
Keduanya berjalan menuju rumah kayu, bersama dengan cahaya lampu dari ponsel milik Nathan. Karena Nathan ingin melihat bintang, dan suasananya juga lebih indah, Nathan mengajak Laura untuk naik ke atas.
Mereka berdua duduk bersebelahan. Laura melihat ke atas, banyak bintang disana. Sedangkan Nathan, dia melihat ke arah sampingnya, ke arah Laura.
"Lanjut, ngomong sekarang," suruh Nathan yang masih setia melihat wajah Laura.
Laura menoleh ke arah Nathan, lalu memiringkan sedikit posisi duduknya. "G-gue... hmm.. gue mau itu.."
Nathan menyatukan alisnya. "Mau apa?"
"Minta maaf." Laura langsung saja memalingkan wajahnya. Malu banget. Untuk pertama kalinya Laura minta maaf sama cowo. Dan baginya itu hanya kesalahan kecil.
Nathan tersenyum lebar. Mengacak-acak rambut milik Laura. "Kalo minta maaf tuh yang bener. Gak gue maafin nih.."
"Gue minta maaf," lirih Laura lebih serius dari yang pertama. Kedua matanya melihat ke mata Nathan.
"Iya gue maafin. Tapi, lain kali kalo gue kasih perhatian, jangan marah-marah mulu. Gue peduli sama lo." Nathan terkekeh pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke atas langit. Melihat indahnya bintang-bintang. Ada rasa kangen dengan suasana ini.
Laura memperlihatkan wajah bingungnya. Kenapa Nathan harus peduli dengannya?
"Kenapa harus peduli? Gak perlu peduli kali. Lo kira gue ga ada yang kasih perhatian?"
Nathan memajukan sedikit posisi duduknya. Menciptakan jarak yang cukup dekat. Jantung Laura kembali berdegup seperti tadi ketika mendengar suara berat Nathan dari telepon.
"Ra, gue sayang sama lo," bisik Nathan hampir tidak terdengar.
Laura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pipinya memerah. Jarang sekali Laura malu dengan pengakuan seorang cowo. Padahal udah sering banget cowo-cowo mengakui hal yang sama, 'gue sayang sama lo'
Nathan meraih kedua tangan Laura, lalu mengelus punggung tangannya. "Gue serius. Itu lah kenapa gue care sama lo."
"Gak usah bercanda atau prank, gak lucu!" Laura perlahan melepas genggaman tangan Nathan, tapi cowo itu semakin mempererat.
"Gue ga bercanda atau prank. Gue serius. Lo gimana ke gua?"
Laura menggelengkan kepalanya samar. Tidak menyangka dirinya sebodoh ini. Belum pernah dia merasakan perasaannya yang sekarang. Apa Nathan orang yang dicarinya selama ini?
"Mungkin gue terlalu cepet buat ngomong ini ke lo, Ra. Tapi, gue gamau keduluan sama orang lain. Walaupun belum lama ketemu, gue udah nyaman sama lo," jujur Nathan. Dia ingin cewe dihadapannya tau apa yang dia rasakan. Berharap kalau Laura juga merasakan yang sama.
Ada rasa senang dan juga takut. Laura tidak ingin Nathan adalah pelarian dia ketika kesepian. Laura tidak mau menyakitkan perasaan Nathan. Dia tidak mengerti dengan perasaannya sekarang. Yang biasanya asal nerima cowo, tapi malah ragu dengan Nathan. Tidak mau membuat Nathan kecewa.
"Hmm.. Nath-"
"Gak usah dijawab sekarang. Kalo lo udah siap bilang aja sama gue. Gue siap nunggu." Nathan perlahan berdiri melihat ke langit, memejamkan matanya lama.
Laura hanya diam, tidak merubah posisinya. Dia bingung, apa yang harus dia lalukan sekarang?
"Tapi kalo lo gak siap, ga usah, Ra. Gue gamau kecewa untuk kedua kalinya," lirih Nathan tiba-tiba. Dia membalikkan tubuhnya, melihat ke arah Laura yang mungkin sedang bingung dengan perkataannya barusan.
Tangan Nathan meraih pergelangan tangan Laura, lalu membawanya turun ke bawah. Mereka berjalan menuju foto yang pernah Laura lihat sebelumnya.
Disana ada foto Nathan dengan Jessie beberapa bulan yang lalu. Jessie adalah pacar pertama Nathan yang sudah berujung jadi 'mantan'.
"Kenapa?" tanya Laura yang merasa canggung dengan keadaan sekarang. Dia menatap wajah Nathan. Terlihat seperti sedang sedih.
Nathan meraih foto itu. Ketika melihatnya, ada senyum miris diwajahnya. Mengingat seberapa bodoh dia waktu itu. Sudah berjuang sepihak. Ini lah yang ditakutkan oleh Nathan sekarang. Takut akan kejadian hal yang sama. Takut akan Nathan saja yang berjuang, dan Laura hanya menganggap itu hal sepele.
"Gue gamau kisah kita bakal seperti kisah gue sama dia," ucap Nathan dengan pasang mata yang masih fokus melihat kenangan dari foto itu.
Laura mengerutkan alisnya. Sepede itu? 'Kisah kita'. Mungkin yang dipikiran Laura sekarang adalah sesuatu yang tidak penting. Dia belum pernah merasakan kecewa karena kisah cintanya. Malah dia lah penyebab beberapa orang kecewa dengannya.
Tapi bohong kalau Laura tidak penasaran dengan sosok cewe di foto itu. Dengan ragu, Laura akhirnya menanyakan pertanyaan yang sempat melintas dipikirannya waktu pertama kali melihat foto itu.
