan mana ya?"
Nadine dan Kaila tersenyum jahil. Sekarang temannya sudah bisa terang-terangan. Dari kemarin kan Laura selalu menutupi hal seperti ini.
"Udah di kantin kali. Ayuk," ajak Claretta sambil menarik tangan Laura menuju luar kelas ke arah kantin.
Benar saja, Nathan dan Ethan sudah di kantin bersama dengan Jason. Mereka ber3 sudah menikmati makanan, padahal baru saja bel berbunyi.
"Nih, cewe lo nyariin mulu," ucap Claretta kepada Nathan setengah berteriak.
Laura menutup mulut Claretta dengan tangannya. Dia memberi tatapan mata kesal. "Apaan sih, enggak."
"Jangan bohong," goda Nadine sambil mencolek dagu milik Laura.
Kaila menggelengkan kepalanya, lalu mengambil posisi duduk paling pinggir. Tidak sengaja dia menginjak kaki Jason, dan anehnya tidak ada dari mereka yang bertukar obrolan.
Nathan senyum-senyum melihat Laura yang salah tingkah. Berarti benar yang Claretta bilang. Laura mencarinya tadi.
"Takut gue ilang? Gak bakal ilang kok," goda Nathan sambil meraih tangan cewe itu agar duduk disebelahnya.
Ethan ikut senang melihat Nathan tidak seperti sosok yang di taman tadi.
"Gak usah ge-er." Suara dingin Laura selalu membuat Nathan senang. Karena baginya, cewe yang dingin dan jutek itu memiliki sisi hangatnya sendiri. Kalau sisi hangat itu sudah ditunjukkan, berarti sosok itu adalah sosok yang spesial. Nathan yakin, dia lah sosok spesial itu.
"Mau makan gak?" tanya Nathan kepada Laura.
Sumpah ya. Nathan tuh selalu bikin Laura bingung dengan perasaannya. Entar bikin kesal, entar bikin baper. Baru kemarin dia kesal dengan cowo itu, dan hari ini rasa kesalnya sudah hilang begitu saja.
"Hmm.. boleh," jawab Laura dengan nada yang cukup lembut. Mood Laura sangat cepat berganti.
"Tunggu ya, gue beliin makan dulu," pamit Nathan sambil beranjak dari posisi duduknya.
"Bucin-bucin," teriak Jason membuat mereka yang lain tertawa. Sangat seru untuk menjahili salah satu teman.
"BUCHENN!" sahut Ethan penuh penekanan.
Ketiga cewe itu semakin tertawa lepas karena cara bicara Ethan yang sangat lucu.
Laura tidak tahan. Dia ikut tertawa samar karena teman-temannya.
Untung saja Nathan tidak langsung pergi, jadi dia bisa melihat tawa cewe itu dulu. Tawa yang sangat manis, menggemaskan. Seandainya lo bisa ketawa terus didepan gue, Ra. Lebih lagi kalo karena gue.
"Berisik lo!" teriak Nathan yang sudah berjalan cukup jauh dari mereka.
Laura merhatikan punggung Nathan yang berjalan menuju salah satu toko makanan di kantinnya. Senyum tulus Laura terukir di wajahnya.
Laura mulai terang-terangan dengan perasaannya nih..
Tunggu part berikutnya ya!
Like dan komen☺️