"Kenapa bisa putus sama dia?"
Nathan menaruh foto itu, lalu menatap kedua mata Laura lekat. "Dia gak bener-bener sayang sama gue."
Bingung ingin merespon apa, Laura memutuskan untuk mengalihkan topik mereka. Jujur saja, tidak nyaman dengan suasana ini.
"Nath, gue mau balik. Udah malem."
*
Laura panik ketika membaca pesan dari Nathan kalau dia akan menjemputnya pagi ini. Terlalu mendadak bagi Laura. Dia belum siap-siap sama sekali.
Setelah mandi, Laura buru-buru memakai seragamnya dan segera mengeringkan rambutnya. Tidak lupa menyemprotkan parfumnya. Dan juga memakai lip glossnya.
"Ara, ada temen kamu nih," panggil Alma setengah berteriak.
Dengan cepat Laura memakai sepatunya, lalu merapihkan kembali helaian rambutnya. Baru saja Laura keluar dari pintu kamarnya, dia berbalik lagi. Melupakan ponselnya yang masih terhubung dengan kabel charger.
Kedua mata Laura terkejut ketika melihat Nathan sedang berbincang dengan Olin di ruang tamu. Entah perasaan apa ini, dadanya terasa sesak.
"Nath," panggil Laura. Dia mencoba terlihat biasa saja.
Nathan menoleh ke arahnya. Lalu berdiri dari sofa. "Udah siap?"
Laura menganggukkan kepalanya, lalu menoleh ke arah Olin yang masih duduk disana.
Olin tersenyum miring sambil menaikkan alis sebelahnya. Lalu berdiri, disamping Nathan. "Yauda, kalian berangkat gih. Kapan-kapan kesini lagi ya, Nath."
"Iya. Duluan ya," pamit Nathan.
Rasa takut tiba-tiba menghantui pikiran Laura. Dia takut Olin akan mengambil Nathan darinya. Duh gak boleh mikir gitu, Ra! Lagian lo bukan siapa-siapa Nathan!
"Ma, pa, aku berangkat," pamit Laura yang sudah siap berjalan keluar dari rumahnya.
Nathan pun melakukan hal yang sama, berpamitan. "Om, tante, saya berangkat ya."
"Iya, hati-hati, nak."
Setelah melihat Nathan berbicara dengan Olin tadi, membuat Laura terus memikirkan berbagai pertanyaan. Mereka bicarain apa saja ya? Apa yang bakal Olin lakukan setelah ini? Gimana kalo Nathan nanti dideketin Olin? Kalo mereka deket, Laura gimana?
"Ra," panggil Nathan membuat Laura tersentak kaget.
"Hmm?"
Nathan melihat jalanan dan menoleh ke kaca spion bergantian berkali-kali. "Lo lagi mikirin sesuatu?"
"Enggak," jawab singkat Laura. Hari ini Laura tidak banyak bicara dengan Nathan. Itu yang membuat Nathan bingung dengan sikap Laura hari ini.
"Masih mikirin yang semalem? Gak perlu dijawab sekarang kok, Ra."
Laura teringat lagi dengan perkataan Nathan semalam. Apa benar cowo itu sayang padanya? Nyaman padanya?
"Ra," panggil Nathan lagi. Seperti teka-teki, Laura sulit ditebak. Entah apa yang membuat Laura jadi tidak bawel hari ini.
"Lo beneran sayang sama gue?" tanya Laura to the point.
Nathan menghentikan motornya dipinggir jalan, lalu membuka kaca helmnya. Dia menoleh ke arah Laura.
"Gue keliatan bohong?"
Melihat tatapan Nathan membuat Laura jadi memikir berkali-kali lagi. Memang Laura tidak menemukan tatapan berbohong. Tapi, dia tidak bisa percaya gitu saja sama Nathan.
"Bakal gue buktiin, Ra. Tapi, lo harus janji," ucap Nathan yang menarik perhatian Laura. Cewe itu melihat ke arah Nathan.
"Janji sama gue, kalo lo bakal kasih kepastian buat gue secepatnya," lanjut Nathan tanpa ragu. Nathan yakin kalau Laura juga merasakan hal yang sama. Hanya saja Laura gengsi untuk mengatakan itu.
"Mending lo cepetan bawa motor ke sekolah! Kalo gue telat, lo tanggung jawab!"
Nathan menghela nafasnya. Laura sangat cepat berubah. Entar baik, entar galak. Perlahan Nathan terbiasa dengan sikap Laura.
Dengan kecepatan, tapi tetap hati-hati juga, Nathan melajukan motornya menuju sekolah. Walaupun belum lama dia pindah ke Jakarta lagi, rasanya seperti sudah lama. Terlebih lagi ada Laura yang mengisi harinya.
Setelah sampai di parkiran sekolah, Laura langsung saja turun dari motor Nathan dan berjalan cepat meninggalkan Nathan.
"Ra? Mau kemana?"
"Kelas!"
"Bareng aja." Nathan baru saja turun dari motornya, buru-buru menghampiri Laura.
"Bisa sendiri aja kan?!" ujar Laura dingin. Laura memang sangat pandai menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Dia harus melawan rasa takutnya. Tidak mungkin Laura bilang kepada Nathan kalau dia takut cowo itu akan pergi dan lebih memilih kakak tirinya.
Nathan memperlihatkan senyumnya. "Kalo yang ini ditolak gapapa. Asal yang semalem gak ditolak."
Olin mulai beraksi nih..
Komen dan like ya gais😊
Tunggu part berikutnya!